"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pesta di Atas Luka
Malam itu, kediaman megah keluarga Tenggara bersinar lebih terang dari biasanya. Ratusan lampu kristal dinyalakan untuk merayakan ulang tahun ke-30 Tenggara Group. Karpet merah membentang dari gerbang hingga aula utama. Para pengusaha kelas atas, pejabat, dan kolega bisnis Bramantyo hadir dengan senyum palsu mereka, menyesap sampanye mahal sambil membicarakan angka-angka keuntungan.
Namun, di balik dinding marmer yang berkilau itu, tepatnya di sayap belakang bangunan yang terisolasi, Aurora sedang bertarung melawan maut yang semakin mendekat.Ia terbaring di ranjangnya, dikelilingi oleh tabung oksigen besar dan mesin medis yang didesain secara privat agar suaranya tidak mengganggu tamu di depan. Wajahnya kini tidak lagi putih, melainkan mulai keabu-abuan. Setiap kali ia mencoba menarik napas, dadanya akan naik dengan paksa, meninggalkan suara tarikan yang berat dan menyakitkan.
"Sakit... Nek..." rintih Aurora.
Nenek Lastri, satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk untuk memberi makan, duduk bersimpuh di lantai sambil memegang tangan Aurora yang sudah sangat kurus hingga tulang-tulangnya terlihat jelas. Nenek menangis tanpa suara, karena jika ia bersuara, pengawal di depan pintu akan melaporkannya pada Bramantyo.
Di luar gerbang, sebuah mobil boks katering berhenti. Bimo duduk di kursi kemudi, sementara Arvin bersembunyi di bagian belakang di antara tumpukan peralatan pesta. Arvin mengenakan seragam pelayan yang ia curi dari salah satu vendor.
"Vin, lo yakin?" bisik Bimo melalui alat komunikasi kecil di telinga Arvin. "Penjagaan malam ini tiga kali lipat. Papa lo benar-benar nggak mau ada cacat di pesta ini."
"Gue nggak peduli, Bim," sahut Arvin pelan. Suaranya serak namun penuh tekad. "Gue dengar dari Bi Inah, Aurora sudah nggak mau makan sejak kemarin. Jantungnya bengkak parah. Kalau gue nggak bawa dia keluar malam ini, besok gue mungkin cuma bisa bawa mayatnya."
Di sisi lain, Eros dan Juna melakukan pengalihan dari pintu depan. Mereka datang dengan setelan jas rapi, berpura-pura menyerah dan ingin meminta maaf pada Bramantyo agar bisa masuk ke dalam rumah.
"Pa, kami sadar kami salah," ucap Eros saat menemui ayahnya di tengah kerumunan tamu. "Tolong biarkan kami kembali ke rumah. Kami tidak akan melawan lagi."
Bramantyo menatap kedua putranya dengan tatapan menilai. Keangkuhannya merasa menang.
"Bagus kalau kalian sadar. Duduklah, nikmati pesta ini. Setelah ini, kita akan bicara tentang masa depan perusahaan. Jangan coba-coba mencari adikmu, dia sedang 'istirahat total'."
Eros dan Juna mengangguk patuh, namun mata Juna terus mengawasi posisi pengawal melalui pantulan kaca-kaca besar di aula.
"Arvin sudah masuk lewat dapur," bisik Juna melalui jam tangannya.
Arvin berhasil menyelinap ke sayap belakang setelah memanfaatkan kekacauan saat katering mulai menghidangkan menu utama. Ia berlari melewati lorong-lorong gelap yang sudah sangat ia hafal sejak kecil. Saat sampai di depan kamar Aurora, ia melihat dua pengawal bertubuh besar berjaga dengan senjata api di pinggang mereka.
"Woi! Ada masalah di dapur, pelayan katering pingsan di lorong sebelah!" seru Arvin sambil berlari ke arah mereka.
