NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Kekacauan Pertama

Akhirnya hari yang kutakutkan itu datang tanpa bisa bersembunyi menghindarinya.

Setelah pagi-pagi memandikanku, Ibu mendadaniku dengan pakaian yang aneh menurutku saat memakaikan kaos warna kuning dan celana kolor berwarna merah yang tak bisa kutolak.

"Ini baju seragam-mu. Jangan sampai kotor !" kata Ibu tegas.

"Seragam ?" Hati kecilku menanyakan maksudnya.

Aku tak mau terburu-buru menanyakannya kepada Ibu.

Aku tahu Ibu masih jengkel kepadaku setelah Aku berusaha dengan berbagai caraku untuk membatalkan kepergian kami pagi itu.

Paha dan pantatku masih terasa panas ditaboknya karena Aku terus berpura-pura tidur saat Ibu berulang kali berteriak membangunkanku pagi tadi.

Jika Aku mulai cerewet lagi dengan menanyakan persoalan ini itu, bisa saja tabokan itu akan terulang lagi.

Dan satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah dengan diam menuruti kata-kata dan perintahnya sampai nada tinggi Ibu melembut .... Sinyal yang kupahami jika suasana hatinya sudah membaik ....

***

Dari jembatan pintu belakang rumah sakit, Ibu menggandeng tanganku menyusuri jalan yang mengapit sungai Tanjlig ke arah kampung Sokanegara.

Seperti kebiasaannya jika kami melalui tempat-tempat baru, Ibu mulai menyebutkan nama-nama tempat yang kami lalui.

Setelah melewati lorong-lorong sempit kampung Sokanegara yang padat akhirnya kami keluar tepat di samping gedung SMP Bruderan.

"Hati-hati kalau nyebrang, tengok kanan kiri dulu Pras," kata Ibu saat kami menyeberangi jalan Gatot Subroto.

Sekolahku tepat ada di seberang SMP Bruderan yang pagi itu sangat rapat dan macet dengan keramaian anak-anak sekolah di hari pertamanya.

Dadaku berdebar kencang ketika semakin mendekati gedung sekolahku.

Teringat pesan Elsi, pandangan mataku mulai mengarah ke setiap sudut yang terlihat .... Mencari sapu lidi yang pasti akan lekas kupatahkan ....

***

"Mati aku !" keluhku dalam hati, ketika Ibu menarikku ke dalam kelas saat Aku berusaha mengambil sebatang sapu lidi yang kulihat tergeletak di sudut halaman.

"Jangan main dulu ! ... Masuk kelas dulu ! .... Berdoa dan kenalan dengan teman barumu ... !" Ibu yang mengira Aku akan bermain, menarik tanganku dan mengajakku masuk ke suatu ruangan yang bercat aneh menurutku.

Kulihat banyak bocah laki-laki dan perempuan sebayaku yang sudah berkumpul di dalamnya.

"Aaaah .... Aku harus menyelamatkan mereka juga dari cengkeraman nenek sihir itu !" ujarku dalam hati, melihat wajah ketakutan bocah-bocah itu.

Rasa takutku malah hilang melihat beberapa di antara mereka mulai menangis keras keras.

Mataku tak berkedip saat memperhatikan seorang bocah perempuan yang terisak sendirian di sudut kelas.

"Kamu harus jadi anak laki-laki yang berani Pras. Menolong siapapun yang sedang susah, terutama menolong perempuan seperti Ibu atau adikmu."

Kata-kata Bapak yang selalu diucapkan setiap menemaniku tidur menyentakku, melihat sosok tinggi besar berkerudung tersenyum seram di sebelah bocah perempuan itu.

"Siapa yang sekejam itu membiarkan bocah kecil sendirian ?"

Hatiku bergemuruh hebat mengenali sosok yang ada di samping bocah itu adalah suster Brenda ...!

***

"Teeeeet ...!!!"

Bunyi keras yang kudengar di ruangan itu mengagetkanku.

Lalu semua orang tua yang tadinya ada di sekitar bocah-bocah itu bergegas keluar meninggalkan kami dari ruangan, ... termasuk Ibu yang tega meninggalkanku.

Jika bocah-bocah yang lain meraung dan berusaha ikut sambil menarik orang di sampingnya, Aku malah diam dan berpikir keras sepeninggal Ibu.

"Harus kukalahkan dulu nenek sihir itu !"

Mataku terus mengawasi setiap gerak gerik suster Brenda yang sekarang sudah berdiri di depan pintu, menjaga setiap bocah yang akan lari keluar.

