Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tepat jam se- belas malam, Ziva baru saja selesai dengan pekerjaannya sebagai pelayan di Cafe Mentari. Bunyi lonceng di pintu kafe yang menandakan tamu terakhir telah pergi terasa seperti musik kemenangan di telinganya. Ia melepas celemek hitamnya dengan gerakan lesu.
"Huft... akhirnya selesai juga," Ziva merentangkan tangannya yang terasa kebas karena seharian membawa baki berat. Sendi-sendinya berbunyi pelan, menandakan protes tubuh yang kelelahan.
"Ziv, lo langsung pulang? Atau lo mau tidur di kafe aja?" ucap Ina, rekan kerjanya. Ina seusia dengan Ziva, namun mereka bersekolah di tempat berbeda. Ina tahu betul seberapa jauh rumah Ziva dan betapa bahayanya jalanan di jam sekecil ini.
"Nggak deh, In. Gue langsung pulang aja," tolak Ziva halus. Di balik senyum tipisnya, ada rasa takut yang mendalam. Bukan takut pada kegelapan jalanan, melainkan takut pada amarah ayahnya jika ia tidak menampakkan batang hidungnya di rumah saat subuh tiba.
"Yakin lo, Ziv? Ini udah larut malam banget loh. Udah lewat tengah malam," Ina menatap cemas. Ia sering melihat berita di media sosial tentang begal atau kejahatan jalanan lainnya.
"Mending nginep sini, ada kamar kosong di atas."
"Yakin, gue berani kok. Udah biasa juga kan? Ya udah, gue balik dulu ya, In. Bye!" Ziva melambaikan tangan, mencoba terlihat tangguh meski kakinya terasa seperti jeli.
Di parkiran Cafe Mentari yang temaram, hanya tersisa dua buah kendaraan. Motor matic tua miliknya yang catnya sudah memudar, dan motor milik satpam kafe yang berjaga di pos depan. Suasana malam sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, namun udara terasa sejuk dan bersih. Lampu-lampu jalanan menyinari aspal yang sunyi, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti setiap gerakannya.
Ziva sempat berhenti di sebuah toko kelontong yang masih buka di pertigaan jalan. Perutnya mendadak keroncongan meski tadi sudah sempat makan sisa katering kafe. "Entah kenapa kalau malem gini laper banget. Bisa gemuk gue kalau makan terus," gerutunya sambil menyomot sepotong roti dan menenteng plastik berisi camilan serta minuman botol.
Malangnya, di pertengahan jalan, langit yang tadinya hanya berawan mulai menumpahkan airnya. Gerimis berubah menjadi hujan deras dalam hitungan menit. Ziva memacu motornya lebih kencang, menembus tirai air yang memedihkan mata. Saat ia sampai di depan gerbang rumahnya, ia sudah dalam keadaan basah kuyup.
Ziva masuk ke rumah dengan langkah mengendap-endap. Keadaan rumah sangat sunyi, sepi seperti tak berpenghuni. Ayah dan ibu tirinya pasti sudah terlelap di balik selimut hangat mereka. Ziva memandang dirinya sendiri di depan cermin besar ruang tamu. Baju yang menempel di kulit, rambut yang lepek, dan wajah yang pucat.
"Harusnya Ayah khawatir gue belum pulang jam segini," bisiknya lirih. Namun, ia segera menertawakan pemikiran itu. Berharap dikhawatirkan di rumah ini sama saja dengan berharap hujan emas di padang pasir. Baginya, ia hanyalah debu yang tak terlihat. Ia mandi dengan air dingin yang terasa seperti es, mengganti pakaian dengan baju tidur tipis, lalu merebahkan tubuhnya.
"Ibu... Ziva mohon, hadirlah di mimpi Ziva malam ini. Ziva rindu banget," ucapnya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
Byuuurrr!
Ziva tersentak hebat. Rasa dingin yang mendadak menyerang wajah dan dadanya membuatnya terperanjat dari kasur. Ia gelagapan, berusaha menghirup udara sementara air memasuki rongga hidungnya.
"Bangun kamu! Lihat ini sudah siang! Kamu ingat tugas kamu sebelum berangkat sekolah?!" teriak Ratna, ibu tirinya, sambil memegang ember plastik yang kini sudah kosong.
Ziva gemetar, memeluk dirinya sendiri yang basah kuyup di atas kasur yang kini ikut terendam. "I-iya, Bu... maaf..."
"Nggak usah lebay! Sana ke dapur! Banyak cucian piring dan baju kotor yang belum kamu sentuh!" bentak Ratna lalu melenggang pergi tanpa rasa bersalah.
