NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

----------------

Hari Rabu tiba, membawa beban yang sudah aku tumpuk di pundakku sejak beberapa hari terakhir. Langit sore yang berwarna oranye di Jakarta tampak begitu kontras dengan hatiku yang kelabu. Tepat setelah kelas terakhir selesai, aku menjemput Liona di kampusnya.

Saat dia masuk ke mobil, aura dingin langsung memenuhi ruangan yang sempit ini. Liona duduk di sampingku dengan tatapan lurus ke depan, tangan terlipat di dada, bibirnya terkatup rapat dengan sangat kencang. Aku mencoba memecah keheningan yang menyiksa ini, berusaha menjadi Arka yang biasa, meski dadaku sendiri terasa sesak.

"Hari ini dosen tadi kayaknya lagi galak banget ya? Tugasnya numpuk banget, sampai aku ngerasa otak ku mau meledak," ucapku, mencoba membuka topik ringan sambil sesekali meliriknya.

Tidak ada jawaban. Liona hanya membuang muka ke arah jendela, menatap lalu lintas Jakarta yang mulai macet dengan tatapan kosong.

"Liona? kamu masih marah soal yang kemarin-kemarin?" tanyaku lagi, kali ini suaraku sedikit lebih lembut. Aku memberanikan diri mencoba meraih tangannya yang terlipat di atas pangkuannya, namun dengan gerakan yang sangat cepat dan tegas, dia menarik tangannya menjauh, seolah sentuhanku adalah racun.

"Gak perlu basa-basi, Arka. Kita ke kafe aja. Gak usah sok manis kalau ujung-ujungnya lu cuma mau bohong lagi," jawabnya dingin. Suaranya datar, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana.

...****************...

Aku terdiam, mengunci mulutku rapat-rapat. Aku membawa mobil menuju kafe langganan kami. Di sana, aku memesan satu menu makanan sederhana, sementara Liona, dengan wajah yang tampak tidak berselera, memesan berbagai macam hidangan dalam jumlah yang banyak. Dia tidak berniat menikmatinya, dia hanya ingin menyibukkan diri agar tidak harus menatap wajahku lebih lama.

Begitu makanan tersaji, Liona tidak langsung makan. Dia justru menatapku dengan mata yang menyala penuh amarah, seolah sedang menguliti keberadaanku.

"Jadi? Masih mau pura-pura sibuk? Masih mau bohong soal Kak Andra?, atau soal kak Zalya?, Gue tahu lu dari pagi gak ada di kantor saat itu. Gue tanya ke manajer di sana, dia bilang kamu sama sekali gak injekin kaki di kantor itu minggu itu. Lu pikir gue bodoh?" Liona mulai menyerang.

"Liona, dengerin gue—"

"Gak! Sekarang giliran gue yang ngomong!" Liona memotong dengan suara yang mulai meninggi hingga beberapa pengunjung lain menoleh ke arah kami. "Kamu tuh berubah banget, Arka! Akhir-akhir ini, setiap aku ajak ngobrol, kamu kayak lagi mikirin hal lain. Pikiran kamu gak ada di sini. Apa ada orang lain? Apa selama ini aku cuma penghambat di hidup kamu? Atau mungkin, aku udah gak selevel sama gaya hidup baru kamu?"

Aku hanya diam, menunduk menatap piringku. "aku gak bisa jelasin sekarang, Liona. Tolong, makan dulu."

"Makan?" Liona tertawa sinis. "Lu pikir gue bisa makan kalau hati gue rasanya lagi diiris-iris sama kebohongan lu sendiri?"

Liona terus mencerca, meluapkan segala kekesalan yang dia tahan selama seminggu ini. Dia menyebutkan segala ketidakpedulianku, segala janji yang aku ingkari, dan segala perubahan sikap yang dia rasakan. Aku membiarkannya. Aku tahu, jika ada yang berhak marah hari ini, itu adalah Liona. Aku pantas menerima setiap kata tajam yang keluar dari mulutnya.

