Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Panggung Pembalasan dan Luka yang Tersembunyi
Aula utama Vancort Tower berubah menjadi lautan kilatan lampu kilat. Ratusan investor asing dan jurnalis teknologi papan atas Jakarta sudah memenuhi kursi, berbisik-bisik soal rumor masalah teknis yang sempat berembus subuh tadi. Di balik tirai panggung yang megah, Kirei Zhaklyn berdiri tegak, merapikan kerah kemeja sutra champagne miliknya yang sedikit kusut akibat insiden di ruang server lantai dua puluh.
"Nona Kirei, semua sistem sudah hijau. Enkripsi baru aman. Kita siap," bisik Maya dari balik interkom telinga dengan nada lega yang luar biasa.
Kirei mengangguk pelan. Dia melirik ke arah barisan kursi VIP terdepan. Di sana, Vaxerion Mahendra duduk dengan santai. Pria itu sudah mengenakan jas formalnya kembali, duduk bersandar sambil menatap lurus ke arah panggung dengan pandangan dewasanya yang tenang. Tatapan mata mereka sempat bertemu sedetik. Vaxerion tidak tersenyum, dia cuma mengangkat sedikit gelas air putih di tangannya—sebuah gestur kecil, tenang, tapi penuh penegasan bahwa dia ada di sana untuk menyokong Kirei.
"Saatnya membuka tirai," desis Kirei.
Begitu lampu aula dipadamkan dan sorot lampu panggung mengunci sosok Kirei yang melangkah anggun ke tengah podium, suara tepuk tangan riuh bergema. Layar LED raksasa di belakangnya menyala terang benderang, menampilkan visualisasi Zhaklyn OS yang bergerak mulus tanpa cacat sedikit pun.
Kirei memulai presentasinya dengan suara yang lantang, stabil, dan penuh wibawa. Tidak ada satu pun tanda-tanda dari wajah cantiknya yang menunjukkan bahwa dia baru saja melewati neraka sabotase dua jam lalu. Dia mengupas tuntas keunggulan sistem operasi lokalnya yang bakal menjadi otak bagi mobil listrik masa depan. Semua orang terpukau. Investor-investor asing itu mengangguk-angguk puas, sadar bahwa wanita di depan mereka bukan cuma sekadar pajangan.
Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai di akhir acara.
"Sebelum saya menutup peluncuran ini, ada satu hal lagi yang ingin saya bagikan," kata Kirei, senyum manisnya terukir, namun matanya sedingin es kristal. "Zhaklyn Mobile bukan cuma membangun teknologi, tapi juga membangun integritas. Dan bagi siapa saja yang mencoba menghancurkan integritas itu dari dalam..."
Kirei menekan satu tombol di remot kontrolnya. Layar LED raksasa di belakangnya mendadak berubah, menampilkan rekaman video CCTV ruang server lantai dua puluh secara langsung. Di sana, Hendrawan—sang direktur senior—sedang digiring oleh empat petugas kepolisian dengan tangan terborgol di lobi bawah gedung.
Seluruh aula mendadak gempar. Bisik-bisik kaget langsung memenuhi ruangan.
"Pak Hendrawan resmi dipecat dan ditahan atas dugaan spionase industri per kapita jam tujuh pagi tadi," ujar Kirei tenang, suaranya menggema lewat pengeras suara dengan nada yang sangat mematikan bagi para pesaing bisnisnya. "Di perusahaan ini, saya adalah hukumnya. Siapa pun yang mencoba bermain api dengan Zhaklyn Mobile, harus siap melihat rumahnya sendiri yang hangus terbakar. Terima kasih."
Kirei membungkuk hormat, lalu berbalik melangkah turun dari panggung di tengah gemuruh tepuk tangan yang bercampur dengan rasa ngeri para investor terhadap ketegasannya. Dari barisan depan, Vaxerion menatap punggung Kirei yang menjauh dengan binar mata bangga yang begitu pekat. Face-slapping yang sangat berkelas. Kirei tidak cuma menyelamatkan produknya, tapi dia baru saja mengumumkan perang terbuka pada siapa pun yang meremehkan posisinya.
