Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman Kerajaan dan Tiket Sekali Jalan ke Utara
Halaman istana dipenuhi rakyat, bangsawan, prajurit, pendeta, dan orang-orang yang sepertinya datang hanya karena ingin melihat apakah aku akan membuat skandal baru.
Aku tidak menyalahkan mereka.
Kalau aku hidup di dunia ini sebagai rakyat biasa, aku juga mungkin akan datang. Hiburan gratis, risiko rendah, dan kemungkinan ada orang pingsan cukup tinggi.
Mira berdiri di belakangku dengan wajah tegang. Ia memakai seragam pelayan terbaiknya dan membawa tas kecil yang katanya berisi perlengkapan darurat.
“Apa saja isinya?” tanyaku sebelum kami keluar.
“Alat uji racun, saputangan, roti, jarum jahit, botol minyak angin, surat wasiat kosong, dan permen.”
“Kenapa ada surat wasiat kosong?”
“Untuk berjaga-jaga jika ada yang ingin meninggal dengan rapi.”
Aku tidak tahu harus bangga atau khawatir.
Lucien berdiri di podium utama, tampak seperti putra mahkota sempurna yang berhasil tidur cukup, walaupun aku yakin dia tidak tidur. Seraphina berdiri di sisi kanannya, mengenakan gaun putih dan senyum lembut. Aku berdiri di sisi kiri, sedikit lebih jauh, karena rupanya publik belum siap melihatku terlalu dekat dengan simbol kerajaan.
Cassian berdiri di belakangku, tenang seperti biasa. Adrian berdiri di sebelah Marquess Arvella. Ayahku tampak lebih tua daripada dua hari lalu.
Lucien mengangkat tangan. Kerumunan diam.
“Rakyat Kerajaan Asteria,” katanya lantang. “Beberapa hari terakhir, kerajaan diguncang oleh percobaan peracunan terhadap Saintess Seraphina, penahanan Lady Evangeline Arvella, dan bukti baru yang menunjukkan keterlibatan jaringan rahasia bernama Ordo Mahkota Patah.”
Bisikan menyebar.
Aku memperhatikan wajah-wajah di kerumunan. Ada takut, penasaran, marah, ragu. Cerita lama mereka mulai goyah, dan manusia tidak suka kehilangan cerita yang sudah mereka percaya.
Lucien melanjutkan, “Atas nama kerajaan, penyelidikan akan diperluas. Lady Evangeline Arvella, Duke Cassian North, Kapten Rion, dan Lord Adrian Arvella akan menuju wilayah utara untuk mencari bukti yang berkaitan dengan kasus lama dan ancaman baru terhadap kerajaan.”
Kerumunan bergemuruh.
“Lady Evangeline?” seseorang berseru. “Bukankah dia tersangka?”
Aku melangkah maju sebelum Lucien menjawab.
Mira mengeluarkan suara panik kecil di belakangku.
Aku menatap kerumunan. “Benar. Saya pernah menjadi tersangka. Saya juga hampir kehilangan kepala karena semua orang terlalu cepat percaya pada cerita yang mudah.”
Hening perlahan turun.
“Aku tidak berdiri di sini untuk meminta kalian menyukaiku,” lanjutku. “Sejujurnya, itu target yang terlalu ambisius untuk minggu ini.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Bagus. Humor adalah perisai murah dan cukup efektif.
“Tapi aku meminta kalian melihat bukti. Jika aku bersalah, hukum aku. Jika orang lain bersalah, jangan biarkan dia bersembunyi di balik air mata, gelar suci, atau mahkota.”
Seraphina menoleh pelan ke arahku.
Aku tersenyum tipis padanya.
Giliranmu, Saintess.
Lucien berkata, “Saintess Seraphina juga akan menyampaikan pernyataan.”
Seraphina maju. Senyumnya lembut, tetapi aku melihat ketegangan di rahangnya.
“Aku... mendukung penyelidikan ini,” katanya. “Aku berharap kebenaran ditemukan, dan tidak ada lagi yang terluka.”
Kalimat sempurna. Aman. Tidak menyudutkan siapa pun. Sangat khas Seraphina.
Aku hampir bosan.
Namun tiba-tiba dari kerumunan, seorang pria berteriak, “Lady Evangeline penyihir! Dia memikat Duke North!”
Ah. Topik favorit publik: kehidupan cintaku yang bahkan aku sendiri belum punya.
Sebelum pengawal bergerak, pria itu mengangkat botol kecil dan melemparkannya ke arahku.
Cassian bergerak cepat, menarikku ke belakang. Botol itu pecah di lantai, mengeluarkan asap ungu tipis.
Kerumunan menjerit.
Mira langsung mengeluarkan saputangan dan menutup hidungku dengan sangat agresif sampai aku hampir tidak bisa bernapas.
