Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Meminta Bantuan Kaisar Muchen
"Ya... ampun...", gumamnya saat Damon melihat Tangki Mazu tergeletak pingsan di pinggir makam.
Damon segera memanggil Kaisar Muchen untuk datang.
"Kaisar Muchen... Apa kamu mendengarku, aku butuh bantuanmu sekarang !!!" teriaknya dengan menggendong tubuh Juang Liang di punggungnya.
"Ting... Ting... Ting..."
Seketika datang pusaran angin mirip angin puyuh, tapi ringan. Lalu sosok Kaisar Muchen muncul di depan Damon.
"Yah... Ada yang bisa aku kerjakan ?" tanya Muchen sembari mengorek hidung.
"Tolong bantu aku, Kaisar. Aku ada masalah besar sekarang ini. Tolong bawa Tangki Mazu ke apartemen sebab aku tidak bisa membawanya serta bersamaku." pinta Damon.
Kaisar Muchen melirik dingin ke arah Damon lalu menoleh ke arah Tangki Mazu yang tergeletak pingsan di pinggir pusara.
"Dia...?!" tanya Muchen sembari menunjuk.
"Ya, tolong bantu bawa dia ke apartemen." sahut Damon dengan anggukkan kepala.
"Siapa tadi namanya? Tangki? Apa yang kamu maksud Tangki penjaga Klenteng???" kata Muchen.
"Benar..." sahut Damon.
Dua bola mata Kaisar Muchen berputar cepat, dan hampir lepas. Lalu tertawa keras.
"Mana ada Tangki dari Klenteng yang pingsan hanya karena takut? Pasti dia, Tangki palsu." kata Muchen.
"Jangan menertawakan nya, suaramu seperti suara kuda pony, sumbang, tidak enak didengarkan." sahut Damon agak kesal.
"Lalu siapa yang kau gendong itu?" tanya Kaisar Muchen sembari menunjuk ke arah punggung Damon.
"Dia tuan muda Juang Liang, kata Tangki Mazu, dia kerasukan." sahut Damon.
"Dan kamu pulang membawa dua korban aneh yang kerasukan, betapa mulianya dirimu, Damon." kata Muchen yang tak sanggup menutupi senyum tawanya.
"Anak laki-laki ini yang kerasukan, bukan Tangki Mazu, dia tidak kerasukan.“ kata Damon. " Tangki Mazu berniat menyembuhkan anak ini dari pengaruh hal yang merasuki nya."
Damon menatap tajam ke arah Kaisar Muchen.
"Dan aku tidak mulia sama sekali. Hanya bermaksud membantu kesulitan Tangki Mazu karena dia meminta bantuan padaku dan menganggap ku seorang cenayang sakti." sahut Damon.
"Pufhhh... Cenayang sakti?!" kata Muchen menahan tawanya.
"Yah, semua itu disebabkan olehmu, aku dianggap cenayang sakti karena bau badanku tercium bau dupa dan aroma Dewa Langit." kata Damon agak sewot.
"Tangki itu yang mengatakannya padamu bahwa bau badan mu tercium bau dupa dan aroma Dewa Langit???" kata Muchen.
"Ya." sahut Damon singkat.
"Rupanya dia bukan Tangki sembarangan karena dia bisa mencium aroma Dewa Langit darimu padahal Dewa Zhao Wu telah pergi." kata Muchen mulai berpikir serius sambil menoleh ke arah Tangki Mazu yang tergeletak pingsan.
"Aku tidak peduli soal apapun, tolong bantu aku bawa dia ke apartemen, kita urus mereka setelah sampai disana." kata Damon lalu bergegas pergi.
"Ehk... Tu-tunggu.... Kenapa harus aku?" kata Muchen kebingungan.
Damon tidak menjawab ucapan Kaisar Muchen, hanya berlalu pergi tanpa memperdulikan lagi.
"Damon... Tu-tunggu... Damon..." panggil Muchen.
Kaisar Muchen tampak bingung melihat ke arah Tangki Mazu yang tergeletak pingsan sendirian, ia tidak tahu harus berbuat apa-apa.
"Ba-Bagaimana ini?!" tanyanya panik.
Muchen memperhatikan sekali lagi ke arah Tangki Mazu yang masih tak sadarkan diri itu. Lantas dia menghampiri tubuh Tangki Mazu yang tergeletak di dekat pusara.
"Ya, ampun, dia sungguh merepotkan sekali... Mana ada seorang Tangki dari Klenteng bisa takut terhadap makam." kata Muchen. "Bukannya pekerjaan dia dekat dengan hal-hal mistis dan ghaib."
Kaisar Muchen mengarahkan jari telunjuknya ke arah Tangki Mazu, diangkatnya tubuh Tangki dari Klenteng Birokrasi Surga perlahan-lahan ke atas.
Sekejap saja, tubuh mereka berpindah tempat ke tempat lain.
Dari kejauhan Damon masih menggendong tubuh Juang Liang menaiki tangga apartemen.
Kaisar Muchen memperhatikan dari lantai atas, tempat Damon tinggal di gedung apartemen ini.
"Hosh... Hosh... Hosh..." nafasnya tersengal-sengal saat dia membawa Juang Liang menuju kamar apartemen nya.
Muchen menarik nafas pelan, ia menatap tajam ke arah Damon.
"Hah... Kenapa dia masih bertingkah laku seperti orang normal, dia kan bisa menggunakan kekuatannya, malah pilih bersusah-susah." gumam Kaisar Muchen. "Terserah padanya saja..."
