Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : MAJIKAN DAN PEMBANTU
...BAB 3...
...MAJIKAN DAN PEMBANTU...
Pagi pertama Wulan bekerja di rumah Rian dimulai lebih cepat dari biasanya. Bahkan sebelum matahari benar-benar muncul, Wulan sudah berada di dapur.
Ia mengenakan pakaian sederhana yang memang disiapkan untuk bekerja. Rambutnya diikat rapi agar tidak mengganggu aktivitas.
Di atas meja dapur sudah tersedia beberapa bahan makanan. Wulan membuka kulkas dan memeriksa isinya.
Ia masih belum terlalu mengenal kebiasaan keluarga di rumah itu. Karena itu, ia memilih memasak makanan sederhana terlebih dahulu.
Nasi, sayur bening, telur dadar dan juga sambal. Dan beberapa lauk yang mudah dimakan oleh anak kecil.
Sementara itu, Delon dan Astrid masih tidur di kamar yang disediakan untuk mereka. Wulan sempat merasa tidak enak karena mereka harus tinggal di rumah orang lain.
Namun Mira sudah mengatakan bahwa kamar tersebut memang bisa digunakan Wulan bersama kedua anaknya.
“Yang penting Ibu bekerja dengan baik,” kata Mira kemarin.
Dan Wulan akan melakukan itu. Ia tidak ingin menerima gaji tanpa memberikan pekerjaan terbaik yang bisa ia lakukan.
Setelah selesai memasak, Wulan membersihkan meja makan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.
Wulan menoleh. Rian turun dengan pakaian kerja. Kemeja putih yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat semakin rapi.
Ia berhenti ketika melihat meja makan. “Apa ini?”
Wulan yang sedang membawa piring menoleh.
“Sarapan Pak.”
“Aku tahu ini sarapan.” Rian berjalan mendekat. “Maksudku, kamu yang membuatnya?”
“Iya.” angguk Wulan.
Rian melihat berbagai makanan yang tersaji. “Tidak perlu sebanyak ini.”
Wulan tersenyum kecil. “Ini sebenarnya tidak banyak. Saya tidak tahu Anda biasanya sarapan apa.”
Rian terdiam mendengar cara Wulan berbicara. Dulu, ketika masih kuliah, Wulan selalu memanggilnya dengan santai.
Sekarang ada jarak yang jelas di antara mereka. Bukan hanya karena usia dan kehidupan yang sudah berubah.
Tetapi karena status mereka sekarang. Wulan adalah pekerja di rumahnya. Dan Rian kini adalah majikannya.
“Kamu bisa panggil aku Rian saja kalau sedang tidak ada orang lain,” ujar Rian.
Wulan langsung menggeleng. “Lebih baik saya tetap memanggil Anda Pak Rian.”
“Kenapa?” Rian mengernyit.
“Karena sekarang saya bekerja di rumah Anda.” jawab Wulan.
Rian tidak menjawab lagi. Ia kemudian menarik kursi dan duduk. “Anak-anakmu sudah bangun?” tanyanya.
“Belum.”
“Kalau begitu, makanlah.”
Wulan menggeleng. “Saya nanti saja.”
“Kamu sudah sarapan?”
Wulan diam.
Rian langsung tahu jawabannya. “Belum?”
“Saya bisa makan setelah pekerjaan selesai.” jawab Wulan.
Rian menatapnya. “Pekerjaan tidak akan selesai kalau kamu tidak makan.”
Wulan sedikit terkejut. Namun sebelum sempat menjawab, terdengar suara kecil dari arah ruang tengah.
“Mama...”
Wulan langsung menoleh. Astrid berdiri sambil mengucek mata. Rambutnya sedikit berantakan.
“Mama di mana?” tanyanya.
Wulan segera menghampiri. “Di sini, Sayang.”
Astrid memeluk pinggang ibunya. “Mama masak?”
“Iya sayang.”
“Harum sekali.”
Wulan tertawa kecil. “Kamu mandi dulu.”
“Aku lapar.”
“Nanti makannya setelah mandi.”
Astrid menggeleng. “Maunya makan sekarang.”
