menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Kini ayah Dion, Mahendra dan juga Rya tengah menikmati makan malam mereka dengan begitu hikmat.
"Bagaimana rasanya Rya, enak makanannya? apa ada yang kurang?." ucap ayah Dion
"Tidak ada yang kurang ayah ini sangat lezat." jawab Rya pada Ayah dion
"Lalu mengapa kau hanya memakan makanannya sedikit, apa kau tidak enak badan?." ujar Ayah Dion lagi
"Nanti Rya akan mengambilnya lagi kok ayah." ucap Rya
terbesit di otak Mahendra untuk mengerjai Rya.
"Sayang kamu kenapa? apakah kamu masi merasa mual-mual?" Tanya Mahendra yang sedang berakting khawatir akan kondisi Rya.
"Apa? mual-mual?." ucap ayah Dion yang terkejut mendengar keadaan Mantunya
Rya yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya dan tidak memahami apa yang sebenarnya sedang Mahendra bicarakan
"Iyah ayahh, dari tadi pagi Rya terus mual-mual dan memuntahkan semua isi perutnya." Tambaha Mahendra lagi
"Apakah mungkin sudah ada kabar baik? kau sudah melakukan tes nak? tapi pernikahan kalian kan baru 3 hari, apa bisa secepat itu." ucap ayah Dion yang tidak di pahami oleh Rya
"Kabar baik? Maksud ayah apa?" Tanya Rya dengan hati-hati pada ayah Dion pasalnya dia sangat bingung
Sementara Mahendra terus menahn tawanya yang hampir meledak.
"Yahh kabar baik kalo kamu sedang hamil. dulu almarhum istri saya juga mengalami itu saat hamil Mahendra dan Kalista." Ucap ayah Dion dengan senyum mengingat momen yang sangat membahagiakan dalam hidupnya bersama sang mendiang istrinya.
Sementara Rya sangat syok mendengar ucapan Ayah Dion.
"Itu tidak mungkin." ucap Rya spontan karena kaget
"Kenapa tidak mungkin?." tanya Ayah Dion
"tidak mungkin karena pernikahan kami yang baru 3 hari ayah, itu terlalu cepat." ucapn Rya memberi alasan dan sambil berusaha memberi senyumnya agar ayah Dion tidak curiga.
"Iyah benar juga, mungkin kamu hanya kecapaian saja, tapi Ayah terus berdo'a agar kabar baik itu cepat datang, Ayah ingin segera menimang cucu." Harapan ayah Dion
Rya yang mendengar itu hanya menanggapinya dengan senyum
Rya lalu mengalihkan pandangannya pada sang pembuat masalah dan menatap sinis Mahendra yang terlihat oleh mata Rya, Mahendra kini sedang menahan tawanya mati-matian karena tidak mau meledak di depan ayahnya.
"Sayang kamu kenapa?" ucap Rya yang mengalihkan perhatian ayah Dion kini melihat ke ara Mahendra
"Hahh aku tidak apa-apa, sekarang kamu tidak mual lagi kan, apa kita perlu ke dokter? atau apa ada keluhan mu yang lain?" ucap Mahendra berpura-pura terlihat khawatir
"Aku bai-baik saja mahendra, aku tidak apa-apa sekarang." ucap Rya tersenyum yang ia paksakan agar ayah Dion tidak curiga pada mereka.
"Baiklah ayo kita lanjutkan makan malam kita." ucap ayah Dion kemudian
Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan hening, hanya ada dentingan sendok dan garpu. tidak ada yang membuka suara lagi.
Selesai makan malam ayah Dion lalu masuk ke kamarnya, ingin segera merebahkan dirinya dan istirahat.
Sementara Rya dan Mahendra juga langsung menuju ke kamar Mahendra.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu tadi? mual? bahkan pencernaan ku sangat baik, apa kau sedang mengerjai ku?" Ucap Rya setelah mereka sampai di kamar
"Maaf tadi pagi sepertinya aku mendengar seperti ada suara wanita yang muntah-muntah jadi aku pikir itu kamu." ucap Mahendra melontarka alasan tidak masuk akal.
