NovelToon NovelToon
Assalamualaikum Pengagum Rahasia

Assalamualaikum Pengagum Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen School/College / Romansa-Teen school
Popularitas:59.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elisa_nafiah

Bagaimana perasaanmu ketika dibersamakan dalam ikatan halal bersama ia yang mengagumimu dalam diam?
Ini tentang kisah mereka yang saling terkagum dalam diam dan do'a. Tak berani mendekat dengan sesama, melainkan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati terlebih dahulu.
Karena Allah tak pernah ingkar dengan janji-Nya. Bagi mereka lelaki baik untuk perempuan baik, dan bagi mereka lelaki tidak baik untuk perempuan tidak baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisa_nafiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21- MASA SMA - Pemberian ke Dua

      Biarkan aku mengagumimu dalam diam, menyertakan namamu dalam do'aku yang panjang tanpa kau ketahui.

    Aku tak seberani mereka sekarang yang menunjukkan dengan terang-terangan.

  Ya, akulah si pecundang dalam mencintai.

✿✿✿

  Aku memasuki kelas yang hanya tersisa beberapa anak karena yang lain masih ada di lapangan.

  "Darimana aja dah, Sa?" Deni yang duduk di bangku depan itu melemparkan pertanyaan pertama langsung padaku.

    Aku menoleh kecil, "jalan-jalan," jawabku tertawa ringan. "Tadi disuruh ambil gambar dari lantai dua," lanjutku menjelaskan yang sebenarnya.

   Deni mencibir kecil, "hmm ya udah," katanya cuek kembali melanjutkan membaca buku. Ah iya, lupa. Aku belum menceritakan siapa dia.

  Deni termasuk jajaran cowok rajin di kelas, ia juga menduduki lima besar. Cowok berkulit putih dengan mata sipit itu menegaskan seolah dia blasteran. Tapi nyatanya tidak,  orang tuanya asal Bandung semua.

      Cowok yang kalem dan pendiam di semester ini, engga tau kalau semester selanjutnya. Aku meragukan hal tersebut.

  Karena pada dasarnya yang awalnya terlihat kalem itu lama-lama kena virus bobrok dari Hashim. Seperti Rahman, dulu saat memasuki kelas pertama dia pendiam jika tak ada yang mengajaknya komunikasi dia memilih menidurkan diri.

  Nyatanya sekarang? Sama saja.

   Deni kembali merunduk membaca lagi, dengan aku yang menatapnya kasihan.

  Semoga kamu tidak kena virus Hashim ya.

  Aku kembali melanjutkan langkah dan terhenti di tempat duduk samping Zaskia.

    Zaskia sudah menenggelamkan wajahnya   diantara kedua tangannya. Ia juga sama lelah harus mondar-mandir mengurus keperluan untuk mensukseskan acara ini.

 

      Aku mendekatinya. "Zas, di UKS aja yuk. Habis ini kita ada acara puncak jam 10, ntar kelas sepi kamu sendirian," kataku membujuk. Ini masih jam sembilan.

 

  Zaskia tergerak kecil dan mengerang.  Mendongak perlahan sesekali mengusap wajah menyadarkan diri.

   "Eung... hmm ntar gue ikut ko, gue mau istirahat sebentar di sini aja," balasnya ingin melanjut tidur.

   Aku menaikkan alis, menghela nafas dan mengangguk mengiyakan saja. Lalu kembali duduk untuk menyantap nasi kotak.

   Selesai makan malam, aku kemudian mendekati Laili yang sejak tadi tak bercengkrama denganku.

   Baru pembukaan bazar pertama, karena untuk umum jadi siapapun boleh datang.

  Dan nyatanya kedatangan pertama itu malam membuat luka Laili terbuka kembali. Mantannya tadi sempat menuju bazar untuk menemui Laili.

    "Udah solat?" tanyaku mendekati, lalu mendudukkan diri di samping Laili yang menaruh kepalanya dengan miring memandangku. Ia mengangguk. "Makan?" tanyaku lagi. Biasanya orang galau itu sudah lupa segalanya. Termasuk makan.

 

   "Udah juga," sautnya tak bersemangat seperti biasa. Ya, Laili. Sosok mungil yang ceria sepanjang hari itu jika sudah moodnya anjlok kebagian paling dasar ia akan berubah seratus delapan puluh derajat.

      Aku bergumam kecil, tersentak saat Laili mengatakan hal ini.

   "Dia datang sama pacar barunya nyamperin gue," eluhnya masih setia menempelkan kepala di atas meja.

   "Katanya udah move on," godaku kecil mencoba mengurangi suasan badmoodnya.

    "Hm, tapi gagal kalau disamperin kek tadi," sambungnya malah merengek.

  Mengingat kejadian tadi memang membuat Laili hampir down di tempat. Bagaimana tidak, dengan tenang itu mantannya datang bersama pacar barunya. Mendatangi dan menyapa Laili dengan ramah. Tanpa ada rasa tidak enak hati, mantan Laili itu memperkenalkan pacar barunya pada Laili.

