Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Bertukar nyawa?" tanya Aqilla dengan bingung.
Radit menganggukkan kepala. "Iya, bertukar nyawa. Saya sedang berjuang melawan penyakit saya agar tetap hidup, sementara kamu berusaha mengakhiri hidup kamu karena udah gak sanggup, dan pada akhirnya saya menyelamatkan hidup kamu, membantu kamu balas dendam dan kamu akan memberi hidup kamu buat saya. Paham sekarang?"
Aqilla terdiam seraya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan mencoba untuk mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria bernama Raditya itu. Namun, sekeras apapun ia berpikir, dirinya sama sekali tidak mampu menangkap makna dari kata "Bertukar nyawa" yang sebenarnya terdengar ektrim seolah kita benar-benar akan menyerahkan nyawa kepada pria tersebut, apa hanya dengan menyerahkan satu ginjalnya, ia akan kehilangan nyawa? Bukankah dirinya masih memiliki ginjal lainnya yang akan membantunya hidup? Aqilla menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam.
"Kenapa kamu diem aja? Kamu paham maksud saya?" tanya Radit seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Aqilla.
"Iya, aku paham, Pak Radit," jawab Aqilla berbohong. Nyatanya ia sama sekali tidak mampu mencerna ucapan pria berusia 37 tahun itu. "Boleh aku pergi sekarang? Aku mau jemput anak-anakku di panti asuhan."
"Ganti pakaian kamu dulu, Aqilla. Kamu mau ke sana dengan piyama seperti ini?"
"Tapi, aku gak bawa baju lain, Pak."
Radit tersenyum ringan, melangkah menuju lemari pakaian yang berada di sudut kamar lalu membukanya. "Kamu boleh pakai semua baju yang ada di lemari ini," ujarnya.
Aqilla bergeming, menatap isi lemari, di mana aneka ragam dress dengan berbagai warna nampak tertata rapi di dalam sana. Tidak hanya itu saja, pria itu pun membuka laci yang berada di bagian bawahnya, di mana pakaian dalam beraneka warna tertata rapi di sana.
"Saya gak tau berapa ukuran pakaian dalam kamu, semoga ukurannya pas," ucap Radit dengan santai, kembali menutup laci tersebut.
Aqilla seketika gugup, menutup bagian atas tubuhnya dengan kikuk. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan menyediakan pakaian dalam dan berbagai jenis dress yang sudah tertata rapi di dalam lemari. Sekaya apa sebenarnya Raditya Nathan Wijaya, pria yang menolongnya dan seolah memberikan kehidupan baru untuknya. Lagi-lagi, Aqilla larut dalam lamunan, ia tidak pernah diratukan oleh mantan suaminya, dan sekarang dirinya seolah di perlakukan bak seorang putri oleh pria asing. Ya, meskipun ada imbalan yang harus ia berikan yaitu, kehidupan untuk pria tersebut.
"Nah 'kan, malah bengong lagi," decak Radit seraya menarik napas dalam-dalam. "Saya beri kamu waktu 30 menit untuk mandi dan siap-siap. Saya tunggu di luar, ya."
Aqilla menganggukkan kepala seraya tersenyum canggung. Menatap kepergian Radit dengan perasaan campur aduk.
"Ya Tuhan, sebenarnya Engkau mengirimkan malaikat penolong atau malaikat pencabut nyawa kepadaku? Orang itu menyelamatkanku dari kematian, tapi dari ucapannya tadi, aku tetap harus menyerahkan nyawaku untuknya," batin Aqilla seraya mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam.
***
30 menit kemudian, Radit yang tengah duduk di ruang santai seraya memainkan ponsel canggih miliknya sontak menoleh ke arah pintu kamar yang dibuka dari dalam. Menatap wajah Aqilla yang melangkah keluar sudah berganti pakaian, dress selutut berwarna hitam nampak membalut tubuhnya, rambutnya yang panjang nampak digerai dengan wajah polos tanpa make sedikit pun. Meskipun begitu, penampilan wanita itu membuat Radit terpesona, terlihat lebih segar, cantik alami dan berbeda dari sebelumnya.
Radit berdiri tegak seraya tersenyum ringan. "Hmm ... sebenarnya kamu cantik, Aqilla. Kamu cuma kekurangan dana," ucapnya membuat Aqilla seketika gugup.
Dipandang sedemikan rupa oleh seorang pria membuat jantungnya dag dig dug tidak karuan. Ia bahkan tidak pernah dipuji oleh mantan suaminya. Wanita itu berjalan secara perlahan dengan perasaan gugup dan salah tingkah.
