( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nightmare?
Mimpi
Terkadang, mimpi mampu menyampaikan arti yang jauh lebih dalam mengenai suatu hal. Entah itu membawa petunjuk tentang kebajikan atau justru firasat buruk, tanda-tanda sederhana yang menyelinap masuk ke dalam alam bawah sadar saat manusia terlelap memang tidak pernah boleh diremehkan.
Di tepi danau yang sunyi, Clarissa tengah berjuang keras menguasai diri dan menenangkan degup jantungnya. Namun, tepat saat dia mencoba meraup udara, sudut matanya kembali menangkap siluet hitam yang berdiri tegak di kejauhan seberang danau.
Sembari terengah-engah dengan napas berat, Clarissa mengangkat telunjuknya yang gemetar. Dia mengarahkan jarinya ke arah sosok itu, memberi isyarat paksa agar Deon dan Edward bisa menyaksikan makhluk mengerikan tersebut.
Edward dan Deon menolehkan kepala mereka dengan amat perlahan. Kejadian sebelumnya—saat Clarissa mengaku melihat sesuatu yang gaib bagi pandangan mereka—membuat kedua pria itu sadar betul; apa pun yang tengah ditunjuk Clarissa saat ini adalah nyata, bukan sekadar halusinasi semata.
Benar saja, begitu tolehan lambat mereka usai, makhluk mengerikan menyerupai manusia itu kini benar-benar mewujud dan tertangkap oleh sepasang mata mereka.
Seketika itu juga, atmosfer di padang rumput tepi danau berubah mencekam. Tubuh mereka gemetar hebat—sebuah reaksi naluriah yang menegaskan bahwa entitas yang sedang memaku pandangan ke arah mereka jelas-jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Edward mengambil tindakan dengan sangat hati-hati. Perlahan, tetapi pasti, dia menyambar pergelangan tangan Clarissa, lalu langsung menarik gadis itu berlari kencang—meninggalkan Deon yang saat itu saking takutnya merasa seolah ingin mengompol di celana.
Deon sempat terpaku, namun begitu sadar dirinya tertinggal beberapa langkah di belakang karena terlalu fokus memandangi makhluk itu, dia langsung tunggang-langgang menyusul. Mereka berlari membelah hutan, membiarkan pepohonan tinggi menyembunyikan pelarian mereka, sembari merelakan seluruh barang perbekalan buatan tangan mereka tertinggal di tepi danau.
Hampir dua jam lamanya mereka berlari menembus kesunyian subuh sebelum akhirnya terpaksa berhenti akibat kelelahan yang luar biasa. Clarissa terduduk lemas, tubuhnya menuntut seteguk air demi memulihkan energi yang terkuras habis.
Sembari mengawasi keadaan sekitar, Edward memastikan bahwa situasi kini sudah relatif aman. Deon yang berada di posisi paling belakang akhirnya berhasil menyusul, napasnya memburu dan dia langsung mengomel pada Edward karena merasa ditinggalkan begitu saja saat pelarian tadi.
Edward memaksakan seulas senyum, lalu meminta maaf kepada Deon. Dia beralasan bahwa tindakan spontannya tadi murni merupakan refleks naluriah manusia untuk bertahan hidup.
"Maaf, maaf. Aku pikir kamu cukup kuat untuk melawan sosok itu sendirian, haha," canda Edward, mencoba mencairkan atmosfer mengerikan yang masih menggelayuti benak mereka.
Edward kemudian beralih menatap Clarissa yang dadanya masih naik-turun drastis akibat berlari tanpa henti selama dua jam. Bagi Edward yang telah menjaga Clarissa sejak kecil sebagai kepala pelayan, pemandangan ini terasa wajar sekaligus menyayat hati. Bagaimana mungkin seorang putri kerajaan yang selama ini hidup dimanja, tiba-tiba dipaksa beradaptasi dengan perubahan dunia yang begitu radikal dan mendadak? Tubuhnya jelas belum siap menerima tekanan fisik seberat ini.
Mata Edward kemudian tertuju pada jajaran pohon di sekitar mereka yang tengah berbuah lebat. Ranumnya buah-buah apel itu seketika membangkitkan rasa lapar. Bertekad memberikan sedikit kelegaan bagi Clarissa, Edward melangkah mendekat untuk memetik beberapa buah.
Apel pertama berhasil dipetik.
Apel kedua berhasil diambil.
Namun, tepat saat jemarinya hendak meraih apel ketiga, sebuah sensasi sedingin es mendadak merayapi tengkuknya. Rasa merinding yang luar biasa hebat menyergap seluruh tubuhnya.
