Dear diary...
Siapa yang akan mati selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alibi
Bab baru the haunted diary
Dei terdiam di sudut taman, duduk di bangku kayu yang sedikit sembab, bekas terkena hujan semalam. Aroma hujan masih tersisa, menemani cahaya matahari hadir di pagi itu. Dei menarik napas panjang, membiarkan oksigen mengisi paru-parunya, memberi kelengkapan bagi Dei yang beberapa hari terakhir seperti kehabisan napas. Perlahan, gadis itu membelai pergelangan tangannya yang dibalut perban, membuatnya tertunduk menatap tangan yang tersayat itu. Dia mengelus-elus perban itu dalam diam, merasakan detail sakit yang ia terima kala itu. Dia tidak cukup sadar tapi rasa nyerinya masih cukup terbayang dalam ingatan Dei. Tindakan bodoh yang memuakkan. Tapi, hidup Dei memang terasa jauh lebih memuakkan daripada mati. Dei bahkan tidak terlalu yakin. Apakah dia pantas hidup atau mati? Dia terjebak dalam dilemanya. Dalam kutukannya sendiri.
Dia hidup dalam kegelapan. Sejak kecil, hal buruk selalu datang padanya. Dia berusaha tegar, dia berusaha tetap kuat. Dia mencoba menjalani hidup senormal mungkin, sebaik mungkin. Tapi, kesialan tetap selalu ada padanya. Mungkin, bukan buku itu yang terkutuk tapi hidup Dei. Sejenak, Dei merasa memang hidupnya yang terkutuk.
Dei kembali mengangkat kepala, memandang taman Rumah Sakit tempat ia dirawat yang nampak sejuk. Ada beberapa pasien yang ditemani keluarga, berbincang dan tertawa bersama. Mereka terlihat cukup akrab hangat. Dei terdiam, merasa iri dengan beberapa hubungan hangat yang ada di hadapannya. Tak jauh dari tempat Dei duduk terdiam, ada sepasang kekasih yang tengah bercanda, saling menghibur. Kembali, hati Dei serasa perih tersayat. Dia teringat Langit dan bayangan Langit yang tak bernyawa terus berkelebat di otaknya.
“Awww,” Dei merasakan kepalanya berat dan serasa begitu pusing. Dei memijit kecil keningnya dan mengerjap, pandangannya sedikit kabur namun ia melihat sesuatu dari kejauhan. Di bawah sebuah pohon yang ada di taman, ada seorang anak kecik berwajah pucat dengan pakaian putih lusuh tengah berdiri menatapnya.
Dei mengerjap kecil, dan sosok itu masih di sana. Tatapan anak itu dingin dan tajam. Semilir angin, sejenak berhembus membuat bulu leher Dei meremang. Dia masih beradu pandang dengan anak berwajah pucat itu. Dan, tiba-tiba anak itu menunjukkan senyum yang lebar. Semakin lebar dan semakin lebar hingga membentuk seringaian serta ekspresi yang menyeramkan. Dei merasakan napasnya tercekat dan memilih memejamkan mata takut.
‘Ini hanya imajinasi. Ini tidak nyata. Tidak nyata.’
Dei bersikeras, mencoba bersikap rasional dan menghempas rasa takutnya. Perlahan, ia membuka mata ke arah anak kecil tadi. Namun, sosok itu sudah hilang. Anak itu lenyap. Dei bernapas lega sejenak tadi menyimpan rasa penasaran. Ia menoleh dan seketika membeku. Anak itu sudah berdiri di sebelahnya tepat. Lengkap dengan seringai menyeramkan.
Alih-alih ketakutan, Dei justru terkejut saat menyadari jika sosok anak kecil itu adalah dirinya saat masih kecil. Dirinya saat harus menyaksikan kematian papa dan mamanya yang tragis. Gadis itu menunjuk Dei dan perlahan membuka mulutnya.
“Pembunuh!” ujar anak itu dengan suara menggema yang menyeramkan diakhiri dengan suara tinitus hebat yang memekakkan telinga Dei. Dei mengerang, menutup kedua telinganya yang berdengung nyeri. Ia mendongak melihat cerminan masa kecilnya mulai kembali tersenyum lebar menyeramkan. Dan sebuah tepukan di pundak Dei sukses membuat Dei menjerit.
“Aaaakkk!” Dei menoleh cepat dan menemukan seorang perawat yang terkejut dengan sikap Dei tengah berdiri di sana.