Wulan tersenyum. “Baiklah. Tapi cuci muka dulu ya...”
Astrid akhirnya berjalan menuju kamar mandi.
Rian memperhatikan semuanya tanpa mengatakan apa-apa. Ia baru menyadari satu hal. Wulan terlihat sangat berbeda. Bukan dari wajahnya. Bukan pula dari penampilannya. Tetapi dari caranya menghadapi kehidupan.
Dulu Wulan adalah gadis sederhana yang sering membawa buku ke kampus, duduk di sudut perpustakaan, dan tersenyum malu-malu ketika berbicara dengannya.
Sekarang perempuan itu sudah menjadi seorang ibu, penyabar dan jauh lebih dewasa.
Ia bekerja. Mengurus rumah. Mengurus dua anak seorang diri. Dan tetap berusaha terlihat kuat meskipun jelas kehidupannya tidak mudah.
Rian mengalihkan pandangan. Entah mengapa melihat Wulan seperti itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
Bukan karena Wulan bekerja sebagai pembantunya.
Tetapi karena ia baru menyadari betapa banyak hal yang telah dilewati perempuan itu selama mereka tidak bertemu.
Setelah sarapan, Wulan mulai membersihkan rumah. Ia mengerjakan semuanya dengan teliti.
Menyapu lantai. Mengepel. Membersihkan meja. Merapikan ruang keluarga. Kemudian mencuci pakaian.
Tidak ada pekerjaan yang dikerjakan setengah hati.
Mira yang melihat dari kejauhan sampai beberapa kali mengangguk kagum. “Ibu Wulan.”
Wulan menoleh. “Iya, Bu?”
“Tidak perlu terlalu cepat. Pelan-pelan saja.”
Wulan tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah biasa bekerja.”
Mira memperhatikan wajah Wulan. “Dulu pernah bekerja sebagai ART?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Di rumah, saya memang terbiasa mengurus semuanya sendiri.”
Mira mengangguk. “Pantas.”
Wulan kembali melanjutkan pekerjaannya. Dari ruang keluarga, Rian yang baru selesai menerima telepon tanpa sengaja melihat aktivitas itu.
Ia melihat Wulan sedang membersihkan rak buku. Sesekali perempuan itu berhenti untuk merapikan barang yang berantakan.
Kemudian terdengar suara Rana menangis. Wulan langsung meletakkan kain lap.
Ia menghampiri anak kecil itu. “Kenapa, Sayang?”
Rana menangis sambil mengulurkan tangan. “Mau Mama.”
Wulan terdiam. Ia memang bukan ibu kandung Rana. Tetapi anak itu tampaknya sudah mulai nyaman dengannya sejak kemarin.
Wulan menggendongnya. “Kenapa menangis?”
Rana menyandarkan kepala di bahu Wulan. Tangisnya perlahan mereda.
Rian yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan.
Biasanya Rana cukup sulit ditenangkan ketika menangis. Bahkan terkadang Nita harus menggendongnya cukup lama.
Tetapi baru beberapa hari mengenal Wulan, anak itu sudah terlihat nyaman.
“Dia memang gampang menangis kalau mengantuk,” kata Rian.
Wulan mengangguk. “Mungkin memang sudah waktunya tidur.”
Ia membawa Rana ke kamar. Rian mengikutinya sampai depan pintu. Wulan membaringkan Rana di tempat tidur.
Ia mengusap punggung anak itu perlahan. “Tidur dulu, ya.”
Rana masih menggenggam ujung pakaian Wulan. Wulan tersenyum. “Kalau kamu tidur, nanti Mama datang lagi.”
Mata Rana perlahan terpejam.
Rian berdiri di pintu. Ia melihat bagaimana Wulan mengurus anaknya.
Tidak terburu-buru. Tidak kasar. Tidak mengeluh. Setelah memastikan Rana benar-benar tertidur, Wulan keluar dari kamar.
“Rana sudah tidur.” katanya.
Rian mengangguk. “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Wulan hendak kembali ke pekerjaannya.
Namun Rian segera memanggil. “Wulan.”
