"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di culik
Di dalam sebuah taksi yang melaju sedang, Kayna duduk bersandar di kursi belakang. Napasnya terengah-engah, memburu bersamaan dengan detak jantungnya yang berdegup liar.
Jemarinya yang halus tampak gemetar hebat saat merapatkan mantel tipis ke tubuhnya. Kayna terus menengok ke kaca belakang, memastikan tidak ada mobil-mobil hitam mewah milik pengawal Mara yang membuntutinya dari belakang.
"Pak, tolong bisa agak cepat sedikit? Langsung ke stasiun kereta," pinta Kayna dengan suara bergetar menahan cemas.
Sopir taksi paruh baya itu melirik dari kaca spion tengah, mengangguk pelan. "Baik, Mbak. Tapi cuaca sangat buruk dan jalanan cukup licin, kita harus sedikit hati-hati."
Kayna memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menata napasnya yang sesak. Ia berhasil. Ia benar-benar berhasil memanfaatkan kelengahan Maya saat pelayan itu menyiapkan teh herbal di dapur lantai bawah. Kayna menyelinap keluar melalui pintu belakang mansion yang tidak terjaga ketat, menembus rimbunnya taman, dan melompati pagar samping demi mendapatkan kebebasannya kembali.
Namun, di balik rasa lega itu, ketakutan luar biasa tetap mencekam dadanya. Kayna tahu betul siapa Mara. Pria yang mengaku sebagai tunangannya yang penuh kasih sayang itu memiliki aura kegelapan yang tak tersentuh. Larangan ketat untuk pergi ke Jogja, pengawasan tanpa henti, serta percakapan yang didengarnya kemarin membuat naluri Kayna berteriak bahwa ada kebohongan besar yang disembunyikan darinya.
Ia harus sampai ke Jogja. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi dengan butiknya, dengan masa lalunya, dan dengan dirinya sebelum kecelakaan tragis itu menghapus seluruh memorinya.
Namun, Takdir tampaknya enggan membiarkan Kayna lepas begitu saja.
Taksi yang ditumpangi Kayna mulai melaju memasuki kawasan jalan layang bawah yang sepi dan remang-remang. Penerangan jalan di area itu minim, hanya mengandalkan lampu-lampu kota yang terpancar samar di kejauhan.
Tiba-tiba—
CIIIITT!
Suara decitan ban memekakkan telinga memotong keheningan malam! Sebuah SUV hitam berukuran besar tanpa pelat nomor mendadak melakukan manuver ekstrem, membanting setir tajam dan berhenti melintang tepat di depan bumper taksi!
"A-apa-apaan itu?!" teriak sopir taksi, kaget setengah mati dan langsung menginjak rem secara mendadak.
BRAK!
Tubuh Kayna terdorong keras ke depan, dahinya hampir saja menghantam bagian belakang kursi pengemudi. Belum sempat ia menguasai rasa pening di kepalanya, dari arah belakang, sebuah SUV hitam lainnya melaju kencang dan berhenti rapat, mengunci posisi taksi dari depan dan belakang secara sempurna.
"Pak! Mundur, Pak! Cepat mundur!" seru Kayna panik luar biasa.
"T-tidak bisa, Mbak! Mobil kita dikepung!" sahut sopir taksi dengan suara gemetar ketakutan.
Pintu SUV depan terbuka lebar. Tiga orang pria bertubuh tegap berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup masker kain melangkah keluar secara bersamaan. Salah satu dari mereka memegang batang besi tebal di tangannya.
Kayna membelalak ketakutan. Jemarinya panik menekan tombol pengunci pintu otomatis di sampingnya, tetapi semuanya sudah terlambat.
PRANG!
Satu pukulan keras batang besi itu menghancurkan kaca pintu pengemudi hingga berkeping-keping. Serpihan kaca tajam bertaburan di dalam mobil. Pria bertopeng itu menjangkau ke dalam, membuka paksa kunci pintu, lalu menarik tubuh sopir taksi keluar tanpa ampun.
"Jangan! Hentikan! Tolong!" jerit sopir taksi itu sebelum sebuah pukulan mentah mendarat keras di wajahnya, membuatnya terkulai lemas tak berdaya di atas aspal dingin.
"Tidak! Tolong!" Kayna menjerit histeris. Ia berusaha merayap mundur ke sudut kursi belakang, mencoba mencari senjata apa saja untuk membela diri.
Pintu belakang taksi ditarik paksa hingga terbuka lebar. Hawa dingin malam dan aroma air hujan langsung menerpa wajah Kayna, berpadu dengan aura intimidasi yang sangat pekat dari pria kekar yang kini menatapnya dengan pandangan dingin menyeringai.
"Nona Kayna Ramida..." ujar pria itu dengan suara berat dan serak. "Ternyata tidak sulit menemukan burung kecil yang mencoba kabur dari sangkarnya."
"Siapa kalian?!" bentak Kayna, mencoba menutupi rasa takutnya yang membuncah. kakinya menendang keras saat pria itu mencoba menjangkau pergelangan kakinya. "Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Jika kalian menginginkan uang, ambil semua uangku di tas!"
Pria itu terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Kayna berdiri tegak. "Uang? Kami tidak butuh uang kacanganmu, Nona. Tuan Martin mengirim salam hangat untukmu. Beliau merindukan sambutan hangat dari tunangan terkasih Damara Veldens."