Ziva melirik jam dinding. Dadanya sesak. Masih jam tiga subuh. Ia baru tidur kurang dari tiga jam, tapi di rumah ini, jam tiga adalah waktu bagi 'pelayan' untuk bekerja. Tanpa protes, ia mengganti baju dan langsung menuju dapur. Mencuci tumpukan piring berminyak, mencuci baju kotor keluarganya secara manual karena mesin cuci katanya hanya untuk baju Sanya dan Govan, lalu mulai memasak nasi.
Rutinitas ini adalah 'tiket' agar ia tetap diizinkan sekolah. Jika ia gagal menyelesaikan pekerjaan rumah, Ratna tidak akan ragu menyembunyikan kunci motor atau menyita tas sekolahnya.
Meminta tolong pada ayahnya, Pandu? Itu hal yang mustahil. Ayahnya lebih memilih menutup telinga daripada harus berdebat dengan istri barunya.
"ADUHH, MAH... SA-SAKIT!" teriak sebuah suara dari ruang tengah.
Ziva memutar bola matanya. Itu suara Sanya, kakak tirinya. Ia sudah hafal skenario pagi ini.
"ZIVAAA!" teriak Ratna menggelegar.
Ziva berjalan lesu ke ruang tengah. "Ada apa?"
"Gara-gara kamu, baju seragam Sanya jadi kotor! Makanya kalau ngepel yang bener, dasar anak bodoh!" Ratna tiba-tiba maju dan menjambak rambut Ziva dengan sangat kuat.
"Aww... sakit, Bu... lepas!" Ziva meringis, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sanya berdiri di belakang ibunya, tersenyum puas sambil melihat adegan itu. Sanya sangat ahli berakting. Ia sengaja mengotori lantainya sendiri hanya untuk mencari alasan agar Ziva dihukum.
"Ada apa sih? Pagi-pagi sudah ribut!" Pandu, ayah Ziva, turun dari tangga sambil mengucek mata.
"Ini Yah, Ziva sepertinya dendam banget sama Sanya. Dia sengaja biarin lantai licin sampai Sanya terpeleset," adu Sanya sambil bergelayut manja di lengan Pandu.
Ziva hanya diam. Ia menatap lantai. Membela diri hanya akan memperpanjang penderitaan. Pandu menatap Ziva dengan pandangan tajam yang penuh kekecewaan. Ia mengambil gagang sapu di sudut ruangan dan memukulkannya ke arah Ziva.
"Tahan, Ziva... lo kuat... lo kuat," batin Ziva sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah, menahan rasa sakit di punggung dan kakinya.
Govan, kakak tirinya yang lain, turun dari tangga dengan wajah acuh tak peduli, langsung menuju meja makan tanpa niat melerai.
Sesampainya di sekolah, napas Ziva tersengal-sengal. Ia harus berlari dari bengkel karena ban motor tuanya bocor di tengah jalan. Motor itu sudah terlalu sering bermasalah, namun ia tak punya pilihan. Ia sampai tepat saat mobil mewah ayahnya berhenti di depan gerbang.
Pandu turun, lalu membukakan pintu untuk Sanya. Ia mengecup kening Sanya dengan penuh kasih sayang. "Uang sakunya jangan lupa, Nak. Jangan makan sembarangan ya?" ucap Pandu sambil menyentil hidung Sanya gemas.
"Siap, Ayah sayang!" Sanya membalas dengan pelukan hangat.
Ziva berdiri di balik tembok gerbang, menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Rasa iri itu muncul lagi, merayap seperti racun di hatinya. "Sebenarnya... salah gue apa? Gue juga pengen dipeluk kayak gitu sekali aja," bisiknya lirih, air matanya jatuh membasahi seragamnya yang sudah lusuh.
Ia melihat mobil ayahnya perlahan meninggalkan kawasan SMA Cakra Buana. Ia merasa seperti orang asing di hidupnya sendiri. Sanya berjalan masuk dengan dagu terangkat, sementara Ziva harus menghapus air matanya dan memasang topeng ketangguhan sebelum memasuki kelas.
"Gue iri sama lo, Sanya. Sangat iri," gumamnya pelan sebelum melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan beban yang lebih berat dari tas punggungnya. Ia tahu, di sekolah ini ada Mahendra yang mungkin akan menambah kerumitan hidupnya, tapi setidaknya di sekolah, ia tidak akan disiram air atau dipukul dengan gagang sapu.