Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin Waktu berhasil
"Kenapa kau memandangiku seperti itu..? Kau tidak perlu merayuku untuk membatalkan penggunaan mesin ini besok." Ridwan mendahului pembicaraannya sebelum Surya mengatakan suatu hal.
"Lihatlah, bukankah mesin itu sangat cantik.. Tetapi tetap memperlihatkan kegagahannya dengan teknologi modern. Mesin ini juga aku lengkapi dengan mesin penggerak, sehingga dapat di pindahkan layaknya mengendarai sebuah traktor." Ridwan kembali berbicara dengan terus memandangi mesin waktu hasil karyanya.
"Aku.."
"Jika kau hanya ingin mengatakan supaya aku menghentikan ini semua. Sebaiknya kau kembali ke Surabaya. Tetapi jika kau ingin melihat keberhasilanku. Maka tinggallah di sini semalam dan kita menghabiskan waktu malam ini bersama." Dengan tegas Ridwan berbicara kepada Surya yang bicaranya di potong oleh Ridwan.
Mendapatkan peringatan keras dari Ridwan, seolah Surya tidak memiliki pilihan lagi. Kebersamaan yang di anggap sebuah pertemuan terakhir oleh Ridwan. Meski Ridwan dapat bertemu dengan Surya yang berada di masa lalu, Ridwan tetap menganggap masa ini adalah sebuah perpisahan.
Sedangkan Surya, juga menganggap seolah-olah malam ini adalah malam kebersamaan mereka berdua untuk terakhir kalinya. Sebab, Surya menganggap jika penggunaan mesin waktu ini berhasil atau tidak berhasil, maka malam ini tetap menjadi malam kebersamaan mereka yang terakhir. Sebab meski berhasil, tidak akan mungkin Ridwan kembali dengan cepat. Terlebih jika gagal. Setidaknya itu yang di pikirkan Surya.
Mereka berdua mengulang cerita-cerita mas kecil mereka. Kegembiraan, kesedihan, pertengkaran. Semua seperti mereka ulas satu persatu hingga waktu subuh tanpa terasa telah tiba.
Setelah selesai menjalankan sholat subuh, mereka berdua kembali bernostalgia dengan masa lalu mereka hingga menceritakan saat pertemuan Ridwan dengan Reisya. Pembicaraan tersebut berlanjut sampai ke acara pernikahan Ridwan yang penuh dengan ketegangan yang terlihat dari Ridwan.
Dalam cerita mereka, Ridwan juga menyempatkan diri untuk mengatakan terimakasih kepada Surya yang telah mengantar Reisya saat itu, saat Ridwan masih di Perancis untuk menandatangani kontrak.
"Berterimakasih padaku..?" Surya bertanya dengan sedikit kaget.
"Ya tentu saja, tanpa di rimu, Reisya mungkin akan sampai di Bekasi beberapa minggu lagi. Mungkin aku juga akan di tegur oleh mertuaku. Tetapi berkat dirimu, aku tidak mendapat teguran itu." Ridwan berbicara dengan senyuman kepada Surya.
"Aku mengantar Reisya..? Aku tidak mengatarnya. Saat itu…" Surya berbicara lalu kembali mengingat kejadian waktu itu.
** Surya Mengingat 3 tahun 3 bulan yang lalu **
"Jika alasanmu karena kamu memberatkan penelitianmu. Maaf, aku tidak bisa. Kamu yang harus menjemput Reisya sendiri." Surya dengan tegas menolak permintaan Ridwan lalu Surya menutup teleponnya.
Dalam telepon tersebut, Ridwan meminta tolong kepada Surya dan Ayla untuk menjemput Reisya di kediri dan di antar ke Bekasi. Hal itu di karenakan Ridwan masih berada di Prancis untuk menyelesaikan segala urusan perjanjian penelitiannya. Ridwan tidak ingin memiliki pengalaman untuk ke dua kalinya seperti waktu di LIPI.
Tetapi, beberapa jam kemudian, handphone Surya kembali berbunyi. Tetapi kini sebuah nomor yang tidak di kenali Surya.
"Hallo assalamu'alaikum." Surya berbicara setelah mengangkat telepon.
"Wa'alaikumussalam. Surya, kamu gak perlu jemput Reisya. Aku yang akan menjemputnya." Terdengar suara Ridwan berbicara di balik telepon. Tanpa sempat Surya menjawab, telepon tersebut di tutup.
Tetapi Ridwan kembali mengingat 1 hari kemudian setelah Ridwan mengatakan jika dirinya tidak perlu menjemput Reisya. Ada sebuah telepon lagi dengan suara yang sama dengan suara kemarin yang menelpon Surya, yaitu suara Ridwan. Akan tetapi kini telepon tersebut dari no Ridwan sendiri.
