Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman memuaskan?
"Saya tidak mau besok. Saya mau mendengar sekarang."
What? Sekarang? Eh, Adam. Lihat, sekarang udah jam berapa? Udah pukul 11 lebih, gak mungkin kita kerumahnya semata-mata untuk menanyangkan hal konyol ini. Tapi kalau di telpon mungkin gak apa-apa. Biar diam mulut si Adam ini!
"Oke, aku telpon dia sekarang." Lalu kukeluarkan ponsel dan menghubungi nomor dokter Rina. Satu kali percobaan, tidak dijawab. Dua kali pun sama. Waktu akan melakukan panggilan ketiga, Adam malah menyela.
"Kenapa? Tidak di jawab?" sinisnya.
Aku menggeleng karna nyatanya panggilan ketigaku memang tidak di jawab. "Kalau gitu kita ke klinik aja. Aku akan melakukan tes kehamilan sekarang. Biar kamu puas!" sengitku memberi ide. Tapi Adam malah menggeleng, menolak ideku itu. Dia tersenyum sinis.
Maunya apa sih?
"Winda, dengar saya baik-baik. Saya mau bukti kalau kamu memang tidak sehat di karnakan bulmia relapse, bukan karna kamu hamil." Adam menegaskan dengan nada yang tenang.
"Dalam istilah yang lebih sederhana, saya mau bukti kalau kamu mengalami gejala demam berdarah dan bulmia relapse. Saya bukan ingin bukti kamu tidak hamil," terangnya lagi dengan bahasa yang lebih mudah di cerna, walaupun sebenarnya aku masih bingung.
"Apa salahnya aku lakukan tes kehamilan untuk membuktikan kalau gak hamil?" bidasku. Jujur aku masih tidak mengerti jalan pikirannya yang mengedapankan logikanya yang terlalu berbelit-belit dan ini benar-benar menguji otakku yang tidak sepintar dia.
"Masalahnya, itu tidak akan membuktikan kalau kamu benar-benar pernah mengalami demam berdarah dan bulimia relapse. Jadi, meskipun kamu tidak hamil, tidak menjawab apa yang saya tanyakan."
Aku menggeleng-gelengkan kepala, otakku yang dangkal ini belum bisa menangkap maksud dari kata-katanya.
Beginilah nasib punya suami yang memiliki logika begitu kompleks. Semua harus di jabarkan dengan ilmiah.
Kayak rumus mungkin?
Adam tersenyum dan berdiri. Kertas-kertas yang kuserakkan dia pungut kembali, lalu mendekatiku yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
"Baiklah, saya terangkan," katanya sambil mengambil pena dan selembar kertas A4 yang masih kosong sebelum melabuhkan duduk di kursi kerjanya. Pertama dia mencoret kertas kosong itu dengan gambar makanan.
What? Sebenarnya dia mau menjelaskan apa? Perlukah sampai terperinci seperti ini? Emang aku anak TK harus di jelaskan dengan cara seperti ini.
"Oke. Lihat sini!" Adam kembali bersuara sambil menunjukkan gambar yang di coretnya di kertas. "Seandainya, kamu bilang sudah kenyang makan burger McD. Jadi, saya minta bukti kamu benar-benar kenyang makan burger itu, bukan karna makanan lain. Apa kamu paham?" Adam menerangkan. Dia juga memandangku setelah melingkar gambar burger di kertas.
Aku mengangguk pelan. Gak mungkin dong, masih gak ngerti setelah dia terangkan seperti ini.
"Jadi, sekarang ini saya minta bukti kantong burger McD? Oke, kamu jawab kamu sudah buang. Saya tanya lagi, kamu beli di McD mana? Kamu jawab lupa. Oke. Sampai di sini kamu paham kan?"
Aku mengangguk lagi.
"Good. Tapi, saya masih ingin bukti kalau kamu benar-benar makan burger McD itu. Kamu jawab, kamu akan bawa saya ke KFC. Kamu suruh saya menanyakan pada karyawan di sana, ada tidaknya kamu beli burger di KFC itu. Oke, dia bisa saja jawab kalau kamu benar-benar ada membeli burger di sana. Tapi adakah itu membuktikan burger yang kamu makan sampai kenyang adalah burger McD?" Adam membuat tanda tanya besar di sebelah gambar burger yang di katakannya burger McD.
Sekarang aku mulai paham apa yang dia maksudkan. "Jadi, aku harus ingat McD yang aku datangi dan membawa kamu kesana. Biar kamu bisa tanyakan lansung pada karyawannya, begitukan?" tanyaku memastikan apa yang dia maksud.
"Ya, selama kamu tidak ingat McD mana yang pernah kamu datangi untuk membeli burger itu, kamu belum bisa membuktikan semuanya. Mungkin saya bisa terima apa saja burger yang kamu makan. Tapi kamu sendiri yang menyatakan spesifik burger McD, jadi saya ingin bukti burger itu benar-benar burger McD," terang Adam lagi.