Sosok hitam yang selama ini mereka hindari mati-matian, kini berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu intim—hanya butuh satu langkah kecil untuk menyentuhnya. Sejak kapan makhluk ini ada di sini? Pertanyaan itu berputar liar di dalam kepala Edward seiring jantungnya yang berdegup kencang seperti ingin melompat keluar.
Belum sempat Edward meloloskan satu pun teriakan dari mulutnya, sosok itu bergerak secepat kilat, mencengkeram tangan kanan sang kepala pelayan.
Tangan yang selama ini dia gunakan sepenuh hati untuk merawat dan melindungi Clarissa, dalam sekejap berubah wujud. Kulit dan dagingnya meluruh menjadi butiran pasir kelabu, berjatuhan ke tanah, lalu lenyap tertiup angin.
Barulah setelah itu, jeritan histeris Edward pecah membelah hutan. Lengkingan penuh penderitaan itu bergaung keras, menggambarkan rasa sakit luar biasa yang tengah menggerogoti tubuhnya.
Clarissa yang tadinya sempat memejamkan mata untuk beristirahat langsung tersentak kaget mendengarkan teriakan Edward. Di sudut lain di bawah pohon yang berbeda, Deon yang sedang memijat kakinya yang linu turut terperanjat.
Mereka berdua bergegas berlari menghampiri Edward. Seketika, syok berat menghantam kesadaran mereka saat mendapati lengan kanan si kepala pelayan telah raib tak berbekas. Clarissa dengan panik berusaha menenangkan Edward yang kini tersungkur di tanah, merintih dengan suara parau yang menyayat hati.
Deon mencoba menguasai rasa paniknya yang membubung tinggi. Di tengah debaran jantung yang kian berpacu keras, dia mengedarkan pandangan, berniat mencari sumber air terdekat dengan harapan bisa menenangkan Edward. Perlahan-lahan, volume rintihan Edward mulai mengecil, seolah rasa sakit yang menyiksanya perlahan-lahan memudar seiring hilangnya bagian tubuh tersebut.
Merasa pencariannya nihil, Deon terpaksa kembali dan hanya bisa menunggu sampai Edward mampu mengontrol kesadarannya kembali. Di sisi lain, Clarissa mengambil buah apel yang terjatuh di dekat tubuh Edward—bekas petikan yang gagal dipertahankan. Menatap butiran abu kelabu di samping pelayannya, Clarissa tahu betul pasir jenis apa itu.
Deon kemudian mengambil inisiatif untuk memetik lebih banyak buah apel. Meski diliputi keraguan apakah tindakan ini akan membantu atau tidak, baginya ini jauh lebih baik daripada hanya berdiri diam membisu melihat salah satu rekannya berjuang keras menahan rasa sakit.
Apel pertama dipetik Deon.
Apel kedua dipetik Deon.
Apel ketiga dipetik Deon.
Baru saja tangannya bergerak hendak memetik apel keempat, sosok hitam berambut putih itu mendadak menampakkan dirinya—berdiri tepat di belakang punggung Deon.
Clarissa yang menyadari kemunculan instan itu langsung bergerak di luar nalar. Dia berlari dan mendorong tubuh Deon sekeras mungkin, tepat sebelum jemari dingin sosok itu sempat menyentuh punggung sang kawan.
Beruntung, kali ini reaksi cepat Clarissa berhasil menggagalkan serangan makhluk tersebut. Namun jika dipikirkan kembali, kedatangan sosok itu teramat acak dan dibekali kecepatan yang tidak masuk akal.
Bahkan, Clarissa mulai berpikir bahwa sosok itu sebenarnya bukan "datang" dari suatu tempat, melainkan baru saja "menunjukkan" eksistensinya. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak berdiri di belakang orang lain tanpa ada suara langkah atau gesekan tanah yang terdengar oleh siapa pun?
Namun, Clarissa terpaksa mengubur dalam-dalam semua pertanyaan itu. Dia tahu satu hukum pasti: sekali saja sosok itu menyentuh kulit mereka, maka tamatlah riwayat mereka.
Sosok itu menatap dingin ke arah Clarissa, meskipun wajahnya tetap terisolasi di balik kegelapan. Dari bahasa tubuhnya, Clarissa bisa merasakan dengan jelas bahwa makhluk itu sedang dilingkupi kemarahan yang pekat.
Sang entitas mulai menggerakkan tangannya, mengarahkannya langsung ke tubuh Clarissa. Di saat kritis itu, Edward yang semula tersungkur menahan sakit mendadak bangkit menggunakan sisa tenaga terakhirnya. Dia melakukan aksi nekat; menyeruduk tubuh sosok itu dengan kepalanya hingga keduanya terjerembap ke tanah.
Sosok itu menggeram murka. Dengan gerakan luar biasa cepat, dia mengayunkan tangannya ke arah Edward yang ikut terjatuh setelah melancarkan serangan nekatnya tadi.
