Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Vahisa
Anak buah tuan besar masih mencari kekasih tuan muda. Kini mereka berada di negara Thailand. Sekumpulan orang itu berjaga-jaga, takut orang yang akan mereka temui ini menghindari.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar apartemen. Vahisa segera membuka pintu kamarnya, dia terkejut dengan kedatangan orang-orang yang ramai itu.
"Kalian siapa?" tanya Vahisa.
"Kami adalah anak buah yang ditugaskan oleh tuan besar, untuk mencari nona Vahisa."
"Tugas dari Om Hadi Iya?" tanya Vahisa memastikan.
"Betul sekali nona muda. Apa engkau Vahisa?"
"Iya aku Vahisa." Gerak cepat bersemangat.
"Tuan besar meminta nona untuk ikut bersama kami."
"Baiklah." jawab Vahisa. Dia tahu akan sulit untuk menolak permintaan papa Argan.
Nadin menulis di buku pribadinya, sambil menunggu Argan yang yang sedang keluar sebentar dari kamar. Nadin mencatat perlengkapan rias, yang akan dikenakan depan Argan.
"Kamu menulis apa sih Nadin?" tanya Argan.
"Aku mencatat tulisan pribadi." jawabnya.
Padahal sudah pernah membaca isinya, namun masih saja bertanya. Dasar tuan muda yang berlagak dingin bin elegan.
"Boleh aku melihatnya?"
"Maaf sayang tidak bisa." Nadin segera menutup buku hariannya, menyudahi untaian kalimat rencana terjadwal itu.
"Baiklah, kalau begitu temani aku ke atas ranjang tidur." pinta Argan dengan tegas.
"Iya Argan sayang." Nadin mengucapkan balasan dengan lembut.
Kini mereka berdua naik di atas ranjang tidur. Argan menyuruh Nadin duduk di pangkuannya. Argan memberi titah hanya dengan bahasa isyarat, yaitu menepuk-nepuk pahanya. Nadin masih ragu untuk menuruti permintaan Argan, pikirannya sudah melayang kemana-mana.
"Kenapa kamu diam. Cepatlah, aku sedang menunggumu." Argan sudah tidak sabar lagi, hingga terlalu menggesa-gesa.
Nadin segera duduk, di pangkuan Argan. Merasa senang akhirnya Argan memegang kedua tangan Nadin, dan mengelus-elus kepalanya sendiri.
"Usap dengan lembut kepalaku." pinta Argan.
"Baiklah sayang, dengan senang hati." Nadin mengelus dengan lembut rambut Argan.
Drrt! Drrt!
Telepon Argan berbunyi, dia segera meraih ponsel yang ada di sampingnya. Argan melihat kontak yang bertuliskan nama Hadi.
"Halo Pa!" Berbicara setelah telepon tersambung.
"Argan, Papa ingin memberitahu kamu kabar gembira." ujar Hadi.
"Apa itu Pa?" tanya Argan.
"Sekarang Vahisa berada di rumah kita. Kamu pasti rindu sekali dengan dia." Hadi tersenyum lebar, rasanya ingin tertawa lantang.
"Papa jangan bohong. Dia bahkan sudah menghilang dalam waktu yang lama." jawab Argan.
"Kalau kamu tidak percaya, pulang saja ke rumah." pancing Hadi.
"Kalau pun dia kembali, aku tidak ingin peduli lagi." Argan berusaha membuang jauh perasaannya.
Masa lalu itu kini kembali. Seolah ingin membelenggunya lagi, merantai kan hati yang sempat berjauhan. Namun naluri terdalam tetap mengelak, karena mengulang masa lalu adalah sebuah kebodohan menurutnya.
"Papa sedang tidak membohongimu. Papa harap kamu dapat menerimanya. Dia punya alasan yang logis, kenapa pergi meninggalkanmu tanpa pamitan."
"Aku rasa aku tidak butuh penjelasannya."
"Kamu masih mencintainya 'kan? Dengarkan ucapan Vahisa untuk sekali saja." rayu Hadi.
"Baiklah, besok saat aku pulang dari Jepang aku akan berbicara dengannya. Tapi aku tidak ingin alasan yang tidak bermutu dan membuang waktu."
"Iya, Papa matikan sambungan teleponnya." Hadi memutuskan sambungan teleponnya.
