Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan mesin tua
Pagi itu, sebuah truk derek berhenti di depan bengkel Farhan. Di atasnya, tertutup kain terpal abu-abu, sebuah motor legendaris—Ducati 900SS tahun 1970-an—diturunkan dengan sangat hati-hati. Pemiliknya adalah Pak Wijaya, pengusaha properti yang dikenal sangat perfeksionis. Motor itu sudah mati selama sepuluh tahun. Tiga bengkel spesialis di Jakarta gagal menghidupkannya karena kelangkaan suku cadang dan sistem mekanisnya yang rumit.
"Saya dengar dari Farhan, istrinya punya tangan dingin soal mesin," ujar Pak Wijaya saat bertemu Alika di area kerja. Ia menatap Alika dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat kerudung instan hitam yang dimasukkan ke dalam kerah baju montirnya. "Jangan kecewakan saya. Motor ini adalah kenangan almarhum ayah saya. Kalau kamu bisa menghidupkannya dalam tiga hari, saya akan kontrak bengkel ini untuk merawat seluruh koleksi mobil klasik saya."
Alika mengangguk mantap. "Tiga hari, Pak. Saya akan usahakan yang terbaik."
Begitu truk derek pergi, Alika langsung bekerja. Ia menyiapkan peralatan kuncinya. Farhan memberikan area khusus di sudut bengkel yang paling tenang agar Alika bisa fokus. Namun, tantangan pertama muncul: Pak Broto ternyata tidak tinggal diam. Ia tahu bahwa keberhasilan Alika pada motor Pak Wijaya akan menjadi pukulan telak bagi fitnah yang ia sebarkan.
Malam pertama, Alika lembur hingga pukul sebelas malam. Ia baru saja membongkar bagian transmisi ketika ia menyadari ada yang aneh dengan kotak peralatan utamanya. Kunci torsi presisi miliknya—yang sangat krusial untuk mengencangkan baut kepala silinder—tampak sedikit miring. Saat ia mencoba menggunakannya pada baut penguji, alat itu tidak menunjukkan angka yang akurat.
"Farhan, lihat ini," panggil Alika.
Farhan mendekat dan memeriksa alat tersebut. Wajahnya mengeras. "Ini disabotase. Pegas di dalamnya dipaksa ditarik hingga kalibrasinya kacau. Kalau kamu pakai ini untuk baut Ducati itu, blok mesinnya bisa retak karena tekanan yang tidak rata."
Alika memeriksa CCTV bengkel lewat ponselnya. Ternyata, salah satu asisten mekanik baru yang baru bekerja seminggu—yang kemungkinan besar disuap oleh orang suruhan Pak Broto—terlihat mengendap-endap di area kerja Alika saat jam istirahat sore tadi.
"Kita tidak punya waktu untuk beli yang baru malam ini, Farhan. Semua toko alat teknik sudah tutup," kata Alika frustrasi. "Dan besok adalah hari kedua."
"Gunakan alat manual, Alika. Pakai instingmu," jawab Farhan tenang. "Kamu sudah bertahun-tahun membongkar mesin di pinggir jalan dengan alat seadanya. Kamu tahu kapan sebuah baut sudah 'terikat' dengan pas hanya lewat tarikan ototmu."
Alika menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak menyerah pada sabotase itu. Sepanjang malam kedua, ia bekerja hanya dengan kunci manual dan perasaan. Ia membersihkan karburator yang sudah berkerak hijau, mengurut kabel-kabel yang sudah getas dimakan usia, dan menyetel ulang celah katup dengan sangat teliti. Tangannya kembali hitam, bajunya penuh noda bensin, tapi matanya fokus.
Di sela-sela pekerjaannya, Ummi Salamah datang membawakan kopi dan makanan kecil. Ummi tidak lagi memintanya berhenti. "Teruskan, Nak. Buktikan kalau kamu bukan perempuan lemah yang bisa dijatuhkan hanya dengan foto di media sosial."
Hari ketiga tiba. Sore hari, Pak Wijaya datang bersama beberapa rekannya, termasuk salah satu kolega Pak Broto yang tempo hari mengambil foto Alika. Mereka datang untuk menonton kegagalan.
"Sudah menyerah, Alika? Mesin tua begitu memang lebih cocok jadi rongsokan, sama seperti reputasi keluargamu," sindir kolega Pak Broto itu sambil tertawa kecil.
Alika tidak menjawab. Ia memasang tangki bensin yang baru dibersihkan. Ia memeriksa aliran bahan bakar sekali lagi. Farhan berdiri di sampingnya, memberikan dukungan moral tanpa suara. Alika menoleh pada Pak Wijaya.
"Boleh saya coba nyalakan, Pak?" tanya Alika.
Pak Wijaya mengangguk tegang.
Alika menarik tuas choke. Ia menekan tombol starter elektrik yang sudah ia modifikasi karena sistem aslinya sudah rusak parah.
Cek-cek-cek-cek... mesin hanya berputar tanpa menyala.
Terdengar tawa ejekan dari arah kolega Pak Broto. "Sudah saya bilang, cuma buang-buang waktu."
Alika tidak panik. Ia mengatur sedikit setelan udara pada karburator kanan. Ia mencoba lagi.
Cek-cek-cek... BRUM! BRUM-BRUM-BRUM!
Suara khas mesin Ducati tua yang menggelegar tiba-tiba memenuhi seisi bengkel. Suaranya bersih, stabil, dan bertenaga. Tidak ada asap hitam, tidak ada suara pincang. Mesin yang sudah mati sepuluh tahun itu kembali hidup di tangan Alika.
Pak Wijaya terpana. Ia mendekat dan mengelus tangki motornya dengan mata berkaca-kaca. "Luar biasa... suaranya persis seperti saat ayah saya membawanya dulu."
Pak Wijaya menoleh ke arah kolega Pak Broto dengan tatapan dingin. "Sampaikan pada Pak Broto, jangan pernah meragukan mekanik pilihan Farhan lagi. Dan soal foto-foto itu? Saya sendiri yang akan menjelaskan pada asosiasi pengusaha bahwa Alika adalah mekanik terbaik yang pernah saya temui. Siapa pun yang masih menyebarkan fitnah tentangnya, berarti berurusan dengan saya."
Pria itu terbungkam. Ia segera pergi dari bengkel dengan wajah menahan malu.
Setelah Pak Wijaya pergi dengan janji kontrak besar yang cukup untuk melunasi cicilan hutang lima ratus juta selama setahun ke depan, Alika terduduk lemas di lantai bengkel. Farhan berlutut di depannya, mengusap dahi istrinya yang berkeringat.
"Kamu berhasil, Alika. Kamu membungkam mereka dengan karya, bukan dengan kata-kata," bisik Farhan.
Alika tersenyum, meski tubuhnya luar biasa lelah. "Ternyata, jadi sholehah itu tidak harus meninggalkan kunci pas, ya Farhan?"
Farhan tertawa kecil. "Sholehah itu tentang bagaimana kamu menjaga amanah dan harga diri, apa pun profesimu. Dan hari ini, kamu sudah melakukannya dengan sangat baik."
Malam itu, hutang mereka memang belum lunas sepenuhnya, tapi martabat Alika telah kembali utuh. Fitnah Pak Broto mental dengan sendirinya di hadapan bukti nyata sebuah keberhasilan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...