NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Menemukan dan Ditemukan

Alletta sengaja menggiring Wayne ke belakang gedung sekolah. Disana tidak ada apapun, kecuali hamparan rumput yang baru dipotong dan dua gawang berseberangan yang terletak di sebelah barat dan timur.

"Kenapa kau memanggilku kemari?" tanya Alletta begitu sampai ke tempat yang mereka sepakati.

Wayne sudah menunggunya sepuluh menit lebih awal di lapangan. Meskipun tadi Alletta yang lebih dulu keluar, tapi ia harus mengirim pesan ke bayangan hitam. Kali ini misinya menjatuhkan Milly ke dalam perangkap yang sudah ia rancang.

"Lama sekali. Darimana?" sahut Wayne bukannya menjawab pertanyaan Alletta, malah balik bertanya.

"Maaf. Aku tadi pergi ke toilet dulu," ujar Alletta berbohong.

Wayne memicingkan mata tak percaya. "Kuharap kau mengatakan kebenarannya," katanya kemudian.

"Jadi kenapa kau mencariku?" timpal Alletta, balik mengulang pertanyaan.

"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau menargetkan Milly," tuding Wayne tanpa basa-basi.

"Milly," ulang Alletta pura-pura tak mengerti. "Mana mungkin aku menargetkannya," tambahnya dengan wajah polos yang sengaja dibuat-buatnya.

"Benarkah?" tuntut Wayne yang tanpa peringatan melesat maju, menyerang Alletta. Serangan demi serangan tangan kosong tak memberi celah sedikitpun bagi Alletta untuk lari. Meski serangan itu tak benar-benar ditujukan melukai lawannya, hanya untuk menguji apakah Alletta bisa bertarung.

Alletta yang terkejut menerima serangkaian serangan agresif dari Wayne, mencoba menangkisnya sekuat tenaga. Ia hampir terjatuh akibat serangan Wayne. Untungnya tangan Wayne menahan badannya.

"Kau bisa bertarung," komentar Wayne sunis sembari mengebaskan debu dari baju seragamnya.

"Hanya untuk melindungi diri," jawab Alletta hati-hati, masih berusaha tersenyum.

"Sepertinya tidak sesederhana itu." Jeda. "Bayangan hitam itu ulah mu bukan?" desak Wayne meminta penjelasan.

"Kau terlalu banyak berpikir," timpal Alletta mengalihkan.

"Aku tanya sekali lagi. Apa tujuanmu menargetkan Milly?" ujar Wayne masih tak menyerah buat menuntut penjelasan.

"Aku sungguh-sungguh tak mengerti apa maksudmu Wayne." Jeda. "Bagaimana mungkin aku menyerang Milly?" kilah Alletta bersilat kata. "Bagaimanapun kita pernah menjadi sahabat," tambahnya dengan ekspresi meyakinkan.

Wayne mencibir. "Aku tak pernah bilang mereka menyerang Milly."

DEG. Alletta sadar barusan ia salah bicara dan Wayne menangkap basah kesalahannya ini.

"Meskipun kau tak mengatakannya, tapi itu yang kau maksud," ujar Alletta mencari pembenaran.

Wayne menyeringai tajam. "Gaya bertarungmu bukan gaya amatir yang dipakai hanya untuk melindungi diri. Ga perlu berbohong untuk hal semacam ini."

Alletta tak menjawab. Ia tidak menyangka Wayne bisa sedetail itu mengamati gerakannya.

"Aku tahu dulu kau dan Milly pernah berteman dekat. Aku menghargai pertemanan kalian. Dan karenanya aku belum membongkarnya," ujar Wayne menandaskan.

"Kau mengancamku?" balas Alletta dengan suara tajam.

"Tidak! Hanya memperingatkan," sahut Wayne to the point.

"Kau ..." geram Alletta kehilangan kendali kesabarannya.

Wayne menyeringai sekali lagi. Ia memalingkan punggungnya dan meninggalkan Alletta yang masih terpaku kesal di pinggir lapangan tempat pertemuan mereka. Apa kelebihan Milly dibanding dirinya --gumamnya penuh amarah. Kenapa Wayne rela membelanya. Kenapa Wayne tidak pernah melihatnya. Pikiran-pikiran seperti itu menusuk relung hatinya.

***

Sudah lima menit, Wayne berdiri di depan gerbang sekolah, tapi Milly tetap tidak muncul. Aneh--batinnya--seharusnya Milly bukankah sudah ada disini dua puluh menit yang lalu. Tapi ini batang hidungnya pun tidak ada. Ia berpikir keras kemana Milly pergi. Apakah kembali ke kelas? Ia balik badan dan berlari menyusuri koridor menuju kelasnya. Koridor setiap lantai hampir sepi. Ia menapaki tangga naik ke lantai 2. Pintu kelasnya terbuka. Kursi-kursi sudah disusun rapi. Kelas sudah bersih disapu.

"Milly," teriak Wayne memanggil dari ambang pintu. Tidak ada jawaban. Pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan yang kosong. Tidak ada di kelas--batinnya. Ia kembali menuruni tangga. Ia berlari menuju lapangan basket.