Aku bersandar di meja kerjanya. Bagaimana caranya aku membuktikan, sedang bungkus obat, resep yang di berikan dokter, sudah aku buang. Dokter Rina pun tidak bisa di hubungi. Jadi mau membuktikan bagaimana?
Aha! Tiba-tiba otakku terpikir sebuah ide.
"Gimana kalau aku ajak kamu ke semua penjual burger di Indonesia ini, kecuali McD, untuk buktikan kalau aku memang gak ada membeli burger di tempat mereka?" tanyaku meski sedikit ragu dengan ide konyol itu.
Kening Adam berkerut berlapis-lapis, mungkin dia juga bingung dengan ideku itu.
"Mungkin itu ide yang bagus. Tapi, mustahil kamu bisa membawa saya kesemua penjual burger di Indonesia, kan? Menurut saya cara yang lebih pantas dan termudah adalah dengan menunjukkan pada saya dimana McD tempat kamu membeli burger itu," balas Adam sambil mengusap dagunya.
"Tapi menurutku, membawamu ke semua penjual burger itu lebih masuk akal," bisikku seraya setapak mendekati kursinyang di dudukinya.
Kening Adam semakin berkerut. "Saya tidak paham dengan jalan pikiranmu, Winda?"
"Jadilah suamiku malam ini, dan kamu akan paham," jawabku memberanikan diri menggodanya.
"Ma-maksud ka-kamu, ka-kamu mau-"
"Ya," potongku memintas kata-katanya.
Adam menggeleng, lalu berdiri dari kursi kerjanya dan menjauhkan dirinya dariku.
"Winda, itu mustahil. Saya tidak bisa menyentuh kamu dalam keadaan saya yang masih ragu. Intinya selama kamu belum bisa membuktikan sakit yang kamu alami selama ini di sebabkan demam berdarah dan bulimia, otak saya yang jenius ini masih yakin kalau kamu hamil. Bukan karna sakit yang kamu sebutkan tadi. Begitulah, ya begitulah aturannya," ucapnya sambil berjalan bolak balik di samping tempat tidur.
"Aku sudah bilang, aku gak hamil! Kenapa susah sekali kamu untuk percaya?!" teriakku. Jujur, hati ini sakit dengan tuduhannya itu. Panjang lebar aku jelaskan, hingga membuka rahasia kelamku, tapi semua sia-sia.
"Entahlah, Win? Mungkin karna kamu merahasiakan hal ini dari saya, jadi otak saya berpikir sekarang kamu hanya mengarang cerita itu untuk menutupi kebenaran." Adam masih memberikan argumen sambil masih berjalan mondar mandir. Selama ini tidak pernah aku melihat dia kusut seperti ini.
"Untuk apa aku bohongi kamu, Dam? Dan apa gunanya aku mengarang cerita ini?" teriakku bersama cairan bening mengalir ke pipi. Kesal aku dengan orang seperti Adam ini. Keras kepala, ngeyel, semua harus di sangkut pautkan dengan logika.
"Saya pun tidak tau, Winda! Mungkin karna saya tahu kamu seperti apa. Kamu ambisius! Dan kamu akan melakukan apa saja untuk membuktikan sesuatu yang menurut kamu benar. Apa kamu lupa bagaimana dulu kamu menggoda saya hanya untuk membuktikan kalau saya ini hanya lelaki biasa yang perpura-pura alim?"
Sejarah itu di ungkit lagi. Sejarah yang menyebabkan kami terikat dalam pernikahan ini.
"Saya juga sempat mendengar kamu bertengkar dengan Sarah, masalah boneka Berbie. Dan mungkin sekarang kamu melihat Juliana seperti itu juga. Kamu melihat Juliana seperti ingin merebut perhatian saya dari kamu, jadi kamu coba untuk merebut lagi perhatian itu, karna dalam pikiranmu, saya ini milik kamu? Kamu lah yang seharusnya berhak atas saya. Benar, kan? Ah, tapi saya tidak pasti. Saya benar-benar bingung dengan kamu, Winda!" Adam menambahkan, lalu terduduk di pinggir ranjang. Sikutnya di topang ke lutut dan telapak tangan di tutupkan ke wajah.
Sesaat suasana hening, lalu dia kembali mengangkat wajah dan memandangku.
"Saya bingung, Winda. Kenapa kamu menutupi hal ini dari saya. Hari itu, waktu saya tanya, kenapa tidak kamu bilang kalau kamu tidak hamil? Kenapa kamu rahasiakan ini dari saya jika kamu benar-benar mengalami DBD dan bulmia relapse? Bukankah dulu saya pernah bilang, jangan ada rahasia diantara kita, Winda. Dan sekarang, lihat apa yang terjadi?" ucapnya dengan pipi yang basah oleh air mata.
