Ig: @nabilakim28
"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-
Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.
Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?
"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-
Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!
Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?
Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keduapuluhsatu
Aku salah, aku salah karena menyia-nyiakan orang sepertimu ....
-Chandra-
S E L A M A T M E M B A C A
"Lo yakin mau pergi?" tanya Hera. Gina mungkin sudah bosen menjawab pertanyaan yang sama untuk keseratus kalinya\-\-\-atau mungkin lebih? Entahlah, dia tidak mau menghitungnya.
"Uwhaaa ... gue bakal sering ke rumah lo," ujar Hera lagi. Kali ini dia memeluk Gina kuat, dia tidak ingin melepaskan temannya itu ... tidak untuk menikah pastinya.
"Aku bakal nyusul, aku udah udah bilang sama ayah dan ibu tentang ini. Mereka mungkin akan mencari solusi tentang masalahmu," ujar Andrew. Ditatapnya iris mata coklat adiknya itu, "kalau tidak ada solusi ... aku yang akan membawamu kabur\-\-\-keluar negeri mungkin," tambahnya. Andrew terlihat sangat serius akan kata\-katanya. Namun Gina hanya membalasnya dengan kekehan geli.
"Ya ampun kak, tenang aja. Siapa tau yang dijodohkan denganku itu cowok ganteng nan baik hati."
"Om\-om genit pasti!" seru Hera dan Andrew kompak. Mereka benar\-benar menentang perjodohan ini.
Setelah itu Gina berpamitan untuk terakhir kalinya kepada saudara dan sahabatnya itu. Gina sangat berterimakasih kepada Hera, bagaimanapun Hera adalah orang pertama yang mau berteman dengannya.
😢😢😢
Untuk pertama kali dalam sejarah, seorang Chandra Ardiansyah sedang menidurkan kepalanya di atas lipatan tangan ... dan dia sekarang sedang berada di dalam kelas. Bahkan saat dulu dia putus dengan Friska dia tidak seperti ini, dulu dia akan memilih gila\-gilan main basket daripada tidak menyimak penjelasa dari guru.
Tapi kali ini berbeda, di benaknya selalu terbayang wajah Gina yang terduduk di depan piano sambil tersenyum lembut ... dan bodohnya Chandra yang meninggalkan gadis itu kemarin. Sepertinya dia perlu menjumpai Gina dan menjelaskan semuanya. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia seperti mayat hidup saat ini, hanya saja rasanya sakit ketika melihat senyuman itu\-\-\-senyuman Gina saat melepas Chandra untuk mengejar mantannya.
Brak!
Chandra menggebrak meja, dan semua orang langsung melihatnya aneh .... Pak guru langsung menjadikan Chandra perhatiannya, "ada apa Chandra? Ada yang tidak kamu mengerti?" tanya pak Guru. Chandra hanya diam saja, dia menunduk ke arah pak guru sebentar\-\-\-mungkin semacam minta izin sebelum cabut\-\-\- lalu langsung berlari ke luar kelas. Tujuannya saat ini adalah kelasnya Gina!.
Chandra main nyelonong masuk gitu saja\-\-\-sesampainya di kelas Gina pastinya. Dia mulai menyusuri kelas itu, tapi tidak menemukan orang yang dicarinya. Dia hanya menemukan temannya Gina ... Hera, gadis itu terlihat sedang duduk termenung di mejanya sambil melihat ke luar jendela.
"Gina di mana?" tanya Chandra to the point. Dia memang sedang terburu\-buru saat ini ... terburu\-buru untuk menemukan Gina tentunya! Hera yang merasa ditanya oleh cowok berambut blonde itu hanya menatap balik cowok itu dengan cuek.
"Ngapain lo nyari Gina?" tanya Hera. Hera memutar matanya malas. "Gue ada perlu ... dimana dia?" tanya Chandra balik. Tapi bukannya menjawab Hera malah mengambil sesuatu dari dalam tasnya\-\-\-sebuah surat? Tapi untuk apa? Hera memberikan surat itu kepada Chandra.
