NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Di balik kaca klinik hewan, Hana masih terlihat bergumul dengan dokter perempuan itu. Beberapa pegawai berusaha menahan, sementara seekor kucing dalam kandang mengeong keras seolah ikut memprotes kekacauan manusia.

Arka menatap pemandangan itu dengan perasaan sulit dijelaskan.

Ia tidak kasihan.

Belum sejauh itu.

Namun melihat wanita yang dulu membuatnya merasa bersalah selama bertahun-tahun kini kehilangan kendali di depan klinik hewan, rasanya tetap aneh. Hidup punya cara balas dendam yang kadang lebih sinis daripada manusia.

Bianca menoleh. "Kamu mau menolongnya?"

"Tidak."

"Yakin?"

"Dia dokter manusia. Kalau sakit, dia tahu harus ke mana."

Bianca tidak bertanya lagi. Beberapa detik kemudian, ia berkata, "Selamat."

"Untuk apa?"

"Karena sudah lepas."

Arka menyalakan mobil lagi. "Iya. Bebas utang, bebas istri beracun. Lumayan untuk satu minggu."

Bianca hampir tersenyum. "Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan punya sopir yang bisa mengobati orang, membaca formasi, dan memilih imperial green."

"Kalau Bu Bianca merasa berutang budi pada mantan istriku, jangan kirim bunga. Dia bisa salah paham."

"Aku tidak akan mengirim apa pun."

"Bagus."

Mobil masuk ke garasi bawah tanah Lestari Intimates. Begitu pintu terbuka, Liana sudah menunggu bersama sekretaris perusahaan. Matanya langsung berbinar melihat kotak pengaman di kursi belakang.

"Itu dia? Benar-benar imperial green?" Liana hampir melompat. "Cepat buka. Aku perlu melihat harta karun ini dengan mataku sendiri."

Bianca menyerahkan dokumen pada sekretaris. "Bawa ke ruang rapat. Liana, kamu dan Arka antar ke brankas utama setelah dicek."

"Siap, Bu Bos!"

Bianca berjalan menuju lift khusus. Sebelum pintu tertutup, ia menatap Arka sebentar. "Besok pagi datang ke kantor. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan."

"Baik."

Pintu lift tertutup.

Liana langsung menarik Arka ke bagasi. Begitu kotak dibuka, warna hijau di dalamnya membuatnya menahan napas.

"Ya Tuhan," bisiknya. "Ini bukan batu. Ini nyawa brand baru kita."

"Kamu terlalu dramatis."

"Kamu tidak mengerti. Lini perhiasan Lestari selama ini butuh satu benda yang bisa membuat orang kaya merasa harus melihat. Benda ini bisa jadi ikon." Liana menatap Arka dengan mata berbinar. "Sepupu, kamu benar-benar mesin pencetak uang."

"Jangan bilang begitu di depan Maya."

"Kenapa?"

"Dia bisa mencoba memonopoli."

Liana tertawa. "Kak Maya memang begitu."

Mereka membawa kotak itu ke brankas utama dengan pengawalan keamanan. Setelah semua prosedur selesai, Liana meregangkan bahu dan menatap Arka dengan senyum licik.

"Malam ini aku traktir."

"Tidak perlu."

"Perlu. Kamu pahlawan hari ini."

"Aku ada urusan rumah."

Wajah Liana langsung berubah sedih. Matanya berkaca-kaca dalam waktu kurang dari dua detik. "Jadi aku tidak pantas makan dengan pahlawan besar?"

Arka menatapnya.

Aktingnya terlalu cepat. Bahkan Yulia yang benar-benar sedih pun tidak seefisien ini.

"Jangan pakai wajah itu."

"Wajah apa? Ini wajah tulus."

"Tulusmu seperti invoice tersembunyi."

Liana langsung tertawa, lalu kembali merajuk. "Satu makan malam saja. Setelah itu kamu boleh pulang ke guru cantikmu."

Arka mengangkat alis. "Kamu tahu?"

"Aku asisten Bianca, bukan hiasan meja. Tapi tenang, aku tidak banyak bicara. Aku hanya suka tahu banyak."

Arka akhirnya menyerah. "Baik. Makan saja."

"Nah begitu. Aku pilih tempat."

Sementara itu, di Rumah Sakit Medika Sentosa, Rangga Wiratama duduk di sofa ruang VIP dengan wajah gelap. Setelah muntah darah di pameran, ia dibawa ke rumah sakit. Bukan karena lukanya parah, tetapi karena rasa malu membuat tekanan darahnya melonjak.

Ia masih memikirkan imperial green itu.

Batu itu seharusnya bisa ia beli.

Jika dua master bodoh itu tidak salah menilai, jika ia tidak terlalu sibuk mengejek Bianca, jika Arka tidak muncul, batu itu bisa menjadi milik Pesona Group. Sekarang bukan hanya kalah, ia juga menjadi bahan tertawaan.

Pintu ruang VIP terbuka.

Seorang wanita berlekuk matang masuk dengan gaun ketat dan senyum manis. Namanya Hesti Anggraeni, mantan selebritas yang popularitasnya sudah meredup, tetapi masih cukup cantik untuk membuat pria seperti Rangga melupakan umur.

"Pak Rangga," katanya lembut. "Siapa yang membuat Bapak marah begini?"

"Aku sedang panas."

"Kalau begitu, biar aku bantu turunkan panasnya."

Hesti mendekat ke sofa. Namun sebelum tangannya sempat melakukan lebih jauh, pintu ruang VIP terbuka keras. Seorang pengawal masuk dengan wajah pucat, membawa hasil pemeriksaan.

"Pak... hasil tes sudah keluar."

Rangga melempar gelas plastik ke arahnya. "Kenapa panik? Aku tidak sakit. Bilang cepat, lalu siapkan mobil. Aku mau cari anak itu."

Pengawal menelan ludah. "Pak, hasilnya... HIV reaktif."

Hesti membeku.

Rangga ikut membeku. "Apa?"

"Sifilis juga positif."

Hesti menarik tangannya secepat orang tersengat listrik.

"Gonore positif."

"Diam!" Rangga berdiri, wajahnya memerah.

Pengawal hampir menangis. "Kutil kelamin juga positif. Herpes juga."

Ruangan seperti kehilangan udara.

Hesti terduduk di lantai, wajahnya pucat. Jika Rangga benar sakit sebanyak itu, ia dan banyak perempuan lain mungkin ikut terseret.

Rangga merebut laporan itu. Tangannya gemetar saat membaca satu per satu hasilnya.

Arka benar.

Semua yang dikatakan pemuda itu benar.

Rasa malu berubah menjadi ketakutan. Jika Arka bisa melihat penyakitnya hanya dari wajah, mungkin Arka juga bisa menyembuhkan.

Rangga menoleh pada pengawal. Suaranya serak.

"Cari anak itu. Bawa dia ke sini. Pakai cara apa pun. Dia harus menyembuhkanku."

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!