   Emang dasar cowok kayak gitu maunya apa? 

       "Hmmm, ke musola yuk. Ambil wudhu habis itu ngaji buat nenangin diri atau mau gabung sama anak-anak di lapangan sebelum puncak acara?" hiburku, berharap Laili tidak menolak.

    Kembali mengingat obat penenang yaitu Al-Qur'an dari si misterius tersebut.

    

   Laili mulai mendongak kecil, mengerjap sebentar.

   Ia mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. "Ke musola aja," ajaknya beranjak. Aku mengukir seutas senyuman.

    Mataku mengitari seisi kelas, tak menemukan Nadya dan Syifa. Entahlah sejak tadi aku tak bersama Syifa sekalipun. Dia suka kemana-mana sendirian.

    Aku meninggalkan Zaskia yang masih melanjutkan istirahatnya dan beberapa perempuan yang sibuk bercerita sembari menonton drama Korea.

     Musola yang ramai akan orang yang sekedar duduk di terasnya. Menikmati angin malam yang memias ke wajah mereka masing-masing sembari melihat acara meriah dari sini. Lapangan merupakan pusat segalanya. Jadi dari manapun melihat pasti akan tertuju langsung pada acara meriah malam itu.

  Kecuali kantin, karena kantin berada di belakang deretan kelas sepuluh.

   

    Acara puncak akhirnya dimulai  semuanya sudah berkumpul menyalakan flash hape masing-masing. 

  Acara puncak untuk hari pertama dibuka untuk umum jadi ramai orang yang luar sekolah berdatangan untuk ikut menonton atau memeriahkan, kecuali acara hari terakhir hanya dikhususkan untuk semua warga sekolah saja.

    Laili kini hanya diam dan sedikit tertawa, badannya panas tapi masih dipaksa untuk gabung. Ia menggunakan hoodie yang tadi sempat diberikan Afran padanya saat bertemu dikoridor kelas.

   Entah sejak kapan kedekatan mereka tapi aku juga harus mulai pantau lagi. Selama aku masih bisa mengingatkan agar mereka tidak mendekati pacaran akan ku lakukan.

  

Kenapa harus pacaran sebelum nikah kalau nyatanya bisa pacaran setelah menikah?

   Untuk apa? Berkenalan lebih dekat?

   Lalu jika sudah tau sifat buruknya akan ditinggal pergi begitu saja dan mencari yang baru?

  Jika memang berniat untuk berkenalan ajak ta'aruf lalu mengkhitbah. Bukan pacaran jika bosan lalu ditinggal.

  

   Iya memang bukan berarti aku sangat ingin menikah. Tidak, aku masih ingin memperdalam ilmuku tapi dengan mempelajari bagaimana indahnya menikah tanpa pacaran dan pacaran baru menikah. Keberkahannya yang beda.

  Eung... tunggu kenapa aku jadi mengomel seperti ini? 

   Aku berdeham kecil, memperhatikan Laili yang sudah senyum-senyum di dunianya sendiri. Efeknya emang selalu dahsyat, tapi kita harus baik-baik mengontrol rasa kita.

   

    "Nadya sama Syifa kemana?" tanya Zaskia celingukan mencari dua orang tersebut.

   Aku menoleh, tersentak kecil tidak melihat mereka berdua di sekitar.

   "Iya kemana? Dari tadi aku ga sama mereka loh!" ucapku.

   Laili juga ikut menoleh melebarkan mata. Kita jadi sibuk merunduk pada handphone, mencoba menghubungi mereka.

   "Ada di lantai dua, menuju ke sini," lapor Zaskia cepat. Aku mendesah lega.

   "Syukurlah, tadi udah sempet panik," kataku mengingat mereka seolah  memisahkan diri seperti ini.

   Kita kembali memandang ke arah panggung, dentuman lagu yang menggema dengan keriangan masing-masing berloncat ria di depan menikmati.

   Aku tanpa sadar tersenyum entah untuk apa, saat Fariz di depan membawakan sebuah lagu.

   Zaskia menyenggol lenganku, seolah memberikan tanda.

   "Dia tuh, rekam sana!" perintahnya terkekeh.

   Aku mendengus kesal, "enggak ah!" tolakku melirik malas.

    Aku kembali memandang ke arah depan, dimana para perempuan lebih histeris mengambil gambarnya dan beberapa video.

   Hm. Yang mengagumi bukan hanya aku.

    Biarkan aku mengagumimu dalam diam, menyertakan namamu dalam do'aku yang panjang tanpa kau ketahui.

    Aku tak seberani mereka sekarang yang menunjukkan dengan terang-terangan.

  Ya, akulah si pecundang dalam mencintai.

  Asal tetap dalam ridho illahi, aku akan tetap melakukan.

