Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYAKIT MISTERIUS
Mentari yang cerah muncul menyinari dengan penuh kehangatan seperti kasih sayang tulus seorang ibu terhadap anak-anaknya.
Kasih sayang itulah yang membuat Sulis semakin egois, tak pernah merasa salah walau telah melakukan banyak kesalahan. Dan Bu Saedah, masih tetap tidak berani mengatakan kepada yang lain akan kebenaran meninggalnya suami tercintanya.
Bu Saedah pun kini mulai merasakan akibat dari perbuatannya yang selalu memanjakan anaknya. Pagi itu, dia di kagetkan dengan tubuhnya yang tiba-tiba penuh dengan benjolan-benjolan kecil, yang berwarna putih pekat kebiruan.
"A-apa ini? To-tolong! Tolong!" Jerit Bu Saedah yang mendadak panik, dan tubuhnya terasa sangat sakit saat di gerakkan. Di tambah, benjolan itu membesar hanya dengan hitungan menit.
"Penyakit apa ini? Mengapa ja-jadi banyak, dan cepat sekali membesarnya. Tolooong! Huhu....!" Dia yang makin panik, semakin berteriak histeris. Pasalnya dia tidak merasakan apa pun sebelumnya. Tapi, tiba-tiba tubuhnya sudah nampak mengerikan dengan bisul yang sepertinya mulai akan memecah.
"Tolooong! Huhu...! Siapa saja tolong masuk ke kamarku."
"Bude, ada apa?" Tanya Wardah yang sepertinya dia berlari saat mendengar suara Budenya berteriak.
Matanya terbelalak sempurna. Dengan kedua tangannya menutup mulutnya terkejut.
"Astagfirullah hala'zim, Bude. Tubuh Bude, kenapa? Kok jadi banyak benjolan bernanah Bude."
"Bude nggak tau, Wardah. Bude nggak merasakan apa-apa sebelumnya. Tiba-tiba Bude bangun, sudah seperti ini. Sakit sekali, dan ini sangat panas dan gatal, Wardah. Bude harus apa? Tolong Bude, Wardah." Bu Saedah merintih sambil menggaruk-garuk tubunya.
Belum sempat Wardah menjawab. Sulis dan Laela masuk.
"Uh! Bau banget! Ibu ngapain sih teriak-teriak! Bikin orang jantungan aja!" Cerca Sulis di ambang pintu sambil mengibaskan tangannya.
"Bu, Nenek kok badannya bisulan gitu. Ih...! Ela takut ketularan ah. Mana bau banget lagi. Ueek!" Laela mundur selangkah.
"Hah?! Iya bener kamu, La. Ih..! Ibu kok jadi jorok begini sih, Bu. Pasti Ibu nggak jaga kebersihan nih, makanya penyakitan kayak gini. Waduh... harus di ungsikan kamu, Bu. Kalau tidak, semua orang di rumah akan tertular oleh penyakit Ibu itu." Sulis menambahi.
"Ada apa sih, ribut-ribut." Rohmat mendekat bersamaan dengan Beni, yang sepertinya sudah bersiap akan pergi ke ladang.
Baru saja keduanya akan masuk kamar, Sulis dan Laela mencegah mereka.
"E...e...eh! Jangan masuk. Si Ibu lagi terkena penyakit. Sebaiknya jangan ada yang mendekat selain Wardah, dan keluarganya. Biar mereka saja yang mengurus." Ucap Sulis memberi perintah.
Mata Beni menelisik ke dalam kamar. "Loh, Bu. Nenek sakit begitu harusnya jangan di bawa kemana-mana. Biar Nenek di sini saja. Kita urus bareng-bareng, kita kan keluarganya juga." Ucap Beni tak setuju.
"Apa kamu bilang?! Kamu itu anak kecil. Tau apa kamu tentang ngurusin orang tua yang berpenyakitan seperti itu. Sudah, biar Nenek di bawa ke rumah nya Rahma saja. Biar mereka yang urus."
Bu Saedah terlihat sangat terpukul atas keputusan anaknya itu. "Lis, Ibu ini cuma sakit biasa, ini mungkin cuma alergi. Nggak perlu di ungsikan. Lagian nanti malah Ibu ngerepotin mereka."
"Begini nih, kalau orang udah mulai renta. Wardah sana kalian pulang hari ini, dan rawat Ibu saya untuk sementara waktu, sampai dia sembuh. Kalau kamu tidak mau, maka saya akan tagih semua uang yang orang tua kamu pinjam minggu lalu, sekaligus." Ucap Sulis ketus.
Wardah terdiam. Bukan dia tidak mau mengurus
Budenya yang sedang sakit, tapi lebih ke merasa kesal, karena Bibinya itu tidak menyampaikan kata-kata yang baik, agar menjaga perasaan Budenya.
