Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: ALESHAOS DILUNCURKAN
Pukul 09.00 pagi. Lobi Utama Vantec Tower.
Hari ini, lobi yang biasanya kaku dan dingin disulap megah jadi arena peluncuran produk teknologi terbesar se-Indonesia.
Spanduk raksasa dua puluh meter terbentang di langit-langit: PELUNCURAN ALESHAOS - SISTEM OPERASI KARYA ANAK BANGSA - CEO ALESHA VION.
Di bawah spanduk itu, dua ratus wartawan, seratus investor kakap, dan lima ratus karyawan berkerumun padat nunggu detik peluncuran.
Di atas panggung utama, Alesha berdiri anggun pakai dress putih CEO dengan hamil dua bulan yang masih samar. Di latar belakang, layar LED raksasa tampilkan logo baru perusahaan, huruf A bermahkotakan permata.
Vion duduk tenang di barisan VIP paling depan, pakai jas hitam elegan, pangku laptop, ngawasi Alesha dengan tatapan kayak fans garis keras ke idolanya.
Alesha raih mikrofon.
"Selamat pagi. Tujuh tahun lalu, saya rancang sistem operasi ini di kontrakan sempit tiga kali empat meter pakai laptop usang tiga juta. Mantan suami saya, Rian, curi kode program itu lalu jual ke Grup Mahardika dua miliar dan klaim sebagai ciptaannya. Hari ini, saya ambil kembali hak saya. Dan saya perkenalkan resmi sebagai AleshaOS."
Layar LED langsung nyala, demokan kecanggihan AleshaOS. Cepat, ringan, anti-lemot, dan kompatibel bahkan untuk HP spek rendah.
Dua ratus media bersorak gegap gempita. Investor langsung buka laptop masing-masing pantau pergerakan saham.
Grafik saham Vantec yang dibuka di angka 1.500 pagi tadi, dalam sepuluh menit meroket tajam tembus 3.500. Lonjakan 150 persen.
Hendra bisik ke Vion, "Tuan, saham melesat 150 persen. Untung kita nambah 4,5 triliun cuma dalam sepuluh menit."
Vion senyum tipis. "Ratu ku memang luar biasa."
Tapi acara belum selesai.
Alesha jentikkan jari. "Dan untuk rayakan momen bersejarah ini, saya sudah siapkan bintang tamu istimewa."
Pintu utama lobi terbuka lebar.
Semua mata langsung noleh ke sumber suara.
Sosok robot setinggi 170 cm warna silver mengkilap melangkah kaku masuk ruangan. Di dadanya nempel label: ALESHAOS ROBOT.
Robot itu jalan ke tengah panggung sambil bagiin brosur AleshaOS ke wartawan.
Para kuli tinta tahan tawa, rekam tingkah lucu robot itu.
Sementara Vion justru kerutkan kening. Cara jalan robot itu ganjil. Kakinya gemetar hebat.
Alesha kembali angkat mikrofon dengan senyum manis.
"Robot ini adalah simbol. Simbol bahwa AleshaOS mampu gerakkan apa pun, bahkan benda paling kaku sekalipun. Wahai robot, coba sapa para hadirin."
Robot itu berhenti tepat di tengah panggung. Suara yang keluar dari balik benda itu parau, gemetar, dan tertahan isak tangis.
"Se... selamat pagi... selamat datang... di peluncuran... AleshaOS..."
Suara itu...
Suara Clarissa Mahardika.
Karyawan yang kenali suara Clarissa langsung belalakkan mata tidak percaya.
Alesha melangkah dekati robot itu, lalu dengan gerakan cepat buka helm yang nempel di kepalanya.
Brak!
Helm silver itu lepas.
Di baliknya bukan kerangka mesin, melainkan wajah Clarissa Mahardika yang basah keringat, makeup luntur berantakan, rambut kusut masai, terperangkap di dalam kostum robot seberat lima belas kilo yang panas di dalamnya.
Clarissa sang OB.
Clarissa yang pagi tadi diperintahkan Hendra pakai kostum robot lima juta sebagai ganjaran atas tindakan jual data perusahaan kemarin.
"CLARISSA?!" pekik dua ratus wartawan serempak, refleks arahkan lensa kamera mereka.
