CINTA ITU MANIS
CINTA ITU PAHIT
CINTA ITU HAMBAR
CINTA ITU INGIN TERUS BERJUANG
CINTA ITU TIDAK EGOIS
CINTA ITU INGIN DI MENGERTI
CINTA ITU PENGORBANAN
CINTA ITU HASRAT UNTUK MEMILIKI DAN MENGIKAT
CINTA ITU MELELAHKAN TAPI PENUH CANDU
CINTA ITU SELALU INGIN BAHAGIA
APAKAH SEMUA BISA MAYA DAPATKAN DARI SEORANG PLAYBOY BERNAMA REYNALDI
SIMAK NOVEL INI SAMPAI END
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucu juga ternyata Dia
"Mereka sudah mulai menabuh genderang perang!" gumam Darmawan setelah melihat layar i pad.
Dahi dan bibirnya mengkerut membaca beberapa berita di blog news tentang masa lalunya dan Putrinya tanpa klasifikasi ke pihaknya terlebih dahulu.
Berita penuh kebohongan dan fitnah semata .
"Tio siapkan konferensi pers sore ini, buat press releasenya sesuai dengan informasi yang ada dalam amplop ini dan satu lagi tugaskan seseorang untuk mengawasi dan menjaga Maya tanpa sepengetahuannya," perintah Darmawan kepada asistennya .
"Baik Tuan," jawab Tio sambil mengambil map coklat dan keluar dari ruangan Darmawan.
Setelah Tio pergi Darmawan menelpon seseorang .
"Salim temui Aku di tempat biasa 1 jam lagi," perintah Darmawan kepada seseorang di seberang telepon.
...----------------...
Reynaldi merasa linglung kenapa tiba-tiba dia sudah ada di pasar raya matanya berkeliling seperti sedang mencari seseorang.
"Siang Mas Rey," sapa seseorang yang tak lain adalah Pak Robin.
"Hmm," jawab Reynaldi hanya dengan berdehem.
"Sendirian Mas?" tanya Pak Robin kepo.
Reynaldi menatap Pak Robin sepertinya dia tidak suka dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan Pak Robin ditatap seperti itu membuat Pak Robin kikuk.
"Mau ditemenin seseorang Mas Rey," tanya Pak Robin dengan tebal muka .
Reynaldi berlalu meninggalkan Pak Robin. nampak ekspresi kesal Pak Robin dengan mengepalkan tangan kanannya .
Di stand
"May, bagaimana dengan keluarga Papamu apakah kamu mengalami kesulitan menyesuaikan diri?" tanya Laras.
"Alhamdulillah tidak Kak, selain Papa Kakakku juga orangnya baik. Memang ada beberapa yang tidak menyukai May tapi, May yakin seiring waktu semuanya akan baik-baik saja," jawab Maya .
"Syukurlah, sekarang kamu bahagia jangan lupain aku ya May," kata Laras.
"Ada perasaan takut juga sih Kak," ucap Maya dengan nada khawatir.
"Kata Mamak kalau kebahagiaan datang bertubi-tubi sesudahnya akan ada badai kesulitan yang besar," Maya melanjutkan kata-katanya .
"May jangan terlalu banyak mikir ntar muka lu cepet tua ingat skin care itu mahal ha..ha..ha," ledek Laras .
Karena asik bercengkrama sampai mereka tidak menyadari kalau ada seorang customer mengunjungi stand mereka .
"Layani May, ada customer,";pinta Laras Maya mengangguk dan berbalik.
Dia menatap heran melihat customer yang datang mengunjungi stand-nya yang tak lain adalah Reynaldi. Sesaat dia mematung. Reynaldi menatap Maya sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada T-shirt yang berjejer rapi di T-stand.
Maya berkedip dan dia langsung tersadar bahwa saat ini dia sedang bekerja. Setelah menarik napas dalam-dalam dia menghampiri Reynaldi dengan senyum manis .
"Selamat siang Tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Maya dengan suara lembut.
Reynaldi diam tidak menjawab matanya masih memperhatikan T-shirt yang menggantung di depannya. Tidak mendapat respon, Maya diam hanya memperhatikan Reynaldi dari jarak berapa langkah di belakangnya .
"Ganteng-ganteng tapi dingin dan cuek pelit sama omong," batin Maya.
"Sayang," gumam Maya pelan.
"Ngomong apa lu barusan?" tanya Reynaldi sambil menatap Maya.
Dia mendekati Maya mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Oh, maaf Tuan nggak ....nggak apa-apa," jawab Maya langsung menunduk .
"Tadi lu bilang sayang, apanya yang sayang?" tanya Reynaldi ketus .
"Maaf Tuan saya ...." belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya tiba - tiba pak Robin datang.