Setelah aku menghabiskan makananku, sementara piring Liona masih dipenuhi sisa makanan yang tidak disentuh sedikit pun, aku menghela napas panjang. Aku mengelap mulutku dengan serbet, lalu menatap matanya dalam-dalam. Inilah saatnya.

"Liona," suaraku terdengar serak, namun tegas. "Aku minta maaf. Aku udah mikir matang-matang, dan gue rasa hubungan kita harus selesai di sini."

Suasana di meja itu mendadak hening. Denting alat makan dari meja sebelah seolah menjadi satu-satunya suara yang ada. Liona mematung. Matanya melebar, napasnya tertahan di tenggorokan. "Apa... apa maksud Kamu? kamu mutusin aku? Gara-gara ini semua? Gara-gara aku nanyain kenapa kamu bohong?"

"Aku minta maaf, Liona," ucapku lirih.

"Jelasin, Arka! Kasih aku alasan kenapa kamu tiba-tiba kayak gini! Apa aku kurang baik sama kamu? Apa aku kurang perhatian selama ini?" Liona mulai menangis. Air matanya jatuh satu per satu, mengalir deras ke pipinya. "aku butuh alasan yang masuk akal! Jangan cuma bilang 'selesai', aku bukan barang yang bisa kamu buang kalau udah bosen!"

"Kita udah gak cocok, Liona. Udah banyak hal yang bikin kita beda jalan. Dan aku sadar, kalau kita lanjutin ini, aku cuma bakal bikin kamu lebih sakit hati ke depannya," jawabku. Aku tidak bisa membawa-bawa nama Astrid. Aku tidak bisa menghancurkan reputasi Astrid lebih jauh lagi dengan menyebutkan masalah kehamilannya di sini.

"Gak cocok? Selama 3 bulan kita kenal kita baik baik aja aja! Apa yang berubah? Apa karena aku nuntut kamu untuk lebih perhatian? Itu wajar Arka, aku pacar kamu!" Liona memukul meja dengan pelan. Isak tangisnya mulai menyayat hati. "kamu jahat, Arka. Aamu hancurin hati ku cuma dengan kata 'gak cocok'? Kamu pengecut!"

Aku terdiam, hatiku perih melihatnya seperti ini. Aku mengambil sapu tangan dari kemeja ku dan dengan tangan gemetar, aku mengelap air mata di pipinya. "Maafin aku, Liona. Aku harap kamu bisa nemu orang yang jauh lebih baik daripada aku. Orang yang bisa kasih perhatian yang layak kamu dapetin."

Liona menepis tanganku, lalu dia menunduk, menangis terisak-isak sampai bahunya terguncang. "Boleh gak aku minta satu permintaan lagi?" tanyanya dengan suara yang parau.

"apa?." ucap ku

"Anterin aku pulang. Buat yang terakhir kalinya."

...****************...

Di dalam mobil, selama perjalanan menuju rumahnya, kenangan-kenangan itu berputar seperti film lama di kepalaku. Setiap tikungan jalan, setiap lampu merah yang kami lewati, semuanya menyimpan memori.

"Ka," Liona memecah kesunyian setelah hampir sepuluh menit hanya ada suara isak tangis di antara kami. "Inget gak? Dulu kita pernah mogok di jalan ini, terus lu rela jalan kaki satu kilometer cuma buat cari bengkel buat gue. Lu bilang lu gak mau gue kepanasan."

Aku menoleh sekilas ke arahnya, mataku memanas. "Gue inget. Lu nangis gara-gara sepatu lu lecet."

Liona tertawa getir di sela tangisannya. "Lucu ya. Kenapa semuanya berubah secepat ini? Apa bener cinta itu bisa hilang cuma karena satu alasan yang kamu sendiri gak mau jelasin?"