"TIDAK! EDWARD!" Clarissa berteriak histeris, tangannya terjulur berusaha meraih tubuh sang kepala pelayan yang kini berada di ambang kehancuran menjadi pasir.
Namun, sebelum jemari sosok itu sempat menguliti Edward, gerakannya mendadak terkunci.
Atmosfer di seluruh hutan itu seketika berubah janggal bagi sang entitas hitam.
Seolah ada sesuatu yang teramat masif sedang mengawasi gerak-geriknya dari balik bayangan. Benar saja, begitu sosok berambut putih itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, lusinan bola cahaya hijau muda telah mengepungnya.
Entitas-entitas cahaya itu melayang mengitari sang monster bak kumpulan roh atau jiwa yang kerap disebut orb. Dan di tengah-tengah kepungan itu, sebuah siluet kuda bermanifestasi dengan anggun. Perawakannya terbentuk dari jalinan energi murni berwarna hijau, melangkah santai namun berwibawa mendekati sosok hitam tersebut.
Kuda roh itu meringkik gagah. Di tengah pandangannya yang kian mengabur dan kehilangan fokus, Edward mengenali wujud tersebut. Itu adalah sosok kuda yang tempo hari telah mengantarkan mereka keluar dari kerajaan yang menjelma bak neraka; kuda yang pada akhirnya terpaksa mereka sembelih dan makan demi bisa bertahan hidup.
Sosok hitam itu bergeming sejenak, sebelum akhirnya membuka lebar jari-jemarinya dan menghantamkan telapak tangannya ke atas tanah dingin di bawahnya.
Meski dilingkupi kebingungan melihat kehadiran benda-benda asing berwarna hijau ini, Clarissa memahami satu premis logis yang mengerikan: jika kemampuan dasar sosok itu adalah mengubah atau menghancurkan materi menjadi pasir, lantas apa yang akan terjadi jika kekuatan destruktif itu disalurkan langsung ke permukaan bumi?
Skenario terburuk yang melintas di otak Clarissa adalah seluruh hutan ini akan rata dengan tanah, hancur lebur, dan bertransformasi menjadi hamparan padang pasir yang gersang dan mati.
Namun, tepat sebelum sosok itu sempat melepaskan gelombang kemampuannya, sebuah eksistensi lain mendadak muncul di ruang kosong tepat di belakang tubuhnya yang tengah menunduk.
Sesuatu yang berada di luar batas penjelasan akal sehat.
Wujudnya menyerupai manusia, namun bentuknya teramat abstrak—seolah-olah sepasang mata manusia menolak untuk memahami apa yang sedang ditampilkan oleh cahaya dan diproyeksikan ke dalam otak mereka.
Itu...
Itu adalah sosok misterius yang mengenakan topi penyihir. Sosok luar biasa yang di waktu yang sama—namun pada sore harinya nanti—akan menampakkan diri di hadapan Leoric di reruntuhan Peak Cavalry.
Sang "Penyihir" tampak mengangkat tangannya perlahan, mengarahkan telapak tangannya tepat ke atas kepala sosok berambut putih.
Dalam satu kedipan mata, sosok berambut putih yang memiliki kemampuan mereduksi manusia menjadi pasir itu langsung lenyap.
Tanpa suara, tanpa jeda waktu.
Dia menguap begitu saja dari realitas, seakan-akan sejak awal eksistensinya memang tidak pernah menginjakkan kaki di hutan tersebut.
Clarissa dicekam ketakutan yang kian berlipat ganda melihat situasi di depannya. Makhluk bertopi itu teramat kuat; dia bahkan bisa melenyapkan musuh mengerikan mereka dalam sekejap. Namun, apakah entitas baru ini adalah seorang kawan? Pertanyaan itu terus berputar liar di benak Clarissa, hingga akhirnya perhatiannya teralih saat kuda hijau yang menyerupai roh itu melangkah menghampirinya.
Clarissa tidak memiliki kemewahan waktu untuk ragu. Dia langsung memerintahkan Deon untuk menggendong tubuh Edward yang sudah terkulai sangat lemas.
Bersama-sama, mereka menunggangi punggung kuda roh tersebut dan memacunya secepat mungkin, berusaha menjauh dan meninggalkan sosok mirip penyihir yang masih berdiri membisu di belakang mereka.
Sang penyihir hanya menatap datar ke arah kelompok Clarissa yang kian menjauh membelah vegetasi hutan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia secara spontan mengarahkan tangannya yang distorsif ke arah regu Clarissa yang tengah memacu kuda roh.
Tanpa butuh waktu lama, dalam satu sentakan instan, regu Clarissa lenyap. Tanpa jejak, tanpa suara—mereka menghilang begitu saja dari tempat itu.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.