Hidup dalam kemiskinan membuat Reina gelap mata dan akhirnya mencuri dompet pria asing bernama Richie. Tapi, kalau emang dasarnya lagi kurang beruntung ya percuma! Dompet yang ia curi kosong dan hanya berisi rentetan ATM.
Apesnya lagi, Richie ternyata bukan pria sembarangan dan dia sudah menandai Reina yang berani merampoknya!
Dapatkah Reina berhasil kabur dari tindakan kriminalnya? Atau roda takdir berkata lain dan Richie berhasil menangkap jodohnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marthin Liem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Situasi semakin mendebarkan, Melvin berusaha mengatakan,"Rein, maukah kau menjadi pacarku?"
Kedua pipi Reina langsung merona di buatnya.
"Ka..kau serius, Melvin?" tanya Reina yang seakan tak percaya, dan Melvin mengangguk dengan cepat sambil melempar senyuman.
"Ya, tentu saja, aku serius, aku ingin kau jadi pacarku," jawab Melvin, kini tangan kanannya melingkar di bahu Reina, gadis itu semakin mendekatkan tubuhnya di sisi Melvin saat ini.
Terasa jelas irama detak jantung yang berpacu semakin cepat ketika Melvin mengusap lembut ujung rambutnya.
"Ya, Melvin, aku bersedia jadi pacarmu." Reina memberikan jawaban dengan segera terhadap Melvin, lalu Reina mengangkat jari kelingking, dan Melvin membalasnya.
"Terimakasih ya, karena kau sudah menerimaku," ucap Melvin sambil mengaitkan jari kelingkingnya, dan Reina tersenyum.
"Hari ini kita resmi pacaran," bisik Reina, kemudian ia mengambil sebuah ranting pohong lalu ia mengukir nama dirinya dan juga Melvin berikut tanggal, hari, dan tahun ini sebagai memori jika mereka telah resmi berpacaran.
Melvin mengarahkan timer di kamera ponselnya, kemudian ia letakan di bawah, dengan batu sebagai penyanggahnya.
Mereka berpose dengan berbagai macam gaya mencari angle terbaik untuk di abadikan.
Keduanya tampak have fun, diiringi suara canda dan tawa mewarnai senja, disertai tenggelamnya sang surya ke peraduan.
Mereka semakin terbawa suasana yang kian lama kian romantis, tak bisa terucap oleh kata-kata, semuanya terasa manis dan indah.
Sampai tiba-tiba, Melvin mengangkat panggilan telpon dari seseorang tepat di hadapan Reina saat ini.
"Ya halo..." Sapa Melvin ketika mengangkat ponselnya.
"Sayang bentar ya, aku mau angkat telpon dulu," izinnya kepada Reina.
"Ya, silahkan," balas Reina tanpa menaruh curiga, dan Melvin berlari kecil ke tempat yang agak jauh dari jangkauan Reina saat ini.
Melvin tampak serius saat berbicara dengan seseorang di telpon, Reina hanya bisa memperhatikan dari jarak cukup jauh, ia melihat terkadang Melvin tersenyum, dan tertawa kecil.
"Kira-kira, dia sedang telponan dengan siapa, ya? tampaknya asyik sekali," batin Reina, ia sempat menaruh curiga, sehingga ia berinisiatif untuk menyusulnya.
"Tapi...sebaiknya aku tetap disini saja, kalau aku kesana nanti takut di kira tak sopan karena sudah mengganggu privacy-nya." akhirnya Reina mengurungkan niat untuk menghampiri Melvin, dan membiarkannya sampai selesai berbicara di telpon.
Tak beberapa lama Melvin kembali, dan Reina langsung menyambutnya dengan pertanyaan.
"Kau habis telponan dengan siapa, sih?"
"Eh, anu...tadi aku habis telponan dengan Kakakku yang sedang kuliah di Jepang," jawabnya berdusta, dan Reina langsung mengerucutkan tepi bibirnya.
"Oh, tapi kok harus jauh-jauh angkat telponnya?" tanya Reina kembali, kali ini penuh selidik.
"Ya, soalnya ini lebih ke private saja sih, obrolan serius antar keluarga. Ya sudah ya, tak usah di bahas juga." Melvin mencoba mengalihkan pembicaraan, dan Reina mengangguk mencoba memahaminya.
