NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19 menyaring napas abadi dan janji di balik badai

Malam di Gurun Debu Bintang adalah ujian ketahanan yang sejati. Angin tidak hanya membawa pasir yang sekeras kerikil, tetapi juga udara sedingin es yang diresapi oleh Qi Abadi yang liar. Bagi tubuh fana Lin Chen yang belum beradaptasi, angin tersebut terasa seperti ribuan jarum tipis yang menusuk pori-pori dan merobek organ dalamnya.

Gua batu tempat mereka berlindung memberikan sedikit kelegaan dari terjangan badai pasir. Api unggun kecil yang menyala di tengah gua berkedip-kedip menahan embusan angin yang masuk melalui celah bebatuan.

Lin Chen duduk bersila, matanya terpaku pada gulungan 'Metode Pernapasan Bintang Pudar' yang diberikan oleh Shen Yu. Sinar api yang redup cukup baginya untuk membaca deretan aksara kuno yang terukir di atas kulit hewan tersebut. Gadis itu sedang tertidur lelap di sudut lain gua, kelelahan fisiknya mengalahkan ketakutannya terhadap lingkungan yang tidak bersahabat.

Memahami isi gulungan itu tidaklah sulit. Konsepnya sederhana: daripada memaksa Dantian untuk langsung menyerap Qi Abadi yang tebal dan mematikan, teknik ini mengajarkan cara memfilter energi tersebut menggunakan jaringan kapiler di sekitar paru-paru. Qi liar dihirup, dipecah menjadi partikel-partikel mikroskopis, kemudian dialirkan perlahan untuk menggantikan Qi fana yang usang.

"Prinsipnya hampir sama dengan *Napas Karang Esensi*," gumam Lin Chen dalam hati. "Meredam ombak sebelum menyerap sisa airnya."

Namun, ada perbedaan mendasar. *Napas Karang Esensi* dirancang untuk memperkuat tubuh secara brutal. Teknik Bintang Pudar murni bertujuan untuk adaptasi dan kelangsungan hidup.

Layar cahaya holografik biru kembali berpendar, menandai intervensi Sistem.

**[Situasi Evolusi Fondasi Terdeteksi.]**

**[Target: Mengganti Qi Fana dengan Qi Abadi Rendah. Proses adaptasi tubuh ke hukum Dunia Tengah.]**

**[Silakan tentukan metode integrasi pernapasan Anda:]**

**[Pilihan 1: Berlatih 'Metode Pernapasan Bintang Pudar' secara harfiah. Filter energi secara bertahap.

Hadiah: Proses aman tanpa rasa sakit. Anda membutuhkan waktu tiga bulan penuh untuk sepenuhnya bisa berjalan normal dan memulihkan 50% kekuatan tempur. Membuang banyak waktu berharga.]**

**[Pilihan 2: Buang gulungan tersebut. Paksakan metode 'Napas Karang Esensi' untuk langsung menyedot Qi Abadi dengan rakus.

Hadiah: Ledakan Dantian seketika. Tubuh Anda akan tercabik-cabik oleh kelebihan muatan energi dalam waktu lima detik. Tamat.]**

**[Pilihan 3: Lakukan Fusi Teknik. Gunakan prinsip filter dari 'Bintang Pudar', namun aplikasikan melalui jalur meridian ekstrim milik 'Napas Karang Esensi'. Ubah paru-paru Anda menjadi tungku penyaring yang beroperasi ganda.

Hadiah: Waktu adaptasi dipangkas menjadi tiga hari. Proses ini menyebabkan rasa terbakar konstan di rongga dada. Membuka potensi 'Paru-Paru Besi Abadi'.]**

Lin Chen membaca pilihan ketiga dengan tatapan dingin. Sistem selalu memaksanya menari di tepi jurang kematian. Menggabungkan dua teknik pernapasan dengan prinsip berbeda adalah hal yang dihindari oleh semua kultivator karena risiko kebingungan sirkulasi yang berujung pada kelumpuhan. Namun, waktu adalah kemewahan yang tidak ia miliki. Menunggu tiga bulan untuk bisa berdiri tegak sama dengan menyetor nyawanya pada Pemulung Gurun yang mungkin kembali mencari rekannya yang tewas.