"Ini dari Gina, dia nitip ini waktu di bandara ... katanya untuk lo. Dan lo tadi nanya kan Gina dimana? Jujur gue gak tau dia dimana. Gue cuma tau dia gak akan balik ke sini lagi, dia udah pulang ke rumahnya untuk di J.O.D.O.H kan. Dan yah, gue gak tau tepat rumahnya dimana ... tapi mungkin sepupunya tau." Chandra hanya menatap surat yang berada di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa maksudnya? Dijodohkan? Kenapa," Chandra diam sebentar seperti berpikir,
"Dan kenapa dia nggak kasih tau ke gue tentang ... semua ini?" sambungnya. Hera hanya menaikkan bahunya.
"Mungkin jawabannya ada di surat itu," jawab Hera seadanya.
"Dimana aku bisa menemukannya? Kamu pasti tau ...." Kali ini Chandra merendahkan suaranya, apa lagi dia sekarang berbicara pakai aku\-kamu, dapat dipastikan bahwa dia benar\-benar serius saat ini.
"Udah gue bilang, Gue. Nggak. Tau!" hera menegaskan setiap kata yang diucapnya. "Tapi mungkin ... sepupunya tau tuh," sambung gadis itu.
"Sepupunya? Siapa?" tanya cowok blonde itu kembali.
"Teman lo, Andrew." Sontak hal itu membuat Chandra kaget, dia tidak yakin apa yang dikatakan Hera itu benar. Tapi raut wajah Hera mengatakan bahwa dia tidak berbohong sama sekali. Baiklah, masalah ini akan diurusnya nanti ... bagaimanapun ada masalah yang lebih penting\-\-\-seperti membaca surat dari Gina, tentu saja!.
😊😊😊
Chandra duduk di bawah pohon beringin yang terletak di belakang sekolah. Chandra menatap kosong ke arah surat yang ada di genggamannya. Dia masih ragu untuk membuka surat itu. Chandra akhirnya menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. Dia memberanikan diri untuk membuka surat itu. Surat yang ditulis di atas kertas berwarna baby blue\-\-\-warna kesukaan Gina.
Untuk kak Chandra,
Hai kak! Apa kabar? Maaf aku nggak bisa ucapin selamat tinggal secara langsung sama kakak. Mungkin alasannya karena, aku tidak siap dengan tanggapan kakak atas masalahku.
Kak, aku mau jujur ... aku suka sama kakak. Mungkin kakak akan ketawa sampai guling\-guling, habis baca ini. Tapi aku beneran suka sama kakak ... jauh sebelum kakak mengenalku, bisa dibilang 'pengagum rahasia'?.
Tapi mulai sekarang aku akan melupakan perasaan ini, tidak! Aku akan menghapusnya. Aku ... memang tidak seharusnya menyukai kakak, aku ... tidak pantas untuk kakak. Sekarang aku akan kembali ke tempatku yang sebenarnya. Aku mungkin akan langsung dijodohkan sesampainya aku di sana hehe. Mungkin itu cara tuhan untuk membuatku melupakan kakak.
Aku selalu berdoa semoga kakak bisa bahagia dengan kak Friska ... aku berharap kakak selalu bahagia. Maafkan aku yang mengungkapkan perasaanku seperti ini, padahal aku udah tau kalau hati kakak itu untuk kak Friska. Tapi, aku hanya ingin mengungkapkannya seperti ini ... disaat aku pergi.
Dari si cewek cupu,
Gina
Haruskah Chandra kecewa? Menangis? Atau bahkan tidak peduli? Jawabannya\-\-\-Chandra pun tidak tahu. Tapi rasanya sakit, jantungnya terasa nyeri setiap kali berdetak. Dia bingung dengan perasaannya sendiri, tapi dia tahu satu hal ... dia harus meluruskan semua kesalahpahaman ini, dan tentu saja dia harus membawa Gina kembali\-\-\-ke sisinya.
