Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa ini semua nyata?
Reno pusing melihat Rara yang malah mondar-mandir di depannya. Entah kenapa ini cewek tiba-tiba mondar mandir setelah mendapat cubitan yang sangat keras dari Reno.
"Aduh! ini tidak mimpi, ini tidak mimpi! Nala mau dinikah sama seorang pengusaha kaya raya!" serunya sambil sekarang jingkrak-jingkrak.
"Kamu tidak apa-apa?" Kedua alis Reno berkerut aneh. "duduk, Ra! kamu nanti capek dan laper lagi."
"Aku kalau senang bin bingung akan suatu hal suka mondar-mandir begini, karena dengan begitu otakku bisa berpikiran lebih baik. Kamu serius kan, Ren. Nala akan menikah dengan Akira? kok bisa sih?"
"Ya cintalah, apalagi?" Reno dengan santai menghabiskan minumannya. 'tidak mungkin aku mengatakan Akira hanya memanfaatkan kepolosan teman kamu untuk menjalankan rencananya, bisa-bisa rencana yang disusuk Akira berantakan, dan gagal.' Reno menarik senyum pada sudut bibirnya.
"Tapi apa Nala mau?"
"Tentu saja dia mau, siapa yang berani menolak seorang Akira Danner," ucap Reno sombong.
"Nala itu gak pernah memandang orang dari statusnya, dia juga bukan gadis matre, yang aku bingung. Kok bisa sih?" Sekarang Rara duduk di samping Reno.
"Kok bisa apanya? pertanyaan kamu ambigu," tanya Reno aneh.
"Kok bisa si Akira itu jatuh cinta pada Nala? dan Nala juga menerimanya, serta mereka kapan ketemunya, setahu aku Nala itu setiap ada kejadian yang menimpa hidupnya selalu bercerita denganku, dan si Akira ini kenapa aku tidak tau?" Rara berpikir.
"Ya nanti kamu tanya sendiri saja sama Nala, mungkin dia malu menceritakan hal ini, diakan tidak pernah berpacaran sebelumnya."
"Siapa bilang?" sahut Rara.
"Nala bilang dia tidak pernah dekat dengan seorang cowok." Tommy mulai menelisik.
"Ada yang suka sama dia tapi dia tidak tau kalau pria itu sangat menyukainya. Dia sebenarnya pria yang baik, aku juga setuju andai Nala juga menyukai dia, tapi Nala sama sekai tidak ada perasaan suka, apalagi cinta."
"Oh, Ya? terus, pria itu, apa tidak berusaha menyatakan cinta pada Nala?"
"Aku tidak tau, sampai sekarang dia juga tetap tidak menyatakan cintanya pada Nala, dia tau Nala tidak akan membalas cintanya karena Nala tidak mau memikirkan tentang suatu hubungan, yang ada di pikirannya hanya mencari uang dan uang."
"Apa hidup Nala sangat sulit? kenapa harus uang yang menjadi masalah utamanya?"
"Iya, apalagi ada seorang juragan tanah yang menawari Nala untuk menjadi istrinya, padahal dia sudah punya anak dan bahkan cucu. Nala harus membayar hutangnya pada orang itu, supaya dia tidak harus menikah dengan dia."
"Wah! kenapa menderita sekali hidup Nala. Kenapa dia tidak mencari pacar orang kaya saja? dengan begitu dia bisa minta tolong untuk membantu kehidupan dia, apa pria yang menyukainya juga pria mapan?"
"Iya, dia pria mapan, tapi tetap saja Nala tidak mau bantuan dari siapapun, apalagi harus berpacaran dan memanfaatkan kekasihnya, itu bukan sifat Nala. Dia akan berusaha dengan tangannya sendiri."
"Dia gadis yang baik dan tangguh ternyata. Akira, kamu hati-hati saja," ucapnya pelan pada bagian akhir kalimatnya.
"Yang membuat aku bingung, kenapa dia bisa menerima Akira? Nala kan tidak mau dibingungkan dengan hubungan cinta-cintaan begini, apa Nala mulai jatuh cinta pada Akira atau ada sesuatu hal yang sudah terjadi pada mereka?" Rara berpikir.
