“Apa yang kau lakukan di sini? Kau itu masih muda! Seharusnya kau nggak boleh kayak begini,” ucapnya dengan nada tegas, meski ia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberikan nasihat.
Wanita itu tak merespons, hanya mendesah kuat, membuat Ali semakin khawatir. Ia menyadari bahwa pertanyaannya tidak akan menghasilkan jawaban dalam kondisi wanita itu saat ini.
Ali melihat jam tangannya sambil memeriksa denyut nadi wanita itu, yang berdetak sangat cepat. “Tahanlah sebentar! Obat itu akan hilang dengan sendirinya,” ucapnya sambil tetap memantau kondisinya.
Di dalam kamar mandi, Ali terus memeriksa tanda-tanda vital wanita tersebut, memastikan ia bisa melewati dampak buruk dari obat yang dikonsumsinya. Ia tahu situasi ini adalah ujian besar, bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch ~ {Merasa sedikit lebih aman}
Ali kembali menaiki lantai atas untuk berbicara pada Bunga dan seketika sampai, Ali menatap pintu kamar Bunga yang tertutup rapat.
Hatinya merasa berat, terguncang oleh segala yang baru saja terjadi. Ia tahu, setelah kejadian itu Bunga pasti akan merasa terpojok.
Ali bisa merasakan betapa dalam luka di hati gadis itu, terutama ketika mendengar hal-hal yang seharusnya tak pernah terjadi dalam kehidupan Bunga, kesedihan yang tak seharusnya ia alami.
Bunga berlari masuk ke kamarnya setelah mendengar percakapannya pada Azhar, Ilham, dan Manto.
Ali mendengar langkah kaki Bunga yang terburu-buru, kemudian pintu kamar yang tertutup. Ia tahu pasti, Bunga belum tidur, masih terjaga dengan kepedihan yang begitu mendalam.
Ali pun bisa merasakan meskipun diam, bahwa rasa sakit itu menusuk hati Bunga lebih dalam dari apa yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Namun, Ali juga tahu Bunga harus tahu alasan mengapa ia mengambil keputusan seperti ini. Tidak ada yang bisa melindunginya lebih baik dari dirinya.
Ali tidak pernah berniat menyakiti Bunga. Semua yang ia lakukan adalah demi melindungi gadis itu, memberikan kehidupan yang lebih baik, jauh dari bayang-bayang Andrean yang telah merusak segalanya.
Ali menghela napas panjang, kemudian dengan langkah yang mantap, ia menuju kamar Bunga. Tanpa memberi kesempatan untuk Bunga menghindar, ia mengetuk pintu dengan perlahan.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Bunga berdiri di sana dengan matanya sembab, terlihat jelas bekas air mata yang mengalir tanpa henti.
Ali bisa membaca semuanya hanya dari tatapan mata gadis itu, ia terluka, sangat terluka. Namun, dibalik semua itu ada rasa takut yang begitu nyata.
"Bolehkan aku masuk? Aku hanya ingin menjelaskan semuanya," ucap Ali memulai dengan suara yang lembut namun penuh ketegasan.
Bunga tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberi sedikit ruang untuk Ali masuk ke dalam kamar.
Ali melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Kamar itu terasa begitu sepi, hanya ada suara detak jam yang terdengar begitu jelas.
Ali berdiri di dekat tempat tidur tak berani mendekat lebih jauh. Ia tahu saat ini Bunga butuh ruang untuk mencerna semuanya, apalagi setelah mendengar kebenaran yang begitu mengejutkan tentang Andrean, dan tentang alasan Ali menikahinya.
"Aku tau ini sulit. Aku tau Kau merasa sangat kecewa, dan aku minta maaf atas semua yang terjadi. Tapi izinkan aku menjelaskan sedikit," ucap Ali dengan suara serak.
"Aku melakukannya semua untuk melindungi kalian. Semua yang terjadi adalah demi keselamatan kalian. Aku menikahimu, bukan karena aku ingin mengendalikan hidup kalian, tapi karena aku ingin melindungi kalian dari segala kemungkinan buruk terjadi."
Bunga menundukkan kepala namun air mata terus mengalir di pipinya. "Om tau kalau aku merasa kayak hidupku sudah hancur. Bapak, dia, dia begitu tega pada kami, dan aku nggak tau harus bagaimana lagi," suara Bunga pecah, suaranya tersendat-sendat dengan isakan tangis.
Ali merasa sakit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Bunga. Rasanya seperti menyayat hatinya. Tidak ada yang lebih buruk dari melihat orang yang kita lindungi menderita begitu dalam.
