NovelToon NovelToon
KAKAK TIRIKU JODOHKU

KAKAK TIRIKU JODOHKU

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Romantis / Tamat
Popularitas:718.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lusica Jung 2

Aster Jung adalah gadis cantik dan satu-satunya putri dalam keluarga Jung. Aster memiliki teman masa kecil bernama Zian Rey. Awalnya semua baik-baik saja tapi persahabatan mereka perlahan merenggang saat keduanya beranjak remaja hingga Rey dan Aster menjadi musuh bebuyutan.

"Zian Rey, aku tidak akan pernah kalah darimu. Akan ku buktikan pada dunia jika aku lebih baik darimu."

Banyak yang menyayangkan renggangnya persahabatan mereka termasuk keluarga besar Rey dan Aster. Mereka ingin mereka bisa bersatu. Hingga sebuah keputusan besar pun diambil, Aster dan Rey menjadi saudara tiri.

Dan seiring berjalannya waktu benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua. Rey dan Aster saling mencintai namun sama-sama tidak ada yang menyadari perasaan masing-masing. Dan Rey baru menyadari betapa besar arti kehadiran Aster setelah wanita itu pergi dari hidupnya.

Enam tahun kemudian Aster kembali dengan seorang gadis kecil bernama Hanyeon.

"Sebenarnya dia adalah Putri kandungmu. Benih yang malam itu kau tanam di dalam rahimku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 "Noda Darah Misterius"

"Sayang, apa kau sudah memikirkan baik-baik mengenai keputusanmu ini?"

Sekali lagi Kahi memastikan tentang keputusan putrinya untuk pergi ke America dan melanjutkan kuliahnya di sana. Tentu Kahi tidak bisa melarang apalagi mencegahnya karna itu adalah keinginan Aster sendiri, dan yang ingin dia temui bukanlah orang lain melainkan Ayah kandungnya sendiril.

Meskipun hubungan Kahi dan Marcel sudah berakhir sejak beberapa tahun yang lalu, tapi hubungan antara ayah dan anak itu masih tetap baik-baik saja. Bahkan Marcel tetap memberikan cinta yang sangat besar pada putri tunggalnya tersebut. Mantan Istri memang ada, tapi mantan ayah dan anak tentu tidak ada.

Kahi sadar jika ada saatnya di mana dirinya dan Aster memang harus berpisah tapi yang membuat sedih Kahi, kenapa harus sangat tiba-tiba dan ia berharap agar Aster bisa merubah keputusannya tersebut.

Kahi menghampiri Aster yang berdiri termenung di ambang jendela kamarnya yang terbuka. Wajahnya mendongak menatap langit biru, sorot matanya terlihat kosong. "Aster, Ibu mohon pikirkan lagi, Nak." Aster menggulirkan pandangannya pada sang Ibu, raut wajahnya berubah sendu

"Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang, Ibu. Ibu, tidak perlu merasa sedih dan kehilangan, meskipun nantinya kita akan saling berjauhan, tapi hal itu tidak akan merubah apapun diantara kita berdua. Aku akan tetap menjadi putrimu, dan itu tidak akan berubah." Tutur Aster.

Kahi menarik bahu Aster dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. Ia merasa berat untuk melepaskan putrinya pergi.

Sejak berpisah dengan Ibunya. Ayah Aster kemudian menikah lagi dengan wanita yang usianya 10 tahun lebih muda darinya. Wanita itu bernama Emma, hubungan Aster dan Emma sendiri sangatlah baik. Meskipun dia hanya Ibu sambung, tapi dia menyayangi Aster seperti putrinya sendiri apalagi Emma tidak memiliki keturunan dari ayah Aster

Kecelakaan yang pernah dia alami membuat Ailee kehilangan haknya untuk menjadi seorang Ibu. Kandungan Emma terpaksa diangkat demi menyelamatkan nyawanya.

Kahi melepaskan pelukkannya. "Meskipun sangat berat, tapi Ibu akan melepaskanmu dan mengijinkanmu pergi. Kau juga membutuhkan, ayahmu dan seperti ibu mudamu juga sudah sangat merindukan Putrinya ini. Kau butuh pengalaman baru untuk bisa melihat dunia lebih luas lagi. Jaga dirimu baik-baik selama di sana dan jangan lupa untuk selalu menghubungi, Ibu. Ibu, pasti akan sangat merindukanmu, Putriku." Ucap Kahi panjang lebar.

