Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nongki Anak Muda.
Malam harinya, Hazel menuruti keinginan Gwiyomi yang meminta ikut ketempat nongkrongnya. Meskipun Hazel anak baru disana, ia ternyata sudah memiliki banyak teman karena hobi Hazel yang sering ikut balapan motor.
"Nggak usah jadi kesana aja deh, aku ajak kamu nonton, gimana?" ujar Hazel kembali membujuk Gwiyomi sebelum mereka berangkat.
"Lagi nggak pengen nonton, pengen ke tempat kamu nongkrong aja," sahut Gwiyomi semakin penasaran rasanya karena Hazel sibuk melarangnya datang ke tempat itu.
Memangnya ada apa?
"Baiklah, tapi nggak usah lama-lama, nggak baik angin malam buat Ibu hamil."
Hazel sudah tidak lagi membantah, ia segera menyalakan motornya lalu membawa Gwiyomi pergi ketempat nongkrongnya yang berada di samping stadion kota. Disana biasanya teman-temannya akan mengadakan balapan liar, atau melakukan adu skill motor.
Tidak membutuhkan waktu lama, Hazel akhirnya sampai ditempat itu. Disana sudah banyak sekali teman-temannya yang berkumpul bersama kekasihnya masing-masing. Ada juga kelompok lain yang kebetulan nongkrong disana.
"Ini tempatnya?" Gwiyomi mengerutkan dahinya saat melihat tempat nongkrong Hazel, tadinya ia pikir pria itu akan berkumpul di kafe atau apa bersama teman-temannya, tidak tahunya ditempat seperti itu.
"Iya, makanya aku bilang kamu nggak usah ikut," jawab Hazel.
"Wihhh, Hazel bawa cewek baru nih." Terdengar selorohan dari beberapa teman-teman Hazel membuat keduanya langsung menoleh.
Gwiyomi mengerutkan dahinya semakin dalam, ia cukup tidak nyaman juga dengan cara teman-teman Hazel menatapnya.
"Nggak usah ganggu, Brian dimana?" ujar Hazel melirik temannya tajam.
"Biasa, dia lagi sama Bianca tuh," ujarnya menunjuk seorang pria yang kini sedang duduk memangku wanita.
Hazel mendengus kecil melihat tingkah temannya seperti itu, tapi hal seperti itu sudah biasa dalam pergaulan mereka. Dulu ia juga seperti itu, malah ia rasa lebih parah.
"Kita pulang aja deh Haz, aku nggak nyaman disini," bisik Gwiyomi menyesal telah ikut datang ketempat itu.
"Baiklah, aku temuin temen aku dulu, kamu disini nggak apa-apa?" kata Hazel menatap Gwiyomi.
"Enggak, aku ikut kamu aja." Gwiyomi menggeleng pelan, ia tidak mau berdiri sendirian ditempat itu.
"Baiklah, ayo." Hazel mengangguk, ia merangkul pinggang Gwiyomi lalu mengajak wanita itu menemui temannya Brian.
"Brian!" seru Hazel membuat pria yang dipanggilnya itu langsung menoleh.
"Eh, udah dateng?" Brian segera bangkit dari duduknya, ia melepaskan sejenak wanita yang tadi bersamanya.
Gwiyomi mengerutkan dahinya, ia merasa pernah mengenal pria yang bernama Brian ini, tapi dimana?
"Iya, tapi gue nggak bisa lama. Urusan yang tadi kita bahas lain kali," ujar Hazel menatap Brian dengan tatapan tahu sama tahu.
Brian mengangkat alisnya, ia melirik Gwiyomi sekilas kemudian mengulas senyum kecil. "Nggak terjebak sama permainan sendiri 'kan?" ujar Brian terdengar mengejek.
"Gue bilang kita bahas nanti!" Hazel membentak kesal, ia melirik Gwiyomi yang kini sedang menatapnya curiga.
"Baiklah, malam ini lu nggak mau balapan dulu? Ada pemain baru, keluaran dari penjara," ujar Brian dengan tawanya yang cukup mengesalkan.
"Enggak!" Hazel langsung menolak dengan tegas.
"Nggak asik lu," cetus Brian mengejek.
Hazel tidak perduli, ia segera mengajak Gwiyomi pergi dari sana. Memang tidak seharusnya wanita itu berada ditempat yang tidak semestinya seperti ini. Salahnya juga, dulu bisa terjerumus dalam pergaulan seperti itu.
"Kamu ada urusan apa sama dia?" Gwiyomi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Masalah biasa, kamu nggak perlu tahu," sahut Hazel singkat.
"Perlu, aku perlu tahu Haz, aku sekarang istri kamu," kata Gwiyomi menarik tangannya kasar, ia cukup tidak suka dengan cara Hazel menyembunyikan masalahnya.
"Gwi, ini bukan masalah serius. Nggak penting juga, ayo kita pulang, kamu belum makan tadi." Hazel mencoba meyakinkan Gwiyomi jika dirinya tidak punya masalah apapun, sungguh ia tidak ingin membuat istrinya ini khawatir.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan!" seru Gwiyomi kesal.
Hazel menghela nafas panjang, inilah hal yang paling tidak disukai dari Gwiyomi, wanita itu sering marah jika semua tidak sesuai keinginannya.
