Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Dua Sisi Koin
"Aku punya buktinya."
Kalimat Albert menempel di kepalaku sampai dua hari kemudian.
Aku belum langsung menyerang Monica. Anak berumur lima belas tahun yang diam-diam menyimpan bukti transfer gelap tidak boleh dijadikan tameng perang keluarga. Jadi aku menyimpan data dari Albert di Ruang Penyimpanan, menyalin satu versi terenkripsi untuk Reynard, lalu pura-pura tidak tahu.
Pura-pura tidak tahu ternyata pekerjaan melelahkan.
Apalagi ketika Si Kepo terus berkedip.
[Tony: belum cukup data.]
[Monica: tingkat kebusukan stabil.]
Terima kasih, laporan ilmiah sekali.
Pada hari kedua puluh enam, Reynard harus menghadiri rapat direksi Wijaya Group di SCBD. Aku ikut karena Pak Hadi mengirim beberapa dokumen rumah dan, jujur saja, karena aku butuh keluar dari rumah sebelum memikirkan Tony sampai gila.
Gedung Wijaya Group pagi itu berkilau seperti menara yang dibangun dari uang dan rahasia.
Aku menunggu di lounge eksekutif bersama Steven. Dari kaca buram, ruang rapat terlihat seperti akuarium mahal berisi hiu berjas.
Steven memberiku kartu tamu khusus. "Jangan masuk ruang rapat. Di sana terlalu banyak pria tua yang berpikir suara mereka adalah strategi."
"Kau tidak termasuk?"
"Aku masih muda dan menyebalkan. Kategori berbeda."
Aku duduk sambil membuka kopi susu yang dibelikan Sari dari bawah. Dari layar kecil di lounge, agenda rapat terlihat jelas: kinerja kuartal, ekspansi properti, audit vendor, dan risiko eksternal.
Risiko eksternal.
Nama Ong Corporation tidak tertulis, tapi aku bisa merasakan bayangannya di setiap baris.
Brandon datang terlambat.
Tentu saja.
Ia masuk dengan kemeja mahal, senyum sombong, dan proposal setebal bantal. Di belakangnya ada beberapa direktur yang wajahnya terlalu patuh.
Steven melirik layar tablet. "Pertunjukan dimulai."
Aku mencondongkan tubuh. "Kau bisa lihat?"
"Aku yang menyiapkan setengah data untuk membunuh proposal itu."
[Terjemahan: Steven sedang menunggu darah.]
Di ruang rapat, Hendra membuka rapat dengan suara berat. Kinerja kuartal diumumkan. Divisi Reynard naik. Divisi Brandon turun tapi laporan dibuat seolah sedang menari balet di atas angka busuk.
Brandon berdiri. Ia mengusulkan ekspansi properti resort di luar Bali dengan proyeksi laba yang terdengar sangat indah.
Terlalu indah.
Ia bicara panjang tentang pasar wisata premium, investor luar negeri, dan "momen emas setelah pemulihan ekonomi". Kata-katanya mengilap, tapi grafik di layar seperti kue ulang tahun yang terlalu banyak krim. Cantik dari jauh, bikin mual kalau dimakan.
[Analisis proposal: biaya infrastruktur diremehkan 38 persen.]
[Risiko izin lingkungan: tinggi.]
[Potensi konflik lahan: tinggi.]
Aku menatap Steven.
"Dia serius?"
"Sayangnya."
Reynard hanya melihat tiga halaman.
"Asumsi okupansi tidak realistis."
Brandon tersenyum kaku. "Pasar premium sedang naik."
"Lokasi tidak punya akses jalan memadai."
"Itu bisa dibangun."
"Belum ada izin lingkungan."
Ruangan hening.
Reynard menutup proposal. "Tiga masalah dasar. Proposal ditolak."
Tiga kalimat.
Proposal setebal bantal mati di tempat.
Aku menahan tawa sampai perut sakit.
Brandon tampak ingin melempar sesuatu, tapi Hendra sudah menatapnya.
"Perbaiki proposalmu sebelum rapat berikutnya."
"Papa..."
"Cukup."
Wajah Brandon menggelap.
Di sampingku, Steven berbisik, "Skor sementara: Rey satu, ego Brandon nol."
"Egonya bisa minus?"
"Bisa. Sedang menuju."
Setelah rapat, kami semua pergi ke Menteng Wijaya house untuk makan malam keluarga kecil yang jelas tidak kecil dan tidak terasa seperti keluarga.
Veronica duduk anggun di ruang makan, senyumnya lembut seperti pisau baru diasah. Di sampingnya ada seorang pria berjas abu-abu, usia lima puluhan, wajah ramah, mata licin.
"Keira," kata Veronica. "Ini Om Denny Hartono. Keluarga Mama."
Aku tersenyum sopan. "Senang bertemu, Om Denny."