"Pilihan ketiga," batin Lin Chen tajam. Layar biru meredup menghilang.

Ia meletakkan gulungan itu di pangkuannya. Menutup mata, pemuda itu menarik napas panjang melalui hidungnya. Alih-alih menghirup dangkal seperti yang disarankan teknik Bintang Pudar, Lin Chen menghirup dalam-dalam udara malam yang sarat dengan Qi Abadi.

Seketika, paru-parunya terasa seperti diisi oleh air mendidih.

Qi Abadi yang liar menabrak dinding paru-parunya dengan kekuatan yang nyaris merobek organ tersebut. Sesuai janjinya pada Sistem, ia tidak membiarkan energi itu meledak. Ia memaksa *Napas Karang Esensi* bekerja, mengeraskan jaringan paru-parunya sekuat batu karang, menahan tekanan ekspansi energi. Di saat yang sama, ia memicu prinsip Bintang Pudar, memecah belah gumpalan Qi itu menjadi jutaan serpihan debu halus.

*Uhuk!*

Lin Chen terbatuk tanpa suara. Setetes darah merembes dari sudut bibirnya. Rasa sakitnya konstan; tidak meledak-ledak, melainkan menyiksa secara konsisten, seolah ada bara api yang diletakkan secara permanen di dalam rongga dadanya.

Ia mengabaikan rasa sakit itu. Pemuda itu mengarahkan serpihan Qi Abadi yang telah disaring menuju Dantiannya. Di sana, sisa-sisa Qi fananya—yang telah membantunya membantai puluhan orang di Alam Fana—langsung hancur dan digantikan oleh kualitas energi yang jauh lebih superior.

Proses fusi ini berlangsung sepanjang sisa malam. Lin Chen tidak tidur sedetik pun. Ia tenggelam dalam siklus pernapasan yang menyiksa: hirup, bakar, saring, serap. Keringat yang menetes dari tubuhnya langsung menguap karena suhu tubuhnya yang meningkat drastis.

Ketika cahaya fajar yang redup menyusup melalui celah gua, Lin Chen membuka matanya.

Lengan kanannya yang hancur masih terbalut kain, namun rasa ngilu yang menusuk tulang telah memudar berkat salep herbal dan percepatan regenerasi dari energi baru. Meskipun belum bisa digunakan untuk bertarung, lengan itu setidaknya tidak lagi berisiko diamputasi.

Pemuda itu menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya tidak lagi terasa berat, melainkan menyatu sempurna dengan kepadatan udara Dunia Tengah. Beban gravitasi raksasa yang menindih bahunya sejak ia mendarat kini terasa lebih bisa ditoleransi. Ia belum mendapatkan kekuatan penuhnya kembali, tetapi ia sudah bisa berdiri tanpa membuat lututnya gemetar.

Shen Yu terbangun karena suara batuk pelan Lin Chen. Gadis itu mengusap matanya yang sembap, menatap pemuda itu dengan ekspresi terkejut.

"Kau... kau mempraktikkan tekniknya semalaman penuh?" tanya Shen Yu, nadanya bercampur antara kagum dan tidak percaya. Ia melihat rona wajah Lin Chen yang jauh lebih sehat dibandingkan saat pertama kali ditemukan. "Bahkan anak-anak jenius di Kota Batu Hitam membutuhkan waktu berminggu-minggu hanya untuk terbiasa dengan ritmenya. Kau menyerapnya dalam satu malam?"

"Aku belum menyerapnya sepenuhnya," jawab Lin Chen seraya berdiri perlahan. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Ini cukup untuk membuatku tidak mati lemas di tengah gurun ini."

Shen Yu berdiri dan membersihkan gaunnya yang kotor. "Kau sangat berbeda dari rumor tentang para Ascender. Mereka biasanya sombong, mengira diri mereka dewa karena menjadi raja di alam bawah, lalu hancur saat menyadari mereka bukan siapa-siapa di sini."

"Kesombongan adalah candu bagi mereka yang lemah," ucap Lin Chen sambil mengambil pedang patah yang ia temukan dari mayat pemulung kemarin. Ia mengikatkannya di pinggang. "Kemana tujuanmu sekarang? Pemulung gurun itu menyebutkan kau lari dari karavan yang diserang."

