Tidak kenal, tiba-tiba melamar?
Begitulah yang dilakukan oleh seorang Sagara Ibrahim terhadap Florensia Agata, gadis yang ditemuinya ditaman komplek rumah kakaknya. Pria jomblo yang belum menemukan tambatan hati itu tiba-tiba saja melamar seorang gadis yang ditolak orang tua kekasihnya. Entah apa yang pria itu pikirkan.
Akankah lamaran Saga diterima? Lalu, jika mereka menikah, bagaimana kehidupan rumah tangga mereka? Banyak yang bilang, cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Apakah itu juga berlaku bagi keduanya, disaat kekasih Floren masih gencar mendapatkan hati istri Saga kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AfkaRista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Tahlilan untuk Rianto di gelar setiap hari. Dan hari ini adalah tujuh hari kepergian pria itu. Hubungan Flo dengan Saga kian merenggang sejak percakapan mereka terakhir kali waktu itu. Hingga kini, baik Saga maupun Flo tidak ada yang saling bertegur sapa. Tidak hanya hubungannya dengan Saga, dengan mertua dan iparnya pun, Flo hanya berbicara seperlunya saja.
"Flo, makan dulu. Kamu belum makan sejak pagi," ajak Salsa. Iparnya itu begitu perhatian bahkan kedua orang tua Salsa juga. Sayangnya semua tak mampu membuat Flo tergugah. Hatinya terlanjur sakit akibat kepergian sang Ayah.
"Nanti saja, kak." sahutnya santai
Salsa hanya menghela nafas, ia tidak tahu bagaimana lagi cara membujuk iparnya agar kembali ceria seperti dulu. Saga pun terlihat begitu berubah. Pria yang biasanya sering membuat banyolan itu kini terlihat begitu dingin.
Didalam kamar, Gita berkali-kali menghela nafas. Dia jelas kepikiran tentang hubungan anak dan menantunya. "Kita selesaikan masalah ini setelah tujuh hari Pak Rianto, Bun. Tidak enak juga jika membahas masalah ini saat masih berduka."
Gita menghela nafas dengan berat, "Apa Ayah tidak merasa jika hubungan keduanya sekarang sedang merenggang. Saga dan Flo bahkan tidak pernah bertegur sapa. Aku hanya khawatir kalau -."
"Semua masalah pasti bisa di selesaikan, Bun. Kita, Azka bahkan masalah dengan Danar bisa selesai dengan damai. Ayah juga yakin masalah Saga dan Flo juga akan berakhir damai."
Gita membuang nafas, apakah ini saatnya memberi tahu dugaan dokter tentang kehamilan menantunya. Tapi, suasana yang kurang mendukung bisa tambah runyam mengingat hubungan Saga dan Flo yang kini merenggang.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Semua akan baik-baik saja. Badanmu terlihat semakin kurus loh, Bun."
Gita terkekeh pelan, Dirga memang selalu perhatian bahkan untuk hal-hal kecil. "Terima kasih atas perhatiannya, Yah. Untung aku punya pendamping seperti kamu. Kalau tidak, entah bagaimana hidupku kedepannya."
"Heleh, buktinya kita bahagia. Begitupun dengan anak-anak kita nanti. Sudah, jangan kebanyakan mikir. Mending kita buat adiknya Saga saja yuk."
"Udah bangkotan Yah. Malu sama cucu!."
***
Saga membuang puntung rokok entah yang ke berapa kalinya. Pikirannya masih terus berputar pada perkataan Flo beberapa hari yang lalu. Sungguh, Saga begitu sakit hati karena merasa Flo seperti mempermainkan pernikahan mereka.
"Ga...," Saga menoleh dan menatap Abangnya yang berjalan ke arahnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Flo?."
Saga bergeming, tentu hal itu membuat Azka berdecak sebal. "Abang tidak mau ikut campur masalah rumah tanggamu. Tapi kalau boleh memberi saran. Jangan mengedepankan emosi dan ego kalian. Semua terjadi secara tiba tiba dan tentunya sangat menyakitkan bagi istrimu. Apalagi, secara tidak langsung, kamu terlibat didalamnya. Sebagai seorang anak yang hanya memiliki orang tua tunggal. Kehilangan satu - satunya keluarga yang kita miliki tentu adalah mimpi buruk. Dan kamu sebagai suami, sudah menjadi tugasmu untuk mendampinginya dalam kondisi apapun. "
Saga menghela nafas, "Bagaimana kalau dia ingin berpisah denganku?."
Azka menatap adiknya tak percaya, "Flo meminta pisah padamu?."
Saga tidak menyahut dan membuat Azka bisa menyimpulkan apa yang terjadi antara mereka berdua. "Ajak dia bicara berdua, Ga. Apapun masa-."
"Dia masih mencintai mantannya dan mereka berencana menikah setelah Flo dan pria itu sama-sama bercerai."
"Dan kau percaya begitu saja? Siapa yang mengatakan hal itu? Flo atau mantan kekasihnya?," tanya Azka sinis. "Kau itu orang paling peka dalam keluarga Ibrahim. Kenapa sekarang jadi seperti orang bodoh yang mudah di kelabuhi. Ayo lah, Ga. Ini bukan dirinya yang biasa. Jangan biarkan dirimu di tipu oleh keadaan."
Saga akan menyahut tapi ponselnya lebih dulu berdering.
[Ya Bun?]
[Ga... Flo pergi dari rumah. Dan kami tidak menemukannya dimanapun. Pakaiannya juga sebagian tidak ada.]
Deg
Pikiran Saga kembali melayang pada pembicaraan mereka. Pria itu tersenyum sinis,
"Ada apa?," tanya Azka yang melihat wajah menyeramkan adiknya. Ia menduga pasti ada hal buruk yang terjadi.
Ting
Tuan, Alendra Ikmal baru saja datang dan memberikan surat pengunduran dirinya. Lapor asisten Saga.
"Bangsat!! Kalian benar-benar sialan! Akan ku pastikan kalian tidak akan hidup tenang selamanya!!."
*Apa Flo benar-benar pergi bersama Ale? *
keknya kamu lebih hyper saga
saga lebih dewasa dan tidak oon dari pada azka sang kakak.
*pemeran utama wanita apapun kesalahanya, melukai hati suami, merendahkan harga diri suami, pergi tinggal suami, pisah anak dan ayah, terang2 mencintai pria lain, ucapanya selalu melukai perasaan suami tapi apa yang terjadi semudah itu dimaafkan dan malah dibalik suami yang dibuat berjuang dan mengemis cinta
*pebinor apapun kesalahanya, merusak rumah tangga orang, melukai perasaan istrinya, merendahkan harga diri istrinya tapi apa semudah itu dimaafkan, malah saking spesialnya pebinor, istri dibuat jadi wanita bodoh dan mengemis cinta pada yang selalu mencintainya dan rela diperlakukan seperti apapun
coba banding (dinovel mu saja lah) jika
*pemeran utama pria yang membuat kesalahan pasti dibuat menyesal, menderita, dapat karma, mengemis maaf, dan berjuang mati2an untuk dapat kesempatan, dan posisi bisa tergantikan pria lain
*pelakor sudah pasti dilaknat, diperlakukan kasar dan hina, dan akhirnya dibinasakan
dengan pemikiran yang tidak adil dan egois kayak gini kalian membuat novel dan kalian bangga
mungkin novel kalian bagus dari segi karya seni tapi dari sisi moral dan keadilan novel kalian sangat miris sekali
runyam kan?
semangat kaka🥰🥰🥰