Aster menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk mata Kahi dan tersenyum tipis. "Ibu, jangan menangis. Kau terlihat sangat jelek. Jadi tersenyumlah, jangan membuatku semakin sedih." Dumal Aster sambil mencerutkan bibirnya. "Ibu, aku lapar. Bisakah kau membuatkan ramen untukku?" renggek Aster memohon.

Kahi mendengus geli "Dasar perut karet. Ibu, benar-benar merasa heran, makanmu sangat banyak tapi kenapa berat tubuhmu tidak mau naik. Lupakan soal ramen, sebaiknya sekarang bantu Ibu menyiapkan makan malam." ucap Kahi di tengah langkahnya. Aster menghembuskan nafas berat, sambil menghentakkan kakinya dan berkomat-kamit. Gadis itu segera menyusul Kahi yang sudah keluar lebih dulu.

Aster menghentikan langkahnya saat melihat pintu kamar Rey sedikit terbuka, alunan merdu suara Rey yang diiringi petikan gitar langsung berkaur di dalam telinga Aster. Gadis itu mendekati pintu itu dan mendapati Rey yang duduk dilantai dengan punggung bersandar pada tempat tidurnya. Aster menyernyit heran. "Tumben dia ada di rumah? Biasanya jam segini, rusa kutub, itu pergi bersama mantan kekasihnya." Gumam Aster

Aster mendorong pintu didepannya dan menghampiri Rey yang tampak terkejut dengan kedatangannya. Pasalnya ini adalah pertama kalinya gadis itu menginjakkan kakinya lagi dikamarnya setelah dua bulan.

"Aster, ada apa?" Rey meletakkan gitarnya disamping kanannya. Iris abu-abunya menatap sosok jelita yang sekarang duduk berhadapan dengannya.

"Kenapa berhenti? Aku suka sekali dengan lagu itu. Bisakah kau menyanyikan sekali lagi lagu itu untukku? Please." Renggek Aster memohon.

"Mau menyanyi bersama?" Tawar Rey. Aster tersenyum dan mengangguk antusias.

Alunan merdu suara Aster dan Rey yang berpadu dengan petikan gitar menghasilkan sebuah melody yang begitu indah dan menenangkan. Lagu itu mengisahkan tentang sepasang sahabat yang saling menyayangi tapi tidak ada yang saling menyadari. Dan rasa kehilangan itu begitu terasa ketika mereka berdua saling berjauhan.

Entah karna terlalu menghayati lagunya atau karna hal lain, Aster sampai menitihkan air matanya. "Aster, kenapa kau menangis?" Tanya Rey kebingungan. Alih-alih menjawab pertanyaan Rey. Aster malah berhambur ke dalam pelukkan pemuda itu dan terisak pelan. "Hei, ada apa?" Rey semakin bingung.

Rey hendak melepaskan pelukkan itu tapi ditahan oleh Aster. "Sebentar saja, biarkan seperti ini. Aku ingin memelukmu seperti ini selama beberapa saat saja, aku mohon." Lirih Aster memohon.

"Aster?" gumam Rey. Rey mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan gadis bermarga Jung tersebut. Aster menutup matanya dan air matanya kembali menetes dari pelupuknya

"Aku pasti akan sangat merindukanmu." Lirih Aster bergumam. Rey menyernyit bingung

"Maksudmu?" Aster menggeleng, kemudian dia melepaskan pelukkannya dan beranjak dari hadapan Rey. Gadis itu berjalan menuju sudut kamar Rey di mana sebuah lemari pendingin berada.

"Temani aku minum sampai mabuk," Aster kembali dengan sebotol wine lengkap dengan dua gelas berkaki tinggi dan beberapa potong es batu.

Rey menatap Aster tak percaya

"Kau yakin?" Gadis itu mengangguk. Rey mendesah berat, dengan terpaksa dia mengiyakan permintaan tak biasa Aster. Dilarang pun percuma mengingat bagaimana keras kepalanya gadis itu.

