NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Target Pengganti

Arka baru saja melangkah melewati ruang tengah, bersiap pergi, ketika Dino yang sedang mengunyah roti tiba-tiba tersedak hebat.

"Uhuk! Bos! Bos, tahan bentar!" Dino heboh, memukul-mukul dadanya sendiri sampai wajahnya merah.

Arka berhenti. Pria itu berbalik dengan gerakan pelan, tapi auranya langsung membuat suhu ruangan anjlok. "Kalau kau cuma mau pamer tersedak, saya suruh Bara melemparmu ke bawah."

"Bukan, Bos!" Dino buru-buru menelan sisa rotinya dengan susah payah. Tangannya gemetar meraih mouse, mengetik sesuatu dengan tergesa di laptop tebalnya. "Si Victor main kotor!"

Rara yang sedari tadi memeluk lutut di ujung sofa langsung menegakkan punggung. "Maksud lo?"

Dino langsung menyambungkan laptopnya ke proyektor. Peta digital kota berkedip terang di dinding kaca. "Victor sadar pasukannya rontok semalam. Ngadu fisik sekarang sama aja dia setor nyawa ke Bos Arka. Makanya dia ganti taktik."

"Bicara pada intinya, Dino," potong Bara dingin dari sudut ruangan, matanya menyipit menatap layar.

"Sabar, kulkas!" Dino mendelik sekilas ke arah Bara, lalu menatap Arka dengan raut serius yang jarang ia tunjukkan. "Anak buah Victor baru aja ngejebol server sipil subuh tadi. Mereka lacak latar belakang Mbak Rara. Kampusnya, alamat kosannya, sampai teman-teman terdekatnya."

Jantung Rara serasa berhenti berdetak. Mulutnya mendadak kering. "Terus?"

"Karena semalam mereka gagal nyulik Mbak Rara," Dino menelan ludah, menunjuk satu titik merah yang berkedip cepat di layar, "sekarang mereka ngincer orang terdekat buat disandera."

Mata Rara mengikuti arah telunjuk Dino. Nama sebuah kawasan apartemen mahasiswa tertera di sana. Darah gadis itu langsung tersedot habis ke dasar bumi. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Beby..." cicit Rara, suaranya gemetar. Wajahnya seketika pucat pasi.

Arka langsung menoleh, sorot matanya menajam. "Siapa Beby?"

"Sahabat gue, Arka," jawab Rara panik.

Gadis itu refleks berdiri. Kakinya yang mendadak lemas sampai menabrak ujung meja kaca, tapi ia tidak peduli. Air matanya langsung mendesak keluar. "Kami satu jurusan. Titik merah itu... itu gedung apartemen Beby!"

Dino mengetik dengan cepat, memunculkan jendela baru di proyektor. Rekaman CCTV jalanan yang agak buram langsung tayang di dinding. "Gue baru aja ngebajak kamera keamanan di sana. Nih, lihat. Ada dua van hitam tanpa pelat mondar-mandir di sekitar lobi sejak lima belas menit lalu."

"Mereka menunggu target keluar?" tanya Bara, melangkah mendekat tanpa mengubah ekspresi datarnya sama sekali.

"Iya. Beby biasanya ada kelas pagi jam delapan. Begitu dia turun ke lobi, mereka pasti langsung nyergap," jelas Dino, jari-jarinya masih menari cepat di atas keyboard.

Rara makin limbung. Bayangan Beby yang manja, yang kalau terluka sedikit saja tangisannya bisa seharian, dan sama sekali buta soal dunia kriminal, kini diintai oleh pembunuh bayaran. Perut Rara mual hebat. Kepanikannya benar-benar mengambil alih akal sehat.

"Arka!" Rara menerjang maju, mencengkeram erat kemeja hitam pria itu. Tangannya bergetar parah. "Kita harus tolong Beby! Sekarang! Victor nggak boleh nyentuh dia!"

Arka menunduk, menatap sepasang tangan kecil yang meremas bajunya, lalu menatap wajah gadis itu. Dingin. Kaku. Tanpa belas kasihan. "Itu risiko karena dia berdekatan denganmu."

"Lo gila ya?!" jerit Rara kalap, air matanya tumpah membasahi pipi. "Beby nggak tahu apa-apa! Dia nggak ada urusannya sama dunia kotor lo! Ini semua gara-gara gue yang diseret ke masalah lo!"

"Nona Rara," tegur Bara datar dari belakang, "jaga nada bicara Anda pada Bos."

"Diem lo, Bara!" semprot Rara histeris, menatap pengawal kaku itu dengan mata menyala dan napas memburu. "Sahabat gue mau diculik mafia, dan lo suruh gue santai jaga nada?! Lo kira gue robot kayak lo?!"

Bara sama sekali tidak berkedip, raut wajahnya tetap sedatar tembok beton.