Kaisar Muchen berbalik pergi, menghilang dari pandangan mata, sedangkan Damon berusaha keras naik menuju kamar apartemen, tempatnya tinggal.
"Aduh, berat sekali tubuh anak ini, kukira dia ringan karena badannya kecil." kata Damon dengan nafas terengah-engah.
Damon berkonsentrasi penuh lalu fokus ke depan.
Seketika tubuhnya melesat cepat naik ke atas menuju kamar apartemennya.
"Tap... Tap... Tap..."
Langkah kaki Damon menginjak tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar. Lalu ia melesat masuk ke dalam kamar dan meletakkan tubuh Juang Liang ke lantai.
"Kenapa lama sekali?" tegur Muchen sembari muncul dari dinding ruangan apartemen dengan melipat dua tangan ke depan dada.
Ting..., sekali lagi bunyi suara dua belas Liu giok nya bersuara tiap dia berbicara.
"Arghhh...!!!" pekik Damon tersentak kaget ketika Muchen menyembul keluar dari dinding kamarnya. "Sudah kubilang padamu, jangan muncul tiba-tiba, aku bisa terkena serangan jantung akut."
Damon mengusap-usap dadanya yang berdegup kencang.
Kaisar Muchen tertawa pendek, mendengar keluhan Damon tentang caranya yang muncul secara tiba-tiba.
"Mana dia?" tanya Damon sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kamarnya yang kosong.
"Siapa?" balas Muchen bertanya.
"Tangki Mazu dari Klenteng Birokrasi Surga. Mana dia? Kamu tidak lupa membawa Tangki itu bersama mu, tadi aku meminta padamu untuk membawanya ke sini." sahut Damon
"Oh, Tangki Mazu... Ya... Ya... Ya... Tapi..., buat apa aku harus membawa serta dia, dia bukan urusanku, apa peduli ku?" kata Muchen.
"Ya, ampun... Kau meninggalkan nya di makam???" tanya Damon terperanjat kaget lalu berdiri tegak.
Damon langsung berbalik badan, hendak keluar ruangan apartemennya.
"Aku sudah membawanya bersamaku." kata Muchen.
Damon menoleh kembali, mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Mana dia?" tanya Damon.
"Disana! Aku letakkan dia di sana!" kata Muchen sembari menunjuk ke arah dinding ruangan apartemen nya.
Damon menolehkan pandangannya ke sekitar ruangan apartemen nya, pandangannya tertuju lurus ke arah dinding kamar. Ia melihat tubuh Tangki Mazu berdiri menempel pada dinding ruangan.
Sontak kedua alis Damon terangkat naik, ia setengah melotot saat melihat Tangki Mazu menyembul keluar dari dalam tembok kamarnya.
"Ke-kenapa kamu tanam dia di dinding???" tanya Damon terperanjat kaget lalu berlari cepat menghampiri dinding kamarnya.
Damon terlihat kebingungan, dia berusaha mengeluarkan tubuh Tangki Mazu dari dalam tembok kamar tapi dia kesulitan melakukan nya.
"Ba-Bagaimana ini??? Bagaimana caranya mengeluarkan dia dari dinding???" kata Damon. "Kau tidak bisa perlakuan seorang Tangki Klenteng sebagai guyonan seperti ini, bahkan menanam tubuhnya di tembok begini!!! "
"Tidak usah terlalu berlebihan, aku tidak membuatnya mati, dia masih bernyawa, tinggal tarik saja tangannya keluar dari dinding itu." kata Muchen dengan santainya.
"A-Apa???" kata Damon dengan mata terbelalak lebar.
"Tarik saja tangannya dari situ! " tegas Muchen lalu duduk membelakangi Damon, sambil menatap kerdus-kardus yang terbungkus rapi di depannya.
"Kau!!!" pekik Damon kesal. "Kau benar-benar keterlaluan, Kaisar. "
"Aku hanya menjalankan tugas yang kau perintahkan padaku, dan aku telah melakukan nya sesuai kemampuan ku." kata Muchen tetap membelakangi Damon sedangkan Damon bersungut-sungut kesal dengan kelakuan sang Kaisar langit itu.
"Mana boleh begitu, jika Dewa tahu kelakuan tak pantas mu itu, pasti Dewa akan menghukum mu." kata Damon.
Tampak Damon berusaha keras menarik-narik tangan Tangki Mazu agar keluar dari dinding ruangan kamar apartemen nya.
"Bruk." Tubuh Tangki Mazu jatuh telungkup ke lantai ruangan apartemen nya, dan belum tersadar dari pingsannya.
"Astaga... Tambah runyam saja..." keluhnya kesal. Lalu duduk di lantai dengan menghela nafas panjang.
Damon berkali-kali menyisir rambutnya ke arah belakang, sedangkan sorot matanya tertuju ke bawah.
Keringat dingin membasahi wajahnya yang tampan kemudian dia berkata kembali.
"Kita butuh bantuan Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén untuk membantu anak ini kembali sadar." kata Damon.
"Baiklah, sekalian kita tanyakan tentang kelima Succubus terkuat itu pada Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén." sahut Muchen.
"Benar sekali, mungkin Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén tahu penyebab anak laki-laki ini seperti ini. Kenapa dia bisa kerasakun. Dan kita juga bisa tanyakan perihal iblis mimpi yang merasuki Mr. Oyunchimeg." tegas Damon menatap serius ke arah Kaisar Muchen.
Kaisar Muchen hanya menjawab dengan anggukkan kepala pelan, lalu membalas tatapan Damon dengan ekspresi serius.