Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelamaran!
Satu minggu terlewat begitu cepat. Sejak malam itu, keduanya jadi sangat dekat. Dan hubungan dari keduanya pun sudah menyebar luas ke tetangga kanan dan kiri.
Para tetangga berpendapat, sangat disayangkan, wanita secantik Tara harus memilih seorang duda, satu anak lagi... padahal dia masih seorang gadis, kenapa ndak memilih yang bujang saja... kan banyak. Tapi itu hanya spekulasi dari orang-orang. Untuk Tara, dia gak pusing. Biarpun sama duda anak satu, itu malah menguntungkannya, sebab dia tidak mau hamil-hamil... No ya, merepotkan! Cukup Candrawan saja yang jadi anak mereka nanti.
Pagi ini halaman rumah Buk Hayati dan Pak Anton cukup ramai. Banyak para tetangga berdatangan untuk mengambil jatah pupuk bantuan dari desa.
"Ini bagian Pak Rore." Ucap Pak Anton, memberikan lima botol pupuk.
"Makasih, Pak!" Jawabnya senang.
Pak Anton mengangguk ramah.
Di saat asik-asiknya berkumpul, kerumunan itu menoleh saat melihat sebuah motor Aerox besar memasuki halaman. Yang membawa tentu saja Tara, dan di boncengannya berada Buk Hayati sembari membawa sekantung besar belanjaan. Bagian depan dan belakang motor terlihat sarat terisi dengan bahan-bahan masakan, seolah mau persiapan hajatan besar.
"Walah Buk Sekdes dari mana toh?" Tanya Buk Wati penasaran.
Buk Hayati tersenyum lebar. "Eh ini... Wati, sebentar kamu datang bantu masak ya. Ibu-ibu yang lain juga, saya mau buat acara ini." Jawab Buk Hayati tersenyum senang.
"Acara apa, Buk?" Tanya Wati, disusul raut wajah bingung dari ibu-ibu yang lainnya.
"Anakku mau lamaran," jawabnya senang.
"Oh, Mbak Tara? Karo sopo calon'e?" Tanya Ida penasaran.
"Mas Cakra." Jawab Buk Hayati ringan tanpa beban.
"Hah! Karo duda kui?..." Jawab mereka kaget setengah mati.
Ndak nyangka hubungan mereka mau sejauh itu... Mereka lalu melihat pada Tara yang berjalan acuh memasuki rumah membawa barang bawaannya.
"Serius, Buk?" Tanya Ida masih tak percaya.
"Ya serius, masa aku bohong... Sudah, kalian tolong bantu memasak di rumah, acaranya nanti malam habis sholat Isya," ucapnya lalu berbalik melangkah menuju dalam rumah.
"Kok mau ya, cantik-cantik gitu sama duda. Sudah ada anaknya lagi, pekerjaannya cuma satpam." Bisik Wati begitu Buk Hayati masuk.
"Iya, kerjanya cuma jadi satpam lagi... Apa yang dibanggakan? Padahal gajinya dia kalau kerja di tambang sampai 20 juta," tambah Ida tak habis pikir.
"Oh, mungkin dia tergoda dengan ketampanannya paling..." Bisik Buk Santi menimbrung.
"Iya ganteng, tapi memangnya ganteng bikin kenyang? Ndak toh!"
"Ah sudahlah, jangan ceritakan orang... Ayo pulang, nanti kita siap-siap balik lagi kesini." Ucap Rasmi menengahi rasan-rasan ibu-ibu itu.
"Loh Buk, katanya anak sampean yang mau dijodohin sama Tara, kok gak jadi?" Tanya Wati beralih pada Rasmi.
"Anakku sudah punya pacar jarene, ya aku ndak jadi... Kebetulan, Mbak Tara juga sudah sama-sama Mas Cakra, ya sudah..." Jawab Rasmi jujur.
Mereka yang mendengar pun mengangguk-angguk paham.
•♡•♡•♡•
"Kamu nih gimana sih, Cak! Wong mau lamar anak orang mendadak banget, kenapa ndak mau bilang dari sebulan lalu?" Protes Bu Mega gelisah.
"Jadi yang mau dijadikan sampean calon istri itu... perempuan rambut pirang yang waktu itu sampean kejar di rumah makan Pak Slamet?" Tanya Caca memastikan.
Cakra mengangguk mantap.
"Kau mau lamar anak orang cuma modal kata-kata saja?" Tanya Pak Ade serius. Logat Bugisnya sungguh pekat dia pakai.
"Ndak lah, Pak! Saya sudah beli seserahannya... Bapak, Ibuk tinggal datang saja di rumah. Nanti kita sama-sama ke rumahnya. Dekat rumahnya, pas-pas di samping rumah Cakra." Jelasnya.
