Rahim Bayaran Sang CEO
Clarisa, seorang gadis desa yang berhasil merubah hidupnya dengan menjadi sekertaris di perusahaan besar.
Interaksinya dengan sang pemilik perusahaan membuat butiran cinta mulai tumbuh dihatinya.
Rasa cintanya mengantarkannya ke sebuah kegilaan dengan menerima tawaran sang CEO untuk menjadi istri kontrak sekaligus rahim bayaran.
Mampukah Clarisa meluluhkan hati sang CEO?
Apakah rencana tersembunyi Clarisa akan berhasil?
yuk simak novel ini!
Nb: dilarang plagiat!! apabila ada kesamaan nama tokoh, mungkin hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANIVITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
2 manusia itu sama sama sudah tertidur pulas setelah kembali mengulang pencintaan mereka.
***
Dev mengerjapkan matanya bangun kala merasa tidak nyaman.
"Arghh sialan, aku lupa waktu" umpatnya melihat jam di dinding.
"Heh bangun!" Teriak Dev membuat Risa terjingkat.
"Duhh kak Dev kenapa sih triak triak" gerutu Risa mencoba meraih kesadarannya.
"Cepat pulang! Ini sudah malam!"
"Nggak ah, kak Dev aja yang pulang sendiri. Badan aku capek semua kak" gerutunya karna tadi Dev tak memberinya ampun.
"Astaga, kau itu pemalas sekali"
Risa tak mendengarkan ocehan suaminya. Wanita itu kembali merebahkan diri dan mulai menutup matanya.
"Astaga, menyusahkan sekali" geramnya.
Pria itu mencoba tidak peduli.
Ia segera keluar dari kantornya yang gelap gulita.
Ia mencoba menepis perasaan khawatirnya.
Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari.
"Arghh sialan!" Umpatnya karna ia terbayang bayang Risa yang sedang ketakukan di kantor sendirian.
Ia segera keluar dari apartemennya dan melajukan mobilnya ke kantor.
Lagi lagi ia dibuat emosi kala melihat istrinya tertidur pulas tak seperti bayangannya.
"Dasar wanita ini" geramnya.
Terpaksa Dev ikut berbaring di ranjang itu.
Pagi hari,
Risa mengerjapkan matanya berusaha mengingat dimana ia berada.
"Astaga, ini kantor" gumamnya.
Tambah kaget lagi kala melihat Dev sudah memeluknya erat dengan wajah yang terbenam di dadanya.
"kayak anak kecil aja" gumamnya mengusap rambut tebal pria itu.
Ia melirik ke dalam selimut tebal itu ternyata ia belum memakai pakaiannya sejak semalam.
"Astaga, bagaimana bisa aku seceroboh ini" gerutunya.
Pelan pelan ia menyingkirkan wajah pria itu dari tubuhnya. Risa sedikit kesulitan jarna Dev memeluknya posesif bagai seorang anak kecil yang sedang kehausan.
Ia segera memunguti pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi.
Dev mengerjapkan matanya bangun saat mendengar suara gemericik air.
"Arghh sialan badanku sakit semua" gerutu Dev karna kasur di kantor tentu saja tak senyaman kasurnya dirumah.
Ceklek
Risa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju kemarin.
Kini gantian Dev yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia keluar dari kamar mandi masih menggunakan piyamanya semalam.
"Kak Dev nggak ganti baju?" Tanya Ris karna diruangan itu ada kemeja Dev.
"Nggak ada celananya" jawab Dev singkat.
"Ini jam berapa kak?" Tanya Risa karna handphone nya mati.
"9" jawabnya singkat"
"Hah? Beneran?!" Pekik Risa kaget.
"Kak, aku laper" keluhnya.
"Ngapain ngomong sama gue? Sono pesen makanan sendiri"
"Malu lah kak, masak aku keluar dari ruangan kayak gembel gini. Belum lagi nih banyak bekas gigitanmu" tunjuk Risa pada lehernya yang banyak terdapat tanda merah.
"Alah, dikit doang. Tutupin pake rambut" elak Dev.
"Trus yang ini gimana?" Kesalnya menunjuk bagian dada atasnya yang juag dipenuhi tanda itu.
"Ck kau itu menyusahkan saja" gerutu Dev.
"Gini gini kan aku istri kak Dev" kesal Risa balik.
"Iya iya crewet"
"Sekalian beliin foundation, bedak, lipstik"
"Malah nglunjak"
"Biarin, pelit amat sama istri sendiri"
Dev hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Lipstiknya warna nude ya kak"
"Apalagi itu?"
"Ya pokoknya nude, bilang aja sama yang punya toko warna nude"
"Ogah males" ucapnya segera keluar dari kamar walaupun masih mengenakan piyama tidurnya.
Dev ditatap bingung oleh para karyawannya.
Kebetulan asisten Gio sedang ada urusan diluar kota menggantikan Dev.
Pria itu berjalan melewati lobi kantor dengan pakaian tidurnya itu.
Pria cuek itu berjalan begitu saja tanpa menghiraukan tatapan heran karyawannya.
Setelah mendapat barang belanjaannya Dev kembali ke ruangannya.
"Nih" Dev menyodorkan paperbag berisi pesanan istrinya.
"Duh suamiku perhatian benget deh" pujinya menatap alat make up di paperbag itu.
semangat KA..