Belum setengah botol Aster meminum wine itu ia sudah merasa panas. Tanpa ragu dia melucuti semua pakaiannya dan hanya menyisahkan pakaian dalamnya saja. Aster merebahkan tubuhnya pada kasur king size milik Rey dengan posisi terlentang. "Aster Jung, apa-apaan kau ini? Pakai kembali semua pakaianmu." Pinta Rey.

Bukannya menuruti, Aster malah menarik Rey dan membuat pemuda itu jatuh di atas tubuhnya. "Aster, lepaskan. Apa yang kau lakukan." Rey berusaha meloloskan diri dari Aster yang tiba-tiba menjadi sangat agresif. Gadis itu memeluknya terlalu erat

"Aster, lepaskan." Pinta Rey untuk yang ketiga kalinya.

"Tidak mau. Jika aku melepaskanmu pasti kau akan meninggalkanku dan pergi ke mantan kekasihmu itu." Ucap Aster dengan suara paraunya.

Gadis itu menakup wajah Rey dan langsung menyergab bibir kiss ablenya. Mel*matnya secara terus menerus, Aster tetap tidak mau melepaskan ciumannya meskipun tidak ada balasan dari Rey. Rey masih bisa mengontrol dirinya. Dia tidak ingin menyerang Aster yang berada di bawah pengaruh alkohol. Padahal dia memiliki kesempatan karna situasinya yang begitu menguntungkan.

Aster melepaskan tautan bibirnya setelah beberapa saat. Jari-jari lentiknya menghapus jejak air mata di wajah cantiknya. "Temani aku minum lagi sampai benar-benar mabuk. Untuk sejenak saja aku ingin menghilangkan semua yang membebani fikiranku." Aster menatap Rey yang masih membeku kemudian beranjak dari posisinya.

Rey mendesh berat. Ia sungguh tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Rey meraih selimutnya kemudian dia takupkan pada tubuh Aster yang setengah tanpa busana. Kemudian Rey duduk berhadapan dengannya dan mereka lanjut minum.

Setelah lebih dari tiga puluh menit. Sedikitnya ada tiga botol wine yang tergeletak di lantai, Rey dan Aster sudah sama-sama mabuk berat. Aster yang merasa pusing memutuskan untuk merangkak keatas tempat tidur Rey dan membaringkan tubuhnya di sana dalam posisi terlentang.

Kepalanya terasa pusing dan matanya rasanya berkunang-kunang. Aster merasa semua yang berada disekitarnya berputar-putar. "Hahahah! Kenapa rasanya aneh begini. Rey, kepalaku pusing dan kenapa semua yang aku lihat rasanya berputar? Bahkan tubuhmu terbelah menjadi dua." Oceh Aster yang mulai kehilangan kesadarannya.

Rey ikut merebahkan tubuhnya di samping Aster dengan posisi menyamping dengan salah satu tangan sebagai bantalan kepalanya. Posisi mereka saling berhadapan, mereka saling menatap dalam diam. Aster mengangkat tangan kanannya dan jari-jarinya menyusuri setiap lekuk wajah Rey mulai dari kening kemudian turun ke dahi dan berhenti dibibirnya. "Berapa kali kau dan, Bella, berciuman?" Tanya Aster penasaran.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Rey menggenggam jari-jari lentik Aster dan sedikit meremasnya. "Apa kau merasa cemburu?" Rey menggeleng.

"Tidak suka lebih tepatnya."

Rey meraih tengkuk Aster lalu menyatukan bibir mereka. Gadis itu menutup matanya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Rey. Aster menerima setiap lum*tan-lum*tan bibir Rey. Begitu basah dan menghanyutkan. Mereka berdua dalam keadaan mabuk berat sehingga tidak ada yang sadar dengan apa yang mereka katakan dan lakukan. Bahkan mereka tidak ada yang memprediksi apa yang akan terjadi setelah ini.

.

.

.

Rey menggeram sambil mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah. Kelopak matanya terbuka secara perlahan dan menampilkan sepasang mutiara coklat yang tajam. Kemudian ia menggulirkan pandangannya pada jam yang tergantung di dinding dan waktu sudah menunjuk angka 11 malam.