Chandra mengikuti kata kakinya, dia menyusuri koridor kelas hingga sampai di kelas 12 ips 3 ... kelas temannya Andrew\-\-\-kakaknya Gina. Chandra memang belum yakin bahwa bule ini adalah kakak Gina, tapi Hera tidak mungkin berbohong kan? Chandra akhirnya sampai di kelas Andrew ... dia dapat melihat laki\-laki itu sedang sibuk berkutat dengan handphonenya, as always. Chandra langsung nyelonong masuk dan duduk di bangku tepat di depan mejanya Andrew.
"Wahh ada apa bro, tumben lo ke kelas gue?" tanya Andrew, tapi matanya masih berfokus pada handphonenya.
"Where is Gina?" tanya Chandra balik. Andrew mengangkat kepalanya, melihat ke arah Chandra sebentar lalu kembali melihat handphonenya.
"To the point banget as always yeah ... but, i don't what do you mean." Andrew mengelak. Dan Chandra tau itu, Andrew adalah teman Chandra ... dan dia tau kebiasaan Andrew ketika dia berbohong, Andrew akan meletakkan handphonenya dengan keadaan terbalik\-\-\-dan dia melakukkannya saat ini.
"Where is Gina?" tanya Chandra lagi. Oh man, jika kalian melihat ekspresi Chandra sekarang. Kalian pasti akan berpikir bahwa dia mau ngajak brantem. Andrew hanya tersenyum sinis mengahadapi temannya itu, "you know ... lo ninggalin dia semalam, dan sekarang ... lo nyariin dia? Are you crazy? Lo tau nggak, dia nangis\-nangis semalam. Karena apa? Karena lo Chan. Dia awalnya mikir kalau lo bakal mau bantu dia untuk batalin pertunangan itu ... tapi apa? Lo malah balikan sama penggoda suami orang itu. Lo mikir perasaan adek gue nggak sih? Untung lo temen gue ... kalau nggak, gue bakal ninju muka lo itu!" Andrew akhirnya menyampaikan semua perasaan yang dipendamnya.
Chandra hanya menunduk, dia tidak tahu harus membalas apa. Semua yang dikatakan oleh Andrew adalah benar semua. Dia yang salah! Dia harus meluruskan kesalahpahaman ini.
"Cara membatalkan pertunangan? Bagaimana caranya? Lo bilang gue bisa jadi cara Gina untuk batalin pertunangan itu," tanya Chandra. Dia menatap mata Andrew mantap, bagai tak ada keraguan di dalam tatapannya ... memang kharisma seorang ketua OSIS itu berbeda.
"Paman mengatakan akan membatalkan pertunangannya kalau Gina udah punya pacar. Dan yah, paman memberikan janji itu karena beliau yakin bahwa Gina gak punya pacar ... dan walau dia punya pacar, setidaknya orang itu harus sederajat dengan dia atau mungkin di atasnya. Aku tau sifat paman, dia orang yang sangat keras terhadap Gina." Andrew menghela napas setelah menjelaskan semua itu.
"Pacar? Bagaimana dengan anak tunggal dari keluarga Granendra?" tanya Chandra. Andrew menaikkan alisnya sebentar, lalu tersenyum penuh arti seperti mengatakan: ini baru temen gue!
Granendra adalah nama keluarga Chandra. Chandra Ardiansyah Granendra, itu nama lengkapnya ... tapi selalu dia hilangkan nama akhirnya karena dia tidak suka membawa\-bawa nama ayahnya yang terkenal banget di dunia yang penuh kekerasan. Jadi anak tunggal dari pemilik perusahaan pengamanan terbesar di Indonesia\-\-\-itu tidak mudah! Dia hampir mati beberapa kali karena nama belakang yang diwariskan ayahnya itu. Dan karena itu dia mulai tidak suka memakai nama Granendra itu, dan sekarang Chandra mengatas namakan nama yang dihindarinya\-\-\- itu bearti dia sangat serius saat ini!.
🤗🤗🤗
Gina menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Besok, ya besok adalah hari yang ingin dihindari oleh Gina. Mungkin sekarang Gina ingin meminjam pintu kemana saja milik doraemon, dan dia akan kabur ke kutub untuk bermain dengan pinguin.
Gina mengangkat bukunya, itu adalah satu\-satunya barang milik Gina yang tersisa di kamar ini. Mungkin setelah dia menikah nanti kamar ini akan menjadi milik adik tirinya. Entahlah, Gina terlalu malas memikirkannya. Buku itu adalah buku cerita anak\-anak yang berjudul 'The Little Mermaid', buku dengan ending bahagia yang selalu dibacakan oleh Andrew untuk membuat Gina kecil tertidur. Dia terus membaca buku itu berulang kali, ingatkan dia untuk tertidur setelah membaca buku itu ... karena sedari tadi, bukannya tertidur dia malah meneteskan air mata pilu.
Suara kenop pintu terbuka, perlahan terlihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai indah. Gina tidak perlu menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang masuk tanpa mengetuk pintu\-\-\-itu pasti adik tirinya. "Ada perlu apa?" tanya Gina acuh. Gadis yang ditanyainya hanya tertawa melengking, "hahaha lucu sekali, ini akan jadi kamar gue. Jadi gue berhak ke sini tanpa harus memberitahukan alasannya," seru gadis itu angkuh. Gina ingin merobek mulut itu, atau menjambak rambut adik tiri kurang ajarnya itu.
"Tapi ini masih menjadi kamarku," ujar Gina sabar. Gina masih setia memusatkan pandangannya ke arah buku little mermaid yang telah dibacanya ratusan kali.
"Lo itu cuma tumbal untuk gantiin gue nikah sama om\-om genit itu, nggak usah sok deh lo!" Sinis Vanessa. Ok, sepertinya kesabaran Gina berakhir sampai di sini. Gina menutup buku bacaannya, dan diletakkan pelan di atas nakas\-\-\-takut bukunya rusak, maklum saja itu buku lama. Lalu gadis itu berdiri, berjalan pelan menghampiri adik tirinya.
Gina menapakkan kakinya, langkah pertamanya dimulai ... dia mendekati adik tirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Setiap langkah disertai dengan kalimat meremehkan.
"Pertama, kamu itu harusnya sadar diri ... kamu itu cuma BENALU dikeluarga ini," Gina melakukan langkah pertama.
"Kedua, kamu itu seharusnya berterima kasih padaku, karena telah berkorban untuk HUTANG yang kamu dan ibumu buat ... dasar miskin," Gina kembali melangkah mendekat.
"Ketika, kamu pikir kamu bakal bisa gantiin tempatku sebagai pewaris? Emangnya kamu bisa apa, hah? Belanja? Abisin duit? Kamu bahkan tidak bisa lulus menegemen dasar, stupid!" Gina mengakhiri kalimatnya dengan senyum remeh. Gina dapat menglihat ekspresi terkejut dari adik tirinya itu. Dia tau Vanessa pasti terkejut dengan perubahan sikapnya, tapi dia tidak peduli. Sepertinya habis ini dia harus berterimakasih kepada Hera, ajaran yang diberikan oleh Hera bener\-benar mencengangkan.
"L\-lo ... liat aja nanti, huh!" Vanessa kaget dengan perubahan sikap Gina, sampai\-sampai dia harus bicara dengan terbata\-bata. Vanessa langsung keluar dari kamarnya.
Gina menghela napas setelah Vanessa keluar, dia terduduk di atas kasurnya. Bagaimanapun, Gina tetaplah Gina ... dan yang tadi anggap saja dia kerasukan Hera. Yang pasti sekarang dia sedang kembali kesifat aslinya ... seorang Gina yang lemah dan penakut.
Air mata jatuh lagi, di kepalanya hanya teriang sebuah kalimat: ini adalah akhirnya. Gina memengang dadanya yang terasa nyut\-nyutan menahan sakit ... tidak dia tidak menangis karena sedih, ini semua karena jantungnya yang terasa sakit saat berdetak. Iya! Tolong katakan begitu ... setidaknya dengan begitu dia bisa bersembunyi dibalik rasa sakitnya.