"Anda bisa aja, Pak," ucapnya singkat.
"Habis jemput anak-anak kamu, kita ke salon, ya."
"Hah? Ma-mau ngapain ke salon, Pak?"
"Ish ... ish ... ish ... kamu gak tau konsep balas dendam, ya?"
Aqilla menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan tanpa menimpali ucapan Radit.
"Buat mantan suami kamu menyesal karena telah mencampakkan kamu, Aqilla. Dia tidak tahu, berlian tetaplah berlian meskipun tertutup lumpur. Bersihkan lumpur itu dan bersinarlah layaknya berlian mahal. Biar suami kamu menyesal, tapi--"
"Tapi apa, Pak?"
"Jangan sampai kamu rujuk lagi sama mantan suami kamu. Ingat kata Fajar sad boy, 'Melupakan mantan namanya move on, sedangkan balikan sama mantan namanya blow on.' Paham?"
Aqilla seketika tertawa nyaring. "Hah? Hahahaha ... Anda bisa aja, Pak," ucapnya, tawanya yang lepas seolah tanpa beban.
Radit menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, seraya berucap dalam hatinya, "Mantan suamimu benar-benar bodoh, Aqilla. Kenapa berlian seperti kamu dibuang begitu aja? Dasar laki-laki gak tau diri. Udah ditemani dari nol sama istri sah, giliran udah sukses malah sama wanita lain. Saya janji, Aqilla, saya janji akan merubah kamu menjadi wanita berkelas biar suami kamu nyesel karena udah membuang kamu."
"Ko Anda bengong, Pak? Kita berangkat sekarang?" tanya Aqilla seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Raditya.
"Oh iya, kita berangkat sekarang," jawab Radit melangkah mendekati Aqilla seraya tersenyum ringan.
***
Satu jam kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Aqilla dan Radit mulai melipir lalu memasuki halaman sebuah panti asuhan. Papan besar bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda" nampak terpampang jelas di bagian depan bangunan bernuansa jaman dahulu itu.
"Ini tepatnya?" tanya Radit kepada Aqilla, sementara supir pribadi yang duduk di jok depan, menginjak pedal rem dan mobil pun berhenti secara perlahan.
"Iya, Pak. Aku terpaksa menitipkan anakku di sini," jawab Aqilla, seketika menundukkan kepala, rasa sesal kembali memenuhi dada.
"Hmm ... baiklah, saya ngerti bagaimana perasaan kamu. Jangan ngerasa bersalah, Aqilla, pastikan saja kamu memberikan kehidupan yang layak buat anak-anak kamu," ucap Radit, seraya mengusap bahu Aqilla dengan lembut, mencoba untuk menenangkan.
Aqilla menarik napas dalam-dalam seraya tersenyum getir. "Iya, Pak Radit. Terima kasih," jawabnya singkat, sebelum akhirnya membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Radit, pria itu berdiri tepat di samping mobil seraya merapikan jas hitam yang ia kenakan dan menatap sekeliling. Beberapa anak-anak nampak berlarian di halaman dengan rumput hijau sebagai pijakan, tertawa lepas, bermain kejar-kejaran.
"Mereka adalah anak-anak yang tak diinginkan oleh orang tuanya. Malang sekali nasib mereka," batin Radit, wajah polos anak-anak itu membuatnya iba.
"Ibu!" teriak seorang anak dari kejauhan, membuat Radit sontak menoleh dan mencari sumber suara, lalu melangkah mendekati Aqilla.
"Ka-kaila!" lirih Aqilla, kedua matanya seketika berkaca-kaca, berlari menghampiri putrinya.
Keduanya pun saling berpelukkan, tangis Aqilla seketika pecah, mendekap erat tubuh sang putri. Bukan hanya meluapkan kerinduan, tapi dihujani beribu-ribu penyesalan yang begitu menyesakan dada. Bagaimana bisa ia berpikir untuk meninggalkan putra-putrinya di tempat seperti ini? Batin Aqilla, kembali tersiksa.
"Maafin Ibu, Nak. Maaf karena Ibu udah ninggalin kamu di sini," lirih Aqilla seraya menangis sesenggukan. "Keano mana, Sayang? Kenapa kamu tak main bareng sama adikmu?"
Kaila mengurai pelukan seraya menangis sesenggukan. "Keano sakit, dia demam, Bu. Dari kemarin manggil-manggil Ayah mulu. Kenapa Ibu gak ke sini sama Ayah? Aku sama Keano kangen banget sama Ayah, huaaaa!"
Bersambung ....