"Berapa kau beli semua? Totalnya?" Tanya Pak Ade lagi, menatap tajam putranya.
Cakra berdehem pelan. "Ehem... 20 juta semua, Pak." Jawab Cakra jujur.
Pak Ade dengan cepat melepas songko putihnya, lalu melemparkannya tepat ke arah putranya.
"Bodok' ko! Si Tara itu anak tambang. Bisanya kau mau kasih seserahan murah begitu?... Gajinya sebulan itu, 20 juta!" Maki Pak Ade marah besar.
"Eh, sabar Pak! Jang ki' marah-marah..." Ucap Bu Mega berusaha menenangkan suaminya.
"Bagaimana ndak marah, anakmu ini Buk! Dia sudah kasih ciri-ciri mi' itu mau ajak susah anak orang." Ucapnya kesal setengah mati.
"Terus apa mau saya pakai? Uangku cuma segitu." Jawab Cakra pelan dengan suara rendah.
"Makanya, kalau orang tua bicara itu didengar! Orang tuamu ini juragan tebu! Pemilik pabrik gula! Kau sudah ku suruh urus itu pabrik... jelas-jelas nyata, kenapa malah sok-sokan mau pi jadi satpam BRI, geser memang otak nu'!" Jelas Pak Ade menunjuk-nunjuk, sembari memukul keras dadanya sendiri.
"Oh! Jadi benar itu... Bapak mau suruh saya yang pegang itu pabrik?" Tanya Cakra tak percaya.
"Ya betul toh! Masa 'Ade Mas' mau bohong-bohong!" Jelasnya serius.
"Kalau begitu, nanti bantu Cakra kasih naik uang panai." Ucap Cakra mendadak semangat.
Pak Ade menyeruput kopinya perlahan, mencoba meredakan emosi. "Aman ji' itu!" Jawabnya tegas.
"Jadi le' betul! Nanti malam acaranya?"
Cakra mengangguk mantap.
"Aduh, kalau begitu, Ibuk mau siap-siap ini... Ca, yuk ke Matahari dulu, masa ndak siap-siap, beli-beli barang..." Ucap Bu Mega mendadak antusias dan excited.
"Ayuk! Caca juga mau beli sesuatu." Jawab Caca cepat.
"Pak! Jangan lupa transfer nah!" Ucap Bu Mega menengok pada suaminya, sembari melenggang pergi menggandeng lengan putrinya.
Pak Ade melihat kepergian keduanya dengan senyum senang.
"Kau lihat itu! Tugas kita sebagai laki-laki membahagiakan perempuan. Kasih hidup yang layak... Perempuan itu paling senang belanja, jadi jangan ajak anak orang susah. Jangan seperti almarhum istri mu dulu, Indira..." Ucap Pak Ade, menamparkan kenyataan tepat di depan Cakra.
Singgungan itu membuat ingatan Cakra terlempar sejenak, mengingat sosok wanita yang hanya mampu bertahan bersamanya selama tiga tahun saja.
"Sudah, jang kau pikir ucapanku. Relax saja... Kau usahakan yang ini, kau bahagiakan. Resign saja dari kerjamu sekarang, baru kau urus pabrik. Tara itu perempuan mahal. Dari gayanya, ndak suka dia janji-janji, harus ada pembuktian... Jadi kau ratukan mi'!... Kebetulan, Anton itu teman sekolahku dulu." Tutur Pak Ade menjelaskan panjang lebar.
Cakra cukup manggut-manggut saja mendengarkan petuah sang bapak.
"Sudah, kau masuk mi sana makan. Lagian kenapa kau datang ndak mau bawa Candrawan kah? Heran saya, suka sekali tinggal-tinggalkan anak." Protes Pak Ade jengkel.
"Ndak mau ikut, Pak! Tadi saya sudah ajak, tapi bilangnya mau main-main sama teman-temannya." Jelas Cakra.
Pak Ade menghela napas panjang. "Ya sudah, masuklah ke dalam. Saya mau transferkan Ibuk Mega, nanti dia tunggu-tunggu itu." Ucapnya.
Cakra mengangguk. Akhirnya pria berbadan besar itu bangkit, lalu berjalan cepat menuju kamar miliknya yang rupanya masih sama persis seperti dulu, tanpa ada perubahan sedikit pun.
Cakra masuk ke dalam, lalu menutup pintunya. Pria itu dengan sigap merebahkan tubuh besarnya di atas ranjang. Matanya terpejam, tapi dalam penglihatannya, hanya ada senyum manis milik Tara...
"Tunggu, Tar! Nanti malam semuanya akan jelas." Bisiknya lirih di kegelapan kamar.
sukses slalu y 🫶🫶🫶