Naomi Allura Karina seorang mahasiswi jurusan manajemen yang sering disapa Karina itu meninggal karena ingin menyelamatkan anak kecil yang akan tertabrak mobil.
Bukannya pergi tenang ke surga tapi Karina justru masuk ke dunia novel dan terbangun sebagai Aurora Evangeline Elowen nona keluarga Duke Elowen.
Sialnya lagi dia terkenal sebagai nona yang sangat menggilai putra mahkota yang merupakan calon tunangannya. Dimana dia nanti akan mati ditangan tunangannya sendiri karena dituduh meracuni adiknya.
Karina bertekad untuk menjauhkan diri dari sang malaikat mautnya bagaimanapun caranya dan mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya.
Adelardo Aldric Luca Griffin sang putra mahkota yang berhati dingin dan kejam itu sangat tidak menyukai Aurora karena sikapnya yang selalu menjadi benalu baginya, tetapi suatu hari sang calon tunangannya itu tiba-tiba berubah menjadi membencinya.
Apakah Aurora yang merupakan Karina berhasil menjalankan rencananya dan mendapatkan kebahagiaan???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardatus Sholeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
surat untuk putra mahkota
Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu di depan umum, dan apa dia lupa kalau dia itu sangat membenci Aurora? Kenapa malah melakukan hal gila seperti itu!
Aurora berfikir kesal apalagi saat membayangkan hal tersebut
Sikapnya yang seperti itu bahkan lebih
menyeramkan dibanding, sikapnya yang seperti monster biasanya
Aurora bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja belajar nya, dia duduk dan mulai mengambil selembar kertas kosong
"Ah benar dimana penanya?" Tanyanya pada diri sendiri sambil mencari disekitar meja
Saat membuka sebuah laci Aurora mendapatkan
beberapa pena yang tersimpan rapi di dalamnya beserta dengan tintanya dan beberapa stampel
Aurora mengambil sebuah pena berwarna hitam dan tintanya lalu menutup kembali laci itu Aurora mengamati pena yang dipegang nya, pena ini ciri khas jaman sembilan puluhan dengan ujung pena yang sedikit gepeng
Aurora pun mulai menulis surat yang akan diberikan nya kepada putra mahkota, dirinya berusaha merangkai kata kata yang bagus dan sopan agar tidak menjadi masalah jika ada salah kata
Sambil mengetukkan pena di pelipisnya Aurora kembali membaca ulang surat yang telah selesai ditulisnya dengan teliti
" Sepertinya ini sudah benar tinggal memberikan amplop saja bukan" ujarnya sambil membuka laci pertama tadi untuk mengambil amplop
Saat mengambil amplop berwarna cream matanya tertuju pada stampel tadi, Aurora mengambil stampel itu dan membukanya
Didalam stampel itu tergambar sign miliknya dan tertulis namanya dibawah nya, apakah dia harus menambahkan stempel ini juga, sepertinya ini penting untuk identitas
Aurora akhirnya membubuhkan stampel nya di akhir surat dan di belakang amplop suratnya Setelah itu baru dirinya memasukkan suratnya ke dalam amplop dan merekatkannya agar aman
"Akhirnya jadi juga! Besok pagi aku akan memberikan ini pada Lily agar segera dikirim ke kerajaan. Sekarang saatnya tidur!" Aurora meletakkan suratnya di tengah meja dan kembali ke tempat tidurnya
Aurora menarik selimutnya dan berbaring di atas kasurnya dengan nyaman, seharian ini benar benar melelahkan sekali punggung nya rasanya ingin patah saat berbaring sekarang terasa sangat nyaman
"Ahh, Nyaman sekali. Akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang di ranjang ini lagi" Ucapnya sambil memejamkan matanya
"Semoga saja putra mahkota mau bekerja sama denganku, dan merubah pikirannya agar mau membatalkan perjodohan ini" Aurora berharap sambil menatap langit langit kamar yang terdapat lampu kristal di atasnya
Lama kelamaan mata biru langit itu terpejam karena kantuknya yang menyerang, hanya menyisakan wajah cantik yang tertidur dengan pulas
...****************...
Sinar matahari mulai muncul dari arah timur menandakan bahwa saat nya kembali beraktivitas
Seorang gadis dengan gaun tidur berwarna putih terlihat masih terlelap tenang, tidak terganggu dengan sinar dari matahari yang lewat melalui jendela kamarnya yang sudah terbuka
Namun di kamarnya sudah ada pelayan yang sibuk untuk menyiapkan perlengkapan dari gadis itu
"Gaun mana yang bagus untuk dikenakan Nona?"
