NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah membelah jalanan malam yang mulai lengang, SUV hitam milik Kenzo akhirnya berbelok memasuki halaman sebuah rumah yang tak kalah megah, namun memancarkan aura yang jauh lebih hangat dan hidup. Rumah keluarganya sendiri.

Kenzo mematikan mesin mobil, mengambil ponsel dan kunci, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia sengaja pulang ke rumah utama malam ini bukan ke apartemen pribadinya karena memenuhi permintaan sang mama tersayang yang sejak sore tadi sudah mengirimkan beberapa pesan singkat, memintanya untuk pulang karena merindukan anak laki-lakinya itu.

Begitu pintu jati besar itu terbuka, aroma kue panggangan yang familier langsung menyambut indra penciuman Kenzo.

"Kenzo? Kamu sudah pulang, Sayang?"

Suara lembut itu terdengar dari arah dapur bersih. Seorang wanita paruh baya dengan paras anggun dan awet muda berjalan menghampirinya sambil menyunggingkan senyum hangat yang sangat mirip dengan senyuman Kenzo. Beliau masih mengenakan celemek masak tipis.

Kenzo langsung melembutkan tatapannya. Ia melangkah mendekat, lalu membungkuk sedikit untuk mencium pipi mamanya dengan sayang, kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan sejak kecil.

"Malam, Ma. Maaf Kenzo agak telat, tadi harus mastiin urusan anak didik Kenzo selesai dulu," ucap Kenzo, sengaja menghaluskan bahasanya tentang Rindu agar tidak membuat mamanya khawatir malam-malam begini.

Sang mama mengusap lengan kokoh putranya, menatap wajah Kenzo dengan pandangan menyelidik khas seorang ibu. "Iya, Mama tahu kamu sibuk melatih. Tapi muka kamu kelihatan capek banget malam ini. Sudah makan malam belum? Mama sengaja masak makanan kesukaan kamu, lho."

"Waaahh enak nih, mau dong, Ma," sahut Kenzo dengan mata berbinar. Sifatnya yang dewasa dan dingin di luar seketika luntur, berubah menjadi anak laki-laki yang manja setiap kali berada di depan sang mama. Bau harum masakan rumah benar-benar membangkitkan selera makannya yang sempat hilang karena kepikiran masalah Rindu tadi.

"Kebiasaan kamu itu, ya. Kalau ada maunya baru manja begitu," terdengar sebuah suara berat namun sarat akan kehangatan memotong obrolan mereka.

Kenzo menoleh dan mendapati sesosok pria paruh baya bertubuh tegap yang sangat berwibawa berjalan dari arah ruang kerja. Itu Papanya. Pria yang menjadi panutan Kenzo dalam segala hal, termasuk bagaimana cara menghargai dan melindungi seorang wanita.

Sang Papa tersenyum lebar melihat putra tunggalnya akhirnya pulang ke rumah. Ada rasa bangga yang terpancar dari sorot matanya melihat Kenzo yang kini tumbuh menjadi pria dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab.

"Sini duduk, Jagoan. Papa juga sengaja nungguin kamu pulang buat makan bareng," ujar Papanya sambil menepuk bahu kokoh Kenzo sekilas saat mereka berjalan bersama menuju meja makan.

Melihat kehangatan dan keharmonisan kedua orang tuanya, hati Kenzo mendadak berdesir.

Di satu sisi ia merasa sangat bersyukur, namun di sisi lain, ia bertekad dalam hati untuk memberikan rasa aman dan kebahagiaan yang sama untuk Rindu. Kenzo ingin membuktikan pada Rindu bahwa sebuah keluarga seharusnya menjadi tempat pulang yang paling hangat, seperti rumahnya malam ini.

"Ayo kita makan dulu, nanti ngobrolnya disambung lagi. Keburu dingin semua ini makanannya," sela Mama sambil tersenyum manis, memotong obrolan antara dua pria kesayangannya itu. Beliau dengan telaten mulai menyendokkan nasi hangat dan lauk-pauk ke piring Papa dan Kenzo.

Kenzo langsung duduk di kursi makannya dengan patuh. Kehangatan ruang makan ini benar-benar kontras dengan hawa dingin dan mencekam yang sempat ia rasakan di rumah Rindu tadi.

"Makasih, Ma," ucap Kenzo tulus saat menerima piringnya yang sudah penuh dengan masakan rumah kesukaannya.

Suasana makan malam itu berlangsung dengan tenang dan khidmat. Tidak ada yang membuka suara selain denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Papa Kenzo selalu menerapkan aturan bahwa meja makan adalah tempat untuk menikmati berkat, jadi obrolan berat baru akan dimulai setelah perut mereka semua terisi.