Aku mencengkeram setir dengan sangat kuat, buku-buku jariku memutih. "Kadang, cinta itu gak cukup, Liona. Kadang, keadaan memaksa kita untuk memilih hal yang paling menyakitkan demi kebaikan yang kita paham."

"Keadaan apa, Arka?! Lu punya segalanya! Lu punya harta, lu punya masa depan cerah, apa yang bisa ngehalangin kita?" Liona menatapku dengan putus asa. "Aku harap ini cuma mimpi. Aku sadar, Aku memang egois. Aku sering maksa kehendak ku ke kamu, aku selalu menuntut kamu jadi sempurna. Aku minta maaf, Arka. Aku minta maaf kalau itu yang bikin lu capek. Aku gak mau maksain lu lagi, Aku hargain keputusan Kamu. Tapi Kamu harus tahu, Aku gak pernah liat Kamu dari harta atau jabatan. Aku bener-bener cinta sama Kamu, Arka. Dari dulu sampai sekarang, cuma kamu."

Air mataku jatuh tanpa seizinku. Aku masih mencintai wanita di sampingku ini, namun takdir sedang mempermainkan kami. Keadaanku dengan Astrid bukanlah sesuatu yang bisa kuselesaikan dengan kata-kata manis. Aku mencintai Liona, tapi tanggung jawabku pada nyawa dan masa depan Astrid menuntutku untuk melepas semuanya.

Saat sampai di depan rumahnya, Liona diam saja. Dia menatap gerbang rumahnya dengan tatapan kosong. "Sampe juga nih, Liona. Sudah sampai."

"Apa bener-bener gak ada kesempatan?" ucap Liona dengan pelan tapi serius.

Aku hanya menggeleng lemah. Liona akhirnya keluar dari mobil dengan langkah gontai. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, aku menatapnya untuk terakhir kalinya. Dia berjalan masuk ke gerbang, lalu berhenti dan menoleh, melambaikan tangan dengan tangan yang gemetar. Aku melihatnya dari spion mobil sampai dia menghilang di balik pintu rumahnya. Aku tetap di sana, di balik kemudi, kehilangan arah. Kota Jakarta yang indah dengan lampu-lampunya malam ini terasa begitu dingin dan asing.

...****************...

Dua hari kemudian, Liona duduk di sebuah kafe, wajahnya tampak sangat kacau. Matanya sembab, rambutnya tidak teratur. Di depannya, duduk Iksan, pria yang selama ini menjadi tempat curhatnya.

"Gue bener-bener gak nyangka, San. Dia mutusin gue gitu aja. Cuma bilang gak cocok," Liona bercerita dengan suara yang bergetar penuh kemarahan.

Iksan menyesap kopinya, mengerutkan dahi dengan raut wajah yang bingung namun penuh perhitungan. "Gue juga heran, Liona. Arka itu dari dulu tipe yang setia. Aneh kalau dia mutusin lu secepat itu tanpa alasan yang kuat. Lu yakin dia gak punya alasan lain?"

"Makanya gue ngajak lu ke sini. Gue punya firasat, San. Dia diem-diem selingkuh dari gue. Pasti ada cewek lain di luar sana! Dia berubah drastis setelah minggu lalu!" ujar Liona dengan mata yang berkilat jahat.

Iksan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rencana. "Hmm, tenang aja, Liona. Selagi ada fulus, semua akan mulus, hahahaha."

"Gue gak peduli berapa pun biaya yang lu butuhin," balas Liona dingin. "Yang penting, cari tahu sekarang juga. Kenapa dia berubah? Dan siapa cewek yang udah berani ngerebut dia dari gue. Kalau gue tahu siapa cewek itu, gue pastiin hidupnya gak bakal tenang."

Iksan mengangguk mantap. "Tenang, Liona. Gue bakal bikin Arka nyesel karena udah bikin lu nangis, dan gue bakal bongkar siapa perempuan murah yang berani-berani masuk ke hidup dia."

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!