"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Benteng Pertahanan yang Tak Teruntuhkan
Hari-hari berikutnya di ruang perawatan VIP berlalu bagaikan barisan waktu yang membeku. Meskipun indikator pada monitor medis menunjukkan bahwa fungsi jantung baru di dalam tubuh Aruna kian menguat, atmosfer di sekeliling ranjangnya justru semakin mencekam. Aruna yang sekarang bukanlah Aruna yang dulu mudah tersenyum atau memendam lukanya dalam diam. Ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tak tersentuh, dikelilingi oleh aura dingin yang begitu pekat hingga mampu membuat siapa saja yang melangkah masuk ke ruangannya merasa segan.
Ketegangan itu bahkan sangat dirasakan oleh Devan dan Theo. Kedua sahabat yang biasanya paling tahu cara memancing tawa Aruna, kini hanya bisa berdiri dengan kikuk di sisi ranjang. Ada jarak tak kasatmata yang mendadak membentang sangat lebar.
Meski begitu, Aruna tidak memperlakukan mereka dengan kasar. Saat kedua netra indahnya menatap Devan dan Theo, binar dingin itu sedikit mencair, digantikan oleh kelembutan yang tipis namun tulus. Kepada dua sahabatnya, Aruna tetap berusaha bersikap baik. Ia menghargai keberadaan mereka yang selalu ada, bahkan di masa-masa paling sekarat dalam hidupnya.
"Kamu harus menghabiskan buahnya, Na. Dokter bilang kamu butuh banyak vitamin untuk memulihkan sel-sel darahmu," ujar Theo dengan suara yang sengaja dilembutkan, sambil menyodorkan sepiring kecil potongan apel yang sudah dikupas rapi.
Aruna menerima piring itu dengan gerakan anggun yang lambat. Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, terukir di bibirnya yang masih agak pucat. "Terima kasih, Theo. Aku akan memakannya nanti. Kalian berdua tidak perlu repot-repot datang setiap hari. Rasanya aku mungkin sudah jauh lebih baik."
"Repot dari mana? Kalau tidak melihatmu mengomeli kami sehari saja, rasanya hidup kami ada yang kurang," celetuk Devan, mencoba menyelipkan humor ringannya yang biasa.
Namun, tawa Devan langsung mereda saat melihat respons Aruna. Wanita itu hanya tersenyum hambar, lalu kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca besar. Kedataran ekspresi Aruna membuat Devan dan Theo saling lempar pandang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa segan yang teramat sangat untuk membuka obrolan yang lebih dalam. Mereka takut salah berucap, takut menembus batasan privasi yang kini dijaga ketat oleh Aruna. Wanita di depan mereka ini seperti sebuah porselen retak yang sengaja dilapisi semen keras, tampak kokoh dari luar, namun menyimpan kerapuhan yang teramat berbahaya di dalamnya.
Keheningan yang canggung itu mendadak pecah ketika gagang pintu ruang VIP berbunyi. Pintu besar itu terdorong terbuka, dan seketika itu juga, atmosfer di dalam ruangan berubah total. Kehangatan tipis yang baru saja dibangun oleh Devan dan Theo lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh ketegangan yang mendadak memuncak hingga ke langit-langit kamar.
Rombongan keluarga Dirgantara melangkah masuk. Di barisan paling depan, berjalan sepasang orang tua paruh baya dengan pakaian elegan, orang tua dari Baskara Dirgantara. Dan tepat di belakang mereka, sosok Baskara melangkah dengan tubuh tegapnya yang dominan. Pria itu masih mengenakan setelan jas formal beludru gelap yang pas di tubuhnya, memancarkan wibawa tingkat tinggi yang biasa ia tunjukkan di ruang kuliah London maupun di ruang rapat direksi.
Begitu rombongan itu menapakkan kaki di dalam ruangan, Devan dan Theo refleks menegakkan tubuh mereka, mundur beberapa langkah untuk memberikan penghormatan sekaligus ruang.
Di atas ranjangnya, perubahan drastis langsung terlihat pada diri Aruna. Detik itu juga, wajahnya mengeras. Sorot matanya yang tadinya melunak saat menatap sahabat-sahabatnya kini berubah total menjadi sedingin es yang mematikan. Ekspresi wajahnya mengencang, menciptakan masker ketidaksukaan yang begitu nyata. Seluruh bahasa tubuhnya menunjukkan mode siaga yang defensif, seolah-olah ia sedang bersiap menghadapi musuh besar yang siap menerkamnya kapan saja.
Aruna sangat tidak menyukai kehadiran pria itu. Ingatannya langsung ditarik paksa pada lembaran-lembaran masa lalu di London. Baskara Dirgantara, dosen jenius berhati es yang pernah berdiri di depan mimbar kuliah dengan kejamnya merobek seluruh kerja kerasnya, menghina harga dirinya, dan menyebutnya sebagai calon sampah industri. Rasa sakit di dadanya mendadak berdenyut bukan karena jahitannya yang belum kering, melainkan karena luka lama yang kembali digarami oleh kehadiran sang pelaku.
Ibu Baskara, yang melihat Aruna sudah sadar sepenuhnya, melangkah mendekat dengan gurat wajah yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus haru. Sebagai sesama wanita dan seorang ibu, ia tahu betul penderitaan yang telah dilewati oleh gadis muda di hadapannya ini.