Wajah Shen Yu langsung diselimuti kesedihan mendalam. Matanya menerawang ke luar gua, menatap hamparan padang pasir kelabu.

"Karavanku adalah karavan dagang kelas bawah dari keluarga Shen di Kota Batu Hitam. Kami membawa rempah herbal untuk ditukar di kota tetangga. Badai pasir memisahkan kami," cerita Shen Yu dengan suara bergetar. "Para pemulung itu... mereka pasti telah membantai seluruh penjaga karavan dan menawan keluargaku. Pemulung Gurun tidak hanya merampok, mereka menculik manusia untuk dijual ke Tambang Batu Hitam sebagai budak seumur hidup."

Gadis itu menatap Lin Chen, air mata mulai menggenang. Tiba-tiba, ia berlutut di atas lantai gua yang keras, menyentuhkan dahinya ke tanah. Sebuah gestur permohonan yang paling absolut.

"Tuan... aku tahu permintaanku ini sangat egois dan tidak tahu malu. Kau telah menyelamatkanku sekali. Tapi kumohon... tolong selamatkan keluargaku! Mereka pasti ditahan di markas sementara para pemulung itu sebelum dijual. Jika kau membantuku, keluarga Shen akan memberikan apa pun yang kami miliki!" isak Shen Yu.

Lin Chen menatap gadis yang sedang bersujud itu. Di matanya, tindakan ini adalah hal yang wajar. Yang lemah harus memohon pada yang kuat. Itulah hukum abadi di setiap alam.

Jika ia berada di Alam Fana dalam kondisi puncaknya, Lin Chen mungkin akan mempertimbangkan permintaan itu. Saat ini, ia adalah pria dengan satu tangan yang berfungsi, berada di dunia asing yang hukumnya belum ia pahami, dan fondasi energinya baru beradaptasi sekitar sepuluh persen. Menerobos markas kelompok perampok yang setiap anggotanya selevel dengan praktisi Transformasi Fana adalah langkah yang tidak rasional.

Layar cahaya holografik biru merespons kebimbangan taktis tersebut, muncul berpendar di antara mereka berdua.

**[Situasi Misi Insidental Terdeteksi: Penyelamatan Karavan Shen.]**

**[Musuh: Markas Pemulung Gurun (Estimasi 15 anggota aktif, 1 Pemimpin Tahap True Immortal Awal).]**

**[Silakan tentukan jalan keputusan Anda:]**

**[Pilihan 1: Tolak permintaan Shen Yu. Lanjutkan perjalanan Anda sendiri untuk mencari kota terdekat.

Hadiah: Anda bertahan hidup dengan aman. Kehilangan pemandu lokal. Perjalanan Anda melintasi gurun tanpa arah akan memakan waktu berbulan-bulan yang membosankan.]**

**[Pilihan 2: Setujui permintaan dengan janji palsu, lalu tinggalkan dia di tengah jalan saat dia tertidur.

Hadiah: Anda menghemat beban. Shen Yu mati dimakan binatang gurun keesokan harinya. Sistem akan memberikan penalti moral berupa penyumbatan meridian sementara selama tujuh hari.]**

**[Pilihan 3: Terima misi penyelamatan. Syaratkan Shen Yu memberikan peta detail Gurun Debu Bintang dan komitmen keluarga Shen sebagai aset intelijen awal Anda di Dunia Tengah. Serang markas pemulung malam ini menggunakan strategi fusi teknik baru Anda.

Hadiah: Mengamankan pijakan pertama Anda di Kota Batu Hitam. Mendapatkan Fragmen Teknik 'Telapak Penghancur Bintang'. Risiko kematian 60% jika ketahuan oleh pemimpin mereka.]**

Lin Chen menyipitkan mata. Pemimpin kelompok perampok itu berada di Tahap True Immortal Awal. Sebuah level yang jauh di atas Tahap Transformasi Fana. Menghadapi praktisi level tersebut dalam kondisinya sekarang sama dengan bunuh diri frontal.

