-Dukung karya Author dengan cara tinggalkan jejak Like, Komen, Rate dan juga Vote kalian-
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
--------------------------------------------------
"Jangan memanggilku Ava karna itu bukan namaku"
"Itu namamu, Stupid"
"Namaku Fredella-...."
"Ava Elvarette"
Fredella terdiam karena mengiyakan ucapan pria itu dalam hati.
"Bodoh"
"Sialan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HufflePuff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selena
Wanita cantik dengan rambut lurus sebahu itu sedang menikmati malam panasnya dengan seorang pria yang lebih muda darinya,
Ia menikmati permainan itu hingga sampai pada puncaknya.
Pria itu belum selesai dengan segala godaannya agar mendapatkan uang lebih banyak dari Selena.
Tentu saja Selena dengan cuma-cuma memberikannya karena sudah memuaskan hasratnya malam ini.
Selena menyodorkan beberapa lembar uang untuk pria itu pulang menggunakan kendaraan umum,
ia duduk di balkon kamar dan menyalakan sebatang rokok lengkap dengan wine mahal.
"Jika aku tidak berlanjut dengan Damien, aku pasti bisa miskin. Aku harus cepat memikirkan cara agar Damien kembali ke pelukanku" ucap Selena
Ia mengedarkan pandangannya ke luar rumah dan menikmati angin malam dengan asap nikotin berhembus tak beraturan.
"Jika tidak karena wanita sialan itu berani mendekati Damien, sampai saat ini aku masih bisa mendapatkan segala kemewahan darinya"
"Kalau benar Damien sudah berani menyentuh seorang wanita, aku sungguh tidak akan membuang waktu lagi. Akupun tidak keberatan jika hamil anaknya, karena dengan begitu Damien tidak akan meninggalkanku"
Selena berdiri memasuki kamar meninggalkan rokok yang masih menyala di asbak yang tergeletak di meja ia lalu memanggil seseorang dan seperti meminta bantuannya.
"Temui aku besok di Bar Star Light jam 10 malam, aku ada pekerjaan untukmu" ucapnya pada seseorang dalam sambungan telepon.
"Aku ingin lihat, bagaimana kau lolos dari maut. Jala*ng murahan" geram Selena yang meremas Handphone nya dan kembali duduk di balkon menghabiskan rokoknya.
***
Selena tidak menyerah dengan usahanya, malam ini dia datang ke apartemen milik Damien saat tahu pria itu sudah pulang dari perusahaan.
Ia menekan bel dan menunggu pintu di buka, sejenak ia menunggu karena Damien pasti tahu jika ia yang datang.
Akhirnya pintu pun terbuka, Damien tentu saja mempersilahkan Selena masuk karena melihat wanita itu tersenyum cantik dan membawa sekotak makanan favorit Damien.
Selena mengedarkan pandangan karena desain interior apartemen itu sudah berubah
"Ini baru satu bulan dan Damien sudah berani mengubah interior apartemen nya. Sialan!" gumam Selena.
Karena sebelumnya ia lah yang menginginkan apartemen ini sesuai dengan seleranya hingga desain interior dan warna cat nya ia yang memilih.
"Aku membawa makanan kesukaanmu, tak apa kau mengabaikanku. Tapi, makanlah oke" ucap Selena pada Damien yang berdiri membelakanginya.
"Aku akan mengambil piring dan menyiapkannya, kau mandi lah dulu" ucap Selena lagi
Dan pria itupun melangkah memasuki kamar untuk mandi dan mengganti baju.
"Lihat saja, kali ini kau mungkin akan sedikit luluh padaku" gumam Selena dengan pelan melihat pria itu menutup pintu kamarnya.
Damien tentu menerima apa yang di berikan oleh Selena, Ia memakan masakan Selena karena wanita itu tahu pasti tentang seleranya.
Tanpa suara dan tanpa berbincang, Damien menghabiskan makanan itu.
Selena yang sedari tadi hanya melihat Damien makan pun mencoba menatap pria di depannya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Palsu tentunya.
Benar saja, Damien mengabaikan Selena. Karena setelah menghabiskan makanan itu, ia memasuki kamar dan menutup pintu lalu menguncinya.
Tentu saja Selena merasa marah namun ia masih bisa menahannya demi mendapatkan lagi simpati dari Damien.
"Tidurlah yang nyenyak, semoga mimpimu indah Dam" itu yang Selena ucapkan diluar pintu kamar Damien.
Lalu Selena keluar dari apartemen itu dan menuju Bar dimana ia membuat janji dengan seseorang.
***
"Ikuti wanita ini, dan buat dia mati secepatnya. Tidak perlu mati, hanya dia cacatpun aku sudah puas" ucap Selena yang memberikan selembar foto Fredella kepada seorang pria di sampingnya.
"Wanita yang cantik, mengapa kau ingin mencelakainya?" tanya pria itu pada Selena yang sedang menyesap rokok.
Selena mengangkat punggungnya lalu mengambil gelas minuman di atas meja yang ada di depannya.