Suara bola memantul memenuhi ruangan. Seperti biasa setiap sore tempat itu selalu ramai. Beberapa siswa masih berlatih disana. Wayne segera menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, tapi Milly belum ditemukan juga. Bahkan beberapa kali ia bertanya ke siswa-siswi angkatannya yang ada disana. "Lihat Milly?" ujarnya singkat beralih dari satu wajah ke wajah lain. Mereka hanya menggeleng.

"Sebenarnya kemana Milly pergi?" gumamnya cemas. Ia berlari menuju UKS. Pintu UKS tertutup. Ia harus mengetuk untuk masuk. Tidak ada siapapun di dalam. Hanya ranjang kosong dan meja obat yang tersusun rapi. Sekali lagi ia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, sebelum benar-benar meninggalkannya. Berikutnya ia pergi ke gudang sekolah. Tempat itu sepi. Jauh dari keramaian. Ada di dekat lapangan bola yang tadi ia kunjungi. Pintu gudang sedikit terbuka. Ketika ia mendorongnya, engselnya berderit.

Di dalam gudang, hanya ada meja rusak, kursi lama, alat olahraga yang tidak terpakai dan beberapa kardus. Debu kecil terlihat beterbangan terkena sinar matahari yang masuk.

"Milly," panggilan Wayne menggema ke setiap sudut ruangan yang sempit itu. Ia memastikan memang tidak ada seorangpun disana, baru ia melanjutkan pencarian ke tempat berikutnya.

Ia mengunjungi setiap toilet yang ada di sekolah, mulai dari toilet di lantai 1, toilet lantai 2, toilet yang ada di gedung olahraga, bahkan toilet yang ada di dekat kantin. Tapi hasilnya tetap nihil.

Matahari mulai terbenam. Bayangan gedung sekolahnya terlihat lebih memanjang. Tapi Milly belum ditemukan. Ia telah mencari ke seluruh penjuru sekolah tanpa hasil.

Dari koridor, ia melihat gerbang sekolah di kejauhan. Ia berpikir lagi--kemana Milly pergi--batinnya tidak tenang. Apakah terjadi sesuatu pada Milly?--gumamnya. Seharusnya orang yang mau mencelakai Milly bakal menggiring Milly ke tempat yang lebih sepi supaya mudah disergap--analisanya. Tapi kemana?? Tidak mungkin ia mengubrak-abrik seluruh kota demi mencari Milly. Ia masih terus berpikir dan menganalisis rentetan setiap kejadian yang akhir-akhir ini terjadi.

"Bukankah Milly sangat suka hutan?" gumamnya mendapat pencerahan. "Orang yang kenal dekat Milly dan jika orang itu adalah Alletta, maka sangat mungkin bakal memancing Milly ke hutan. Hutan selalu menjadi rumah kedua Milly. Tempat yang paling aman justru tempat paling berbahaya." Begitu benang merah ini ditarik, Wayne langsung memerintahkan anak buahnya buat mencari Milly ke setiap sudut yang ada di hutan. Kebetulan bukankah hutan yang ada di dalam kota ini nyambung dengan hutan yang ada di belakang rumah Nenek Dorothy.

Pencarian pun dimulai. Hampir seluruh sisi hutan sudah digeledah, tapi belum ditemukan juga Milly. Tidak menyerah, Wayne memerintahkan sekali lagi buat menyusuri hutan.

Bulan sudah naik ke langit, bersinar dengan terang ketika samar-samar Milly terbangun dari pingsannya. Ia mendengar namanya dipanggil. Itu suara Wayne--batinnya menyadari mungkin saja posisi Wayne ada di sekitarnya, di atas permukaan tanah, entah dimana. Dengan suara sekeras mungkin ia meneriakkan nama 'Wayne.'

Wayne menemukan lubang galian yang curam itu, ia menyorot lampu senternya ke dalam lubang. Ia melihat Milly yang terkulai tak berdaya.

"Bagaimana keadaanmu?" teriak Wayne dari atas lubang.

Milly tak menjawab hanya membalas dengan senyum merekah. Ia lega karena akhirnya keberadaannya ditemukan.

"Aku akan turun ke bawah," kata Wayne.

Milly hanya mengangguk lemah.

Dengan dibantu oleh anak buahnya, Wayne memakai tali menuruni lubang yang curam itu. Ia memapah Milly sampai bisa berdiri sejajar dengannya. Lalu ia memeluk tubuh Milly ketika anak buahnya mulai menarik talinya ke atas, kembali ke permukaan tanah. Begitu sampai di atas, Wayne menggendong Milly keluar hutan. Sudah ada mobil yang menunggu disana.

Wayne membawa Milly ke rumah sakit untuk diperiksa dan dirontgen. Ia kawatir ada tulang yang patah di punggung Milly atau ada memar bagian dalam yang tidak kasat mata. Dokter pribadi mereka juga sudah dihubungi supaya standby di rumah sakit yang hendak mereka tuju. Satu-satunya rumah sakit yang ada di kota kecil Glenmore.

***

1
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Tan: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Tan: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!