Dei terengah-engah, dan menoleh ke sana kemari. DIa tidak menemukan dirinya yang masih kecil tadi. Anak itu hilang berganti dengan tatapan orang-orang yang heran dengan sikap Dei. Dei mengatur napasnya sejenak, mencoba tenang dan menoleh pada perawat yang menepuk pundaknya tadi.
“Maaf, saya sedang kepikiran sesuatu,” ujar Dei.
Perlahan, perawat itu mulai tenang dan menarik napas panjang sebelum menyunggingkan sebuah senyum ramah, “Anda harus kembali ke kamar. Pihak kepolisian sedang menunggu anda. Mereka ingin menanyakan beberapa hal pada anda,” ujar perawat tersebut.
Dei mengangguk gontai. Setelah bertemu bayang dirinya waktu kecil dengan wajah menyeramkan, dia harus terjebak dalam kenyataan jika ada polisi yang menunggunya.
“Baik, saya kembali ke kamar.” Ujar Dei kemudian.
“Mari saya bantu,” ujar perawat tersebut sembari mengambil alih tiang infus Dei.
Dei dan perawat itu berjalan berdirinya. Sesekali, Dei masih mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari jejak sosok menyeramkan itu. Dan, dia menemukan sosok itu kembali berdiri dinbawah pohon dengan seringaian yang masih menyeramkan. Membuat Dei bergidik.
-oOo-
“Jadi, maksud anda... anda menemukan saya sedang ada di supermarket terdekat dengan kediaman Langit saat kejadian pembunuhan itu?” tanya Dei bingung.
Seorang polisi bernama Wira, mengangguk, “Benar. Ini berbanding terbalik dengan kesaksian anda. Anda bilang, anda sedang ada di rumah.”
Dei tertunduk diam. Dia bingung dan tenggelam dalam kekalutan. Dia ada di supermarket dekat rumah Langit? Tapi, Dei yakin jika dia ada di rumah saat itu. Dia tidak pergi kemanapun karena masih takut. Dei menatap layar laptop yang ditunjukkan pak Wira pada Dei. Sebuah gambaran dari video yang menunjukkan dirinya tengah berdiri di antara rak-rak yang di supermarket dengan mengenakan gaun hitam yang dilakukan jaket hitam tebal juga. Dei memakai masker dan kacamata hitam pekat. Anehnya, Dei tengah tersenyum ke arah kamera CCTV di supermarket itu.
Apa yang tengah terjadi? Siapa sosok itu. Dan, apa hubungan ini semua dengan kematian Langit? Atau... apakah dia memang berada di sana? Tapi, Dei yakin dia ada di rumah. Dia sedang tidak berdaya karena berada dalam pengaruh obat tidur yang diberikan dokter Elisa. Lagipula, dia tidak punya cukup keberanian untuk menemui Langit yang masih marah besar padanya. Tapi, video CCTV itu terlihat cukup nyata. Sosok itu... sungguh dirinya. Benarkah?
“Jadi, nona Dei... apa yang ingin anda katakan? Tolong jawab jujur kepada kami.”
Dei terdiam. Tanpa sadar tanga berkeringatnya sudah mencengkeram sprei ranjangnya. Dia tertunduk, bingung harus menjawab apa.
“Nona Dei... ,” panggil pak Wira kembali.
“Dia hendak mengunjungi.”
Sebuah suara menyahut dari balik pintu. Dei dan pak Wira menoleh ke arah asal suara dan menemukan seorang wanita tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka berbincang. Seorang wanita yang memakai pakaian cukup stylist lengkap dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Dokter Elisa.
Dokter Elisa menyunggingkan senyum menawannya sembari menyodorkan tangan ke arah pak Wira yang terlihat terpana sejenak.
“Dokter Elisa.” Ujar dokter Elisa yang memperkenalkan diri dengan nada yang anggun.
“Wira. Detektif polisi yang menangani kasus kematian Harmonia. Mulai dari Sherin, Deka dan Langit.” Sahut pak Wira sembari menyambut uluran tangan dokter Elisa.
Dokter Elisa tersenyum kecil dan melirik ke arah Dei, “Aku jamin, gadis ini punya alibi yang kuat.”
Dei terdiam dengan kening yang mulai berkerut. Apa maksud dokter Elisa soal alibi? Dan, kenapa dokter Elisa membantu Dei? Mendadak, Dei merasa bingung, cemas dan takut.
-oOo-
Bersambung.
Halo, pembaca yang baik hati... jangan lupa like dan komentarnya ya ^^
Regards Me
Far Choinice ^^
Silence mampir kak, semangat berkarya baru 🥰💪🌹