Aku semakin marah saat kulihat suster Brenda menyeringai dan tertawa puas setiap kali dia berhasil menangkap bocah yang berusaha melewatinya.

Tak tahan dengan kekacauan yang terjadi, Aku bergegas meninggalkan kursiku yang dijaga perempuan kecil pengawal suster Brenda nenek sihir itu.

Perempuan bertubuh kecil itu tak mampu mencegahku yang berlari secepatnya ke arah suster Brenda.

"Sit down boy ... !"

Bentakan mantra sihir itu justru semakin membangkitkan amarahku.

"Kenapa dia tahu nama anjingku ? Jangan-jangan dia sudah menyekap Boi ?"

Tak mau berlama dengan pertanyaan di kepalaku, ... Aku berhasil menghindari sergapan tangan besarnya yang terjulur ke arahku.

Kaget dengan perlawananku, suster Brenda tak menyangka Aku berhasil lolos dari sergapannya .... lalu menarik keras tali merah yang melingkar di pinggangnya sampai putus. Kulihat rok yang dipakainya melorot, membuatnya mendelik sengit ke arahku.

"Wat heb je gedaan ...!"

Mendengar dia mulai mengucapkan mantra sihirnya lagi, Aku meronta sekuatnya ketika kurasakan cengkeraman kuat di pinggangku.

Suster Brenda kali ini berhasil menangkapku !

Aku terus melawan saat kurasakan tubuhku ditelungkubkan di pangkuannya.

Belakang celana kolorku terasa panas ketika kurasakan tabokan yang tak kalah keras dengan tabokan Ibu terus menghujani bokongku.

Semakin keras aku melawan, semakin keras tabokan itu .... Persis jika Aku melawan tabokan Ibu !

Merasakan percuma melawannya, akhirnya Aku diam .... Tabokan itu terhenti setelah Aku mulai tenang.

Aku tidak menangis seperti yang lain. Wajah penuh kemenangan nenek sihir itu terus kutatap.

"Sial .... Dia berhasil mengalahkanku .... Selamat tinggal Elsi ...." keluhku pasrah.

Anehnya, ... seisi ruangan itu lalu terdiam melihat kengerian yang menimpa diriku.

Mungkin bocah-bocah itu tak mau bernasib sama denganku ....

***

Omelan sengit Ibu di sepanjang jalan terus mengalir di telingaku. Mengulik ulahku di hari pertama sekolahku.

Entah darimana dia tahu ulahku tadi.

Omelan itu tak kuperhatikan sama sekali. Walau bokongku masih terasa panas, Aku memilih membiarkan saja omelan Ibu seperti kebiasaan yang sudah kupelajari .... Toh nanti akan mereda sendiri.

"Pras ... Pras ... Kamu ituloh mbok sekali-kali anteng .... " Seperti dugaanku, suara Ibu melembut.

Dan pasti tangan halusnya mulai terjulur membelai dan memelukku jika bibirnya mulai tersenyum sambil mengingatkanku untuk tak mengulangi lagi ulahku.

Seperti yang sudah-sudah, jika Ibu sudah puas dengan diamku, dia pasti akan mencoba merayu suasana hatiku dengan cara yang entah bagaimana selalu berhasil.

Kali ini Ibu mengajakku singgah di toko Mawar yang ada di perempatan Ahmad Yani saat kami berjalan pulang ke rumah

Toko milik ci Lani perempuan tua sipit teman akrab Ibu yang dikenalnya setelah Bapak sering mengajak kami berbelanja di situ.

Aku tahu kapan suasana hati Bapak dan Ibu riang. Terutama di saat-saat tertentu ketika Bapak menyerahkan amplop berisi uang kepada Ibu.

"Ambil jajan dan mainan secukupnya Pras, ... jangan lupa buat adikmu juga !"

Saat yang menyenangkan itu akhirnya tiba jika aku sudah berhasil melewatkan nada tinggi Ibu yang kulihat sedang terbahak bersama ci Lani.

"Hahaha ... Namanya juga anak-anak .... Biarkan saja sampai dia ngerti," tawa renyah ci Lani terdengar di sela obrolannya dengan Ibu.

Sepertinya mereka sedang menyinggung pertarunganku dengan nenek sihir tadi.

Sekarang Aku tak mempedulikan nenek sihir itu lagi, toh dia malah membiarkanku pulang dijemput Ibu sambil melambaikan tangan tadi.

