"Belum ketemu juga!? Kalian akan mati jika tidak menemukannya!" Bentak Rafanda Airen, mengacaukan acara pertunangannya sendiri.
"Rafa, semua orang---" Kalimat Titania disela.
"Aiyue menghilang. Jadi jangan menggangguku dengan acara konyol ini." Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan area ballroom.
"Dia hanya sekretaris! Asisten! Pembantu! Aku calon istri yang setara denganmu!" Teriak Titania, memegang jemari tangan Rafanda, bersamaan dengan beberapa pengawal yang menghalanginya pergi.
"Bukan! Aku yang memberinya nama Aiyue, sedangkan namaku Airen." Rafa tertawa dalam tangisannya mengeluarkan senjata api dari dalam jasnya.
Dor!
*
Bagaimana tentang seorang anak berusia 7 tahun, yang tersenyum dengan sengaja memilih bayi mungil untuk menemani hidupnya. Memberinya nama Giovani Aiyue, serupa dengan namanya Rafanda Airen.
Mengendalikan hidupnya bagaikan boneka, Aiyue adalah boneka kecil dalam kendalinya. Boneka yang pada akhirnya retak meninggalkannya,karena telah memiliki hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Memastikan
...Riak air terdengar seperti kematian. Terjatuh mengalir bersatu dengan samudra....
...Bunga kecil yang aku petik, hanyut pada akhirnya....
...Sekuat tenaga berlari menggapainya. Berenang mencarinya....
...Namun, bunga kecil yang aku cintai telah tenang dalam pelukan samudra....
Rafanda Airen.
"Orang tua kandung?" Aiyue menoleh menatap padanya.
Dariel mengangguk, menelan ludahnya sendiri. Jemari tangannya mengepal. Aiyue juga berhak untuk bahagia bukan? Tidak boleh selalu terpaut dengan hutang budi dan rasa terimakasih.
Pemuda itu mengangguk pada akhirnya."Aku tidak tau pastinya. Yang jelas Rafa mungkin menukar papan namamu dengan bayi lain. Fikirkan baik-baik walaupun Hidan memiliki kulit yang putih tapi dia tidak mirip denganmu. Wajahmu seperti keturunan Asia Timur."
"Ini lucu!" Aiyue tertawa memegangi perutnya.
Namun pemuda itu tidak tertawa sama sekali."Maaf aku lancang, karena penasaran Rafa mengatakannya dalam kondisi mabuk atau tidak, aku memeriksa data rumah sakit tentang orang tuamu. Dan data pemeriksaan kesehatan milikmu."
"Golongan darah ibumu A, ayahmu AB, Hidan A, sedangkan kamu O. Sekarang kamu mengerti?" Kata demi kata yang membuat tawa Aiyue terhenti. Dirinya memang mengetahui golongan darah almarhum ibunya dan Hidan. Mereka benar-benar golongan darah A. Sedangkan ayahnya, seorang supir yang meninggal akibat kecelakaan kala ibunya mengandung. Dirinya tidak mengetahui sama sekali.
"AB?" Tanyanya dengan air mata mengalir, seharusnya O bukan? Kecuali ibunya berselingkuh.
Namun, entah kenapa segalanya berputar dalam benaknya. Dirinya tidak diijinkan untuk menangisi kedua orang tuanya. Melarang Hidan yang merupakan kakaknya terlalu dekat dengan dirinya.
Tes DNA? Mungkin merupakan satu-satunya jalan. Aiyue menghapus air matanya, menatap ke arah Dariel berusaha untuk tenang.
"Aku tidak akan mengharapkan Rafa lagi, karena aku membencinya. Jika yang kamu katakan adalah kenyataan." Gadis itu tetap tersenyum bagaikan boneka porselin yang mengerikan."Nikmati pestanya, 15 menit lagi aku akan kembali." Dustanya.
Sedangkan salah seorang tamu mendengar segalanya dari jauh. Senyuman menyungging di wajahnya. Ini akan menjadi semakin menarik saja. Seseorang yang mengambil gambar Aiyue diam-diam, memastikan mendapatkan foto wajahnya dengan pasti.
*
Menaiki bis menggunakan gaun dipilih olehnya, berhenti di salah satu halte secara acak. Dilanjutkan dengan menaiki ojek yang sudah memiliki janji dengannya beberapa puluh meter dari halte. Dirinya tidak bodoh, ini agar jejaknya tidak mudah dilacak.
Handphone? Sudah ditinggalkan dalam apartemen olehnya dari awal. Menunggu sang kakak dan seseorang yang dikirimkan Titania di dermaga.
Pemuda itu terlihat disana, lesung pipi terlihat setiap dirinya tersenyum. Kulit putih dengan tubuh yang cukup tinggi."Aiyue!" Panggilnya.
Gadis itu tersenyum melihat kedatangan kakaknya. Pemuda yang menggendong tas ransel besar, memakai celana jeans dan kemeja hitam.
"Adikku sayang, kakakmu ini merindukanmu. Omong-ngomong orang gila itu tidak ada disini kan?" Tanya Hidan memeluk adiknya.
"Tidak ada, dia akan menikah dan membuat lusinan anak kecoa. Aku melarikan diri agar tidak mendapatkan tugas untuk memelihara anak kecoa yang dibuat oleh dua kecoa itu." Jelas Aiyue.
"Kasihan adikku!" Dariel tersenyum penuh kasih.
Bibir gadis itu kelu untuk berucap, berusaha untuk tetap tersenyum. Ini pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun. Tidak mungkin dirinya menayangkan golongan darah ayah mereka. Namun, jika kakaknya tau, apa kakaknya menyembunyikan segalanya.