“Nona! Jangan hirup! Kita belum tahu ini racun, parfum buruk, atau kutukan diskon!”
Cassian menahan pria itu dengan bantuan pengawal. Lucien turun dari podium, wajahnya marah.
“Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu tertawa. Matanya tampak kosong.
“Mahkota patah akan bangkit.”
Lalu ia menggigit sesuatu di mulutnya.
Cassian langsung memegang rahangnya, tetapi terlambat. Pria itu pingsan, tubuhnya kejang.
Tabib berlari.
Kerumunan kacau.
Aku menatap asap ungu yang perlahan hilang. Di pecahan botol, ada simbol gagak kecil.
Ordo tidak lagi bersembunyi.
Mereka menyerang di depan publik.
Dan sialnya, itu justru membuat pernyataanku lebih kuat.
Rakyat melihat sendiri.
Aku bukan satu-satunya masalah.
Ada musuh yang lebih besar.
Lucien berdiri dan mengangkat suara dengan kemarahan yang tidak ditutupi. “Siapa pun yang terlibat dalam serangan ini akan diburu sebagai pengkhianat kerajaan!”
Untuk pertama kalinya, rakyat bersorak bukan untuk menghukumku, tetapi karena takut pada musuh yang baru terlihat.
Seraphina tampak pucat. Aku tidak tahu karena takut, marah, atau karena rencananya berantakan.
Setelah situasi terkendali, kami kembali ke dalam istana. Rapat darurat dilakukan. Keputusan berubah.
Perjalanan ke utara dipercepat.
Bukan tiga hari lagi.
Besok pagi.
Mira nyaris pingsan. “Besok?! Hamba belum menyiapkan pakaian musim dingin, obat flu, selimut tambahan, atau surat perpisahan pada dapur istana!”
Adrian menatapnya bingung. “Kenapa dapur?”
“Karena dapur adalah sahabat saat hidup berat, Tuan.”
Aku menepuk bahunya. “Kita akan membeli roti di jalan.”
“Semangat hamba kembali.”
Sore itu, aku mengemas barang di kamar pengawasan. Tidak banyak yang kubawa: buku harian ibuku, liontin mawar hitam, salinan dokumen Ordo, beberapa gaun praktis, dan daftar panjang orang yang ingin kuhindari tetapi sepertinya akan terus muncul.
Cassian datang saat matahari hampir tenggelam.
“Kereta siap besok saat fajar,” katanya.
“Ada kemungkinan diserang?”
“Tinggi.”
“Anda tidak bisa berbohong sedikit demi kenyamanan mental?”
“Bisa. Tapi itu tidak berguna.”
Aku menghela napas. “Duke North, suatu hari saya akan memaksa Anda mengikuti kelas komunikasi empatik.”
“Apakah ada sertifikat?”
“Mungkin.”
“Pertimbangkan.”
Aku tertawa kecil tanpa sadar.
Cassian menatapku beberapa saat. “Anda tertawa lebih sering sekarang.”
Aku berhenti. “Benarkah?”
“Ya.”
“Mungkin karena kalau tidak tertawa, saya akan menjerit.”
“Itu juga pilihan.”
“Mira sudah mengambil jatah menjerit dalam kelompok ini.”
Dari luar pintu terdengar suara Mira, “Hamba mendengar dan hamba setuju!”
Aku menutup wajah.
Cassian tersenyum tipis.
Malam itu, sebelum tidur, aku membuka buku harian ibuku sekali lagi. Di halaman yang sebelumnya kosong, tulisan baru muncul samar di bawah cahaya lilin.
Aku hampir menjatuhkan buku.
Jika kau membaca ini, berarti kau memilih hidup. Pergilah ke Northmere. Temukan ruang di balik menara beku. Jangan percaya pada saintess, jangan percaya pada mahkota, dan jangan terlalu cepat percaya pada pria utara, meskipun ia memberimu teh.
Aku terdiam lama.
Lalu tertawa pelan.
Bahkan ibuku yang sudah meninggal pun curiga pada teh Cassian.
Besok aku pergi ke utara.
Ke wilayah dingin yang tidak ada dalam novel asli.
Ke tempat ibuku menyembunyikan rahasia.
Ke tempat Ordo menungguku.
Aku menutup buku harian itu, lalu menatap bayanganku di cermin.
Dulu, Evangeline adalah penjahat yang dijadwalkan mati.
Sekarang, ia adalah variabel rusak yang mengacaukan permainan semua orang.
Dan aku mulai menyukai peran itu.
Jika takdir ingin mengejarku sampai ke utara, silakan.
Aku akan membawa pelayan dramatis, Duke pembawa teh, kakak militer pemarah, dan reputasi buruk yang ternyata sangat berguna.
Besok, perjalanan baru dimulai.
Dan kali ini, aku tidak akan menunggu alur cerita menyelamatkanku.
Aku akan mencuri pena penulisnya.