"Hmm...baiklah kalau begitu, maafkan aku ya sudah berpikir yang bukan-bukan kepadamu," ucap Reina penuh penyesalan, dan Melvin tersenyum.
"Ya, tak apa-apa lah," balasnya. "sepertinya aku musti cepat pulang."
"Hmmm." Reina mencebik bibirnya, karena ia masih ingin bersama Melvin meski matahari sudah tak menampakan eksistensinya lagi.
"Maafkan aku, aku di suruh pulang segera oleh Ayahku," kata Melvin kembali. Mendengar hal itu, Reina merasa aneh, pasalnya tadi Melvin berkata jika dirinya habis telponan dengan Kakakknya yang sedang kuliah luar Negri, tetapi sekarang memberi keterangan yang berbeda.
"Kapan Ayahmu menyuruh pulang?" tanya Reina, Melvin langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Eh anu...tadi Ayahku chat, katanya aku di suruh pulang cepat," jawabnya sedikit tergagap. Namun, Reina berusaha untuk percaya padanya.
"Oh, ya sudah kalau begitu." Reina mengangguk mencoba memahami situasi.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, Melvin mengantarkan Reina terlebih dulu ke apartemen.
Di sepanjang perjalanan hanya hening, Reina memeluk tubuh Melvin dari belakang sambil menempelkan dagunya di bahu pemuda itu, meresapi perasaannya sendiri.
Tampaknya Melvin sedang di nantikan seseorang di luaran sana, tetapi ia berusaha menyembunyikannya dengan cara memberi perhatian selayaknya kekasih terhadap Reina.
...
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan gedung apartemen.
Reina turun dari jok belakang motor Melvin, lalu tersenyum padanya.
"Terimakasih untuk hari ini, aku sangat senang sekali," ucap Reina dari lubuk hati yang terdalam, dan Melvin membalas senyumannya juga.
"Ya sama-sama, akupun demikian, terimakasih juga ya, karena kau sudah membalas cintaku." Melvin meraih tangan Reina kemudian mengecup punggung tangannya dengan mesra, membuat gadis itu kembali tersipu dan merasa istimewa.
"Sayang, bolehkah aku mengantarmu sampai depan pintu unit?" tanya Melvin dan Reina mengangguk cepat.
"Ayo!" ajak Reina, kemudian Melvin memarkirkan motornya di parkiran jalanan.
"Bang, saya titip motor saya sebentar!" teriak Melvin kepada Gayus, tukang parkir jalanan.
"Oh, oke!" sahut Gayus, kini Melvin dan Reina berjalan ke laman apartemen super elit itu, tetapi kehadiran Melvin di cegah oleh seorang Security penjaga, pasalnya ia merupakan orang luar dan tidak ada kepentingan khusus.
"Maaf, kau di larang masuk, kecuali dia!" cegah Fendy, seorang Security penjaga sambil menunjuk hanya Reina saja yang boleh masuk ke dalam.
"Loh, saya hanya ingin mengantarkannya saja kok," pinta Melvin, tetapi Fendy tetap tak mengizinkan orang luar masuk sembarangan.
"Tidak bisa!" larang Fendy, membuat Melvin menyerah, sementara Reina tak bisa angkat suara karena sudah menjadi ketentuan disana, dan ia juga tak punya wewenang.
"Ya sudah kalau begitu," kata Melvin dengan wajah datar dan menekuk.
"Maafkan aku ya Melvin," ucap Reina yang merasa tak enak padanya, dan Melvin mengangguk paham.
"Ya, tak apa-apa, selamat malam." Melvin tersenyum sambil berlalu dari hadapannya, sementara Reina kembali ke gedung apartemen seorang diri, ia berjalan menuju lobby.
Singkat cerita, ia sudah berada di ruangan unit dengan wajah yang teramat ceria saat menyandang statusnya sebagai kekasih Melvin.
"Melvin, akhirnya..." batin Reina dengan hati yang berbunga-bunga.
Ia segera membersihkan tubuhnya ke kamar mandi, lalu mengganti pakaiannya, kali ini Reina mengenakan baju piama.
Saat itu Richie belum juga pulang, ia masih sibuk di kantor mengurusi urusan pekerjaanya yang tak sedikit.
Sehabis mandi, Reina teringat akan tugas PR yang harus segera ia kerjakan.