Rey merubah posisinya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Pemuda itu mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan yang ia ingat hanyalah ketika Aster menghampirinya kemudian mereka bernyanyi bersama lalu gadis itu mengajaknya untuk minum.

Rey mengulirkan pandangannya dan tanpa sengaja ia melihat ada noda merah diatas spreinya. Rey memeriksa noda yang mirip darah tersebut dan menyernyit bingung. "Darah? Bagaimana bisa ada darah di sini? Siapa yang terluka? Mungkinkah, Aster?" Ucap Rey kebingungan.

Pemuda itu menyambar singlet hitamnya dan menghampiri Aster dikamarnya untuk memastikan apakah dia terluka atau tidak. "Aster, apa kau sudah tidur?" tanya Rey memastikan. Legang dan tidak ada jawaban. Gadis itu sudah terlelap dalam mimpinya. Rey mendekati Aster kemudian duduk disebelahnya. Menatap wajah Aster yang terlihat begitu damai.

Kemudian Rey memeriksa setiap inci pada tubuh Aster untuk memastikan apakah ada luka atau tidak. Dan Rey tidak menemukan luka apapun ditubuh gadis itu.

Rey termanggun, otaknya bekerja keras untuk mengingat apa yang sudah terjadi tadi dan darah itu? Rey sangat-sangat penasaran. Pemuda itu menunduk dalam posisi duduknya. "Aaarrrkkk." dan menggeram sambil mengacak kasar surai coklat terangnya.

Pemuda itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan kamar Aster. Rey pergi ke ruang keluarga sambil membawa sebotol wine lengkap dengan gelas dan beberapa potongan es batu. "Darah apa itu sebenarnya? Aku tidak terluka begitu pula dengan, Aster. Mungkinkah darah itu adalah darah-?" Rey tidak melanjutkan ucapannya.

Pemuda itu menggeleng kuat, mencoba menghilangkan fikiran buruk itu dari kepalanya. "Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?" ucap Rey sambil memijit kepalanya yang berdenyut.

Cklekk..!

Rey menoleh mendengar decitan suara pintu di buka , terlihat Kris meninggalkan kamarnya dan berjalan menghampirinya "Rey, kau belum tidur?" Tegur Kris yang kemudian duduk disamping Rey. "Kau melewatkan makan malam? Aku fikir kau sedang kurang enak badan." Imbuhnya menambahkan.

"Lalu bagaimana dengan, Aster? Apa dia melewatkan makan malamnya juga?" Tanya Rey memastikan.

Kris menggeleng. "Cuma kau saja, dan sepertinya dia terlihat kurang enak badan. Wajahnya sedikit pucat." Tuturnya.

Ucapan Kris membuat Rey terdiam. Benarkah Aster kurang enak badan? Bukankah tadi dia baik-baik saja, semua teka-teki itu semakin membuat Rey penasaran. Dan satu-satunya cara menemukan jawaban dari semua pertanyaannya adalah dengan bertanya langsung pada Aster

"Kembalilah kekamarmu, ge." Ucap Rey seraya bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Menyisahkan Kris sendiri diruangan itu.

🌹🌹🌹

Dua bulan telah berlalu tapi Rey belum juga mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang mengganggu fikirannya. Bahkan teka-teki tentang darah misterius di atas spereinya pun masih belum bisa dia pecahkan. Aster selalu menghindar setiap kali Rey mencoba bertanya dan itu membuat perasaan Rey semakin tak tenang.

Malam yang dingin telah berlalu, bulan telah kembali keperaduannya dan posisinya digantikan oleh mentari pagi yang hangat.

Di sebuah ruangan yang di dominasi warna putih dan biru. Terlihat seorang pemuda yang masih terlelap dalam mimpinya. Aroma lezat makanan yang berasal dari dapur membuat tidur nyenyaknya sedikit terusik, pemuda itu membuka matanya dan waktu sudah menunjuk angka 06.30 pagi .

Pemuda itu 'Rey' bangkit dari posisi berbaringnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua.

Dan tiga puluh menit kemudian Rey telah siap dengan sebuah jeans belel hitam, t-shirt putih berlengan pendek yang mengikuti lekuk tubuhnya dibalut vest hitam V-Neck.