Sembari mengunyah makanannya, pikiran Kenzo sesekali melayang ke Rindu. Ia membayangkan apakah gadis itu sudah benar-benar tertidur lelap di kamarnya yang dingin. Setidaknya, ingatan tentang deru napas teratur Rindu di telepon tadi membuat Kenzo bisa menikmati makan malamnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

Setelah piring mereka bersih, Papa Kenzo meletakkan gelas minumnya, lalu menatap putra tunggalnya itu dengan sorot mata yang hangat namun penuh selidik.

"Nah, sekarang perut sudah kenyang," ujar Papa sambil bersandar santai di kursinya. "Tadi Papa lihat dari awal kamu masuk rumah, ada sesuatu yang lagi kamu pikirkan berat ya, Zo? Coba cerita sama Papa, urusan klub renang atau... ada urusan lain?"

Kenzo terkekeh pelan, menyembunyikan rasa takjubnya di balik senyum tipis yang terukir di wajah tampannya. Ia meletakkan gelas minumnya kembali ke meja, lalu menatap pria paruh baya di depannya yang selalu berhasil membaca isi kepalanya dengan akurat.

"Kok Papa bisa tahu kalau Ken lagi mikirin sesuatu?" tanya Kenzo, nadanya santai namun menyiratkan rasa penasaran.

Papa Kenzo tertawa renyah, sebuah tawa berwibawa yang membuat suasana ruang makan itu semakin hangat. Beliau menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang putra tunggal yang kini mencoba bersikap misterius.

"Zo, Papa ini yang membesarkan kamu dari bayi sampai badan kamu jadi sebongsor ini," ujar Papa sambil menunjuk dada bidang Kenzo dengan dagunya. "Dari cara kamu melangkah masuk lewat pintu depan tadi, cara kamu mengunyah makanan yang agak lambat, sampai tatapan mata kamu yang sesekali kosong... Papa sudah tahu ada yang sedang mengusik pikiran jagoan Papa ini."

Mama yang sedang merapikan beberapa piring kotor ikut tersenyum dan menimpali, "Iya, Ken. Lagian anak Mama yang biasanya paling lahap kalau makan ayam bumbu buatan Mama, malam ini kok makannya kelihatan tenang banget. Biasanya kan kamu langsung heboh."

Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa kalah telak dari intuisi kedua orang tuanya. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap membagikan sedikit rahasia yang sejak sore tadi bergemuruh di dadanya.

"Sebenarnya... ini bukan soal klub renang atau latihan, Pa, Ma," aku Kenzo jujur, wajahnya mendadak berubah menjadi lebih serius dan penuh kesungguhan. "Ini soal seorang gadis."

"Wuah, tumben seorang Kenzo bisa gelisah karena seorang gadis," goda Papa, langsung mencondongkan badannya ke depan dengan binar jenaka di matanya. Beliau menyenggol lengan Mama dengan sikutnya, seolah memberi kode kalau malam ini mereka akan mendengar pengakuan besar.

"Padahal biasanya jangankan gelisah, dilirik puluhan perempuan di kolam renang saja kamu cueknya minta ampun."

Mama yang mendengar itu langsung meletakkan kain lapnya dan ikut duduk di sebelah Papa dengan wajah yang tak kalah antusias.

"Wah, siapa gadis beruntung itu, Ken? Anak kuliahan juga? Atau atlet yang sering kamu latih?" tanya Mama bertubi-tubi, matanya berbinar-binar penuh rasa penasaran. Selama ini, Kenzo hampir tidak pernah membawa urusan asmara ke dalam rumah, jadi topik ini jelas menjadi kabar yang sangat besar bagi kedua orang tuanya.

Kenzo hanya bisa mengembuskan napas pasrah, wajahnya yang biasa tegas mendadak merona tipis karena digoda habis-habisan. Ia mengusap wajahnya sebentar sebelum akhirnya menyerah dan mulai membuka suara.

"Namanya Rindu, Pa, Ma. Dia atlet privat yang Kenzo latih buat kejuaraan nasional nanti sebelum ia melaju ke babak kualifikasi International tahun depan," jawab Kenzo, suaranya melembut secara alami setiap kali melafalkan nama gadis itu.

Namun, senyum di wajah Kenzo perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang serius dan protektif. "Tapi, Ken gelisah bukan karena masalah asmara biasa. Kondisi dia... lagi gak baik-baik saja di rumahnya sendiri, Pa. Malam ini Ken habis antar dia pulang, dan situasi keluarganya benar-benar bikin Ken kepikiran sampai sekarang."