"Oh, iya aku sampai lupa, aku kan musti mengerjakan PR Fisika." Reina bergegas ke dalam kamarnya, kemudian mengambil beberapa buku, dan ia memutuskan untuk mengerjakan di ruang tengah.
Kini ia fokuskan seluruh pikiran untuk tugas yang sedang di kerjakannya, Reina tampak serius ketika itu, karena ia ingin mendapatkan nilai terbaik.
Ia membaca semua rumus, kemudian menulis, begitu seterusnya, hingga kedua matanya terasa begitu berat.
"Hoam...." Reina menggeliatkan tubuhnya sambil menguap, tanpa sadar ia terlelap dengan meletakan kepalanya diatas meja dan lipatan kedua tangan sebagai bantalnya.
Tak beberapa lama, Richie kembali, ia tersenyum ketika melihat Reina tertidur di ruang tengah dengan buku pelajaran yang tampak berantakan.
"Manis sekali," batin Richie, ia menatap intens kearahnya, dengan iseng ia mendekati, kemudian mencoba menyentuh pipinya yang agak chubby.
"Melvin..." tanpa sadar, Reina menyebut nama itu ketika masih memejamkan kedua matanya, hal itu membuat Richie langsung mengerutkan kening.
"Melvin?" batin Richie, ingin ia mempertanyakan kepada Reina siapa nama yang sudah ia sebut. Namun, Richie tak ingin membangunkannya.
Richie akhirnya membiarkan Reina dengan posisi seperti itu, sementara ia membuka kancing kemeja satu persatu hingga menampilkan tubuhnya yang bidang dan atletis.
Ia meraih barble untuk melatih otot-otot lengannya, ia lakukan tepat di hadapan Reina yang masih terlelap.
Gadis itu tiba-tiba membuka matanya, sontak kedua matanya langsung membulat dengan sempurna ketika menyaksikan Richie tengah bertelanjang dada di hadapannya.
"Pak Richie..." serunya, Pria itu langsung melirik sambil terus menggerakan 2 barble yang di genggamnya, masing-masing memiliki berat 10 kg.
"Ya, My sweety," sahutnya, mendengar nama panggilan baru itu, Reina langsung mengernyitkan dahi, dan ia mengira itu hanya candaan semata.
"Kalau kau ngantuk sebaiknya segeralah tidur, atau kau mau makan terlebih dahulu?" tawarnya, dan Reina menggeleng.
"Tidak Pak, terimakasih, saya masih kenyang, tadi habis makan diluar," jawab Reina, Richie meletakan 2 benda berat itu di bawah lantai, kemudian menghampirinya.
"Kau habis dari luar? memangnya pergi sama siapa? Melvin?" cecar Richie dengan pertanyaan, Reina mengangguk sambil tersenyum.
"I...iya Pak," jawabnya sedikit gugup, lantas Richie merasa patah hati, tetapi ia tak ingin mengungkapkannya secara langsung.
"Melvin, dia siapamu?" Richie semakin penasaran, Reina kembali tersenyum malu.
"Dia...dia..."
"Pacarmu?" pungkas Richie, dan Reina mengangguk pelan.
"Oh!" kata Richie sambil memutar kedua matanya jengah di hadapan Reina.
sampai akhirnya ia hanya bisa memendam perasaanya sendiri, ia akan menunggu sampai Reina peka.
"Mungkin karena aku terlalu tua 10 tahun dengannya," batin Richie, sedangkan Reina tengah sibuk membalas chat dari kekasihnya itu.
Richie sedikit mengintip percakapan mereka di ponsel Reina.
"Aish! Pak Richie jangan mengintip." Reina kini membelakanginya, sedangkan Richie bergeming tak bersuara ketika menyaksikan semua itu.
"Pak, memangnya Bapak beneran belum punya pacar? jangan bilang kalau gosip itu benar," celetuk Reina yang secara tiba-tiba, mendengar hal itu Richie langsung bereaksi, ia memutar tubuh Reina, kini keduanya saling berhadapan.
"Apa kau bilang?! jadi selama ini kau menganggap aku pria tak normal, iya?!" bentaknya sambil membelalakan kedua mata, dengan sorotan tajam.
"Ti...ti..tidak, bukan itu maksud saya," kilah Reina gemetar.
"Apa pembuktian tadi siang masih belum cukup?!" Richie mencoba mengunci pergerakan Reina saat ini.
...
Bersambung...