------------------
Sore harinya, setelah semua urusan administrasi kantor beres, Kirei memutuskan pulang lebih cepat. Tubuhnya terasa remuk, dan kepalanya berdenyut nyilu akibat tumpukan kafein sejak subuh. Mobil SUV hitamnya membelah kemacetan Jakarta menuju rumah keluarga Zhaklyn di kawasan pinggiran yang tenang.
Begitu melangkah masuk melewati pintu depan sambil melepas sepatu hak tingginya, suasana rumah terasa sangat sepi. Kirei berjalan menuju ruang tengah, bermaksud mencari adiknya untuk menanyakan kabarnya setelah demam semalam.
Namun, begitu melihat sosok Rian yang sedang duduk di sudut sofa dengan posisi membelakanginya, Kirei langsung menghentikan langkah.
Rian sedang mencoba mengompres sudut matanya pakai handuk kecil berisi es batu. Gerakannya terburu-buru menyembunyikan wajah begitu mendengar suara langkah kaki Kirei.
"Rian," panggil Kirei, suaranya mendadak bergetar halus.
"Eh, Kak Kirei... udah pulang?" Rian mencoba tersenyum, tapi seringai menahan sakit tidak bisa dia sembunyikan.
Kirei berjalan cepat, langsung menyambar handuk di tangan adiknya dan menarik wajah Rian agar menatapnya langsung. Jantung Kirei rasanya kayak berhenti berdetak seketika. Sudut bibir Rian pecah, ada luka memar kebiruan yang cukup besar di tulang pipi kirinya, dan kancing kemeja seragam SMA-nya robek berantakan.
"Ini kenapa?!" amarah Kirei langsung naik ke ubun-ubun, tapi matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa perih di dadanya. "Kamu berantem di sekolah? Siapa yang bikin kamu kayak begini, Rian?!"
Rian menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. "Gak apa-apa, Kak. Cuma masalah kecil sama anak-anak komite sekolah..."
"Jangan bohong sama Kakak!" suara Kirei meninggi, air mata yang sejak subuh dia tahan mati-matian akhirnya luruh juga di depan adiknya. Dia mencengkeram bahu Rian yang gemetar. "Siapa yang mukul kamu? Jawab, Rian!"
Oma yang baru keluar dari dapur sambil membawa segelas teh hangat langsung menghela napas sedih, menatap sepasang kakak beradik itu dengan mata tua yang berkaca-kaca.
"Tadi siang Rian pulang diantar gurunya, Nduk," kata Oma dengan suara parau yang menahan tangis. "Anak-anak orang kaya di sekolahnya... mereka ngeroyok Rian di belakang kantin. Mereka menghina... katanya Rian itu anak gubuk pinggir rel yang gak pantas sekolah di sana, katanya uang sekolah Rian hasil dari hal yang gak bener. Rian gak terima kamu dihina kayak begitu, makanya dia ngelawan."
Mendengar kata-kata Oma, Kirei mendadak merasa kayak dihantam godam raksasa. Dada dan lambungnya mendadak melilit sakit, persis kayak rasa lapar yang menyiksanya lima tahun lalu. Luka masa lalu yang dia kira sudah sembuh total berkat marmer Carrara dan kemeja sutra champagne di kantornya, ternyata sore ini robek kembali secara tragis lewat luka di wajah adiknya.
Kirei menarik tubuh Rian ke dalam pelukannya, mendekap kepala adiknya erat-erat ke dadanya. Tangisnya pecah tanpa suara, bahunya naik-turun dalam keheningan ruang tengah rumah mereka. Di tengah kemewahan yang sudah dia miliki sekarang, Kirei sadar... dunia di luar sana masih tetap kejam pada mereka.
Dan Kirei bersumpah demi nyawanya sendiri, besok pagi... dia bakal membuat orang-orang yang menyentuh adiknya membayar setiap tetes darah ini dengan harga yang sangat mahal.
Bersambung...