NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih -Benih Keraguan

Matahari pagi baru saja naik separuh di atas langit Jakarta, menyiram dinding kaca restoran mewah Le Petit Verdot dengan cahaya keemasan yang hangat.

Restoran bergaya Prancis klasik yang terletak di kawasan eksklusif Senopati ini sengaja dipesan oleh Rendy Pratama untuk sesi makan siang bisnis yang sangat privat. Hanya ada tiga orang yang duduk di meja bundar dekat jendela besar berhiaskan tirai beludru: Rendy, Lisa, dan Elena Van Doren.

Setelah pertengkaran hebat malam sebelumnya, Rendy terpaksa membawa Lisa kembali masuk ke dalam lingkaran permainan ini. Lisa telah menerornya sepanjang subuh, mengancam akan membongkar semuanya jika ia terus-menerus disisihkan dari hadapan Elena.

Demi menjaga kedamaian sementara dan mencegah Lisa bertindak nekat, Rendy akhirnya mengalah. Namun, ketegangan di antara pasangan pengkhianat itu masih terasa sangat kental; ada jarak yang canggung dalam cara mereka duduk berdampingan.

Elena duduk di seberang mereka. Hari ini ia mengenakan terusan berpotongan cutting tajam berwarna putih gading dari desainer ternama, dipadukan dengan kalung mutiara hitam yang melingkar elegan di lehernya.

Riasannya minimalis namun tegas, memancarkan aura kemewahan yang tenang,sesuatu yang sangat kontras dengan penampilan Lisa. Lisa, dalam usahanya untuk menyaingi Elena, mengenakan gaun mini ketat berwarna merah menyala dengan riasan wajah yang terlalu tebal dan mencolok untuk ukuran makan siang formal.

Seorang pelayan dengan setelan tuksedo menyajikan hidangan pembuka berupa foie gras dengan saus beri liar di atas piring porselen.

"Silakan dinikmati, Madam Elena," ucap Rendy dengan nada suara yang sengaja dibuat seramah mungkin, mencoba mencairkan atmosfer dingin yang sejak tadi mendominasi meja. "Restoran ini terkenal dengan koki internasionalnya. Saya harap hidangannya sesuai dengan selera Anda yang terbiasa dengan standar Eropa."

Elena hanya melirik hidangan di depannya sekilas tanpa menyentuh garpunya. Ia menatap Rendy, lalu beralih ke arah Lisa yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan.

"Terima kasih, Tuan Rendy," sahut Elena, nada suaranya terdengar malas dan meremehkan. "Makanan di tempat ini cukup lumayan untuk standar lokal. Namun, nafsu makan saya sedikit terganggu ketika saya melihat draf strategi pemasaran awal yang dikirimkan oleh tim Anda ke kantor saya pagi ini."

Mendengar kata strategi pemasaran, wajah Lisa langsung menegang. Sebagai Direktur Pemasaran baru untuk proyek Adiguna City, draf tersebut adalah hasil kerja kerasnya selama seminggu terakhir bersama timnya.

"Maaf, Madam Elena," Lisa memotong pembicaraan dengan suara yang sengaja ditinggikan, mencoba menunjukkan otoritasnya di depan Rendy. "Draf pemasaran itu saya sendiri yang menyusunnya. Kami menggunakan konsep influencer marketing skala masif dan pesta pora kaum selebritas untuk menciptakan hype instan. Konsep itu sangat sukses untuk proyek-proyek apartemen kelas menengah di kota ini sebelumnya."

Elena mengalihkan pandangan matanya sepenuhnya kepada Lisa. Tatapannya begitu dingin, sedingin es yang mampu membekukan darah di pembuluh vena. Ia meletakkan gelas air putihnya dengan ketukan kecil yang terdengar sangat jelas di dalam keheningan.

"Itu dia masalahnya, Nona Lisa," ucap Elena dengan nada bicara yang sangat lambat namun menusuk. "Anda memperlakukan Adiguna City,sebuah proyek mega-struktur bernilai triliunan rupiah yang ditargetkan untuk para taipan global dan ekspatriat kelas atas,seperti Anda sedang memasarkan produk kosmetik lokal atau apartemen murah bersubsidi."

Elena menarik napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan keanggunan yang intimidatif. "Konsep Anda sangat murahan, penuh dengan foya-foya yang tidak esensial, dan sama sekali tidak memiliki visi strategis. Proyek internasional membutuhkan direktur pemasaran yang elegan, berwawasan luas, dan mengerti psikologi pasar kelas atas. Bukan seseorang yang ... tampaknya lebih mementingkan pamer tas mewah di butik daripada melakukan analisis pasar makro yang mendalam."

Penghinaan verbal yang begitu telak dan terarah itu membuat Lisa terperangah. Wajahnya yang dilapisi bedak tebal mendadak memerah padam akibat kombinasi antara rasa malu dan amarah yang meluap-luap. Ia menoleh ke arah Rendy, berharap tunangannya itu akan membelanya dan membalas ucapan Elena.