Ia berusaha menahan emosinya dan berjongkok di depan Bunga, agar bisa lebih dekat, lebih bisa merasakan kesedihan yang dialami gadis itu.
"Kau harus tau bahwa apa yang aku lakukan semuanya untuk melindungimu. Andrean adalah monster. Aku nggak bisa membiarkan dia terus menyiksa kalian berdua. Aku menikahimu untuk memastikan kalian aman. Aku nggak ingin dia bisa menyentuhmu lagi. Nggak ada yang lebih penting bagiku selain memastikan kalian selamat." Ali berbicara dengan suara tegas namun penuh kehangatan.
Bunga mengangkat wajahnya dengan matanya yang sembab menatap Ali dengan kebingungannya yang mendalam.
"Tapi aku nggak bisa menerima ini Om. Om menikahiku hanya untuk melindungi kami, tapi aku nggak tau bagaimana harus menghadapi bapak. Aku takut pada apa yang akan terjadi setelah ini. Kalau bapak keluar dari penjara, aku tau dia pasti akan mencari cara untuk menyakiti kami lagi. Aku nggak tau apa yang harus aku lakukan," suara Bunga mulai terisak lagi, dan tubuhnya mulai gemetar.
Ali menggenggam kedua tangan Bunga dengan lembut berusaha memberi kekuatan dan ketenangan pada gadis itu.
"Kau harus tau, aku nggak akan membiarkan Andrean mendekatimu lagi. Aku akan menjagamu, dan aku sudah memindahkan Kau ke sekolah lain. Aku tau itu bukan solusi sempurna, tapi setidaknya Kau bisa terus sekolah dengan aman tanpa merasa terancam oleh apa pun."
Bunga menatap Ali dengan penuh kebingungan, seolah mencari jawaban dari setiap perkataan Ali. "Tapi aku nggak tau apa yang akan terjadi setelah ini Om. Aku nggak ingin Om merasa terpaksa menikah denganku hanya untuk melindungi kami. Om sudah berkorban terlalu banyak," suara Bunga begitu lirih hampir tak terdengar.
Ali menatap Bunga dengan penuh perhatian. "Aku tau ini berat, tapi Kau harus lulus sekolah dulu. Aku ingin Kau fokus pada pendidikanmu. Aku sudah memindahkanmu ke sekolah yang lebih aman. Aku ingin Kau memiliki masa depan yang cerah, bukan hanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Jangan biarkan apa yang terjadi dengan bapakmu merusak hidupmu. Kau masih muda Bunga. Kau masih punya kesempatan untuk mengejar mimpi-mimpimu. Dan aku akan selalu ada untuk mendukungmu."
Bunga hanya bisa terdiam. Ia merasa seolah-olah terperangkap dalam keputusannya. Di satu sisi, ia tahu Ali berbuat demi kebaikan dan keselamatannya.
Tapi disisi lain, hatinya terasa hancur. Menikah tanpa cinta hanya untuk melindungi dirinya, rasanya begitu berat.
Namun, di balik perasaan itu, Bunga tahu bahwa Ali telah banyak berkorban untuknya, dan apapun yang terjadi, ia tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa Ali adalah orang yang paling peduli padanya saat ini.
"Aku nggak tau harus berbuat apalagi Om," Bunga berucap pelan. "Aku hanya bisa ikut keinginan Om, karena aku tau Om sudah berbuat begitu banyak untuk kami. Aku nggak tau harus bagaimana."
Ali mengangguk dengan penuh pengertian. "Aku nggak akan memaksa. Kau hanya perlu fokus pada pendidikanmu, dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama. Jangan biarkan ketakutan atau rasa sakit itu menguasaimu. Aku janji, selama aku ada, Kau nggak akan pernah sendirian."
Bunga menatap Ali, ada rasa kebingungan di matanya, tetapi juga ada rasa harapan yang perlahan tumbuh.
Ia tahu meskipun hidupnya penuh dengan luka, Ali adalah satu-satunya orang yang benar-benar ingin melindunginya, tak peduli dengan konsekuensinya.
Bunga akhirnya mengangguk perlahan, matanya masih dipenuhi air mata, tetapi kali ini, ia merasa sedikit lebih tenang. "Baik Om. Aku akan berusaha. Aku nggak tau apa yang akan terjadi, tapi aku akan berusaha untuk mengikuti keinginan Om."
Ali tersenyum kecil meskipun hatinya masih penuh dengan kekhawatiran. "Itu aja sudah cukup. Aku akan selalu ada disini, apapun yang terjadi."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bunga merasa sedikit lebih aman.
kutunggu judul baru