"Ka...kakak, ada yang berbohong padaku. Apa golongan darah almarhum ayah AB?" Tanyanya dengan bibir bergetar.
"Kamu tetap adikku. Jangan difikirkan! Kamu lahir dari rahim ibuku. Walaupun berbeda ayah kita masih tetap." Kalimat Hidan disela.
"Bu...bukan, adikmu mungkin orang lain. Ra... Rafa." Segalanya terhenti, kala ada empat orang bertubuh tegap datang, berjalan mendekati mereka.
"Siapa mereka?" Tanya Hidan pada adiknya.
"Orang suruhan tunangan orang gila (Titania) itu, mereka memberikan uang cash untuk melarikan diri sejauh mungkin." Jawab Aiyue penuh senyuman.
"Berikan kopernya!" Aiyue menadahkan tangannya. Lima tahun gajinya masih dipegang oleh Rafa. Rafa cepat atau lambat akan menikah dengan Titania. Jadi wajar meminta sedikit haknya dari wanita ini.
"Nona muda menyuruh kami. Hancurkan wajahnya dulu, baru beri uangnya." Ucap salah seorang dari mereka mengeluarkan botol berisikan cairan bening. Air keras, itu sudah pasti ada di dalamnya.
"Hah?" Aiyue mengernyitkan keningnya. Kemudian tertawa."Nyi Pelet gila itu! Sudah aku lepaskan sekali. Berbaik hati padanya, tapi dia malah ingin melukaiku..."
"I...ini orang suruhan gundik Rafa!?" tanya Hidan.
"Bukan dia yang gundik. Dia akan menjadi istri sah. Jika masih tinggal disana, aku yang gundik!" Ucap Aiyue memijit pelipisnya sendiri.
"Kamu yang gundik? Gila saja, adikku yang kecerdasannya benar-benar tinggi, wajahnya cantik menawan seperti iklan produk pemutih kulit, tubuhnya menggoda seperti iklan susu diet. Malah menjadi gundik? Istrinya Rafa itu titisan dewi ya?" Kesimpulan yang diambil Hidan.
"Minggir! Jika tidak ingin ikut tersiram!" Ucap salah satu pria mengancam Hidan yang menjadi perisai bagi adiknya.
"Kalian tidak tahu, aku anak pemilik pelabuhan ini. Keturunan presiden ke 17. Semua kapal laut yang ada di tempat ini milikku. Orang-orangku sedang bersembunyi disana bersiap menembak kalian." Ucap Hidan membuat empat orang itu mengamati ke arah kapal laut yang gelap. Tidak ingin mereka tiba-tiba ditembak dari belakang.
"Lari!" Ucap pemuda itu dengan suara pelan. Menarik Aiyue kabur.
Kakak beradik yang tidak begitu bisa berkelahi. Berlari sekuat tenaga.
"Mereka lari!" Keempat orang itu mengejar Aiyue dan Hidan.
Gila bukan? Adegan kejar-kejaran sepasang kakak beradik yang tidak memiliki wajah mirip sama sekali. Dengan empat orang pengawal berpakaian formal.
Apa ini adegan Romeo dan Juliet yang kawin lari? Entahlah.
Srash!
Air keras itu di siram hampir mengenai mereka. Mungkin hanya mengenai pergelangan kaki Hidan. Berusaha untuk tetap berlari menahan rasa perih.
"Kakak! Kita harus lari kemana!? Gaunku terlalu panjang. Kalau kita jatuh bagaimana?" Ucap Aiyue panik, dirinya hanya menghambat Hidan untuk melarikan diri.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Hidan pada adiknya.
"Gendong!" Aiyue mulai menangis, tidak ingin wajahnya yang cantik maksimal rusak. Hanya karena Nyi Pelet yang mengkhianati Mak Lampir.
"Kalau gendong kita harus berhenti dulu. Jika berhenti sudah pasti kena siram." Ucap Hidan ketakutan.
Kemudian dirinya memiliki ide mulai benar-benar kembali berbohong."Kalian jangan mengejarku! Sniper (penembak jitu) dapat membunuh kalian kapan saja!" Teriaknya tidak mengalihkan perhatian mereka yang mengejar semakin dekat saja.
Plak!
Aiyue memukul bahu kakaknya."Kalau berbohong yang masuk akal. Jika kakak punya pasukan penembak jitu sudah pasti---"
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Beberapa tembakan oleh seorang sniper yang bersembunyi di suatu tempat. Empat orang yang tidak menyadari sinar merah telah terlihat di salah satu bagian tubuh mereka.
Aiyue dan Hidan menghentikan langkah mereka.
"Agh!"
Keempat orang itu roboh, satu diantaranya mereka dapat melihat sendiri. Seseorang yang berusaha melarikan diri dari bidikan tapi entah berakhir hidup atau mati.
Kakak beradik yang ketakutan mereka akan menjadi sasaran berikutnya.
Namun, seseorang datang, terlihat mengenakan pakaian berkelas."Berapa usiamu? Ada yang ingin aku pastikan," ucapannya pada Aiyue.
masa tamat begitu aja🙄😭😭😭
but
aku puas banget,Rafa ketulah sama omongannya sendiri ya ttg bapaknya
nice ending
beautiful story'
love full buat othorrrrr
aku makin padamu
malah jadi takut kita
aku suka keributan ini
kuaci udah abis Ama othor,CK
bentar lagi farell Dateng
makin serruuuu
tapi kalau mang dr sana nya kau setia
ada 1001 alesan buat kau setia
hidup itu pilihan bukan,sekali lagi?
biasa pada celap celup sama bini orang apa
kok kyk gitu di normalisasi kan