[Pemindaian.]
[Denny Hartono.]
[Status publik: pengusaha Hartono Group.]
[Status rahasia: kekasih Veronica.]
Aku hampir tersedak air.
Belum selesai.
[Data tersembunyi: Brandon Wijaya adalah anak biologis Denny Hartono dan Veronica Hartono Wijaya.]
Ya Tuhan.
Gila.
Ini bukan makan malam. Ini ledakan nuklir dengan saus tiram.
Reynard yang duduk di sebelahku mengangkat gelas teh, gerakannya sangat tenang.
Terlalu tenang.
Dia tahu.
Aku menatapnya sekilas.
Matanya tidak bergerak, tapi jari telunjuknya mengetuk meja sekali.
Satu ketukan kecil.
Seperti berkata, diam dulu.
Aku langsung menahan ekspresi sekuat mungkin.
Tentu saja gagal.
Brandon adalah anak Denny? Jadi selama ini Hendra membesarkan bom waktu di rumah sendiri? Veronica benar-benar...
Reynard meletakkan sendok.
Aku pura-pura memotong ayam.
Makan malam berjalan dengan senyum palsu dan percakapan bisnis. Denny memuji Brandon terlalu banyak. Veronica menatap Reynard terlalu sedikit. Hendra tampak diam, tapi matanya menghitung semua orang.
Yang paling membuatku tidak nyaman bukan cara Denny bicara.
Melainkan cara Veronica mendengarnya.
Setiap kali Denny menyebut "anak muda butuh kesempatan", jari Veronica menyentuh cincin di tangannya. Gerakan kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi Denny selalu berhenti tepat setelah itu, seolah menerima sinyal.
[Interaksi tersembunyi terdeteksi.]
[Pola komunikasi pasangan lama.]
Aku menelan nasi yang mendadak terasa seperti batu.
Brandon tidak sadar. Ia terlalu sibuk menikmati pujian yang sebenarnya bukan untuk kemampuannya, melainkan untuk darahnya.
Hendra sadar atau tidak?
Pertanyaan itu membuatku melirik pria tua di ujung meja. Hendra memotong daging dengan tenang, tapi matanya sempat berhenti pada tangan Veronica.
Mungkin ia tidak tahu semuanya.
Mungkin ia tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.
"Reynard," kata Denny sambil tersenyum, "Brandon punya visi besar. Kadang anak muda perlu diberi ruang untuk mencoba."
Reynard menjawab datar, "Ruang mencoba bukan berarti ruang membakar uang perusahaan."
Aku hampir menyembur nasi.
Brandon mengepalkan tangan.
Veronica tertawa halus. "Reynard selalu keras."
"Hanya pada proposal buruk," katanya.
Steven yang berdiri di belakang Hendra sebagai tamu bisnis menunduk, bahunya sedikit bergetar.
Setelah makan malam, Steven menarik Reynard ke ruang kerja kecil. Aku ikut karena Hendra memintaku menunggu di dekat ruang keluarga, dan Si Kepo jelas tidak mengenal kata sopan.
[Akses audio tersedia.]
Kepo, kau benar-benar tidak punya moral.
[Benar.]
Suara Steven masuk pelan dari panel.
"Ong Corporation mulai masuk ke anak perusahaan sawit di Jawa Timur. Mereka beli saham lewat tiga pihak."
Reynard menjawab, "Kunci rute logistik dan audit kepemilikan."
"Sudah. Tapi ini agresif."
"Mereka ingin menguji respons kita setelah Faisal."
Steven menambahkan, "Ada satu perusahaan cangkang memakai alamat ruko kosong di Surabaya. Pemilik nominalnya sopir pribadi salah satu direktur lama."
"Direktur lama siapa?"
"Orang yang dekat dengan Brandon."
Reynard tidak terlihat terkejut.
Aku, di luar, sudah ingin memukul pintu.
Jadi dua sisi koin malam ini jelas sekali. Di meja makan, Brandon didorong keluarga Hartono. Di luar, Ong Corporation menggigit anak perusahaan. Dari dalam dan luar, mereka mencoba membuat Wijaya Group berdarah pelan-pelan.
[Kesimpulan: perang korporasi multi-sisi.]
Si Kepo, terima kasih sudah memberi nama keren untuk sakit kepala ini.
Hendra yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Ini bukan hanya Ong. Ada orang dalam yang memberi peta."
Udara terasa berat.
Lalu Hendra menambahkan dengan suara lebih rendah, "Reynard, setelah ini tinggal sebentar. Tentang ibumu... aku menemukan sedikit petunjuk."
Jantungku berdebar.
Di balik pintu, aku melihat wajah Reynard berubah.
Hanya sedikit.
Tapi cukup untuk membuatku tahu, luka yang satu ini belum pernah benar-benar sembuh.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih