NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21. TRAGEDI MANSION BERDARAH 2

Dengan panik, Vellano mundur beberapa langkah lalu mendobrak pintu.

Brak!

Matanya langsung membesar....

Alessia terkapar di lantai.

Ada luka tusuk di bagian perutnya, darah membasahi pakaian dan lantai di sekitarnya.

Napas Vellano seolah berhenti.

“Alessia!”

Ia berlutut dan mengangkat tubuh istrinya dengan tangan gemetar.

“Tidak… tidak, jangan…”

Alessia tidak menjawab.

Vellano langsung meraih ponselnya.

“Dokter Gustavo! Datang ke mansion sekarang!”

Untungnya, sebagian peralatan medis dari perawatan Alessia setelah kecelakaan masih berada di ruang tamu dan belum dipindahkan. Itu membuat dokter Gustavo memiliki perlengkapan darurat yang bisa segera digunakan.

Vellano membaringkan Alessia dengan hati-hati.

Tangannya berlumuran darah.

Dan untuk pertama kalinya, pria yang biasanya mampu menghadapi segala ancaman tanpa gentar itu benar-benar panik.

Ia menatap wajah pucat Alessia.

“Aku seharusnya mendengarkan mu…”

Suaranya pecah.

“Aku seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian.”

Namun malam itu tidak memberi Vellano waktu untuk menyesal.

Karena hidup Alessia sedang berada di ujung tanduk.

......................

Vellano duduk di sisi ranjang darurat dengan tangan masih menggenggam erat tangan Alessia. Untuk pertama kalinya, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Maaf…”

Suaranya bergetar.

“Aku seharusnya mendengarkan mu.”

Alessia terbaring tanpa suara. Matanya terpejam, wajahnya pucat, sementara beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Suara monitor yang berdetak teratur justru membuat dada Vellano semakin sesak.

Ia mengusap punggung tangan Alessia dengan ibu jarinya.

“Kau keras kepala,” bisiknya dengan senyum getir. “Tapi kali ini… aku berharap kau bangun dan memarahiku.”

Tidak ada jawaban.

Vellano menundukkan kepala. Air matanya jatuh mengenai tangan Alessia.

Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar. Vellano mengangkatnya dan menelepon Maxime.

“Maxime.”

Suara di seberang langsung terdengar waspada.

“Ya, Tuan?”

“Cari tahu siapa yang melakukan ini.”

Nada Vellano berubah dingin.

“Tapi lakukan diam-diam. Tidak boleh ada satu pun media yang tahu.”

Maxime terdiam sesaat.

“Kalau berita ini keluar, kondisi Nyonya Alessia akan menjadi lebih buruk. Dan bukan hanya keluarga kita yang terkena dampaknya. Keluarga Alessia juga bisa terseret.”

“Benar.”

Vellano menatap istrinya.

“Tidak ada konferensi pers. Tidak ada polisi yang datang bergerombol. Tidak ada kebocoran informasi.”

“Dimengerti.”

“Dan periksa semua rekaman CCTV mansion. Dari sebelum dia pulang sampai saat aku menemukannya.”

“Baik, Tuan.”

Panggilan berakhir.

Vellano kembali menatap Alessia.

Di balik jendela, malam begitu sunyi. Tidak ada lagi suara tawa mereka seperti beberapa hari terakhir. Tidak ada perdebatan kecil. Tidak ada Alessia yang memukul lengannya dengan bantal atau mengomel karena hadiah terlalu mahal.

Hanya suara alat medis.

Vellano menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku bahkan belum sempat bilang kalau aku bangga padamu.”

Matanya kembali berkaca-kaca.

“Jadi jangan berani menyerah.”

Ia menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Alessia.

“Bangunlah, Alessia.”

Untuk pertama kalinya, Vellano tidak meminta istrinya menurut.

Ia hanya memohon agar perempuan itu tetap hidup.

......................

 Dua hari berlalu.

Selama dua hari itu, Vellano hampir tidak pernah meninggalkan sisi ranjang Alessia. Semua pekerjaan kantor ia tinggalkan, memaksa Maxime mengambil alih hampir seluruh urusan perusahaan.

Bahkan makan pun nyaris ia lupakan.

Maxime sampai harus beberapa kali mengingatkan, “Tuan, Anda juga manusia.”

Vellano hanya menjawab datar, “Aku tidak lapar.”

Padahal wajahnya sudah terlihat lelah.

Di kamar perawatan, Alessia masih terbaring dengan mata terpejam. Vellano menggenggam tangannya hampir sepanjang waktu.

Sampai tiba-tiba…

Jari Alessia bergerak.

Vellano yang semula menunduk langsung mengangkat kepala.

“Alessia?”

Tidak ada jawaban.

Lalu jari itu bergerak lagi.

Mata Alessia perlahan terbuka.

Vellano membeku.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap istrinya, seolah takut berkedip.

“Alessia…”

Suara itu pecah.

Alessia menoleh pelan. Wajahnya masih pucat, tetapi sebuah senyum kecil muncul.

“Kenapa wajahmu seperti orang belum tidur dua tahun?”

Vellano tertawa kecil di tengah air mata.

“Kau…”

Ia tidak mampu melanjutkan kalimat.

Alessia memperhatikan wajahnya yang berantakan.

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Matamu merah.”

“Kurang tidur.”

Alessia tersenyum tipis.

“Berarti aku belum mati.”

Vellano langsung memejamkan mata sambil menghela napas panjang.

“Jangan bercanda soal itu.”

Alessia terkekeh pelan, lalu meringis karena perutnya terasa sakit.

Vellano langsung panik.

“Jangan bergerak!”

“Aku cuma tertawa.”

“Jangan tertawa terlalu keras.”

Alessia menatapnya beberapa saat.

Lalu dengan suara pelan berkata, “Aku pulang lagi.”

Vellano menggenggam tangannya lebih erat.

“Iya.”

Air mata kembali jatuh di wajahnya.

“Selamat datang kembali.”

Dan kali ini, Vellano tidak peduli jika Alessia melihatnya menangis.

Dan Dokter Gustavo kembali dipanggil ke mansion untuk memeriksa kondisi Alessia. Setelah dua hari penuh ketegangan, suasana akhirnya sedikit lebih ringan.

Gustavo memeriksa tekanan darah, kondisi luka, serta beberapa hasil pemeriksaan lainnya. Setelah beberapa saat, ia tersenyum puas.

“Pemulihannya sangat baik. Tubuhnya merespons pengobatan dengan bagus.”

Vellano yang berdiri di samping ranjang langsung mengembuskan napas lega.

“Jadi dia sudah aman?”

“Untuk saat ini, iya. Tinggal pemulihan dan pengawasan.”

Vellano mengangguk berkali-kali.

Alessia yang sedang bersandar di bantal tiba-tiba berkata, “Berarti aku boleh turun dari ranjang?”

Gustavo menatapnya.

“Tidak.”

Alessia mengerucutkan bibir. “Kenapa semua dokter suka melarang?”

“Karena pasien saya suka bertingkah seperti tidak pernah terluka.”

Vellano hampir tertawa.

“Dokter, saya setuju.”

Alessia melotot. “Kalian berdua sekarang satu tim?”

“Mutlak,” jawab Gustavo santai.

Alessia mendengus, sementara Vellano akhirnya tersenyum.

Namun di balik candaan kecil itu, hatinya terasa jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak malam mengerikan itu, ia benar-benar bisa bernapas lega.

Ia menatap Alessia.

Syukurlah kau masih di sini.

Dan kali ini, ia berjanji dalam hati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua itu.

......................

Sementara di tempat lain, jauh dari mansion Vellano, seseorang duduk dalam ruangan yang remang-remang.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Hanya senyum tipis yang sesekali muncul di balik bayangan.

Di atas meja terdapat sebuah ponsel dan sebuah amplop berisi sejumlah uang. Ia mengamati layar ponselnya dengan tenang, seolah baru saja menerima kabar yang sangat memuaskan.

Namun ketenangan itu perlahan berubah.

Sebuah pesan masuk.

“Dia masih hidup.”

Senyum di wajah pria itu menghilang.

“Tidak mungkin…”

Ia menatap layar cukup lama sebelum mengepalkan tangannya.

Rencananya seharusnya sederhana. Seseorang telah disewa untuk menyusup ke mansion dan membuat Alessia tidak pernah bisa membuka mulut mengenai apa yang diketahuinya.

Namun sesuatu berjalan berbeda.

Penyusup itu ditemukan tewas.

Orang yang berada di balik semua ini bahkan memastikan tidak ada saksi yang tersisa.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Tanpa ia sadari, beberapa meter dari tempat kejadian, sebuah kamera keamanan masih menyala.

Bukan kamera biasa.

Sistem baru yang dipasang di mansion mampu merekam gerakan sekaligus menangkap suara dengan sangat jelas.

Sebuah rekaman tersimpan otomatis.

Suara langkah kaki.

Suara pintu terbuka.

Dan percakapan singkat yang seharusnya tidak pernah terdengar siapa pun.

Di ruangan gelap itu, pria tersebut belum mengetahui bahwa satu kesalahan kecil telah meninggalkan jejak.

Sementara Alessia kini perlahan pulih, sebuah bukti diam-diam sedang menunggu untuk ditemukan.

Dan siapa sebenarnya pria di balik semua itu?

Belum ada yang tahu.

Namun waktunya semakin dekat.

...****************...

Kasian banget Alessia 🥹

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!