"Surya, terimakasih sudah menjemput Reisya. Maafkan aku karena aku sempat mengira jika kau tidak akan menjemput Reisya." Ucapan itu yang di ucapkan dari panggilan telepon dari nomor Ridwan.
"Apakah yang menelponku dengan no asing dan memiliki suara Ridwan itu, adalah Ridwan dari masa depan..? Itu artinya mesin waktu yang di buat Ridwan saat ini berhasil." Setelah mengingat hal itu semua, kejadian 3 tahun 3 bulan yang lalu. Surya membatin dalam pikirannya sendiri hingga membuat Surya berteriak senang seperti anak kecil.
"Hei.. Mengapa kau begitu bahagia hanya karena aku mengucapkan terimakasih..?" Ridwan yang tidak mengerti dengan alasan Surya yang terlihat sangat bahagia, bertanya dengan bingung kepada Surya. Tetapi Surya tetap berteriak bahkan berjoget dan tidak menjawab ucapan Ridwan.
Setelah berteriak dan berjoget, Surya memeluk Ridwan. Dan mengatakan, "Kau akan berhasil kawan. Kau akan berhasil ke masa lalu. Mesin waktumu akan berhasil."
Ridwan yang tidak memahami dengan ucapan Surya, menganggap ucapan tersebut adalah sebuah doa dari Surya. Hal yang juga membuat Ridwan tersenyum karena menganggap kini Surya merestuinya. Tidak seperti beberapa jam yang lalu.
** 1 jam kemudian **
Farid baru datang dari rumahnya dan bersiap untuk menjalankan rencana penggunaan mesin waktu yang telah Ridwan buat dengan bantuan dari Farid.
Sebelum Ridwan menjalankan mesin waktu, mereka berenam dengan kedua anak Surya, melakukan pesta pembukaan kecil-kecilan dengan acara sarapan bersama dengan bersenda gurau.
Farid yang mengetahui jika Ridwan tidak akan kembali, terkadang menunjukkan raut wajah kesedihan. Tetapi Ridwan selalu memberi kode kepada Farid agar menahan kesedihannya.
Setelah mereka selesai melakukan pesta kecil, kini Ridwan dan Farid bersiap. Sedangkan Surya, Ayla dan kedua anaknya, melihat dari jarak aman.
Terlihat Farid terus melihat layar komputer yang terhubung dengan mesin waktu untuk mengecek ke stabilan semua bagian dari mesin waktu itu.
Sedangkan Ridwan berjaga dengan menggunakan baju tahan api. Setelah baju tahan api selesai di gunakan. Dengan segera Ridwan menaiki mesin waktu dan menutup semua kaca di mesin waktu.
Kini mesin mulai di nyalakan oleh Ridwan. Terdengar deru komponen-komponen yang berputar dengan kecepatan yang luar biasa hingga gerakannya tak terlihat. Setelah putaran mesin telah cukup, kini Ridwan menekan sebuah tombol.
Setelah tombol di tekan, putaran kini semakin kencang hingga membuat mesin waktu yang memiliki berat 4 ton itu melayang dari panggung baja yang di buat untuk tempat penyanggah.
Plaassst.. Terdengar suara seperti cambukan bersamaan dengan kilatan cahaya yang menerangi semua ruangan. Kilatan yang menyilaukan terpaksa membuat Farid, Sury, Ayla dan kedua anak surya berkedip silau.
Saat cahaya silau sudah hilang, mesin waktu yang sebelumnya terlihat berputar di bagian-bagian komponen, telah hilang dari tempat sebelumnya.
"Berhasil.. Apakah berhasil.. Apakah benar berhasil." Terlihat tawa dan sorak kegembiraan dari Surya dan Ayla beserta kedua anaknya. Tetapi tidak dengan Farid.
Terlihat wajah Farid seakan di lipat hingga membuat Surya dan lainnya terdiam.
"Farid..! Ada apa..!! Kenapa hanya kau yang tidak terlihat bahagia. Apaa yang terjadi..!! Apa yang sebenarnya terjadi..! Tidak terlihat sebuah kesalahan. Bukankah benar Farid..! Tidak ada kesalahan pada mesin Ridwan tadi..!!" Surya segera bertanya dengan nada suara tinggi dan marah kepada Farid yang terlihat tetap menggunakan wajah kesedihan tanpa menjawab pertanyaan Surya. Sebab Farid masih mencari cara untuk memulai menceritakan hal yang sudah di pesankan oleh Ridwan.
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..