Rey meninggalkan kamarnya dan diluar tanpa sengaja ia berpapasan dengan Aster yang menyapanya dengan senyum manisnya. "Pagi." Sapa gadis itu dengan wajah sumringah. Rey memicingkan matanya, ia merasa aneh dengan sikap adik tirinya tersebut. Sejak malam itu sikapnya tidak sedingin biasanya.

Rey meletakkan tangannya pada kening Aster. "Tidak panas." Ucapnya. Aster mendecih dan menyentak tangan Rey dengan kasar

"Kau fikir aku gila." Rey menyentil kening Aster dengan gemas.

"Habisnya sikapmu sangat aneh selama dua minggu belakangan ini." Jawab Rey menimpali.

Dering pada ponsel Reymengintrupsi perdebatan keduanya. Terlihat nama Bella menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Rey hendak menerima panggilan itu tapi ponselnya segera direbut oleh Aster. "Hallo, Bella. Ini aku. Hari ini, Rey, akan menemaniku. Oke aku tutup dulu, byebye."

Rey memutuskan sambungan telfonnya begitu saja kemudian menyembalikan ponsel itu pada pemiliknya. "Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku merinding Tuan, Zian." kemudian Aster memeluk lengan Rey sambil menatap wajahnya dengan senyum mengembang. "Khusus hari ini kau milikku, Tuan Zian. Jadi temani aku berjalan-jalan, oke."

Rey menatap bingung gadis disampingnya, ia merasa bingung dengan sikap Aster. Gadis itu bertingkah aneh dan tidak seperti biasanya. Aster mengangkat tangannya dan mengarahkan pada wajah Rey."Jangan menatapku seperti itu, bisa-bisa kau jatuh cinta padaku dan bisa-bisa kau sangat merindukanku jika aku tidak berada disisimu.." Oceh Aster terkekeh.

"Kalian mau pergi?" tegur Kahi pada Aster dan Rey, keduanya menoleh serentak.

"Ibu, pagi ini kami tidak ikut sarapan di rumah dan mungkin akan pulang agak terlambat. Aku ingin menghabiskan hari ini bersama kakakku yang mirip kutub ini. Oke, Ibu, kami berangkat dulu. Rey, kaja." Aster melambai pada Kahi.

"Hati-hati dan jika bisa jangan pulang terlalu malam." Pesan Kahi dengan suara sedikit meninggi.

"Aku tau." Sahut Aster menimpali.

.

.

.

BERSAMBUNG.

1
Rohimatul Amanah
Luar biasa
EndRu
ada Luhan dan Jessika di sini .. hemmm
EndRu
Aster kok bermarga Xi
Dan typo lain . ada Jian juga. haduh
EndRu
Tiba tiba ada Jia. Jesica
typo Thor 🙏
EndRu
visual Rry pakai eyepact seperti apa ya
EndRu
Drakor nya keren banget
EndRu
sering banget typo Jessika.. terus siapa lagi.itu
EndRu
Rey kayak Ketua mafia ya
EndRu
dijadikan berkedel mereka nanti. beraninya mengusik Rey
EndRu
misal pakai pengawal mungkin lebih aman Rey
EndRu
mbayangin cantik dan nggemesinjya Hanyeon
EndRu
perjuangan Aster luar biasa.
Rey akan selalu merasa bersalah mengingat beratnya perjuangan Aster. berbahagialah sekarang
EndRu
haru begini...
rengekan sang putri akhirnya membuat Naluri seorang Ibu luluh..
keputusan yang tepat Aster.
putrimu berhak tahu siapa ayahnya
EndRu
Nyesek yak
EndRu
mewek aku Kak 😭😭😭
EndRu
baru NGEH..
Choa ternyata laki laki
Ellnara: Choa itu cewek kakak
total 1 replies
EndRu
ini kayaknya nih sengaja deh. ditinggal berdua di rumah biar akur gitu..
EndRu
aria6 mana tahu klo kamu sebenarnya memendam rasa kepada adik tiri mu sendiri Rey
EndRu
Rey ga ambil fotonya Aster nih. kan cakep tuh
EndRu
ini di negeri mana ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!