Dua golongan ini terus bermusuhan tetapi akhirnya mereka bisa berdamai karena seorang gadis bernama Maya.
Maya yang harus jadi bahan berbagi ke dua raja ini dan anehnya Maya mencintai mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTIRAHAT
Apa yang bisa aku perbuat sekarang.. ??
Maya merenungi nasibnya, saat ini dia berada di desa Rangga, dia terpaksa ikut dengan Rangga setelah Lord membuangnya.
Sudah beberapa hari Maya di sana tapi dia masih terhanyut dalam kesedihan dan dia juga tidak bisa melupakan kata- kata Lord di malam itu.
" Maya kau tidak apa- apa.. ?? " tanya Rangga cemas.
" aku tidak apa- apa.. "
Rangga tampak khawatir, dia sebenarnya tau jika Maya sedih karena di tinggalkan Lord.
" Maya lupakan dia.. " ucap Rangga.
Maya hanya termenung sebenarnya dia mendengar apa yang Rangga katakan tapi dia tidak mau menjawabnya.
" haaaaaahhhh.. " Rangga menghela nafas panjang.
" kau tau kenapa aku tinggal sendirian di istana ini ?? " ucap Rangga sambil melirik Maya.
Maya menoleh ke arah Rangga dan menatap wajahnya.
" itu karena orang tuaku di bunuh ketika aku masih kecil.. " tutur Rangga.
Maya hanya terdiam dan mendengarkan Rangga bicara.
" mereka di bunuh bangsa vampir di depan mataku sendiri, itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa aku lupakan, rasa sedih yang mendalam karena telah kehilangan seseorang yang di cintai dan itulah sebabnya kenapa aku sangat membenci mereka.. " ucap Rangga dengan tatapan kosong lurus ke depan.
Terlihat Rangga memang sangat terpukul dan trauma yang mendalam.
" apakah Lord yang melakukannya.. ?? " tanya Maya menebak saja.
" bukan dia " jawab Rangga dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
" lalu.. ?? "
" aku rasa itu bawahannya atau mungkin di perintahkan olehnya.. "
" Rangga aku pikir saat orang tuamu di bunuh Lord masih dalam keadaan tidur panjangnya jadi dia benar- benar tidak tau apa yang di lakukan para vampir bawahannya terhadap kaummu.. " Maya mencoba menjelaskan pada Rangga dan dia yakin jika Lord tidak akan berbuat seperti itu.
" hmmm.. mungkin, tapi walaupun begitu tetap saja aku sangat membenci mereka semua dan lebih lagi dia yang telah membunuh kakek buyutku dulu".
Rangga perlahan menoleh ke arah Maya dan menatap matanya lekat.
" kami semua yang di sini juga merasakan hal yang sama Maya, mereka telah kehilangan orang yang berharga dan itu karena para vampir yang telah membunuh keluarga kami "
" kami memiliki dendam pada mereka.. " ucap Rangga dengan suara berat.
Maya merenung dan tidak berani menatap Rangga lagi, dia palingkan wajahnya dan seketika mereka berdua terdiam sejenak.
" eemm Rangga apakah tidak bisa jika kalian berdamai.. ?? " tanya Maya tiba-tiba dengan nada pelan.
" tidak itu adalah hal yang mustahil.. " jawab Rangga.
" tapi Rangga menurutku jika kaum kalian terus begini itu tidak akan ada habisnya, kalian akan terus bersaing dan bermusuhan selamanya, berapa darah dan nyawa yang akan di korbankan ?? "
" aku tau Maya tapi kami tidak akan menerima perdamaian dari musuh kami.. "
Maya mengerutkan keningnya.
" kalau kau tidak mau biar aku yang akan mendamaikan kalian " ucap Maya sembari melihat ke arah Rangga kembali.
Rangga kaget dan merasa bingung dengan apa yang Maya ucapkan.
" itu tidak mungkin Maya, ini tidak akan berakhir sampai salah satu dari kami musnah.. " ucap Rangga.
Maya hanya terdiam, mereka berdua 0pun saling pandang tanpa bicara.
...****************...
Malam hari, Maya duduk sendirian di bawah sinar bulan, Rangga menghampirinya.
" Maya sedang apa kau disini ? " tanya Rangga sembari menepuk pundak Maya.
" aku hanya ingin menyendiri.. " jawab Maya pelan.
" masuklah kau akan kedinginan di sini.. " ajak Rangga.
" tenanglah aku tidak apa- apa.. " Maya tidak beranjak dari tempat duduknya.
Rangga tidak bisa memaksa Maya dan dia tau betul jika Maya sedang sedih jadi dia meninggalkan Maya dan membiarkannya sendiri dulu.
Hembusan angin yang lembut menerpa Maya, suasana sudah mulai sepi karena sebagian besar kaum Rangga sudah akan tertidur, Maya menatap bulan yang bulat sempurna, dia pejamkan matanya dan merenungkan semua yang telah terjadi.
Kenapa aku masih belum bisa menerima ini semua.. ?? Lord apakah kau tau perasaanku padamu sekarang.. ?? apakah kau sedang melihatku saat ini.. ??
Tanpa sadar Maya menangis lagi untuk yang kesekian kalinya.
...****************...
Di sisi lain di saat Maya bertanya dalam angannya Lord ternyata memang selalu memperhatikan Maya, dia selalu menatap jendela semenjak Maya pergi, Lord diam- diam selalu melihatnya bahkan hingga berhari- hari.
Saat ini Lord masih di kamarnya dan seperti biasa dia diam dengan menatap keluar jendela, lalu Xey datang menghampirinya.
" permisi tuan ini minuman anda.. " Xey menaruh minuman nya di meja.
Lord tidak menanggapi dan hanya diam saja, sementara Xey yang melihat tuannya selalu seperti itu benar-benar membuat dia gelisah.
" maafkan sebelumnya telah lancang tuan, saya tau tuan sangat memperdulikan ratu Maya tapi saya mohon tuan juga memperhatikan kesehatan tuan.. " ucap Xey dengan sopan dan menundukkan badannya.
Semua bawahan Lord di kastil itu sangat perhatian pada pemimpinnya, terutama Xey karena dia sudah melayani keluarga Lord bahkan sejak lord masih kecil.
Mendengar itu Lord tidak bergeming sama sekali dan tetap diam, melihat tidak di tanggapi akhirnya Xey memberanikan diri untuk sedikit tegas.
" tuan anda harus beristirahat, anda sudah melihat ratu sampai berhari- hari saya tidak terima jika terjadi apa-apa dengan anda "
Akhirnya Lord menunduk dan berbalik, dia mencoba mengambil minumannya.
Praaang!
Tiba- tiba gelas itu terjatuh, Lord melihat tangannya yang gemetar.
" Xey sepertinya kau benar, aku sudah mulai merasa lelah " ucap Lord dengan masih melihat tangannya.
Terlihat dari wajah Lord jika dia memang sangat lelah dan matanya yang mulai sayu, perlahan Lord berjalan dan membaringkan badannya di kasur.
" beristirahatlah tuan " ucap Xey.
Lord berbaring dan melihat langit- langit dengan tatapan kosong.
Aku sangat merindukanmu Maya.
Dan perlahan Lord menutup matanya, melihat mata Lord yang akhirnya terpejam, Xey tersenyum lega, akhirnya Lord tertidur sangat pulas.