"Tidak perlu banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku minta. Kau akan menerima harga yang pantas dariku jika pekerjaanmu tuntas"
"Aku perlu jaminan jika saja kau berani kabur, aku yang akan membunuhmu"
Selena melirik tajam pada pria itu, dengan tatapan yang kesal ia mendecih karena berani-beraninya pria itu meragukannya. "100 ribu Dollar" ucap Selena yang memperlihatkan layar ponselnya tanda bukti transfer yang sudah berhasil.
"Kapan aku harus mulai?" tanya lagi pria itu
"Lebih cepat lebih baik" timpal Selena
Mereka menyesap wine bersamaan, pria disampingnya tadi sedikit menyukai Selena yang bertubuh ramping dan seksi.
Tanpa basa-basi pria itu berkata ingin menyicipi tubuhnya dan menjamin jika Selena tidak akan kecewa dengan pelayanannya.
Tentu saja Selena tak menolak, karena sentuhan itu tidak pernah ia dapat dari Damien.
Jadi, asalkan hasratnya terpuaskan Selena tidak akan masalah dengan siapapun ia melakukannya.
***
Pagi hari Selena mencoba menghubungi Damien, walaupun sudah tahu pria itu tidak akan menerimanya tapi setidaknya ia sudah mencoba.
Selena seketika merasa panas mengingat bagaimana akrabnya Damien dengan wanita bernama Fredella itu.
Sebelumnya Damien tidak memperlakukannya dengan santai seperti yang ia lihat tempo lalu.
"Banyak jalan untukku dapat mendapatkanmu kembali, Damien. Lihat saja, seketika wanita itu lenyap kau pasti akan mencariku lagi"
"Aku ingin tahu bagaimana kau tetap bersikeras menggoda Damien jika tubuhmu saja cacat, Jala*ng sialan!"
Selena berjalan menuju kamar mandi karena ia akan menemui seseorang yang akan menunjang kehidupan mewahnya.
Ia tidak bisa begitu saja jatuh miskin karena ia khawatir akan imej nya, semua orang tahu jika ia seorang yang dicintai Damien.
***
Ia menunggu saat-saat orang suruhannya memberi kabar tentang kecelakaan yang akan menimpa Fredella.
Dengan berjalan mondar-mandir di kamarnya ia menggenggam lekat Handphone nya.
"Sialan! Masih belum ada kabar sama sekali, apa dia sengaja menunda pekerjaan nya".
"Mungkin aku panggil lagi saja dia".
"Aku sudah tidak sabar melihat wanita itu dengan wajah yang hancur".
"Ayolaahhhh"
Selena membanting Handphone nya ke ranjang lalu menyugar rambutnya tanda frustasi.
Ia sudah tidak bisa menunggu lama lagi, Selena ingin segera kembali memeluk Damien serta hartanya.
Sesaat ia berlalu pergi meninggalkan kamar, tiba-tiba ponselnya berdering.
Tentu dengan rasa penasaran yang membuncah ia segera meraup Handphone itu, namun kali ini ia kecewa karena bukan orang diharapkan yang menelponnya.
Marah bercampur kesal, tapi ia tidak bisa menolak panggilan ini karena sosok penelpon adalah tambang kekayaan bagi Selena.
Walaupun ia pernah mendengar jika Damien sudah mengetahui perilakunya, tidak berarti membuatnya menyerah.
Karena hanya dengan itu ia masih bisa hidup berkecukupan bagai sosialita yang hartanya tak akan habis.
Selena harus melakukannya, karena orang diluar sana belum tahu jika ia sudah Damien campakkan.
"Ini salahmu perempuan sialan! Jika saja kau tak hadir di sisi Damien dan menggodanya"
"Aku benar-benar akan membalasmu" geram Selena.
"Setelah ini kau hanya akan terbaring lemah di ranjang rumah sakit, saat itulah Damien mencampakkanmu seperti yang dia lakukan padaku"
Tidak serta merta memikirkan kesalahannya, ia selalu saja mengumpat pada Fredella dan menyalahkan kepergian Damien karna kehadirannya sebagai sekretaris dan mengira jika Fredella pasti menggoda Damien.
"Dimana sialan itu, sudah mendapatkan uang dan tubuhku lalu dia pergi begitu saja"
"Aku bukan wanita bodoh yang bisa kau tipu, Baj*ngan!"
"Arght"
"Ya, hanya dia. Hanya dia yang bisa membantuku mencari tikus itu" gumam Selena
Ia memikirkan orang yang bisa melacak keberadaan orang suruhannya itu,
Selena bergegas pergi membawa tasnya dan menyabet kunci mobil di nakas belakang sofa ruang tamu lalu keluar rumah untuk menyelesaikan urusannya.
Namun ketika ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh sebuah kotak yang berisikan sepotong tangan dan kartu identitas milik orang suruhannya.
Selena berteriak histeris, semua orang yang bekerja untuknya berhambur melihat apa yang terjadi.
Tidak ada yang tidak terkejut sama seperti Selena, wanita itu hanya terduduk lemas karena ternyata rencananya sudah digagalkan oleh seseorang.
"Siapa? Siapa yang berani melakukan ini padaku" Teriak Selena yang berangsut mundur ketakutan melihat tangan dan darah disana.
To Be Continue
lanjut ya