Saat kedua pengawal itu lengah, Arvin menggunakan kemampuannya dalam bela diri yang selama ini ia gunakan untuk tawuran. Dengan gerakan cepat, ia memukul titik saraf leher pengawal pertama dan menendang lutut pengawal kedua.
Perkelahian singkat terjadi, namun amarah Arvin memberinya kekuatan berlebih. Ia berhasil merobohkan keduanya.
Dengan tangan gemetar, Arvin memasukkan kode digital yang berhasil diretas oleh Juna sebelumnya.
Cklek.
Pintu terbuka. Bau obat-obatan yang tajam langsung menyerang hidungnya. Arvin mematung saat melihat kondisi Aurora. Adiknya itu tampak seperti kerangka yang hanya dibalut kulit, tertidur dengan bantuan oksigen yang dipasang secara paksa.
"Aurora..." bisik Arvin, suaranya pecah.
Nenek Lastri terlonjak kaget. "Den Arvin! Ya Allah, Den!"
"Nek, bantu Arvin bawa Aurora. Kita harus pergi sekarang!" Arvin segera melepas kabel-kabel monitor, namun ia tetap mempertahankan tabung oksigen portabel kecil agar Aurora tetap bisa bernapas selama pelarian.
Ia menggendong Aurora ke punggungnya. Berat tubuh Aurora yang sekarang terasa seperti kapas membuatnya ingin berteriak marah pada dunia. Bagaimana bisa seorang ayah membiarkan anaknya hancur seperti ini?
Namun, saat mereka baru saja keluar dari kamar, alarm rumah tiba-tiba berbunyi keras. Lampu merah berkedip di seluruh penjuru rumah.
"Sial! Juna, gue ketahuan!" teriak Arvin ke alat komunikasinya.
Di aula utama, Bramantyo yang sedang memberikan pidato tiba-tiba berhenti. Ia menatap ke arah pengawal pribadinya yang memberikan kode. Wajah Bramantyo berubah menjadi sangat gelap.
"Eros... Juna... Jadi ini rencana kalian?" desis Bramantyo, menoleh ke arah kedua putranya yang kini sudah berdiri dengan posisi siap bertarung.
"Cukup, Pa! Aurora bukan aset! Dia adik kami!" teriak Eros, suaranya menggelegar mengalahkan musik orkestra pesta.
Keributan pecah. Para tamu mulai panik dan berlarian keluar.
Sementara itu, Arvin terus berlari di lorong belakang sambil menggendong Aurora, namun langkahnya terhenti saat ia sampai di pintu keluar dapur. Puluhan pengawal sudah mengepungnya dengan senjata terhunus.
Di belakang para pengawal itu, Bramantyo berjalan perlahan dengan tongkat komandonya.
"Letakkan dia, Arvin. Dan kamu akan Papa maafkan," ucap Bramantyo dingin.
"Gue lebih baik mati daripada kasih dia balik ke tangan iblis kayak lo!" balas Arvin, matanya menyala penuh dendam.
Tepat saat itu, Aurora yang berada di punggung Arvin terbatuk hebat. Darah segar kembali keluar dari mulutnya, membasahi bahu seragam pelayan Arvin.
"K-kak... Arvin..." bisik Aurora lirih. Ingatannya belum kembali, tapi ia mengenali kehangatan punggung itu. "T-terima kasih... sudah... mau... ambil... Aurora..."
Setelah kata-kata itu, kepala Aurora terkulai lemas di bahu Arvin. Tangan mungilnya yang memegang kemeja Arvin perlahan-lahan terlepas.
"Ra? Aurora?! Bangun, Ra!" Arvin berteriak histeris, menghiraukan moncong senjata yang mengarah padanya. "JANGAN SEKARANG, RA! TOLONG!"
Di tengah gemerlap pesta yang berubah menjadi medan perang, napas Aurora mendadak berhenti. Jantungnya yang lelah telah mencapai batas maksimalnya tepat di pelukan sang kakak yang dulu paling membencinya.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