Reno melirik pada Rara samar. Reno melihat wajah Rara yang lagi bengong memikirkan sesuatu. "Kamu tanya saja sama sahabat kamu, kamu pasti nanti diberitahu sama Nala.
Rara manggut-manggut. Tidak lama ponsel Rara berdering dan ada nama bibinya di sana. "Lah, bibinya Nala menelepon, bagaimana ini? Reno! bagaimana ini?" Rara tidak hanya kaget dia juga memukul-pukul tangan Reno.
"Ya Tuhan! ini cewek bar-bar sekali. Ya kamu tinggal angkatlah, Ra! susah amat."
"Bukannya begitu, bibinya pasti tanya Nala di mana? masak aku dengan santai bilang Nala sedang berada di dalam kamar dengan pria yang mau menikahinya. Kan tidak mungkin!"
"Ya jangan bilang begitu, Rara!" Reno memutar bola matanya jengah."
Rara akhirnya menerima telepon dari bibinya Nala, dan benar bibinya Nala bertanya di mana Nala, karena dari tadi menghubungi ponsel Nala tapi tidak bisa, karena memang Nala tidak mendengar ada panggilan telepon.
"Sebentar lagi aku akan pulang dengan Nala, Bi. Aku masih mengajak Nala mampir makan malam," bohongnya Rara.
Setelah itu Rara melihat ke arah Reno. "Ren, Nala sama Akira kenapa lama sekali di atas, Sih? mereka benaran makan malam atau melakukan hal yang aneh-aneh?"
"Aku tidak tau?" Reno menggedikkan bahunya pelan. "Kalaupun mereka melakukan apa-apa, ya biarkan saja, mereka kan sudah dewasa juga dan Akira tetap akan menikahi Nala."
"Memang ada pria seperti itu? pasti seorang pria yang sudah mendapatkan apa yang dia mau, dia akan mencampakkan wanita itu."
"Ck! Akira bukan pria seperti itu. Sudah kita tunggu saja. Mungkin mereka masih berdansa atau masih menikmati moment indah makan malam mereka, kita tidak perlu mengganggunya," sekali lagi ucap Reno santai.
Rara bingung juga, apa yang harus dia lakukan? tapi dia yakin jika Nala bisa menjaga dirinya. Nala yang masih bingung apa dia harus menerabas masuk atau menunggu saja. Tidak lama terlihat dua orang menuruni anak tangga dengan berpegangan tangan. Nala tampak tersenyum pada Akira.
"Nala, akhirnya kamu turun juga. Kamu baik-baik saja, Kan?" Bisik Rara.
"Aki baik-baik saja. Memangnya ada apa?" tanya Nala yang sekarang gantian bingung.
"Enggak, aku penasaran saja dengan apa yang kamu lakukan sama pria muka tenang itu di atas sana, dan kamu juga jahat sama aku, Na." Rara cemberut.
"Jahat apanya?"
" Jahat, kenapa tidak bilang kalau kamu mau menikah dengan Akira, dan tidak cerita, bagaimana kamu bisa mempunyai hubungan dengan Akira?"
"Nanti ya, Ra. Sekarang kita pulang dulu, bibiku juga pasti sudah menungguku di rumah."
"Ya ampun! aku sampai lupa, tadi bibi kamu menghubungiku dan bertanya di mana kamu, dan aku terpaksa berbohong."
"Ya sudah, ayo kita pulang." Tangan Nala menarik tangan Rara hendak mengajaknya pergi."
"Nala, tunggu." Akira menahan tangan Nala seketika, Nala menoleh ke arah Akira. "Ada apa, Akira?"
Akira menarik tangan Nala, membuat Nala melepaskan tangan Rara. "Kamu belum mengucapkan selamat tinggal denganku." Tangan Akira mulai mengusap lembut pipi Nala dan mengecup pipi Nala.
Rara yang melihatnya seketika melongo dan matanya membulat lebar melihat hal itu. "Ren, cubit aku!" perintahnya lagi pada Reno yang berdiri di sebelahnya.
"Cubit lagi? Hem ...!"
"Cubit Reno, cubit! aku mau tau aku tidak di dunia mimpi, Kan?"
"Enggak, kamu di dunia nyata yang sangat memuakkan." Reno melihat Akira yang mencium pipi Nala dengan kesal.
lanjuut
lanjuutt