NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:789
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan aneh

Rivaldo masuk ke kelas dengan langkah berat yang membuat suasana langsung menegang. Ia berhenti tepat di samping kursi Rio dan menepuk kedua pundaknya, seolah menandai sesuatu. “Setelah pulang sekolah, temui aku di belakang sekolah.” Sekalipun biasanya tindakan kasar menyusul, kali ini ia pergi begitu saja. Aneh, tapi kelegaan kecil itu tidak bertahan lama.

“Rio? Kau tidak apa-apa, kan?” Suara perempuan muncul, pelan tetapi jelas cukup untuk merobek keheningan itu.

Rio menoleh ke kanan dan kirinya, jarang sekali ada yang mau berbicara padanya. Kelas ini sudah sangat terbiasa menutup mata. Takut tertular nasib buruk, mungkin. Ia baru sadar sumber suara itu berasal dari depan kirinya.

Elisa Nova menatapnya sambil tersenyum tipis "Dia adalah perempuan kemarin..", senyum yang membuat mata perempuan itu menyempit dengan cara yang sulit diabaikan.

“Sepertinya hari ini kau sedikit berbeda.”

Rio hanya menelan udara, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai menebak-nebak.

"Tidak… jangan mulai berpikir yang aneh."Ia mengangkat wajahnya dan menjawab pelan, “Aku masih sama seperti biasanya.” Elisa tampak bingung sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.

kringg!!

Bel pulang sekolah berdering, membelah kepalanya dari lamunan gelap. Rio menghela napas lega. "hari ini ia lolos dari pukulan." Ia berjalan santai menuju gerbang, menikmati matahari sore yang terasa ramah.

“Hei, Rio!!” teriak seseorang dari belakang. Nada marah itu familiar—David, orang yang tadi pagi tak sengaja ia hajar sampai tumbang.

"Apa kau ini bodoh!!."

David langsung menuduhnya bodoh karena mengabaikan panggilan Rivaldo.

Baru saat itu perkataan pagi tadi kembali muncul di kepalanya, seperti potongan film yang terlewat. "Benar… ada janji yang tidak seharusnya dilupakan." Mau tak mau, ia mengikuti David menuju gedung belakang sekolah.

Tempat itu jauh lebih ramai dari dugaannya. Belasan siswa berkumpul, sebagian merokok, dan Rivaldo terlihat seperti hanya salah satu dari mereka, bukan pemimpin. “Sepertinya aku salah paham tentangmu.” Rivaldo melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Rio. Tinggi tubuhnya menciptakan bayangan yang menelan sebagian cahaya senja.

“Kau yang menghajar David, kan? Aku melihat semuanya.” Kata-katanya membuat jantung Rio menegang.

Ia takut, meski wajahnya tetap berusaha tenang. Ketika Rivaldo menunduk dan menatapnya dari dekat, ancaman itu terasa nyata. “Kalau iya, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan memukuliku lagi hari ini?” pertanyaan Rio keluar sebelum keberaniannya sempat goyah.

Rivaldo justru tersenyum samar. “Kau sedikit salah paham. Aku tidak memukuli orang kuat.”

Tangan besarnya bertumpu di pundak Rio, seakan memberikan pilihan yang tidak bisa ditolak. “Apakah kau ingin menjadi sekutu, atau menjadi penantang?” Pertanyaan itu menggantung di udara, memancing keributan kecil di kerumunan.

Rio mengulang pelan, bingung—“Penantang?”—dan Rivaldo tampak lebih bersemangat daripada siapa pun.

“Jika kau menjadi sekutu, aku akan berhenti merundungmu. Tapi jika kau menjadi penantang… berarti kau siap menaklukkan aku. Pilihanmu apa?” Kesempatan itu terasa seperti cahaya kecil di ujung lorong gelap yang selama ini ia lalui.

Rio menarik napas panjang. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. ambisi yang selama ini tertindih rasa takut. Membuat nya menjadi bersemangat.

“Aku akan menjadi penantang.” Suasana langsung membeku, seolah jawaban itu bukan sesuatu yang diharapkan mereka. Beberapa detik kemudian tawa pecah, keras dan memanjang.

“Jadi itu pilihanmu?”

“Iya." Rio menjawab dengan tegas.

“Kalau begitu… pergilah. Besok hidupmu tidak akan tenang lagi.”

Rio berbalik dan melangkah pergi. Aneh, tetapi ia tidak merasa menyesal. Ada api yang menyala pelan di dadanya merubah sedikit sifatnya,keinginan sederhana untuk menaklukkan mereka semua, satu per satu.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!