"Rendy! Lihat bagaimana dia menghinaku!" bisik Lisa dengan nada menuntut yang tajam, jemarinya mencengkeram lengan jas Rendy dengan kuat hingga kainnya kusut.

Namun, Rendy justru terdiam. Ego dan ketakutannya telah melumpuhkan naluri perlindungannya terhadap Lisa. Di dalam benak Rendy, ucapan Elena baru saja menyentuh titik kebenaran yang selama ini ia abaikan. Dulu, saat Alana masih hidup, Alana-lah yang selalu menyusun strategi pemasaran di balik layar dengan pendekatan yang sangat anggun, riset yang mendalam, dan jaringan yang berkelas. Alana tidak pernah memamerkan kemewahan, namun pendekatannya selalu berhasil memikat para investor besar karena kejujuran dan ketajaman analisisnya. Sementara Lisa? Sejak memegang jabatan itu, wanita itu hanya tahu cara menghabiskan anggaran perusahaan untuk pesta-pesta yang tidak berguna demi menaikkan status sosial pribadinya.

Apalagi, tim audit bentukan Elena sudah mulai masuk ke kantor pusatnya pagi ini. Rendy tahu posisi keuangannya sedang berada di ujung tanduk. Jika ia menentang Elena hanya demi membela ego Lisa yang terluka, kesepakatan investasi dua triliun rupiah ini bisa menguap dalam hitungan detik.

Rendy melepaskan cengkeraman tangan Lisa dari lengannya secara perlahan namun tegas. Ia menatap Elena dengan senyum yang dipaksakan.

"Anda benar, Madam Elena," ucap Rendy, kata-katanya mengalir seperti belati yang menusuk punggung Lisa dari belakang. "Saya sendiri sempat merasa draf tersebut terlalu dangkal untuk proyek sekelas Adiguna City. Tampaknya tim pemasaran kami memang membutuhkan evaluasi total dan penyegaran kepemimpinan."

Lisa membelalakkan matanya, napasnya tercekat seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. "Rendy?! Apa yang kau katakan?! Kau menyetujui ucapannya?!"

"Diam, Lisa! Kita sedang dalam pertemuan bisnis resmi!" bentak Rendy dengan suara setengah berbisik namun sarat akan ancaman yang pekat. Tatapan matanya memberi kode keras agar Lisa tidak mempermalukannya lebih jauh lagi di depan investor terkaya mereka.

Elena mengawasi interaksi itu dengan kepuasan yang mendalam di lubuk hatinya. Benih-benih keraguan dan ketidakpercayaan yang ia tanam sejak kemarin kini mulai tumbuh dan merusak fondasi aliansi busuk mereka.

"Saya senang Anda bisa melihatnya secara objektif, Tuan Rendy," ujar Elena, memberikan rasa aman palsu kepada Rendy melalui pujian tak langsung. "Seorang pria sukses dengan visi besar seperti Anda pantas dikelilingi oleh para profesional yang bisa menaikkan kelas Anda ke tingkat internasional, bukan oleh seseorang yang justru menjadi beban bagi reputasi perusahaan Anda."

Elena melirik arloji berlian di pergelangan tangannya, lalu bangkit dari duduknya sebelum hidangan utama bahkan sempat disajikan. "Sore ini saya ada pertemuan dengan beberapa pejabat kementerian. Saya harap pada pertemuan kita berikutnya, Anda sudah bisa menunjukkan perubahan nyata dalam struktur manajemen Anda. Selamat siang."

Tanpa menunggu jawaban, Elena melangkah pergi meninggalkan restoran dengan langkah yang tegas. Di luar, sebuah mobil mewah sudah menunggunya dengan pintu yang terbuka lebar.

Begitu Elena menghilang di balik pintu kaca restoran, Lisa langsung meledak. Ia menggebrak meja marmer, membuat sendok dan garpu perak berdenting keras.

"Kau bajingan, Rendy! Kau mengorbankan aku di depan wanita jalang itu?!" pekik Lisa, air matanya mulai merusak riasan matanya yang tebal. "Kau membiarkan dia menginjak-injak harga diriku! Aku yang menemanimu, aku yang memberikan semua yang kau mau, dan kau membiarkan dia menghinaku seperti sampah?!"

Rendy bangkit dari kursinya, wajahnya mengeras dipenuhi oleh frustrasi yang sudah mencapai batas puncaknya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Lisa dengan sangat kuat, memaksa wanita itu untuk ikut berdiri.

"Ikut aku ke mobil! Jangan membuat pertunjukan memuakkan di tempat umum!" desis Rendy di dekat telinga Lisa, lalu menarik wanita itu keluar dari restoran dengan kasar

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!