Papa mengernyitkan alisnya, tampak sedang menggali memori di kepalanya sebelum akhirnya matanya membelalak mengenali nama tersebut.

"Bentar... Rindu Prameswari? Anak perempuan Baskoro yang punya julukan ratu lintasan itu?" tanya Papa memastikan, nadanya berubah terkejut sekaligus tertarik.

Sebagai mantan atlet dan orang yang juga bergerak di dunia olahraga, Papa jelas tidak asing dengan nama besar Rindu di dunia renang, begitu pula dengan nama Pak Baskoro yang cukup terpandang di kalangan pebisnis.

Kenzo mengangguk pelan, membenarkan tebakan ayahnya. "Iya, Pa. Rindu yang itu."

"Lho, bukannya dia anak tunggal di keluarga kaya ya? Prestasinya bagus, jalurnya mulus. Kenapa kamu bilang kondisinya lagi gak baik-baik saja di rumah?" tanya Papa lagi, kini raut wajahnya ikut berubah serius, kehilangan minat untuk menggoda putranya lagi setelah tahu siapa gadis yang sedang mereka bicarakan.

Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kedua orang tuanya bergantian. "Di luar memang kelihatan seperti itu, Pa. Tapi di dalam rumahnya... semenjak ibunya meninggal dan papanya menikah lagi dengan wanita bernama Diana, Rindu gak pernah dapat ketenangan. Dia ditekan dari segala sisi, bahkan tadi waktu Ken mengantarnya dan lihat sendiri gimana dia disudutkan di rumahnya sendiri."

Mendengar penjelasan Kenzo, Mama langsung menutup mulutnya dengan tangan, merasa iba. Sementara Papa terdiam, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja makan, mulai memahami alasan mengapa putra tunggalnya yang biasanya cuek ini bisa sampai segelisah sekarang.

Mendengar kalimat terakhir Kenzo, raut wajah Papa dan Mama seketika berubah tegang. Suasana ruang makan yang tadinya hangat mendadak diselimuti rasa prihatin yang mendalam.

"Yang lebih parah lagi, Pa... Rindu sampai harus mengonsumsi inhaler untuk asmanya. Tiap kali dia merasa tertekan dan sesak karena situasi di rumah, dia selalu ketergantungan sama alat itu," lanjut Kenzo, suaranya terdengar berat dan sarat akan kekhawatiran yang tertahan.

"Ya Tuhan..." Mama langsung mengusap dadanya, matanya berkaca-kaca membayangkan penderitaan gadis malang itu. "Sampai kena fisik begitu? Kasihan sekali anak itu, Ken. Berarti tekanan mental yang dia hadapi sudah lewat batas sampai memicu asmanya kambuh terus."

Papa terdiam cukup lama. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke arah Kenzo, membaca kesungguhan di mata putra tunggalnya. Sebagai seorang pria, Papa tahu betul arti tatapan Kenzo saat ini: itu adalah tatapan seorang lelaki yang siap melindungi wanitanya habis-habisan.

"Jadi, itu alasan kamu kelihatan kalut malam ini?" tanya Papa dengan nada yang kini sepenuhnya suportif dan bijaksana.

Kenzo mengangguk pelan. "Iya, Pa. Besok pagi-pagi sekali Ken mau jemput dia buat dibawa ke dokter, Ken mau mastiin kondisi kesehatannya. Ken gak bisa diam aja lihat dia dirusak pelan-pelan sama lingkungannya sendiri."

Papa menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk pundak Kenzo dengan kuat. "Bagus. Itu baru anak Papa. Kalau kamu memang serius sama Rindu, jangan cuma jadi pelatihnya di kolam renang, Zo. Jadilah tempat berlindung yang paling aman buat dia di luar kolam. Jaga dia baik-baik besok, dan kalau butuh bantuan apa pun dari Papa untuk urusan medis atau apa pun, langsung bilang."

Kenzo tersenyum sangat tulus, rasa hangat dan lega yang luar biasa seketika menjalar di seluruh dadanya. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian dengan binar mata yang penuh rasa hormat dan syukur.

"Terima kasih ya, Pa, Ma, selalu mendukung Ken dalam segala hal," ucap Kenzo, suaranya terdengar sedikit serak karena tersentuh oleh ketulusan mereka.

Mama mengulurkan tangannya, mengusap lembut punggung tangan Kenzo yang berada di atas meja. "Jika itu memang yang terbaik buat kamu dan membuat kamu nyaman, Papa dan Mama akan selalu mendukung kamu, Sayang. Mama cuma mau anak laki-laki Mama ini bahagia, dan bisa membagikan kebahagiaan itu ke orang lain, terutama ke Rindu."