Kali ini Aku lebih sibuk memilih mainan dan jajanan yang akan kubawa pulang untuk Elsi dan Christ adikku .... Dan tentu saja kisah pertarunganku melawan nenek Sihir sudah tak sabar akan kusampaikan kepada mereka.

***

Berkumpul bersama di meja bundar tempat kami biasa makan malam bersama terasa hangat dan riang.

Kemarahan dan jengkelku di sekolah tadi sudah pergi entah kemana.

Aku lebih memperhatikan kata-kata Bapak yang lebih banyak tertuju kepadaku setelah makan malam bersama tadi.

Pelan-pelan Aku mulai paham arti belajar, sekolah, seragam, bu Guru, dan banyak kata baru yang diulang Bapak setiap dilihatnya Aku belum sepenuhnya mengerti.

Berbeda dengan Ibu yang selalu meninggi dengan ritme cepat jika mengingatkan ulahku yang menurut mereka nyeleneh lalu melembut lagi.

Bapak kebalikannya ....

Kata-kata lembut dengan ritme pelan dan jelas selalu ada di depan jika mendengar atau melihat ulah nyeleneh-ku yang belum sepenuhnya kumengerti sebab dan akibatnya.

Belum pernah sekalipun Bapak mencubit atau menabok-ku jika Aku melakukan sesuatu yang jika menurut Ibu sangat mengesalkan.

Gedombrengan berisik memukuli kaleng biscuit saat Ibu menidurkan Christ, sampai mencoret coret dinding rumah dinas Bapak dengan pensil warna atau setiap ulahku yang mengesalkan Ibu bisa berakhir dengan cubitan atau tabokan jika aku terus mengabaikan nada Ibu yang meninggi.

Tapi entah kenapa setiap kali Bapak ada di antara kami, jangankan tabokan atau cubitan ke arahku .... Teriakan Ibu yang tak sabar menyuruhku ini itu juga akan mereda.

Aku dan Ibu akan kompak berbarengan menghentikan perselisihan kami jika ada Bapak .... Karena kami tahu, bagaimana Bapak akan kuat bertahan diam sangat lama jika ada yang membantah atau melawan kata-katanya.

Jika Aku lupa memandikan si Boi atau memberi makan merpati dan ayam peliharaannya, bisa lama Bapak tak menegurku dan menemaniku tidur sampai Aku tahu sendiri apa yang dikehendakinya.

Begitu juga Ibu yang akan didiamkan Bapak jika didengarnya nada tinggi atau melihat tangannya mencubit atau menabok-ku jika ada perselisihan yang sebenarnya lebih banyak sebab ulahku.

Bisa berhari-hari Bapak akan mengajakku tidur berdua di kamar tamu, membiarkan Ibu dengan Christ di kamarnya.

Biasanya Bapak akan tertawa menatapku senang jika Aku mulai memberikan kode yang diberikannya ketika melihat Ibu mulai bolak balik gelisah mengintip kami yang pura-pura tidur.

Lalu Bapak dan Ibu mulai saling tertawa jika mereka sudah tidur bersama lagi.

Karena itu, apapun kejengkelan dan kemarahan yang terjadi sebab perselisihan kami, Aku dan Ibu tak akan menampakkannya secara langsung di depan Bapak.

Meja makan bundar itu selalu menjadi arena gencatan senjata dan tempat perundingan Aku dan Ibu yang akan diselesaikan Bapak dengan caranya yang paling sederhana dan menyenangkan semua pihak dengan kesepakatan masing-masing.

Begitupun malam itu .... Aku menyepakati perintah Bapak untuk duduk anteng di sekolah setelah Bapak membantah cerita nenek sihir versiku.

"Ah nenek sihir itu cuma ada dalam dongeng Pras."

Tentu saja ada tawa Bapak saat Aku berusaha menjelaskan hardikan mantra sihir suster Brenda sebab ulahku di sekolah tadi.

Dari meja makan bundar itu kini Aku tahu tempat untuk lebih banyak mengenal kata-kata dan hal-hal lain selain kata-kata dan omelan Ibu yang setiap hari kudengar.

Tempat itu adalah sekolah .... Dan konfrontasiku dengan TK Santa Maria berakhir setelah Bapak menyelesaikan kata-kata penjelasannya ke arahku ....

"Aku besok akan ke sana dengan perasaan dan pikiran yang berbeda." Janji hati kecilku setelah mulai mengerti apa yang dikehendaki Bapak dan Ibu.

***

*Wat heb je gedaan : apa yang kamu lakukan dalam bahasa belanda.

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!