"Aruna... bagaimana keadaanmu, Nak? Apakah dadamu masih terasa sangat nyeri?" tanya ibu Baskara dengan suara yang teramat lembut dan tulus, matanya menatap Aruna dengan tatapan penuh kasih sayang seorang ibu.
Aruna mengatur napasnya yang sempat memburu, mencoba mengendalikan emosi negatif yang bergejolak di dalam dadanya. Ia tidak ingin bersikap tidak sopan kepada orang tua yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan buruknya dengan anak mereka. Namun, Aruna yang sekarang sudah sangat irit bicara. Ia tidak lagi memiliki energi untuk berbasa-basi panjang lebar.
"Sudah jauh lebih baik, Tante. Terima kasih," jawab Aruna dengan nada suara yang sangat datar, pendek, dan tanpa ekspresi. Tidak ada senyuman, tidak ada kehangatan. Hanya sebuah jawaban formalitas untuk menghargai pertanyaan dari orang yang lebih tua.
Ayah Baskara kemudian ikut melangkah maju, berdiri di samping istrinya. Pria berwibawa itu menatap Aruna dengan anggukan kepala yang penuh rasa hormat. "Dokter spesialis jantung terbaik yang kami datangkan dari Jerman terus memantau grafik perkembanganmu, Aruna. Jika ada sesuatu yang terasa tidak nyaman atau ada fasilitas rumah sakit yang kurang, langsung katakan pada kami. Jangan sungkan."
"Semuanya sudah cukup, Om. Terima kasih banyak atas bantuannya," balas Aruna kembali dengan kalimat yang teramat singkat. Setiap kata yang keluar dari bibirnya dipotong dengan tegas, seolah ia sengaja memasang rambu pembatas agar percakapan itu segera berakhir.
Melihat respons Aruna yang begitu dingin dan berjarak, kedua orang tua Baskara hanya bisa menghela napas pendek di dalam hati. Mereka memahami bahwa kondisi psikologis Aruna pascaoperasi besar pastilah belum stabil, sehingga mereka memilih untuk memaklumi ketertutupan gadis itu.
Namun, ketegangan yang sesungguhnya terjadi ketika Baskara melangkah maju dari balik punggung orang tuanya.
Langkah kaki Baskara terasa begitu berat menapak pada lantai marmer kamar tersebut. Pria yang biasanya selalu penuh percaya diri, dominan, dan tidak pernah goyah oleh apa pun, kini tampak begitu rapuh di bawah tatapan benci mahasiswi nya sendiri. Sepasang mata elang milik Baskara menatap Aruna dengan kedalaman rasa yang begitu kompleks, ada rasa bersalah yang teramat besar, penyesalan yang membakar jiwa, serta kecemasan yang tak bertepi melihat kondisi Aruna yang sekurus ini.
Baskara berdiri tepat di sisi ranjang, hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuh Aruna. Ia mencoba mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar, berniat untuk menyentuh selimut yang menutupi kaki Aruna atau menggenggam jemari mungil itu untuk menyalurkan seluruh penyesalannya. namun, belum sempat tangannya bergerak lebih jauh, kilatan amarah dan kejijikan yang terpancar dari mata Aruna membuat gerakan Baskara terkunci seketika.
"Aruna..." suara Baskara terdengar sangat rendah, parau, dan sarat akan kepasrahan yang mendalam. "Bagaimana dengan makan siangmu? Apakah ada makanan khusus yang ingin kamu makan hari ini? Aku bisa meminta koki pribadi untuk memasakkannya dan mengantarkannya langsung kemari."
Suasana di dalam kamar VIP itu mendadak berubah menjadi sunyi senyap, begitu pekat hingga suara embusan napas pun bisa terdengar jelas. Devan, Theo, bahkan kedua orang tua Baskara menahan napas mereka, menunggu bagaimana reaksi Aruna terhadap pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
Aruna sama sekali tidak bergerak. Ia tidak mengangguk, tidak menggeleng, dan yang paling menyakitkan bagi Baskara adalah, Aruna sama sekali tidak membuka bibirnya untuk mengeluarkan satu patah kata pun.
Wanita itu memperlakukan Baskara seolah-olah pria itu adalah udara kosong yang tidak kasatmata. Tatapan matanya yang sedingin es melewati tubuh tegap Baskara begitu saja, kembali terlempar lurus menembus jendela kaca, memandangi awan-awan yang berarak di langit Jakarta. Pengabaian total yang ditunjukkan oleh Aruna terasa jauh lebih mematikan dan menyakitkan daripada makian ataupun bentakan yang paling kasar sekalipun.
Baskara merasakan dadanya seperti dihantam oleh palu besar yang tak terlihat. Rasa sesak menjalar di tenggorokannya, membuat lidahnya mendadak kelu. Pria yang dihormati di dunia akademis dan bisnis itu kini harus menerima kenyataan pahit di depan wanita yang dulu pernah ia hina, ia tidak lebih dari sekadar bayangan masa lalu yang membawa luka dan trauma.
Ia tahu, ini adalah awal dari karma yang harus ia bayar. Dulu di London, ia berkali-kali mengabaikan eksistensi Aruna, meremehkan air matanya, dan menghancurkan masa depannya dengan kejam. Kini, roda takdir telah berputar sempurna. Di dalam kamar rumah sakit ini, di bawah kepungan dinding es yang dibangun oleh Aruna, Baskara dipaksa untuk berdiri membeku, merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan dibenci oleh satu-satunya detak jantung yang ingin ia pertahankan di dunia ini.