Martin? Nama itu sangat asing bagi otak Kayna yang tergerus amnesia. Namun, mendengar nama Mara disebut dengan nada penuh dendam, Kayna sadar bahwa pria-pria ini bukanlah perampok jalanan biasa. Mereka adalah bagian dari dunia gelap yang selama ini tersembunyi rapat di balik wajah tampan dan pesona sempurna Mara.
"Aku tidak kenal siapa Martin! Lepaskan aku!" Kayna berteriak sekencang-kencangnya, membanting tas tangannya ke wajah pria itu dan mencoba menerobos keluar dari pintu sebelah kiri.
Namun, pergerakan Kayna kalah cepat. Pria kedua sudah berdiri di sisi pintu satunya. Mencengkeram dengan erat pergelangan tangan Kayna, mengunci pergerakannya seketika.
"Lepas! Lepaskan aku! MARA!" Tanpa sadar, di tengah keputusasaan terbesarnya, nama pria yang paling ia takuti sekaligus tempatnya berlindung itulah yang terucap dari bibir Kayna.
"Berteriaklah sesukamu, Nona. Pangeranmu itu tidak akan datang menolongmu tepat waktu," bisik pria itu di dekat telinga Kayna.
Sebelum Kayna sempat berteriak lagi, sebuah kain tebal yang dibasahi cairan berbau kimia menyengat ditepukkan paksa menutup hidung dan mulutnya.
"Mmph! Mmmph!" Kayna memberontak hebat. Ia menahan napasnya, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk membebaskan diri, tetapi cengkeraman di kepalanya begitu kuat.
Aroma yang menusuk hidungnya mulai memaksa masuk ke dalam saluran pernapasan Kayna. Pandangannya yang tadinya menunjukkan bayangan hujan dan sorot lampu SUV mulai kabur. Rasa lemas luar biasa menular cepat dari kepala hingga ke ujung jarinya. Kesadarannya perlahan-lahan runtuh, tersedot ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar.
Tubuh lemah Kayna akhirnya terkulai lunglai di pelukan pria Bertopeng itu.
"Bawa dia ke SUV! Cepat sebelum orang-orang Lexans mendeteksi tempat ini!" perintah pria itu tegas.
Dalam hitungan detik, tubuh Kayna dilempar kasar ke dalam SUV hitam, pintu ditutup rapat, dan kedua kendaraan itu melaju kencang membelah kegelapan malam, meninggalkan taksi yang hancur serta sopir yang pingsan berdarah di tepi jalan.
Tujuh belas menit kemudian.
Raungan mesin bernada tinggi memecah keheningan di tempat kejadian perkara. Tiga SUV hitam dan satu mobil mewah berhenti mendadak dengan posisi mengepung taksi yang malang itu.
Mara dan beberapa pria berjas hitam melangkah keluar.
Hujan deras langsung membasahi rambut gelap dan setelan jas mahal berpotongan sempurna yang Mara kenakan. Namun, ia sama sekali tidak peduli.
Sepasang mata gelapnya bergetar liar, memancarkan kilatan pembantaian yang sanggup membuat siapapun yang melihatnya berlutut ketakutan.
Di belakangnya, Carlos dan James melangkah cepat dengan senjata api berperedam suara sudah siap di genggaman.
"Tuan Mara! Sinyal GPS taksi terhenti tepat di titik ini!" seru Carlos, matanya menyapu sekeliling area yang berantakan.
Mara melangkah perlahan mendekati taksi. Langkah kakinya terasa begitu berat namun sarat akan ancaman maut. Pria itu menunduk, menatap ke dalam kabin belakang taksi yang kosong dan basah oleh percikan air hujan.
Di atas jok kulit yang robek, tergeletak sebuah gelang perak polos, gelang yang selalu dipakai Kayna sejak ia tersadar di rumah sakit. Gelang itu terputus, ternoda oleh sedikit bekas darah.
Mara berlutut pelan. Tangannya yang besar meraih gelang perak tersebut. Buku-buku jarinya mengepal sangat erat, membiarkan ujung rantai gelang yang tajam menancap di telapak tangannya sendiri hingga darah segar mengalir berbaur dengan tetesan air hujan.
"Nona Kayna... tidak ada di sini, Tuan," ujar James dengan napas memburu setelah memeriksa kondisi sekitar. "Pola penyerangan ini... sangat rapi dan cepat. Ini bukan gaya geng lokal."
Mara perlahan berdiri tegak. Wajahnya yang basah oleh air hujan terlihat begitu pucat, tetapi matanya memancarkan aura iblis pembalas dendam yang telah bangkit dari tidur panjangnya. Senyuman dingin dan mengerikan terukir di bibirnya.
"Martin..." suara bariton Mara terdengar sangat pelan, namun getaran kemarahannya sanggup merindingkan bulu kuduk kedua anak buahnya. "Kau sengaja memancingku keluar dari kegelapan."
Carlos menunduk dalam-dalam. "Tuan Mara, tim peretas baru saja melacak jalur pelarian kendaraan yang dicurigai milik kelompok Martin. Mereka bergerak menuju kawasan pergudangan tua di Pelabuhan Barat!"
Mara memutar lehernya pelan, menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. Ia menatap lurus ke arah kegelapan malam.
"Siapkan eksekutor," perintah Mara dengan nada suara dingin tanpa ampun yang memotong derasnya hujan. "Malam ini... kita tidak akan melakukan negosiasi. Siapa pun yang menyentuh Kayna... akan kupastikan memohon kematian sebagai satu-satunya pilihan."
...●Bersambung●...