"Apa suara wanita muntah-muntah, tapi aku tidak dengar apa-apa pagi tadi." jawab Rya yang bingung
"Kalau itu bukan suara mu, apa mungkin aku sedang bermimpi, maaf aku mungkin tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan." tambah Mahendra lagi sambil sedikit tersenyum
Rya yang tadinya sedikit bingung kini sudah sangat yakin bahwa Mahendra mengerjainya.
"Baiklah permintaan maaf mu akan aku terima tapi dengan 1 syarat." ujar Rya pada Mahendra
"Apa syaratnya?"
"Karena kau cuma memiliki 1 ranjang di kamar ini, maka kamu harus tidur di sofa dan biarkan aku yang tidur di ranjang itu." ucap Rya memberikan syarat
Mahendra yang mendengar itu langsung saja menuju ke ranjang lalu berbaring di sana dan membentangkan tangan dan kakinya dengan luas.
"Tidak bisa ini adalah ranjang milik ku, aku juga tidak butuh maaf dari mu, malam ini harus kau yang tidur di sofa." ucap Mahendra sambil mecoba menguasai setiap sisi ranjang king sizenya itu dengan badan tinggi serta kekarnya.
Rya yang melihat itu langsung saja memalingkan wajahnya. karena sebenarnya Rya sudah tau bahwa Mahendra tidak akanm mungkin mau mengalah padanya.
"Dasar anak kecil." ucap Rya sambil menuju ke arah sofa.
"Apa? anak kecil? sini mendekatlah pada ku agar kau tau seberapa dewasanya aku?" ucap Mahendra yang tengah beranjak duduk sambil menepuk sisi yang kosong di sampingnya
Rya yang mendengar itu hanya memalingkan wajahnya malas, sebab Rya sangat tau bila meladeni Mahendra bicara pasti ujung-ujungnya hanya akan merugikannya, sementara Mahendra pasti akan tersenyum senang melihat wajah marah Rya
"Aku ingin menggunakan kamar mandi terlebih dahulu." ucap Rya tanpa mendengar tanggapan dari Mahendra
"Tumben sekali wanita itu tidak banyak bicara, biasanya dia akan menjawab setiap kata-kata yang keluar dari mulut ku. baguslah jika seperti itu aku akan bisa mengendalikan dirinya dan mengikuti semua perintah ku." batin Mahendra menatap punggung Rya yang kini mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.
Rya lalu mulai membersihkan dirinya dan tak lupa Ia sudah menyediakan baju gantinya di kamar mandi karena tidak mau mengambil resiko bila Mahendra melihatnya keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang hanya menggunakan handuk.
Walaupun Mahendra sering mengejek tubuhnya yang tidak se bahenol wanita2 yang katanya sering Mahendra temui , namun tetap saja Ia harus berjaga-jaga, mengingat semua insidennya bersama Mahendra yang tak sesuai dengan ucapan Mahendra membuat Rya semakin was was.
selesai membersihkan diri Rya lalu mengganti pakaiannya lalu keluar dari kamar mandi.
saat keluar dari kamar mandi Rya mendapati Mahendra yang sedang duduk di sofa tempatnya tidur nanti.
"Kenapa kau duduk di situ? hus pergi sana, pergi dari sofa itu, aku ingin segera beristirahat." usir Rya yang sudah merasa sangat kelelahan.
"Apa kau sangat suka tidur di sofa, sudah tidurlah di ranjang sana, malam ini ada yang harus aku kerjakan jadi aku akan pergi keluar, jadi kau bisa menggunakan ranjang ku untuk tidur." ucap Mahendra bagaikan seribu bunga yang tengah berada di hati Rya, Ia sangat bahagia karena malam ini Rya tidak jadi menyiksa dirinya untuk tidur di atas sofa.
"Dengan senang hati." ucap Rya lalu mendekati ranjang dan membaringkan dirinya di sana.
setelah itu Mahendra langsung keluar dari kamar dan meninggalkan Rya sendiri.
"Mau ke mana dia?" monolog Rya dan selanjuynya ia tidak mau ambil pusing dan langsung mengatur posisi tidur yang nyaman untuknya.
****
sekian untuk Bab ini teman2...
😊😊
jangan lupa likenya yah. 😉😉