Meskipun demikian, imbalan yang ditawarkan sangat menggiurkan. Di dunia yang sepenuhnya asing ini, informasi adalah nyawa. Mendapatkan dukungan dari klan lokal, sekecil apa pun klan itu, akan mempercepat proses integrasinya dan memberikannya akses ke sumber daya. Fragmen teknik dari Sistem adalah bonus yang tidak bisa ia abaikan untuk memperkuat persenjataannya. Risiko 60%? Bagi Lin Chen, itu lebih terlihat seperti peluang menang 40%.

"Bangunlah," perintah Lin Chen datar.

Shen Yu mengangkat kepalanya, wajahnya penuh air mata dan harap-harap cemas.

"Aku bukan pahlawan yang bekerja demi keadilan," lanjut Lin Chen, menatap lurus ke dalam mata gadis itu untuk memastikan pesan tersebut tersampaikan dengan jelas. "Aku akan membantumu menyerang markas mereka dan mencoba membebaskan keluargamu. Sebagai bayarannya, kau harus memberiku peta terlengkap tentang geografi Gurun Debu Bintang, dan keluarga Shen harus membantuku menyediakan informasi serta identitas saat aku memasuki Kota Batu Hitam."

Mata Shen Yu melebar kegirangan. Syarat itu sangat ringan baginya dibandingkan dengan nyawa keluarganya. Ia mengangguk cepat. "Tentu! Keluarga Shen pasti akan menyetujuinya! Kami akan berhutang nyawa dan kesetiaan padamu, Tuan... Tuan..."

"Lin Chen."

"Tuan Lin Chen!" ulang Shen Yu penuh hormat. "Markas mereka tidak jauh dari sini. Biasanya mereka bermarkas di Ngarai Tulang Hitam, sekitar sepuluh mil ke arah utara dari rute karavan kami. Itu adalah celah sempit yang mudah dipertahankan. Jika kita bergerak sekarang, kita bisa mencapai pinggiran ngarai itu saat senja."

Lin Chen mengangguk. "Tunjukkan jalannya."

Mereka berdua melangkah keluar dari gua. Badai pasir semalam telah reda, menyisakan hamparan gurun kelabu yang luas dan bisu di bawah sinar dua matahari yang memancarkan cahaya redup. Lin Chen berjalan dengan langkah yang jauh lebih mantap dibandingkan kemarin, ritme pernapasannya yang ekstrem perlahan mulai berbaur dengan energi abadi Dunia Tengah. Lengan kirinya menggenggam erat gagang pedang patah.

Senja merangkak lambat menutupi Gurun Debu Bintang. Ngarai Tulang Hitam terbentuk dari formasi tebing karang yang menyerupai rusuk monster raksasa yang terkubur pasir. Udara di sekitar ngarai berbau anyir, perpaduan antara darah kering dan asap pembakaran kayu murah.

Lin Chen dan Shen Yu berbaring telungkup di atas bukit pasir yang menutupi pintu masuk ngarai. Lin Chen telah mengoleskan lumpur kelabu ke pakaian mereka berdua untuk kamuflase sempurna.

Mata tajam Lin Chen mengamati aktivitas di bawah sana. Terdapat belasan kemah kumuh yang didirikan secara acak. Sekitar sepuluh pemulung sedang duduk mengelilingi api unggun, minum-minum dan bersenda gurau dengan kasar. Di sudut yang lebih gelap, terdapat beberapa gerobak kayu karavan yang telah hancur. Sepuluh orang tawanan, berpakaian kotor dan diikat menjadi satu menggunakan rantai besi tebal, duduk meringkuk kedinginan. Itu adalah anggota karavan keluarga Shen.

Fokus Lin Chen tidak tertuju pada para pemabuk itu. Perhatiannya terkunci pada sebuah tenda kulit berukuran paling besar yang didirikan di ujung ngarai. Fluktuasi energi yang memancar dari dalam tenda itu sangat tenang, sangat mematikan. Itu adalah aura Tahap True Immortal Awal. Pemimpin perampok itu berada di dalam, sedang bermeditasi.

"Keluargaku ada di sana," bisik Shen Yu dengan suara bergetar menahan tangis, menunjuk ke arah tawanan. "Ayahku... dan dua pamanku ada di sana. Penjaga karavan yang lain pasti sudah dibunuh."

"Tetap di sini. Jangan membuat suara apa pun bahkan jika kau melihatku terbunuh," perintah Lin Chen tanpa menoleh. "Jika aku gagal, larilah ke arah selatan dan jangan pernah kembali."

