Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Setelah semuanya benar-benar selesai,
hidup tidak langsung berubah menjadi bahagia.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada perasaan yang tiba-tiba hilang.
Yang ada hanya… hari-hari biasa
yang terasa sedikit lebih sepi dari sebelumnya.
Pagi itu, Nara bangun seperti biasa. Alarm berbunyi, ia mematikannya tanpa banyak berpikir. Tidak ada pesan yang ia tunggu. Tidak ada nama yang ia cari di layar ponselnya.
Dulu, hal sekecil itu bisa menentukan suasana hatinya seharian. Tapi sekarang… semuanya terasa datar.
Bukan sedih.
Tapi juga belum benar-benar lega.
Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, menatap kosong ke arah jendela. Sinar matahari masuk perlahan, menyentuh lantai kamarnya yang sederhana.
“Aku baik-baik saja,” gumamnya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Hari itu berjalan seperti biasa. Nara berangkat kerja, menyapa beberapa rekan, lalu tenggelam dalam rutinitas yang sudah ia kenal luar kepala.
Tapi ada satu hal yang berbeda.
Tidak ada lagi rasa ingin melihat ke arah tertentu.
Tidak ada lagi kebiasaan menunggu tanpa sadar.
Semuanya… benar-benar selesai.
Di sela waktu istirahat, Nara duduk sendiri di pantry. Secangkir kopi hangat ada di tangannya, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Bukan tentang Raka.
Aneh.
Biasanya nama itu selalu muncul tanpa diundang.
Tapi kali ini, yang ia pikirkan justru dirinya sendiri.
Tentang apa yang ia inginkan.
Tentang hidup yang selama ini ia jalani tanpa benar-benar ia pilih.
“Aku mau apa, ya?” bisiknya pelan.
Pertanyaan itu terasa asing.
Selama ini, ia terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Terlalu sering mengalah. Terlalu sering diam.
Sampai akhirnya… ia lupa bertanya pada dirinya sendiri.
Sore harinya, setelah pulang kerja, Nara tidak langsung pulang ke rumah. Entah kenapa, ia memilih untuk berjalan kaki lebih lama dari biasanya.
Ia melewati jalan yang cukup ramai, tapi kali ini ia tidak merasa tergesa.
Langkahnya pelan.
Seperti sedang menikmati sesuatu yang baru ia sadari.
Udara sore terasa lebih ringan.
Atau mungkin… hatinya yang mulai berubah.
Di sebuah sudut jalan, ia melihat seorang perempuan tertawa bersama temannya. Tawa itu terdengar lepas. Tanpa beban.
Nara memperhatikan sejenak.
Dulu, ia juga seperti itu.
Atau mungkin… ia hanya lupa bagaimana rasanya.
Ia tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya.
Tidak ada rasa iri.
Tidak ada juga rasa kehilangan.
Hanya ada keinginan kecil…
untuk kembali menemukan versi dirinya yang dulu.
Malamnya, Nara duduk di kamarnya. Kali ini tanpa air mata. Tanpa kenangan yang menyesakkan.
Ia membuka catatan kecil di ponselnya.
Sudah lama sekali ia tidak menulis sesuatu untuk dirinya sendiri.
Perlahan, ia mulai mengetik:
“Aku tidak ingin lagi hidup hanya untuk bertahan.
Aku ingin mencoba… hidup untuk diriku sendiri.”
Ia berhenti sejenak, membaca ulang kalimat itu.
Sederhana.
Tapi terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis tentang seseorang.
Tidak tentang Raka.
Tidak tentang masa lalu.
Hanya tentang dirinya.
Dan itu… terasa cukup.
Hari-hari berikutnya mulai berjalan dengan ritme yang sama. Tidak cepat, tidak juga lambat.
Tapi ada satu hal yang mulai berubah.
Nara mulai melakukan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia lakukan.
Ia mencoba datang ke tempat baru.
Mencoba berbicara lebih banyak dengan orang lain.
Bahkan sesekali… tertawa tanpa merasa bersalah.
Perubahan itu tidak besar.
Tidak juga langsung terlihat.
Tapi ia merasakannya.
Perlahan…
ia mulai kembali.
Bukan menjadi orang yang sama seperti dulu.
Tapi menjadi versi baru dari dirinya
yang lebih mengerti, lebih tenang, dan lebih jujur.
Tentang apa yang ia rasakan.
Tentang apa yang ia butuhkan.
Dan tentang apa yang tidak lagi ingin ia ulangi.
Di suatu malam yang tenang, Nara berdiri di depan jendela kamarnya. Kota masih ramai di luar sana, tapi pikirannya terasa jauh lebih sunyi.
Namun kali ini, sunyi itu tidak menakutkan.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Tidak ada lagi beban yang sama.
Tidak ada lagi rasa yang menahan.
Mungkin… ini belum sepenuhnya sembuh.
Tapi ini sudah jauh lebih baik.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara tidak lagi bertanya tentang masa lalu.
Ia mulai melihat ke depan.
Walaupun pelan.
Walaupun belum pasti.
Tapi cukup untuk membuatnya percaya…
bahwa hidupnya tidak berhenti di satu cerita saja.
Dan mungkin, di luar sana
ada banyak hal yang belum ia temui.
Bukan tentang seseorang.
Tapi tentang dirinya sendiri.