"Saya terlalu sibuk memikirkan kamu hamil, sampai saya tidak bisa menghilangkan pikiran itu dari kepala ini, meskipun saya sudah mencoba. Setiap hari saya memikirkan masalah ini, saya buat riset, menentukan langkah apa yang harus saya lakukan dan memikirkan apa saya bisa menyelamatkan pernikahan ini atau tidak. Yang kamu lihat hanya beberapa kertas di meja saya, kamu belum melihat yang di laptop dan tas kerja saya." Adam menambahkan lagi dan sempat tertawa sinis dengan pengakuannya itu.
"Makanya sekarang kita pergi ke klinik. Terserah kamu mau ke klinik mana atau rumah sakit sekalian. Kamu juga bebas mau melakukan tes kehamilan berapa kali pun. Sampai kamu puas," balasku menyampaikan ide tadi. Tapi Adam masih menggeleng.
"Kamu paham tidak, Winda? Pengakuan masalah kesehatanmu membuat masalah ini semakin rumit. Karna sekarang saya juga butuh pembuktian itu juga. Saya perlu tahu kalau kamu tidak membohongi saya? Dan rahasia-rasia lain yang kamu sembunyikan dari saya sampai membuat saya hilang kepercayaan pada kamu. Dalam otak saya, mungkin saja kamu sudah gugurkan kandungan itu, baik secara sengaja atau pun tidak, tanpa sepengetahuan saya. Jadi, berapa kali pun kita melakukan tes kehamilan, semua itu tidak akan membuktikan apa pun dan saya masih membutuhkan bukti atas semua penjelasanmu!" Adam kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan dan bahunya pun tampak turun naik, bergetar.
"Ya udah, kamu tiduri saja aku malam ini," balasku sambil berjalan kearahnya. Cuma itu satu-satunya jalan yang terpikir olehku. Kalau dia tahu aku masih perawan, otomatis pikiran di kepalanya itu hilang, kan?
Adam mengangkat wajah perlahan dan memandangku dengan mata merah. Kemudian dia menggeleng lemah.
"Tidak bisa, Winda. Saya tidak bisa bersetubuh dengan kamu kalau kamu masih membohongi saya. Hukumnya dosa, Winda. Haram hukumnya menyemai benih di tanaman orang lain. Cukup sekali saya berdosa dengan berzina dengan kamu dulu," ucapnya sambil menyeka mata.
"Please! Percaya sama aku kali ini. Seandainya persetubuhan ini berdosa, biar aku yang menanggung dosamu," pintaku, lalu menjatuhkan lutut di depannya.
"Itulah indahnya dalam agama Islam. Jika saya berbuat dosa, tetap saya yang akan menanggungnya. Dosa saya, tidak bisa di rubah menjadi dosa kamu. Tetap saya yang akan menanggung dosa itu."
Adam perlahan menyentuh kepalaku dan ketika kubiarkan, dia mengelus rambutku lembut.
Sungguh, betapa rindu aku dengan sentuhannya ini.
Ah, aku tidak peduli lagi. Rahasia masa laluku sudah terbongkar. Dia sudah tahu rahasia yang membuatku malu pada diriku dulu. Jadi saat ini, tidak ada yang perlu lagi aku malukan.
Aku akan menyelamatkan pernikahan ini. Aku sayang dia, aku akui itu. Dan aku akan berubah demi kebaikan kami. Aku tidak mau egois lagi, aku tidak mau keras kepala lagi, aku tidak mau mengetepikan perasaanku lagi, aku tidak mau lagi jauh dari dia. Cukuplah dua Minggu lalu menyesakkan lahir dan batin ini. Sekarang aku mau kasih sayang dan perhatiannya hanya untukku.
Perlahan aku berdiri dan mata Adam mengikuti pergerakanku. Aku buka kancing baju satu persatu membuat mata Adam semakin membulat.
"Wi-Winda. Ka-kamu ma-mau apa? Sa-saya sudah bilang, ti-dak akan menyentuh kamu, kan?" ucapnya terbata-bata sambil berdiri. Kemudian dia berdiri coba menghentikanku, tapi aku tepis tangannya.
"Winda, please! Tolong mengerti keadaan saya!" Dia memohon dan masih berusaha menghentikanku. Aku hentikan gerakan dan memandang tepat matanya.
"Aku ingin di tiduri malam ini juga. Kalau kamu gak mau memenuhi keinginanku itu, aku akan minta dari lelaki lain," ancamku, lalu kembali memasang kancing bajuku sebelum menapak kearah pintu.
Aku sangat yakin, Adam tahu bagaimana egonya aku yang pantang di uji dan nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ku-mau. Jadi aku sangat yakin, dia akan memenuhi tugasnya sebagai suami malam ini.
Belum sempat tanganku meraih pintu, sepasang tangan lebih dulu mengangkatku dan membawaku kembali keranjang.
Yes, aku berhasil. Dan Adam terkena jebakan Batman. Oke. Aku akan lebih agresif lagi. Akan kupastikan dia menuntaskan kebutuhanku malam ini.