Shen Yu mengangguk kaku, meremas pasir di bawah tangannya.

Lin Chen tidak mencabut pedangnya. Senjata patah itu tidak akan berguna melawan para praktisi Dunia Tengah. Senjata terkuatnya adalah penyatuan kecepatan absolut dan lingkungan sekitarnya.

Dengan tangan kiri yang masih berfungsi, ia memutar *Napas Karang Esensi* yang kini telah difusikan dengan *Metode Bintang Pudar*. Udara dingin malam disedot dengan rakus, disaring oleh paru-parunya, lalu diubah menjadi daya dorong kinetik di kakinya.

Tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun, Lin Chen meluncur menuruni bukit pasir. Ia bergerak menyusuri bayang-bayang tebing, bagaikan hantu yang menyatu dengan kegelapan. Kecepatan *Langkah Bayangan Berat* miliknya tidak maksimal karena gaya gravitasi yang berat, cukup untuk membuat mata para pemulung yang sedang mabuk tertipu.

Dua orang pemulung sedang berjaga di dekat kelompok tawanan. Mereka berdiri sambil mengobrol dan menghisap gulungan daun tembakau beraroma tajam.

Lin Chen menyusup hingga berada tepat dua meter di belakang mereka. Ia tidak membuang waktu.

Melesat ke depan, pemuda itu memanfaatkan kecepatan penuhnya. Ia melingkarkan lengan kirinya di leher penjaga pertama, lalu dengan putaran tubuh yang brutal, ia menggunakan lutut kirinya untuk menghantam tengkuk penjaga kedua.

*Krak! Bruk!*

Dua suara redam yang sangat pelan terjadi di waktu yang hampir bersamaan. Leher penjaga pertama patah dalam kuncian lengan Lin Chen, sementara penjaga kedua jatuh tengkurap dengan tulang belakang hancur akibat hantaman lutut yang dilapisi energi api bumi.

Kedua mayat itu diturunkan ke pasir tanpa menimbulkan suara berisik.

Para tawanan keluarga Shen membelalakkan mata mereka ngeri, melihat sosok asing yang tiba-tiba muncul dan membunuh dua penjaga dalam sekejap mata. Lin Chen meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan isyarat diam yang mutlak. Anggota keluarga Shen yang ketakutan langsung menutup mulut mereka dengan tangan, tidak berani bernapas keras.

Lin Chen merogoh saku penjaga yang tewas, menemukan kunci besi kasar yang digunakan untuk mengunci rantai tawanan. Ia memasukkan kunci itu dan membukanya dengan pelan.

Tepat pada detik terakhir kunci itu terbuka berbunyi *klik*, salah satu tawanan yang tubuhnya bergetar hebat tidak sengaja menendang rantai tersebut, membuatnya bergesekan keras dengan bebatuan di tanah.

Suara logam beradu itu sangat tajam, memecah kesunyian ngarai layaknya lonceng peringatan.

Para pemulung yang sedang berkumpul di sekitar api unggun langsung menghentikan tawa mereka. Beberapa dari mereka menoleh ke arah sumber suara.

"Penjaga! Apa yang terjadi di sana?!" teriak salah seorang pemulung, segera berdiri dan mencabut golok besarnya.

Lin Chen tidak panik. Insting pembunuhnya langsung mengambil alih. Rahasia telah terbongkar, kini saatnya mengubah operasi penyelamatan ini menjadi pembantaian massal.

"Lari ke arah bukit," perintah Lin Chen pada para tawanan dengan suara sangat rendah namun tegas.

Mengetahui mereka akan menjadi beban dalam pertarungan, anggota keluarga Shen tidak membuang waktu. Mereka segera merayap menjauh menuju celah tebing, berlari sekuat tenaga menuju bukit tempat Shen Yu menunggu.

Melihat tawanan melarikan diri, para pemulung meraung marah. Delapan orang perampok bersenjata lengkap menerjang ke arah sudut bayangan tempat Lin Chen berdiri.

"Ada penyusup! Bunuh dia!"