Lampu flash kedip-kedip tiada henti. Jepret! Jepret! Jepret!
Clarissa niat kabur, tapi bobot kostum robot itu terlalu berat. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas panggung, tepat di depan kaki Alesha, dikelilingi sebaran brosur AleshaOS.
Tangisnya pecah seketika.
"Alesha... ampuni aku... baju ini panas banget... aku sudah tidak kuat..."
Alesha berlutut di depan Clarissa yang tak berdaya, tetap tampil memukau pakai baju CEO putih bersih. Ia bantu Clarissa bangkit perlahan di depan dua ratus wartawan.
"Clarissa, kenapa kau nangis? Bukankah kau bintang tamu istimewa saya? Bukankah dulu kau yang sebut sistem operasi saya sebagai sampah dan tidak akan laku di pasaran? Kini kau saksikan sendiri, sistem operasi sampah saya mampu dongkrak saham sampai 4,5 triliun dalam sepuluh menit. Tidakkah kau bangga sebagai mantan putri presdir?"
Kalimat itu meluncur lembut dari bibir Alesha, tapi menghujam seperti ribuan jarum tak kasat mata di depan publik.
Clarissa nunduk sedalam-dalamnya di balik helm robot silver yang sudah terbuka. Air matanya netes basahi kostum.
"Aku... aku bangga... Nyonya..."
"Bagus," puji Alesha sambil elus kepala Clarissa yang berkeringat deras di dalam kostum itu. "Kalau kau bangga, lanjutkan bagiin brosur ini sampai acara selesai, dua jam dari sekarang. Karena dulu kau sebar brosur fitnah tentang kehamilan ku di kampus. Hari ini, edarkan brosur nyata tentang kesuksesan saya."
Clarissa tidak punya daya tawar. Terbalut kostum robot lima belas kilo yang sesakkan dada, ia kembali melangkah kaku sebarkan brosur ke jurnalis yang ketawain sekaligus rekam penderitaannya.
Di barisan VIP, Vion ketawa lepas penuh puas dan bisik ke Hendra, "Abadikan foto robot itu, jadikan meme. Kirim ke grup ojol milik Rian."
Hendra angguk cepat.
Jauh di kontrakan sempit Tanjung Priok, Rian lihat video Clarissa jadi robot dari grup ojol dan hancurkan ponsel usangnya yang sudah retak ke lantai.
"CLARISSA! SIALAN KAU JUGA!"
Di atas panggung utama, Alesha berdiri berdampingan dengan Clarissa yang terjebak kostum robot, angkat tangan wanita itu tinggi-tinggi.
"Demi AleshaOS! Dan demi kerja keras! Bahkan putri mantan presdir pun sanggup jadi robot kalau dia mau kerja keras!"
Dua ratus wartawan kasih tepuk tangan meriah, tidak henti bidik foto Clarissa yang terisak dalam balutan kostum robot silver.
Peluncuran AleshaOS sukses luar biasa. Nilai saham melambung sampai 300 persen menjelang penutupan acara, raup untung bersih sembilan triliun dalam sehari.
Dan foto Clarissa si robot sukses rajai trending topic nomor satu di TikTok dengan judul: MANTAN PUTRI PRESDIR JADI ROBOT BAGIIN BROSUR DI ACARA MANTAN YANG DULU DIHINA.
Malam harinya, di penthouse lantai 99, Alesha lepas hak tingginya, lalu elus perutnya yang mulai sedikit buncit di usia dua bulan.
"Arka, lihatlah. Mama tidak perlu pukul mereka. Mama cukup suruh mereka pakai kostum robot. Hukuman seperti itu jauh lebih menyiksa daripada sakit fisik, kan?"
Vion yang lagi pijat lembut kaki istrinya, ketawa terbahak-bahak.
"Kau jauh lebih kejam dari aku, Ratuku. Aku cuma pecat direksi. Sementara kau sukses ubah putri presdir jadi robot."
Alesha senyum manis, sandarkan kepalanya di bahu Vion.
"Belum seberapa, Tuan Vion. Perjalanan babak kedua masih panjang. Besok aku niat jadikan dia patung hiasan di lobi."