Papa ikut mengangguk setuju, menyandarkan punggungnya sambil tersenyum bangga. "Seorang pria sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap saat orang yang dia sayangi sedang jatuh, Zo. Sekarang Rindu lagi di titik terendahnya, dan Papa bangga kamu memilih untuk berdiri di sampingnya, bukan malah pergi."

“Kapan-kapan kamu bawa Rindu ke rumah ya Nak” pinta Mama Kenzo.

Mendengar permintaan sang mama, Kenzo langsung tersenyum lebar. Matanya berbinar jenaka, merasa senang karena Rindu sudah mendapatkan lampu hijau bahkan sebelum menginjakkan kaki di rumah ini.

"Iya, Ma. Pasti nanti Kenzo bawa Rindu ke sini," jawab Kenzo lembut, nadanya terdengar sangat pasti.

Papa yang duduk di sebelahnya ikut terkekeh pelan sambil menepuk lengan Mama. "Nah, denger itu, Zo. Mama kamu sudah gak sabar mau menyambut menantu idaman, apalagi atlet berprestasi seperti Rindu."

"Ih, Papa ini, kebiasaan deh jalannya kejauhan!" sahut Mama sambil mencubit pelan lengan Papa, membuat ruang makan itu kembali dipenuhi tawa hangat. Mama lalu kembali menatap Kenzo dengan tatapan keibuan yang teduh. "Bukan apa-apa, Ken. Mama cuma mau anak itu tahu, kalau di rumah ini, dia diterima dengan tangan terbuka. Dia bisa ngerasain lagi hangatnya kasih sayang seorang ibu yang sudah lama hilang."

Kenzo mengangguk pelan, dadanya mendadak terasa penuh oleh rasa haru. Dukungan dan ketulusan kedua orang tuanya benar-benar menjadi bahan bakar terbesar baginya.

"Makasih ya, Ma, Pa. Kenzo janji bakal jaga Rindu baik-baik. Nanti kalau kondisinya sudah lebih membaik dan dia sudah siap, Kenzo pasti langsung ajak dia makan malam di sini," ucap Kenzo tulus.

“Mmm..Pa Ken boleh minta sesuatu gak?”

“Apa nak?”

“Tolong rahasiakan dari pak Baskoro ayah rindu tentang Ken anak papa, Ken hanya ingin tau sejauh mana papanya rindu peduli sama rindu atau malah berimbas ke hubungan Ken dan Rindu”

Papa Kenzo terdiam sejenak. Sorot matanya yang bijaksana menatap dalam ke arah putra tunggalnya, menakar keseriusan dan kedewasaan di balik permintaan tersebut. Senyum tipis yang penuh pengertian perlahan terukir di wajah pria paruh baya itu.

"Tentu saja, Ken. Papa mengerti maksud kamu," jawab Papa dengan nada suara yang berat namun menenangkan.

Beliau memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja. "Papa dan Mama tidak akan membocorkan siapa latar belakang keluarga kita kepada Baskoro. Kalau itu bisa membantu kamu melihat watak asli ayahnya, sekaligus melindungi hubungan kamu dan Rindu dari intervensi bisnis atau ego orang tua, Papa akan dukung penuh."

Mama yang berada di samping Papa pun mengangguk setuju, menggenggam lembut tangan Kenzo. "Iya, Sayang. Biarkan hubungan kamu dan Rindu tumbuh murni karena ketulusan kalian berdua, bukan karena embel-embel nama besar Papa kamu. Lagipula, anak itu berhak mendapatkan seseorang yang tulus melindunginya tanpa motif lain."

Kenzo mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Penghalang besar di kepalanya malam ini runtuh seketika berkat kebijaksanaan orang tuanya.

"Terima kasih banyak, Pa, Ma. Ken cuma mau fokus nyembuhin trauma Rindu dulu tanpa perlu diganggu sama urusan status sosial," ucap Kenzo dengan determinasi tinggi.

"Sama-sama, Jagoan. Sekarang, masuk kamar dan tidur. Besok kamu punya tugas penting untuk menjemput dan menjaga 'Ratu Lintasan' kamu itu," ujar Papa sambil mengedipkan sebelah matanya, mencairkan kembali suasana malam yang penuh rencana itu.

Setelah obrolan hangat itu selesai, Kenzo berpamitan untuk masuk ke kamarnya. Malam sudah semakin larut, dan ia harus mengumpulkan energi karena besok pagi petualangan sesungguhnya untuk melindungi dan menyembuhkan Rindu baru saja dimulai.

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!