Terlihat dua pelayan yang berdiri di depan almari besar yang menyimpan berbagai gaun dan baju dari Nonanya
Untuk memilih satu gaun saja lama sekali apalagi kalau ada dua pelayan, yang saling meminta pendapat jadi tambah lama
Padahal Nonanya memakai gaun apa saja pasti terlihat cantik
"Bagaimana kalau ini saja " ujar salah satu pelayan sambil mengambil sebuah gaun berwarna merah dengan ornamen yang cukup banyak
Lily menggeleng tidak setuju, Nonanya sekarang memiliki selera yang berbeda jauh dari dulu. Nona Aurora lebih suka gaun yang ringan dan berwarna soft
"Tidak Dea, nona Aurora pasti tidak akan menyukainya karena nona sekarang lebih suka gaun yang simpel" ujar lily pada temannya yang bernama Dea itu
"Kamu benar nona Aurora sudah berubah, bagaimana kalau ini" Dea kembali mengambil gaun dengan warna hijau yang sangat tertutup
Lily kembali menggeleng tidak setuju " itu terlalu tertutup dan panjang, pasti akan panas apalagi sekarang sedang musim panas"
"Kalau ini bagaimana? " ujar lily menunjuk gaun berwarna pink yang berlengan pendek tapi bahannya lebih tebal
"Kamu ini sama saja! Malah lebih parah bahannya itu !" Dea mendengus kesal
"Tapi lebih baik karena berlengan pendek! " Lily tidak mau kalah
"Tapi bahkan yang kamu pilih sangat tebal sekali Lily!" Seru Dea kembali
"Ada apa ini? Kenapa masih pagi tapi sudah sangat berisik " Kedua pelayan itu tersentak mendengar suara dari belakang, mereka kemudian menoleh kan kepalanya ke belakang
Dan nampak Aurora sudah terbangun dengan duduk menyender pada kepala ranjang, dengan mata yang masih menyipit mengantuk
Dari raut wajahnya nampak sekali kalau dia terganggu dengan suara dari kedua pelayan itu
"Itu nona Aurora maaf, kami sedang memilih kan gaun untuk nona hari ini" ujar lily sambil sedikit menunduk
"Benar nona Aurora, maafkan kami jika kami terlalu berisik dan mengganggu Nona " ujar Dea menimpali
"Benar Nona suara Dea memang sangat berisik" Ujar Lily melirik temanya
Dea melotot mendengar perkataan dari Lily "Hei kau juga berisik tau"
"Hentikan itu!" Aurora berkata tegas
Kedua pelayan itu langsung terdiam dan menatap Nonanya
Helaan nafas keluar dari bibir merah kecilnya lalu menatap ke arah pelayan pribadi nya dan temannya " Carikan aku gaun dengan warna pastel tertutup yang ringan "Finalnya yang dijawab anggukan oleh keduanya
"Baik Nona!" Jawab Lily dan Dea bersamaan dan segera melaksanakan tugasnya
Satu jam kemudian Aurora telah rapi dengan gaun berwarna pastel permintaan nya tadi, hanya saja lengannya terlalu pendek sehingga harus ditambah dengan outer
Dengan rambutnya yang diikat menjadi satu dengan pita berwarna pink, dan bandana bermotif bunga daisy membuatnya terlihat seperti anak-anak
Aurora meraih suratnya yang terletak di meja sejak semalam dan menyodorkannya ke pada Lily yang ada di sampingnya
"Lily bantu aku untuk mengirimkan surat ini kepada putra mahkota, dan pastikan surat ini sampai ditangannya" ucapnya pada Lily yang dibalas dengan kebingungan di wajahnya
"Ada urusan yang harus aku selesaikan dengan putra mahkota, jadi aku minta tolong pada kalian agar jangan ada yang mengetahui hal ini" Aurora memandang kedua pelayan itu bergantian
Lily dan Dea saling tatap dan kemudian mengangguk paham " Kami akan segera mengirimkan surat ini Nona" Keduanya menunduk hormat kemudian keluar dari kamar Aurora
" Lebih baik aku berjalan jalan saja, lagian dikamar terus juga bosan" Membenarkan outernya lalu keluar dari kamarnya
Saat sampai di bawah ruang keluarga terlihat sepi, kemana semua orang? Biasanya ibunya akan duduk di sana untuk membaca sambil minum teh. Kedua kakaknya juga tidak terlihat
Aurora melangkah ke arah pintu utama dan bertemu dengan beberapa pelayan yang membawa sayuran dan susu, sepertinya mereka dari kebun belakang
Para pelayan itu berhenti kemudian menunduk hormat pada Aurora yang dijawabnya dengan senyuman
"Apa kalian tahu kemana semua keluarga ku? Kenapa sangat sepi" Tanyanya pada para pelayan itu
Salah satu pelayan mengangguk "Untuk Duke Aaron dan Duchess Mirabella beliau berdua sedang berkunjung ke kota sebelah Nona untuk menghadiri pernikahan kolega dari Duke Aaron"
"Sedangkan untuk tuan muda pertama dan kedua mereka sedang berlatih di halaman samping dengan para pengawal dan kesatria Nona " Sambung pelayan itu
"Owh begitu ya, kalau begitu aku akan mencari kakakku saja. Terima kasih " Aurora kembali tersenyum
lalu melenggang menuju halaman samping kediaman.
injak tuh kaki pangeran sombong