Wardah menghela napas kasar. "Iya, Bi. Tenang aja, semoga Bude cepat sembuh di rawat oleh saya dan keluarga."
Ini pasti perbuatan lelaki misterius semalam itu.
Dasar orang jahat! Apa maksudnya dia mengirim penyakit untuk Bude. Awas saja, kalau bertemu lagi, aku pastikan dia harus menebus ini semua.
"Sebelum di bawa, kita obati dulu pake obat herbal. Biar saya dan Beni yang nyari. Supaya penyakit Ibu, nggak terlalu parah. Jarak rumah Ardi sama kita kan jauh." Rohmat menimpali.
"ya sudah! Sana-sana. Jangan lama-lama nanti itu penyakitnya kemana-mana kebawa angin." Ucap Sulis kesal. Rohmat hanya mengelus dada melihat sikap Istrinya yang tak pernah berubah. Beni menatap sedih kepada ibunya. Rasanya dadanya sesak, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkan Ibunya, yang telah melakukan banyak kesalahan.
Tuhan. Tunjukan aku jalan. Beni mendongak, menahan air matanya yang hendak keluar. Lalu ia pun mengikuti Ayahnya.
Tak lama, Parmi pun datang bersamaan dengan Seno. "Ya ampun, mbak Sulis. Ndoro kenapa?" Tanya Parmi, menatap kasihan sekaligus jijik karena benjolan itu tiba- tiba sudah pecah dan bau busuk menguar ke seluru penjuru kamar.
Sedangkan Seno, dia sibuk saling tatap dengan Sulis.
Satu minggu nggak melihatmu, rasanya udah
kangennya setengah mati. Kamu itu wanita yang istimewa, kau selalu membuatku tak bisa mengelak dari pesonamu.
Seperti ada ikatan batin, Sulis melempar senyuman termanisnya terhadap, Seno. Keduanya pun saling malu-malu.
Sedangkan yang lain, sibuk mencari obat traditional untuk pengobatan pertama untuk Bu Saedah.
Wardah yang membawa baskom dengan air hangat,
melihat kedua insan yang sedang senyum-senyum itu, merasa aneh.
Heran, ada ya? Ibunya lagi sakit, malah tebar pesona
seperti itu.
Wardah membatin. Namun, ia abaikan pikirannya tersebut. Dia fokus terhadap keadaan Budenya saat ini.
"War, kok di kompres sih? Nanti malah pecah
bisulnya." Tukas Parmi dengan nada ketus.
"Haduh...haduh...!" Rintih Bu Saedah kesakitan.
"Iya, mbak Parmi. Itu bisulnya sudah banyak yang pecah. Saya hanya berinisiatif membersihkannya. Sambil nunggu yang lain membawa obat buat Bude." Jawab Wardah sambil mengelapi cairan yang berbau anyir dan busuk itu.
"Biar di panggilin Bidan aja. Aku suruh Mas Seno saja, yang manggil. Kasian Ndoro Saedah." Parmi menoleh kebelakang berencana memanggil suaminya. Namun, tak di temukannya di sana. Dia pun keluar kamar, mencari keberadaan sang suami.
"Kemana sih, Mas Seno. Kok malah ngilang tiba-tiba.
Awas saja kalau ketemu, tadi katanya mau bantuin kerjaanku supaya aku cepet pulang. Ini belum aja di suruh malah ngilang nggak tau kemana." Gumam Parmi, sambil terus menyusuri setiap sudut rumah.
Lalu samar, dia mendengar suara aneh dari kamar majikannya, Sulis.
"Eh, suara apa ini. Kayak orang ngejerit, tapi kayak orang keenakan. Hah!? Apa Bang Rohmat sama mbak Sulis lagi main di keadaan Ibu mereka yang lagi sakit parah?" Gumam Parmi melangkah mengendap ke arah kamar Sulis yang tertutup rapat, namun masih terdengar samar suara dari dalamnya.
Parmi perlahan menempelkan telinganya. Suara seperti dirinya saat bermain di atas ranjang bersama suaminya. Namun yang ini lebih seru kedengarannya.
"Waduh! Kayaknya seru banget. Sampe suara mbak Sulis sangat keenakan." Gumam Parmi.
Namun, tiba-tiba dia tersentak oleh suara yang berasal dari kamar Bu Saedah.
"SAKIIT! TOLOOOONG! SAKIT SEKALI...!
WARDAH... PANAS, WARDAH...! TOLONG AKU."
Rintihan dan jeritan itu membuyarkan Parmi yang penasaran dengan suara lelaki yang terdengar dari kamar Sulis.
"Kok, suaranya mirip...! Ah, pasti itu bukan. Hah... kok malah jadi aneh-aneh sih aku mikirnya. Lebih baik ke tempat Ndoro aja ah. Kayaknya mau mau mati dia. Siapa tau aku kecipratan warisan kalau berada di dekatnya."
