Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.03.RAHASIA KAKEK
Qai kadang kasihan melihat ayahnya menjadi pendiam dan sering melamun. Semenjak ibunya meninggal tidak ada lagi tawa ria di rumahnya. Ia yakin ayahnya berat hati pindah dari rumah keluarga Raharja. Mungkin karena ayahnya tidak mampu membiaya hidupnya.
"Ayah, kita tinggal menghitung hari untuk pindah, sebentar lagi aku lulus dan kita akan meninggalkan rumah ini. Aku sedih kalau berpisah dengan Rio dan Berlin."
"Ada pertemuan pasti ada perpisahan, kita masih satu pulau kalau nanti kau kangen kita main kesini. Tapi untuk sementara waktu, ayah sarankan supaya kamu fokus sekolah."
"Ya Ayah...."
Qai sangat gembira ia kembali dapat bea siswa, ia akan memilih sekolah bagus dan kuliah Internasional. Ia akan membagi kegembiraan ini dengan keluarga Raharja, sekalian pamit. Ayahnya sudah berjanji keluar dari rumah kluarga Raharja.
Kadang Qai merasa bersalah juga, kakek begitu baik dan masih mau memberi hadiah kepadanya, padahal ia sudah kesal kepada kakek.
Hari ini ia akan minta maaf kepada kakek dan keluarga Raharja, ini hari terakhir. Dengan langkah gontai ia menuju ke rumah utama keluarga Raharja. Sampai disana ia mendengar ribut-ribut. Qai langsung melipir dan mengintip apa yang sebenarnya terjadi di ruangan tengah.
"Aku bebas memilih masa depan ku, kau selalu memaksa, kau egois, kejam!" suara Berlin lantang terdengar dari tempat dia mengintip.
Mereka bertengkar lagi, bathin Qai. Emely ibu tiri Berlin suka sekali memaksa Berlin melakukan sesuatu, jelas-jelas Berlin ingin kuliah managemen bisnis, malah di paksa kuliah di ekonomi, memang nyonya Emely ini ngeselin. Bathin Qai.
Ia tidak berani masuk dan menunggu pertengkaran itu reda. Bukannya reda malah makin menjadi-jadi. Yang membuat tubuh Qai tremor adalah tuduhan Berlin kepada Emely.
"Kau dalang meninggalnya Sumiati, kau dan kakek sama-sama jahat!" Berlin berteriak membuka rahasia kelam Emely dan kakek Raharja.
Ternyata semua kebaikan keluarga Raharja selama ini dilakukan atas dasar timbal balik, itu kompensasi penebusan dosa kakek Raharja.
Ini harus jelas duduk persoalannya. Qai berlari dan masuk ke ruang tengah.
Kemunculan Qai yang tiba-tiba membuat Emely dan Berlin kaget seperti melihat alg*jo.
"Nyonya, apa yang dikatakan Berlin itu benar? ginjal ibu saya diambil untuk penyembuhan tuan Flores?" teriak Qai penuh emosi.
"Qai!, ginjal sumiati tidak berarti bagi keluarga kami, hanya satu ginjal tidak sebanding dengan pengeluaran kami untuk biaya hidupmu selama ini."
Ucapan Emely bagaikan palu godam menghantam dadanya. ia mundur satu langkah sambil memegang dadanya, air matanya jatuh, lalu ia berteriak...
"Kalian pembunuh, kalian biadab! Aku benci dengan keluarga Raharja!"
"Qai, kau berani berteriak di depan ku, kau berhutang hidup dengan kami. Dari bayi sampai sekarang kami yang keluar uang untuk membiayai hidup mu!"
"Kalau tahu begini waktu kau dalam kandungan, aku membuangnya ke jurang. Aku cuma mengingatkan dimana kau berpijak disitu langit dijunjung, jangan lupa kau masih punya ayah yang nyawanya ada ditangan ku...." pekik Emely sangat marah.
"Emely! dulu aku menghormatimu tapi mulai detik ini kita musuh!!"
"Pegang omonganmu dan jaga ayahmu." ancam Emely tersenyum sinis.
Akhirnya Qai mendesak ayahnya keluar dari rumah kakek Raharja dan memutus hubungan. Ia juga melarang ayahnya bekerja di keluarga Raharja dan menutup pintu maaf.
Terbongkarnya kebohongan keluarga Raharja, membuat Qai mengalami krisis kepercayaan, ia membangun hidupnya dengan jiwa yang kosong.
Setelah berpisah dengan keluarga Raharja, kakek secara diam-diam terus mengirim biaya untuk kehidupan Qai. Mereka memberikannya rumah, mobil dan menanggung pendidikannya sampai sarjana.
Pak Wijaya menyembunyikan semua bantuan kakek Raharja, sehingga Qai merasa ayahnya yang mampu membiayai seluruh hidupnya. Ia terlalu percaya diri dan mengira semua kesuksesan yang di raih berkat ayahnya.
Perginya Qai membuat hati kakek Raharja sedih, ia sangat sayang dengan cucunya, semua yang dia lakukan semata-mata untuk prestise keluarga Raharja ia merasa gagal mendidik anak dan cucunya.
"Paa.. sudah ada orang yang tepat untuk menjaganya, jangan terlalu di pikir, Wijaya mendidik anak dengan baik. Aku yakin dia akan menjadi gadis yang sukses." ucap Flores menatap ayahnya.
"Aku memang tidak salah memilih orang untuk menjaganya. Tapi adik mu pasti marah kalau tahu putrinya keluar dari keluarga Raharja."
"Asal kita tidak bicara, lagipula Ende tidak mungkin datang ke Indonesia." ucap Flores meyakinkan papanya.
*****