Perempuan itu berhenti, dan menoleh. “Ya?”
“Kamu tidak keberatan mengurus Rana?”
“Tidak.”
“Dia itu cukup rewel.”
Wulan tersenyum. “Namanya juga anak kecil.”
Jawaban sederhana itu membuat Rian terdiam. Wulan kemudian kembali ke pekerjaannya.
Menjelang siang, setelah Delon pulang sekolah barunya, karena tempat tinggal mereka tidak lagi di desa dulu. Dia dan Astrid bermain di halaman yang luas. Halaman itu seperti taman bermain. Ada ayunan dan perosotan.
Rian memang mengubah halamannya seperti taman kanak-kanak untuk menyenangkan Rana agar tidak bosan.
Nita, Mamanya tidak sering berada di rumah. Sebagai seorang model dan bintang iklan, ia memiliki jadwal pekerjaan yang padat. Kadang ia harus pergi ke luar kota, bahkan beberapa hari ke luar negeri untuk pemotretan, syuting iklan, atau menghadiri acara yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Wulan sesekali melihat mereka dari jendela.
“Delon, jangan terlalu jauh!” serunya.
“Iya, Mama!” teriak Delon.
Astrid yang tadi main ayunan langsung berlari mengejar kakaknya yang menendang bola.
Tiba-tiba saja Astrid tersandung dan jatuh. “Aw!”
Wulan langsung berlari keluar. “Sayang!”
Astrid mulai menangis. Wulan berjongkok dan memeriksa lutut putrinya. “Mana yang sakit?”
“Ini...”
Wulan meniup luka kecil di lutut Astrid. “Sudah tidak apa-apa. Cuma sedikit.”
“Tapi sakit Ma...”
“Namanya juga jatuh.”
Delon berdiri di samping mereka. “Kan aku sudah bilang jangan ikut lari.”
Astrid menangis semakin keras.
Wulan tersenyum. “Sudah. Kakak jangan cerewet.”
Delon menggaruk kepala.
Rian yang kebetulan baru keluar rumah melihat kejadian itu. Ia berhenti beberapa meter dari mereka.
Wulan sedang membersihkan lutut Astrid dengan sangat hati-hati.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada keluhan. Hanya ketenangan seorang ibu.
Rian kembali teringat Wulan yang dulu. Gadis sederhana yang selalu membawa bekal dari rumah. Gadis yang pernah duduk bersamanya di perpustakaan.
Namun perempuan yang ada di hadapannya sekarang terasa jauh berbeda. Lebih dewasa.
Lebih tegar. Dan sepertinya jauh lebih kuat.
“Pak Rian.” Suara Wulan membuatnya tersadar.
Rian mengangkat wajah. “Ya?”
“Kalau tidak ada pekerjaan lain, saya mau membawa anak-anak masuk.”
“Silakan.”
Wulan menggandeng Astrid. Delon mengikuti dari belakang.
Rian memandang mereka sampai menghilang ke dalam rumah.
Kemudian ia terdiam. Ia tidak tahu kenapa sejak kemarin, keberadaan Wulan terus menarik perhatiannya.
Mungkin karena masa lalu. Mungkin karena mereka pernah saling mengenal. Atau mungkin karena sekarang Wulan bukan lagi perempuan yang dulu ia kenal.
Wulan telah berubah. Ia bukan lagi gadis sederhana yang dulu pernah berdiri di hadapannya dengan perasaan yang tulus.
Ia adalah seorang ibu yang sedang berjuang mempertahankan hidup anak-anaknya. Dan tanpa sadar, Rian mulai menghormati perempuan itu.
Bukan karena masa lalu mereka. Melainkan karena melihat sendiri bagaimana Wulan menjalani hidupnya sekarang.
Sementara dari dalam rumah, Wulan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak pagi, seseorang diam-diam memperhatikannya.
Bagi Wulan, ia datang ke rumah itu hanya untuk satu tujuan. Bekerja. Menghasilkan uang.
Dan memastikan Delon serta Astrid mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tidak lebih dari itu. Setidaknya, itulah yang ingin Wulan yakini...
Bersambung...