Arka perlahan mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat tanpa suara pada Bara untuk diam. Pria itu kemudian mengangkat kedua tangannya, mencengkeram bahu Rara. Cengkeramannya tak terbantahkan, kaku dan sekeras besi, memaksa gadis itu mendongak dan menatap langsung ke dalam sepasang mata gelapnya.

"Dengarkan saya," perintah Arka rendah, namun resonansinya menggetarkan seluruh ruangan.

"Nggak, Arka! Kita harus ke sana atau"

"Lihat saya, Rara." Suara Arka berubah lebih berat, absolut.

Rara terdiam, isakannya tertahan paksa di tenggorokan. Matanya yang basah dan penuh ketakutan terkunci telak oleh tatapan tajam pria di hadapannya.

"Saya sama sekali tidak peduli dengan sahabatmu," ucap Arka kejam dan jujur, menegaskan siapa dirinya sebenarnya. "Tapi saya peduli kalau kau menangis karena Victor."

Rara menelan ludah, tubuhnya masih gemetar di bawah cengkeraman Arka.

"Tidak akan ada satu pun rambut sahabatmu yang disentuh oleh anjing-anjing Victor. Itu janji saya," kata Arka mutlak, menatap lurus menembus keraguan gadis itu. "Dan saya tidak pernah gagal menepati janji."

Genggaman kokoh Arka di bahunya entah bagaimana meruntuhkan sedikit kepanikan yang menyiksa Rara. Ia tahu bos mafia di hadapannya ini tidak pernah main-main dengan ucapannya. Rara mengangguk lemah.

"Gue ikut ke sana," putus Rara tiba-tiba, menyeka air matanya dengan punggung tangan secara kasar.

"Tidak," tolak Arka cepat dan dingin.

"Arka, Beby itu gampang panik! Kalau lihat cowok-cowok seram bawa pistol datang nyamperin dia, dia bisa pingsan di tempat! Gue harus ada di sana buat nenangin dia!" Rara berkeras, membalas tatapan intimidasi Arka tanpa gentar.

"Kehadiran Anda di lapangan hanya akan memecah fokus Bos," sela Bara lagi, nadanya kelewat objektif mengukur risiko. "Anda adalah target utama. Keluar dari tempat ini sama dengan bunuh diri."

"Gue nggak peduli!" Rara menoleh marah. "Gue nggak bakal turun dari mobil! Tapi kalau Beby sampai kenapa-napa karena dia ketakutan dan berontak, gue nggak bakal maafin lo semua!"

Arka melepaskan bahu Rara, otot rahangnya mengeras. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, menimbang sesuatu di balik kepala dinginnya yang selalu dipenuhi kalkulasi maut.

"Bara," panggil Arka tajam.

"Siap, Bos."

"Siapkan kendaraan lapis baja cadangan di basemen. Persenjataan penuh." Arka membalikkan badannya menghadap layar proyektor. "Dino, ambil alih semua satelit dan CCTV di kawasan apartemen itu. Kunci pergerakan mereka. Manipulasi lampu lalu lintas. Jangan biarkan dua van itu keluar dari area lobi."

"Siap laksanakan, Bos! Jalur gue blokir sekarang juga!" Dino langsung mengetik kesetanan, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Sifat lolanya menguap habis menyadari bosnya benar-benar masuk ke mode pembantaian.

Arka beralih menatap Rara yang masih berdiri tegang. "Kau ikut di mobil bersama Bara. Tidak turun sama sekali. Tetap di kursi belakang dan kunci pintunya. Sekali kau melanggar perintah saya, saya sendiri yang akan mengikatmu."

Bara mengangkat sebelah alisnya sedikit ekspresi paling maksimal yang bisa ia tunjukkan untuk memprotes keputusan gila tersebut. "Bos, membawa Nona Rara ke lapangan adalah risiko buta."

"Saya yang pegang kendali risikonya, Bara," potong Arka dingin, tak terbantahkan.

"Dilaksanakan." Bara langsung memutar tubuh menuju lift khusus tanpa membuang sedetik pun.

Arka menyambar jaket taktis dari atas sofa, membiarkan kain tebal itu menutupi perban di perutnya. Dengan gerakan presisi yang sangat terlatih, ia menarik selongsong pistol Glock-nya sekali. Bunyi gesekan logam itu terdengar tajam, mematikan, dan memenuhi ruangan yang sunyi.

Rara bergidik melihat transformasi kilat tersebut. Pria yang tadi merengkuhnya di atas sofa, kini sepenuhnya berubah menjadi predator berdarah dingin yang bersiap merobek mangsanya di jalanan.

"Victor pikir dia bisa menekan saya dengan mengincar kelemahanmu," desis Arka dingin tanpa menoleh. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai arogan tanpa belas kasihan. "Pagi ini, saya akan tunjukkan kepadanya akibat dari berani mengusik apa yang sudah menjadi milik saya."

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!