Parmi yang bingung memilih lari ke tempat Bu Saedah berada.
Sedangkan di dalam kamar Sulis. Kedua insan yang telah menikmati pergumulan panas itu tersenyum senang.
"Kamu itu, pinter banget bikin aku puas, Seno. Aku sampai saat ini nggak bosen-bosennya sama kamu. Nggak kayak suamiku yang nggak berguna itu. Baru beberapa menit udah keluar. Ih, ngeselin." Ucap Sulis manja.
"Iya sayang. Harusnya aku yang ada di posisi dia. Kenapa sih? Nggak kamu cerein dia saja. Terus menikah denganku."
Sulis bangkit sambil tersenyum menatap Seno. "Jadi suami atau nggak jadi suamiku, kamu itu tetep menjadi milikku, Seno. Justru, cuma kamu loh yang sering bercinta denganku, di banding si idi*t itu. Jadi nggak perlu di pikirin." Kilah Sulis yang sebenarnya sayang ngelepasin Rohmat yang mana orangtuanya juga kaya raya, namun Rohmat masih saja tidak mau menikmati kekayaan keluarganya itu. Dengan alasan itu akan di berikan untuk anak-anak nya.
Seno menghela napas. "Iya sayangku, aku paham. Pokoknya aku nurut dengan apa katamu. Asal kamu masih tetap seperti ini denganku. Jujur, aku bisa mati bila kmu menolakku. Parmi itu bau dan tidak secantik kamu. Aku sebenarnya bosan dengan dia, andai dia tidak bekerja di tempatmu, pasti aku sudah ceraikan dia."
Keduanya saling senyum, lalu memulai kembali ronde kedua, setelah satu minggu puasa karena adanya acara tahlilan di rumahnya, Sulis.
***
Keadaan Bu Saedah makin parah. Baru saja beberapa jam. Bisul itu kini berubah menjadi luka yang menganga, yang tak hentinya mengeluarkan binatang-binatang yang menjijikan. Binatang itu berlompatan kesana kemari, membuat yang ada di sana ketakutan.
"Panas! Panas sekali. Tolong aku...! Huhu..., sakit!" Rintih Bu Saedah.
"Astaga... itu belatung kenapa jadi banyak sekali."
Parmi berjingkat saat melihat kumpulan belatung di lantai.
"Ini kayaknya nggak wajar. Bang Beni, cepat panggil pak Imam." Ucap Wardah, saat Beni nampak di hadapannya, membawa air, entah air apa itu. Pikira Wardah, terus ke lelaki semalam yang ia pergoki itu.
"Iya, Wardah. Aku pergi sekarang." Beni segera pergi.
"Aku panggilkan Bu Bidan, juga." Ucap Rohmat yang baru muncul membawa dedaunan obat. Dia semakin panik dan kebingungan, melihat seluruh daging mertuanya yang terkoyak dan menjadi santapan liar oleh belatung-belatung itu.
Wardah mengangguk. Sambil terus menyapu belatung yang berjatuhan. Pipinya sudah basah dengan lelehan air mata. Merasakan kesedihan melihat Budenya, yang kesakitan.
Ya Allah. Kejamnya orang yang telah membuat Bude seperti ini. Ya Allah sembuhkan, Budeku, ya Allah.
Parmi yang hanya melihat, tak tahan lagi dengan bau busuk bercampur anyir itu. "Uek! Ya ampun. Kenapa baunya seperti ini banget sih? Uek! Ah! Mending aku pergi ajalah. Tapi bagaimana kalau aku nggak kebagian warisan. Percuma dong aku mengabdi begitu lama di rumah ini, kalau nggak dapat apa-apa." Lirih Parmi.
Dengan tekat kuat, dia pun mendorong wardah.
"Sana pergi. Biar aku saja yang mengurus Ndoro Saedah. Kamu itu sok perhatian karena cari muka, iya kan? Cih! Dasar CAR-MUK! Sana-sana." Usir Parmi.
"Loh, mbak. Dia kan Budeku, mbak. Ya wajar aku membantunya."
"Sudah sana pergi! Ngotot banget sih kamu." Parmi mendelikkan bola matanya.
Wardah pun ingat Budenya belum makan. "Ya udah, saya ke dapur saja buat bubur. Bude belum makan sedari pagi. mbak, jangan jijik Ya? Dan jaga Bude, baik-baik. Itu juga belatungnya bisa gigit kita lo." Ucap Wardah lalu berlalu.
Parmi membeku. "A-apa? Oh Ya ampun! Mengerikan sekali." Gumamnya kemudian kakinya merasakan sesuatu.
"Aaaa!!! Belatung-belatung. Dia mengigit kakiku.
Ahhh!" Parmi berjingkatan kala melihat belatung pun mulai merayap di kakinya.
JANGAN LUPA DI FOLLOW YAA HEHE