"Nanti ada saatnya aku cerita, enggak sekarang," ujar Hazel memilih alasan yang tepat.
"Nanti kapan? Keburu aku tahu dari orang lain? Kamu tuh harusnya tahu kalau suami dan istri itu harus saling terbuka," tukas Gwiyomi semakin kesal.
"Bukannya udah?"
"Udah apaan?" Gwiyomi mengernyit.
"Kita udah saling terbuka kalau malem," sahut Hazel mengerlingkan sebelah matanya.
"Hazel!" Gwiyomi membentak kesal, ia sangat serius tapi Hazel malah bercanda seperti itu.
"Loh, benar kan Sayang? Kita kalau malam saling terbuka," ujar Hazel dengan wajah sok polosnya membuat Gwiyomi semakin jengkel.
Disela-sela ketegangan mereka berdua, tiba-tiba terdengar suara deru motor yang mendekat. Semua orang yang ada disana langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang termasuk Hazel dan Gwiyomi.
Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan helm full face terlihat memarkirkan motornya ditengah-tengah kerumunan. Semua orang penasaran dengan siapa sosok yang datang, begitu helm terbuka decakan kagum langsung terdengar dari mulut mereka.
"Rain?" Gwiyomi sangat syok melihat sosok pria itu, tiga bulan tidak bertemu, tahunya Rain sudah keluar dari rumah sakit itu.
"Kau mengenalnya?" Hazel mengernyit.
"Ya, dia narasumber di tempatku magang kemarin, untuk apa dia disini?" Gwiyomi memandang Hazel dengan wajah bertanya.
"Ya mana aku tahu, kayaknya anak baru, atau nggak gitu lagi butuh barang," sahut Hazel mengangkat bahunya, ia belum pernah bertemu Rain sebelumnya, jadi ia tidak mengenalnya.
"Barang? Barang apa?"
Hazel memejamkan matanya singkat, lagi-lagi ia keceplosan mengatakan hal yang akan membuat Gwiyomi curiga.
"Ya barang kayak alat-alat motor gitu, biasanya disini suka jual," jawab Hazel.
Gwiyomi mengangguk singkat, ia memperhatikan Rain yang sudah sembuh layaknya pria normal biasa. Pria itu kini terlihat sedang duduk bersama Brian dan yang lainnya. Gwiyomi terus menatap Rain karena matanya tidak sengaja menatap tangan Rain yang menggunakan gelang pemberiannya.
Dia memakainya?
"Lihatin aja terus, dia lebih ganteng ya dari aku?" celetuk Hazel kesal.
"Eh? Aku hanya melihatnya saja Haz," ujar Gwiyomi salah tingkah.
"Dilihat terus kenapa? Suka?" Hazel semakin kesal mendengar jawaban Gwiyomi, dari tatapan matanya saja ia tahu jika Gwiyomi menyimpan sesuatu pada pria itu.
"Hahaha, mana ada? Bukannya aku sudah menjadi istrimu?" ujar Gwiyomi merayu.
"Menyebalkan, semudah itu kau membuatku luluh? Ayo kita pulang," tukas Hazel mencubit gemas pipi Gwiyomi, mau sekesal apapun dirinya, tetap saja ia akan luluh jika Gwiyomi merayunya.
"Hahaha, baiklah. Kita mampir ke ... yuk, aku lagi pengen makan disana sambil lihat bintang." Gwiyomi merangkul lengan Hazel seraya menyebutkan tempat makan favorit mereka.
"Siap Tuan putri, tapi malam ini tidak gratis ya?" sahut Hazel menggoda.
"Bahkan kalau aku tidak meminta, kau juga minta bayaran," cetus Gwiyomi mengernyit kesal.
"Hahahaa, itu kan memang sudah tugasmu."
Keduanya pergi meninggalkan tempat itu seraya melempar canda dan tawa renyah. Rain yang sejak tadi memperhatikan mereka dari sudut matanya hanya tersenyum kecut.
"Siapa pria itu?" Tanya Rain pada Brian.
"Yang barusan pergi?" Brian memastikan siapa pria yang dimaksud Rain.
"Ya."
"Dia Hazel, pindahan dari Surabaya," sahut Brian.
"Dia pemakai juga?"
"Bukan sih, dia temen kuliah gue, kebetulan aja dateng kesini," ujar Brian lagi. "Kenapa? Lu suka sama ceweknya?" Tebak Brian.
"Dia udah nikah 'kan?" Rain mengabaikan tuduhan implisit itu.
"Hahaha, udah sih." Brian menyahut dengan tawa renyahnya.
"Why?" Rain mengernyit tidak mengerti.
"Hazel nikahin Gwiyomi cuma buat taruhan, lagian siapa yang mau sama cewek yang udah bunting duluan, mana sama cowok nggak jelas lagi," ujar Brian masih dengan tawa mengejeknya.
"Taruhan?" Rain sampai menegakkan tubuhnya saat mendengar jawaban Brian.
"Nggak usah kaget, Hazel emang gitu dari dulu, entah berapa aja korbannya dia selama ini, Gwiyomi bukan yang pertama," jelas Brian lagi.
Rain tanpa sadar mengepalkan tangannya erat saat mendengar ucapan Brian. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria yang menjadi suami Gwiyomi sebrengsek itu.
Gwi, salah memilih pasangan.
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa