Demi bisa hamil, Deavenny sampai nekat mencuri benih suaminya sendiri yang tak mau memiliki anak dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
“Boleh, Nona.” Penjaga apotik itu memberikan izin kepada Deavenny.
“Em ... aku ingin mengecek apakah hamil atau tidak, tapi tak tahu bagaimana cara memakai testpack ini. Boleh kau temani aku ke toilet untuk memandu?” pinta Deavenny dengan wajah imut yang menunjukkan penuh permohonan.
“Bisa, Anda memerlukan cup sebagai penampung urine juga.”
“Apakah di sini menjual itu?”
“Ada.”
“Baiklah, aku beli cup yang kau maksud.”
Penjaga apotik itu mengambilkan benda yang diperlukan oleh salah satu pembelinya. “Ini, Nona.” Dia memberikan pada Deavenny.
“Oke, aku bayar nanti, boleh? Sekarang temani cek dulu.”
“Boleh.”
Deavenny diantarkan oleh penjaga apotik. Sepertinya pemilik tempat itu karena terlihat sudah tua.
“Jadi, Anda bisa menampung urine ke cup tersebut, lalu masukkan ujung testpack. Tunggu beberapa saat sampai hasilnya keluar. Apakah paham?”
Deavenny mengangguk. “Paham, nanti kalau salah akan ku beli lagi testpack yang baru.”
“Silahkan.” Penjaga apotik itu membukakan pintu untuk Deavenny masuk. “Jangan sampai urine Anda tercampur oleh air, ya.”
“Oke.” Deavenny menutup pintu itu, dan dia segera melakukan sesuai tata cara yang sudah diberitahukan. Kebetulan juga sedang ingin buang air kecil.
Cairan itu sudah berada di dalam cup. Deavenny langsung memasukkan 5 testpack. Sembari menanti, dia membuka pintu supaya orang yang memandunya bisa melihat.
“Jadi, aku harus menunggu berapa lama untuk mendapatkan hasilnya?” tanya Deavenny.
“Kurang lebih sepuluh menit, Nona.”
“Lama sekali,” keluh Deavenny. Tapi tetap saja dia akan menunggu hasil sembari berdoa supaya embrionya berhasil tumbuh.
Setiap detik dan menit terasa begitu lama. Akhirnya sepuluh menit pun berlalu. Deavenny buru-buru mengambil kelima testpack dengan sangat antusias. Tapi, wajahnya berubah muram saat melihat hasil yang tertera.
Rasanya Deavenny menjadi lemas. Dia sampai menyandarkan tubuh di dinding. “Aku sudah membayar mahal untuk program hamil, tapi kenapa harus gagal,” keluhnya seraya menitikan air mata.
Penjaga apotik yang usianya puluhan tahun di atas Deavenny pun merangkul dan memberikan tepukan pada bahu. “Sabar, Nona. Pasti suatu saat nanti akan diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki keturunan.”
Deavenny memberikan kelima testpack pada penjaga apotik itu. “Untukmu saja, aku tak ingin menyimpannya.” Dia menyeka air mata yang sudah basah di pipi. “Ayo ke depan, aku akan membayar cup yang tadi.” Kakinya terayun mendahului.
Penjaga apotik itu menatap punggung Deavenny yang kian menjauh, dengan sorot iba. “Kasian Nona itu.” Dia pun melihat lagi hasil test pack yang tadi menunjukkan negatif. Ternyata kali ini berubah. Segera menyusul salah satu pembelinya tadi.
“Jadi, berapa yang harus ku bayar?” tanya Deavenny dengan suara lemas.
“Satu euro, Nona.”
“Aku tak ada uang kecil. Ku beri lima puluh euro, sisanya untukmu saja karena sudah menemaniku mengecek.” Deavenny memberikan satu lembar uang kertas.
“Terima kasih, Nona. Ini saya kembalikan testpacknya.” Ia menyodorkan benda tersebut.
Deavenny menolak dengan isyarat tangan. “Terlalu menyakitkan melihat itu.”
“Hasilnya sudah berubah, Nona. Pasti Anda akan senang melihatnya.” Penjaga apotik itu menunjukkan di depan mata Deavenny supaya bisa langsung melihat.
Dan seketika itu wajah sendu Deavenny berubah membulat seakan tak percaya. Tangannya mengambil lima testpack itu. “Benarkah aku hamil? Aaa ... senang sekali, akhirnya yang ku nantikan selama ini tumbuh juga di rahimku,” ucapnya dengan nada yang terdengar sangat gembira. Bahkan ia sampai memeluk testpack sembari mengusap perutnya dengan penuh rasa syukur.