Nadin yang berada tidak jauh dari Argan, tentu dapat mendengar pembicaraan mereka. ”Vahisa? Jadi selama ini, banyak perempuan dalam hidup tuan muda. Kenapa aku merasa sedih, ah sudahlah Nadin jangan menaruh harapan lagi. Hindari dia semampu yang kamu bisa, hingga uang dua ratus juta terkumpul. Rasanya aku masih ingin berjuang, ini terlalu cepat menyerah.” batin Nadin menjadi bimbang.
Niken melompat-lompat kegirangan. Dia benar-benar merasa senang, akan kehadiran Vahisa.
”Aku harus mendekati nona muda cantik itu. Lihat saja kamu Nadin, sebentar lagi status jandamu sedang berjalan.” batin Niken.
"Kriwil, kenapa itu pelayan baru tukang intip di balik tembok pembatas?" tanya Andi.
"Wah mencurigakan. Ini ada yang tidak beres, ayo kita samperin dia." ajak Fendi.
Fendi segera menghampiri Niken, dengan persiapan senter. Niken sangat terkejut, saat kepalanya terkena cahaya senter.
"Hei pelayan tukang mengendap!" ujar Fendi.
Niken terkejut dan segera menoleh ke sumber suara. Merasa kesal karena ingin menguping namun dihalangi.
"Bisakah kalian jangan menggangguku?"
"Tidak bisa, kau itu tukang mengendap yang patut dicurigai." celetuk Fendi.
"Betul itu, apalagi sekarang ada penguntit di rumah istana ini." tambah Andi.
"Terus kalian mau menuduhku sebagai penguntit, atau penyusup di rumah ini gitu? Enak sekali iya hidup kalian main perkiraan, seperti cuaca saja." Ujar Niken.
"Bukan menuduh, kami hanya waspada saja tukang mengendap."
"Terserah kalian deh." Niken segera meninggalkan mereka. Namun sebenarnya tidak benar-benar pergi jauh, dia hanya bersembunyi di tempat yang tidak jauh dari sana.
Setelah cukup lama Niken menunggu, akhirnya Vahisa berjalan seorang diri. Niken tidak ingin kehilangan kesempatan, dia segera menghampiri Vahisa.
"Selamat datang nona cantik!" Niken menyapa berlagak ramah. Dia menyambut Vahisa layaknya tuan putri.
"Iya, kamu siapa iya?" tanyanya.
"Kenalin aku Niken." Dia mengulurkan tangannya.
Vahisa membalas uluran tangan itu. Dia sebenarnya malas, tapi setelah dipikir-pikir dia bisa memanfaatkan pelayan di depannya.
"Hmmm namaku Vahisa. Ngomong-ngomong di mana Argan dan istrinya?" tanya Vahisa.
"Dia ke luar negeri bersama nona muda." Niken menjawab seadanya, merasa geli memanggil Nadin dengan sebutan, yang diucapkan barusan.
"Oh, pantas saja aku tidak melihatnya lagi." Vahisa memperhatikan segala sisi istana.
Sementara itu Sahara menguping pembicaraan Niken dan Vahisa. Dia merasa tidak suka dengan pelayan, yang pernah dilempari robot olehnya saat itu. Sahara melihat tingkah Niken yang menyebalkan, seolah cari-cari perhatian pada Vahisa.
"Kak Nadin dan Kak Argan coba sudah pulang, pasti aku tidak kesepian seperti ini. Aku bisa mengajak mereka bermain petak umpet. Mungkin saja lusa mereka kembali ke rumah ini." monolog Sahara.
Tiba-tiba saja ada yang menjewer telinga Sahara. Sang pemilik telinga meringis, dia segera mendongak ke belakang. Ternyata yang menjewer nya tak lain adalah Hadi, papa kandungnya sendiri.
"Kenapa Papa menjewer telingaku?" tanya Sahara.
"Karena kamu menguping pembicaraan mereka." jawab Hadi, dengan raut wajah mengancam.
"Memangnya salah Pa?" tanya Sahara.
"Sangat salah. Anak kecil dilarang untuk selalu ingin tahu urusan orang dewasa." ujar Hadi tegas.
"Maaf Pa, aku hanya penasaran. Kenapa pelayan baru itu menyebalkan."
"Dia tidak menyebalkan, dia baik sekali pada Papa. Dia adalah kepercayaan Papa yang siap sedia membantu."
Sahara menatap penuh keheranan, juga penuh tanda tanya pada pikirannya. "Membantu apa memangnya. Lebih baik pecat saja." Cemberut, dan segera beralih dari posisinya.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