Maya mundur beberapa langkah berdiri di belakang Pak Robin .
"Apa ada masalah Mas Rey?" tanya Pak Robin
dengan muka cemas.
Reynaldi tampak kesal dengan kedatangan Pak Robin dia menatap tajam ke arah Pak Robin.
"Maya kamu jangan bikin masalah lagi, kamu harus minta maaf sama Tuan Reynaldi!" perintah Pak Robin.
Maya bingung dia menatap Pak Robin kemudian menatap Reynaldi. Dia seperti baru menyadari sesuatu .
"Jadi cowok yang bajunya kena tumpahan kopi waktu itu Kak Rey," batinnya .
Maya memejamkan mata dan menggigit bibirnya .
"Astagfirullah kenapa selama ini aku nggak nyadarin," bisik nya dalam hati .
"Heem....... baru sadar Lu sekarang," gumam Reynaldi dalam hati puas.
"Tinggalkan kami!" perintah Reynaldi kepada Pak Robin.
Tanpa melihat kearah Pak Robin, matanya tetap menatap tajam kearah Maya. Beberapa SPG lain mulai memperhatikan mereka termasuk Laras dan salah satu cowok di stand seberang stand Maya .
"Ma....af Tuan, atas kejadian saat itu," ucap Maya lirih. Dia menunduk tak berani menatap mata Reynaldi.
"Lu pikir maaf saja cukup, lu tahu kan baju itu harganya mahal?" tanya Reynaldi dengan nada dibuat jengkel dia sepertinya ingin membalas sikap Maya yang selama ini tidak menyadari kesalahannya .
Maya mengangkat wajahnya dan menatap Reynaldi dengan tatapan memelas.
"Tapi Kak, kan gaji May udah dipotong kata Pak Robin selama 3 bulan buat ganti baju kak Rey," kata Maya dengan polosnya .
.
Reynaldi baru tahu ada kesepakatan itu tapi dia pura-pura sudah tahu. Sepertinya dia masih ingin mengerjai Maya .
"Oh, jadi kamu pikir itu sudah cukup?" tanya Reynaldi .
Maya memandang Reynaldi tak mengerti.
"Pilihkan Gue satu t-shirt, Gue ke sini bukan mau berdebat sama Lu!" perintah Reynaldi kehabisan kalimat untuk memojokkan Maya.
"Baik Tuan," jawab Maya.
Setelah memilih beberapa t-shirt yang tergantung di kapstok pilihannya jatuh pada kaos warna biru navy lengan pendek berkerah.
"Kalau yang ini gimana?" tanya Maya.
Reynaldi mengerutkan bibirnya mangut-mangut.
"Oh iya, Tuan ukuran bajunya biasanya apa?" tanya Maya dengan senyum di bibir .
Reynaldi menatap senyum dengan lesung pipi Maya dingin , tapi hatinya bergumam
"Manis," batin Reynaldi.
"Ah ... dasar munafik," bisik hatinya lagi.
"Enggak tahu Gue, Lu lihat aja sendiri," kata Reynaldi cuek.
Postur tubuh Reynaldi yang tinggi membuat Maya harus jinjit saat memegang kerah belakang Reynaldi untuk melihat size yang dipakai olehnya. Reynaldi sedikit membungkukkan badannya. Karena jinjit Maya kehilangan keseimbangan badannya oleng ke depan sehingga bibirnya menyentuh pipi Reynaldi.
Maya langsung menyeimbangkan berdirinya, darah memenuhi wajahnya. Dia langsung menunduk dalam malu luar biasa.
"Ma...af Kak, May gak sengaja," kata Maya tanpa berani menatap wajah pria di depannya.
Kalau nggak lagi kerja mungkin Maya sudah lari ngibrit gak karuan kemana. Reynaldi tertawa geli dalam hati melihat reaksi Maya dia lalu merendahkan tubuhnya sedikit berjongkok .
"Coba kamu lihat yang benar," katanya dengan nada cuek seperti tidak terjadi apa-apa.
Maya lalu melihat ukuran yang tertera di kerah itu Dan Dia kemudian mengambil baju ukuran yang sama tanpa berani menatap Reynaldi .
"Ini Tuan," kata Maya sambil menyerahkan t-shirt dalam kantong khusus kepada Reynaldi dengan tetap menunduk .
Reynaldi menerimanya dan berjalan menuju kasir.
"Lucu juga ternyata dia," bisik Reynaldi ada seulas senyum tersungging di bibirnya .
Maaf reader kalau alur cerita berbelit di awal-awalnya Insyaallah ke depannya author akan lebih baik . Mohon masukannya , like dan juga votenya terima kasih .
Uda mulai muncul benih " asmara nih 🤭
Rey datang buat nyelametin maya