😢😢😢
Inilah harinya, iya inilah akhirnya ... dia harus melepas semua masa lalunya dan melangkah ke depan. Mungkin di depan dia tidak akan bisa bahagia lagi, mungkin di depan dia tidak bisa tersenyum lagi. Dia harus mandiri mulai sekarang, mulai hari ini. Tidak ada lagi cerita pengantar tidur dari Andrew ketika dia tidak bisa tidur, Hera tidak bisa melindunginya lagi, dan ... tidak ada Chandra yang tersenyum di depan pintu rumahnya. Dia harus menerima semua kenyataan itu, tapi kenapa semuanya terasa sangat sakit. Ini terlalu menyakitkan.
"Kamu harus jadi tunangan yang baik, jangan suka kabur lagi." Itu adalah kata ibu tiri Gina, ya Gina berada di mobil yang sama dengan keluarga tirinya. Ayahnya? Entahlah, dia bahkan tidak peduli lagi ... dia tau ayahnya tidak memperdulikan kebahagiannya.
Ayahnya tadi mengatakan ada hal yang terjadi dengan calon tunangannya, jadi ayahnya harus pergi duluan ... dan berakhirlah Gina berangkat dengan keluarga tirinya. Tak lama mereka pun sampai di sebuah hotel, dimana di restoran hotel inilah kedua keluarga akan bertemu untuk membicarakan pertunangan Gina dengan pria yang tidak ia ketahui siapa itu.
Vanessa dan ibunya tersenyum kemenangan. Oh come on! Mereka terlalu norak dengan memperlihatkan perasaan buruk mereka. Ah sudah lah! Gina tidak memperdulikan hal itu lagi.
Mereka bertiga sampai di depan restoran itu, pintu restoran yang besar itu masih tertutup rapat. Gina memandang pintu restoran itu gugup. Ibu dan anak itu hanya menatap Gina seperti berkata: kasian banget jadi dirimu.
Gina mencoba mengabaikannya dengan langsung membuka pintu restoran itu, di dalam terlihat ayahnya sedang berbincang penuh senyuman dengan dua laki\-laki yang tidak Gina kenal. Mungkin salah satu dari mereka yang akan dijodohkan untuk Gina? Entahlah Gina tidak tahu, dia tidak bisa melihat dengan jelas kedua orang itu karena mereka duduk membelakangi Gina. Gina melirik Vanessa yang tersenyum penuh kemenangan. Segitu senangnya kah mereka menjadikan Gina tumbal?
"Nah itu orangnya sudah sampai ...." Ayah Gina langsung tersenyum ke arah Gina dan keluarga tirinya. Kedua laki\-laki yang duduk membelakangi Gina pun memutar kepala mereka dan tersenyum ramah ke arah Gina.
Tolong katakan ini bohong! Mereka adalah seorang laki\-laki dewasa berwibawa dengan mata biru dan dengan wajah preman, sedangkan yang satu lagi adalah seorang cowok tampan bermata biru dengan rambut blonde yang di sisir rapi ke atas sehingga memperlihatkan dahinya yang putih.
Namun bukan karena itu yang mengejutkan Gina, tapi karena ...
"k\- kak Chandra?!" panggil Gina memastikan. Sedangkan yang dipanggil hanya tersenyum manis seperti biasa. Sepertinya ada kesalahan! Trus dimana om\-om genit itu, kenapa malah kak Chandra? Wait sepertinya ada yang berbeda dengan Chandra\-\-\-matanya biru?! Ini Chandra kan? Gina masih cengo, Chandra terkekeh melihat ekspresi Gina ... lalu berkata, "iya ini aku ... Chandra."
Namun sepertinya bukan cuma Gina yang terkejut akan hal ini. Vanessa dan ibunya juga sama terkejutnya, saking terkejutnya sampai speechless. Mereka yakin bahwa mereka berhutang bukan dengan keluar Chandra, tapi kenapa? Kenapa malah cowok itu yang berada di sana?
\-TBC\-
ps: oh my! 2425 words, semoga kalian gak ngantuk bacanya hehe😂
tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.