NovelToon NovelToon
The Moon Curse

The Moon Curse

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Kutukan
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: stella bluebell

wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.

usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?

semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 ~ Hal Tak Terduga

    “Dewi kali ini telah lahir. Dia adalah putri bungsu keluarga Viscount Celesthior. Celestia Lunastella Celesthior.” Aku langsung membeku. Apa? Namaku disebut begitu saja, padahal aku sedang berada di ruangan ini. Untungnya, mereka sama sekali tidak mengenaliku dalam penyamaran. “Apakah ada rencana?” tanya Raja Edward. “Untuk itu...” Profesor Olivia menoleh ke arahku, diikuti tatapan Raja dan Gabriel. Aku perlahan berdiri. “Aku memiliki sebuah usul. Menurutku, akan lebih mudah menjebak mereka jika kita menggunakan target mereka sebagai umpan. Namun, umpan tersebut harus dilindungi oleh para kesatria yang bersembunyi di sekitar lokasi. Begitu mereka bergerak, para kesatria bisa langsung menyerang. Dengan begitu, kita dapat menangkap mereka saat seluruh anggota berkumpul di satu tempat.” Aku menarik napas. “Memang rencana ini cukup berisiko, terutama jika umpan tersebut adalah Pangeran Mahkota. Namun, menurutku hanya cara itu yang memiliki peluang terbesar untuk menghancurkan organisasi ini sekaligus.”

    Setelah itu, aku meminta izin keluar untuk menghirup udara segar. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena aku sedang berusaha menahan amarah. Dasar pembohong... Katanya semua ini akan dirahasiakan. Begitu tiba di taman istana, aku langsung mengangkat tangan. “Wind Cutter.” Bilah-bilah angin melesat memotong semak dan ranting pohon. “Wind Cutter. Dasar pembohong besar. Wind Cutter.” Beberapa bunga dan ranting pun tumbang dalam hitungan detik. “Apa yang membuatmu sangat marah?” Suara itu membuatku terkejut. Aku segera berbalik dan mendapati Pangeran Mahkota Gabriel Zaydan de Silveth berdiri beberapa langkah di belakangku. “Ternyata kau sangat berbahaya, ya, Nona Rossalie.” “Pangeran,” ucapku sambil menundukkan kepala.

    “Akan kumaafkan jika kau memperbaiki taman ini,” ujarnya santai. “Tentu saja. Memang dari awal aku berniat memperbaikinya.” Aku mengangkat tangan dan mengucapkan mantra kuno, “Tempus Postum Collisitum Pretruhnas.” Dalam sekejap, bunga, ranting, dan rumput yang rusak kembali seperti semula. Gabriel memperhatikannya tanpa berkedip. “Sihir apa itu? Kenapa semua tanaman bisa kembali seperti semula?” “Entahlah.” Aku sengaja mengangkat bahu. Gabriel tersenyum tipis. “Sihir apa itu, Nona... Alinera?” Aku membeku. Dia sengaja memanggil nama depanku. Belum sempat menjawab, ia melangkah mendekat dan dengan lembut mengangkat daguku agar menatapnya. Jarak kami menjadi sangat dekat hingga aku spontan mengalihkan pandangan. “A-apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku dengan suara sedikit terbata. “Kau jadi sulit berbicara.” “Itu karena Pangeran memegang daguku,” balasku kesal. Gabriel tersenyum. “Tak kusangka putri Kepala Akademi ternyata semudah ini dibuat gugup.”

    Aku mulai muak dengan ejekannya. Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat tangan. “Philculum Silenti Corpus Ten.” Mantra kuno itu langsung melumpuhkan tubuh Gabriel untuk sementara. Kini keadaan berbalik. Aku menyilangkan tangan sambil menatapnya. “Tak kusangka Pangeran Mahkota bisa kalah dari seorang gadis hanya dengan satu mantra.” Sebagai balasan, aku sengaja mendekatkan wajahku. Namun, sebelum sempat berbuat apa-apa, terdengar suara dari belakang. “Apa yang kalian lakukan?!” Aku menoleh, tetapi sebuah sihir kegelapan tiba-tiba melesat ke arah kakiku. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat ke arah Gabriel. Wajah kami begitu dekat hingga aku langsung membelalak. “...?” Refleks, aku mengangkat tangan. “Inferno!” Api panas membentuk penghalang besar yang mengelilingi kami berdua.

    Raja Edward dan Profesor Olivia yang baru datang segera memanggil para penyihir air untuk mencoba memadamkan api itu dengan sihir air. Namun, api tersebut sama sekali tidak padam. Berjam-jam berlalu hingga akhirnya, setelah emosiku benar-benar tenang, penghalang api itu menghilang dengan sendirinya. Gabriel keluar dengan wajah memerah, sementara aku berjalan di belakangnya sambil menundukkan kepala. Aku sama sekali tidak berani menatapnya. Kami kemudian kembali menuju ruang pertemuan kerajaan.

    Raja Edward langsung menatap kami. “Sekarang jelaskan. Apa sebenarnya yang terjadi di taman tadi?” Aku sungguh tidak sanggup menceritakannya. Karena itu, Gabriel yang akhirnya membuka suara. “Bisakah memanggil Ibunda terlebih dahulu?” Raja segera memerintahkan para kesatria untuk memanggil Ratu Elise Gwendeline de Silveth. Tak lama kemudian, sang Ratu memasuki ruangan dan duduk di samping Raja. “Baik, sekarang ceritakan semuanya,” perintah Raja. Gabriel menghela napas sebelum menceritakan seluruh kejadian di taman tanpa menyembunyikan sedikit pun. Sementara itu, aku hanya bisa menutup mata dan telingaku. Aku benar-benar tidak sanggup mendengarnya untuk kedua kalinya.

    Setelah Gabriel selesai bercerita, ruangan mendadak sunyi. “Apa... itu benar-benar terjadi?” gumam Ratu Elise dengan wajah terkejut. Perlahan aku membuka mata. Kulihat Raja Elise dan Profesor Olivia saling berpandangan, kemudian entah kenapa mereka berdua berjalan mendekat ke arahku. Senyuman mereka justru membuat bulu kudukku merinding. “Celestia,” ujar Ratu Elise dengan senyum yang sulit kuartikan. “Kau harus bertanggung jawab.” “Eh?” Aku spontan membeku. “Mulai hari ini, kau akan menjadi tunangan Pangeran Mahkota Gabriel Zaydan de Silveth.” “Apa?!”

    Aku benar-benar tidak mengerti. “Kenapa justru aku yang harus bertanggung jawab?” Ratu Elise hanya tersenyum. Aku sempat mencoba menolak. “Maaf, Yang Mulia. Aku sudah bertunangan.” Namun, Ratu tetap tenang. “Siapa pun orangnya... dia harus mengalah demi masa depan kerajaan.” Aku terdiam. Kenapa Profesor Olivia diam saja? Padahal beliau tahu aku sudah bertunangan. Aku menatapnya dengan kesal. Lagipula, semua ini juga terjadi karena sihir beliau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!