Lin Chen tidak melarikan diri. Pemuda bermata sedingin es itu melangkah keluar dari kegelapan menuju cahaya api unggun. Lengan kanannya masih terkulai kaku, namun lengan kirinya diangkat sejajar dengan bahu. Ia menarik napas dalam-dalam, paru-paru besinya membakar Qi Abadi dari udara.

Ia tidak memiliki kemewahan untuk membuang energi berlama-lama bertarung secara fisik dengan delapan orang sekaligus. Ia akan menggunakan taktik yang sama brutalnya seperti saat di Alam Fana.

Lin Chen tidak menargetkan para penyerang. Menggunakan *Langkah Bayangan Berat* jarak pendek, ia melesat ke arah api unggun besar di tengah perkemahan. Menjejakkan kaki kanannya kuat-kuat ke tanah berbatu, ia melepaskan sebuah tendangan menyapu yang menghantam kayu-kayu bakar dan bebatuan penyangga api unggun tersebut.

*BUM!*

Bara api, kayu pijar, dan abu panas meledak ke segala arah layaknya kembang api mematikan, menyiram formasi delapan pemulung yang sedang menerjang. Jeritan kesakitan pecah saat bara api mengenai wajah dan mata mereka.

Kekacauan sementara ini adalah celah yang diincar Lin Chen.

Ia menerjang ke depan. *Tinju Pemecah Batu* diaktifkan pada tangan kirinya. Buku jarinya menyala kemerahan, beradu dengan kegelapan malam. Ia bergerak lincah menembus asap pembakaran, menghantam rahang, ulu hati, dan pelipis musuh.

Setiap kali tinju kirinya bersarang, suara patahan tulang menggema. Lin Chen bertarung seperti monster yang tidak kenal lelah, efisien merobek formasi mereka di tengah kebutaan sesaat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, enam tubuh pemulung bergelimpangan di tanah, tidak bernyawa atau merintih sekarat dengan organ hancur.

"Tahan dia!" teriak sisa dua pemulung yang berhasil memulihkan pandangan mereka. Mereka menerjang dari dua sisi berbeda, ayunan golok mereka mengincar leher dan kaki Lin Chen.

Tepat saat Lin Chen hendak menghindar, sebuah tekanan energi yang luar biasa besar dan mencekik turun dari arah tenda kulit raksasa di ujung ngarai.

Tekanan ini ribuan kali lipat lebih berat daripada gravitasi Dunia Tengah. Lin Chen merasa seolah seluruh oksigen di sekitarnya dihisap habis. Gerakannya terkunci seketika. Kedua pemulung yang menyerangnya tersenyum puas, menyadari majikan mereka akhirnya turun tangan.

"Seekor tikus berani mengotori halaman rumahku," suara bariton yang menggema pelan namun menggetarkan dinding ngarai terdengar dari arah tenda.

Kain penutup tenda disingkap. Sesosok pria jangkung berjalan keluar. Pria itu mengenakan jubah hitam elegan yang tidak terlihat seperti pakaian pemulung, dengan rambut panjang diikat rapi. Fluktuasi energi yang menyelimutinya sehalus sutra namun setajam silet. Itulah aura Tahap True Immortal Awal. Praktisi yang telah melampaui proses fana sepenuhnya.

Mata pria jangkung itu menatap dingin ke arah Lin Chen yang tubuhnya membeku. Hanya dengan tatapan mata, Lin Chen merasakan organ dalamnya bergetar hebat. Kesenjangan level ini melampaui kemampuan adaptasi fisik murninya. Pria ini bisa meremukkan tubuhnya hanya dengan menjentikkan jari.

Dua pemulung yang tersisa mengayunkan golok mereka ke arah Lin Chen yang tak berdaya.

Mata Lin Chen menyala dengan kebuasan mutlak. Ia mengabaikan tekanan tersebut. Menggigit lidahnya hingga berdarah untuk memecahkan ilusi kelumpuhan, ia memutar seluruh sisa Qi apinya, meledakkan energi dari kedua kakinya dan menerjang maju. Bukan untuk mundur, melainkan terbang menyongsong golok lawan.

Pertempuran sesungguhnya malam ini telah dimulai. Di bawah tatapan seorang True Immortal, sang Iblis Pelataran Luar menolak untuk bertekuk lutut. Darah akan kembali tumpah di tanah keabadian ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!