✿✿✿

   Keesokan harinya kami membuka stand kembali, beberapa juga masih ada yang bersiap-siap.

   

     Umah kini sedang berdiri di atas panggung sebagai pembuka menyambut semuanya yang ada di tengah lapangan.

    Sedangkan aku sekarang sudah dipanggil untuk menyiapkan kembali lomba qiraah di musola.

  Aku bertemu dengan Sofia di koridor kelas IPS

   "Ini daftar peserta ya," ucap Sofia menyerahkan data-data peserta yang mengikuti lomba tersebut. Mungkin seharian ini aku tak ikut turun tangan dengan kelas. Lebih padat jadwal di Osis.

   "Baiklah, syukran katsiran, Sof," ucapku sembari menerima data di dalam map tersebut.

   "Acaranya jam 1 siang, selesai solat dhuhur. Untuk jam ini kumpul dulu di ruangan ada rapat!"

   Aku kembali mengangguk paham. Lalu Sofia beranjak pergi untuk memeriksa setiap stand, karena dia sebagai penilai.

  

   "Sa!" panggil Gina bersama Natassa.

   "Eh iya. Kalian ga jaga stand?" tanyaku kini jadi mengarah penuh pada Natassa. "Kok belum make up-an? Kan kamu yang ngewakilin tema kelas."

     "Ntar ajalah masih lama jugak!" jawab Natassa dengan nada terdengar ketus dan cuek.

   Dalam hati aku beristighfar.

  Jangan suudzon jangan suudzon, Sa.

    Aku mengulas senyum. "Lalu?" Aku memandang mereka bergantian, mengangkat alis kenapa mereka masih ada di sini.

   "Ini dari Vian, roti sama susu kotak ultramilk katanya buat sarapan," ucap Gina menyerahkan sekantong plastik putih padaku.

  Aku ternganga.

    "Hm? Aku udah sarapan," jawabku memang tadi jam lima sudah ke kantin bersama sahabat-sahabatku.

   Gina mengangkat bahu tak mau tau, tetap menyodorkan padaku.

  Vian apa-apaan lagi.

   "Yaelah terima ajalah, ga usah sok jaim gitu. Hargai pemberian orang!" saut Natassa membuat aku menoleh dan mendelik. Sedangkan Gina yang mendengar itu langsung menyenggol bahu Natassa mengisyaratkan untuk diam.

     Akhirnya aku mengambil alih, "lalu Vian mana?" tanyaku.

  Dia kan bisa memberinya langsung tanpa lewat teman kayak gini.

  Ini kenapa pada mendadak misterius sih? Di mulai dari Fariz yang nitip air mineral buat aku lewat Dilla dan sekarang Vian?

Kenapa tidak lewat Hashim? Kenapa harus Gina dan Natassa? 

  Mereka berdua ngerencanain apa?

   "Vian di rooftop sama temen basketnya, nyari udara pagi katanya," jawab Gina tenang.

   "Ohhh...."

    Gina berdeham, "kalau gitu kita pamit dulu ya, ngurus stand," pamit Gina bersama Natassa.

   Aku mengangguk lalu menatap kepergian mereka. Jika kalian di posisiku, aku tak menghiraukan Vian tapi lebih ke tingkah Natassa yang dari awal sampai sekarang seperti itu ke aku.

  Aku yang perasa atau dia yang seperti itu sifatnya?

  Entahlah, ya Allah ampuni dosa hamba juga dosanya.

  Aku merunduk, beristighfar dan menghela nafas sesaat.

✿✿✿

1
suharlina
udah ngak dilanjut ya
🍒⃞⃟🦅
klepek2 uy 😻🤭
Ara Muybella
ini ko g up terus y udah hampir 2 thn ceritanya mewakili banget masa" sekolah dulu up lg dong
y
next ka
y
next
Nabila
lanjut dong kk
Nabila
lnjt kk
Nabila
bgus kk
Nabila
p
Nabila
semangat kk
Nabila
wkwkw
Nabila
bikin penasaran aj kk
Ana Ini
lanjut dong kak😊
Cummee ClluluphLuph Jendol
kk author kmn yah, kq novelnya berhentiiii. lanjut lahhhh
Reni Nuraeni
lanjut dong ka;)
M4r$@nd@~~~
Up lagi dong kak seru lohh seriusss bagus banget aku udah nunggu nunggu lohh ❤
Melly Kamili
lanjut lagi kk.
Cummee ClluluphLuph Jendol
kpan yg up dek..
Pina
haloo saya baru belajar menulis karyaku, mampir yu ke novel saya 😊😊


Disepertiga malamku

terima kasih sebelumnyaa😉
Sa'adah Nurjanah
nungguuu
Pina: haloo saya baru belajar menulis karyaku, mampir yu ke novel saya 😊😊


Disepertiga malamku

terima kasih sebelumnyaa😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!