NovelToon NovelToon
Dua Sisi Sangkar Emas

Dua Sisi Sangkar Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.

Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Setiap kalinya, Kyna selalu menahan rasa sakit sambil lanjut melangkah ke depan. Di dunia ini, tidak ada luka yang benar-benar bisa sembuh tanpa meninggalkan bekas. Kyna memahaminya lebih baik dari siapa pun.

Malam itu, Aldrian tidak pulang ke rumah. Entah karena pria itu terlalu sibuk menenangkan Anara yang "terluka hatinya", atau karena egonya yang terlampau tinggi untuk kembali ke kamar di mana dia baru saja dicundangi oleh kebenaran. Kyna tidak peduli, dan dia sama sekali tidak berniat untuk menunggunya. Dia menyelesaikan rutinitas malamnya dengan tenang dan beraturan, mengolesi kakinya dengan minyak pereda linu, lalu menerima sebuah pesan pendek dari Sonia tepat sebelum mematikan lampu tidur.

Sonia mengajaknya untuk pergi menonton pertunjukan tari besok malam.

Beberapa hari yang lalu, jika ada orang yang mengajaknya menonton pertunjukan seni, Kyna mungkin akan menganggap orang itu sedang mencoba menyinggung perasaannya atau menaburkan garam di atas luka lamanya. Tapi sekarang, mentalnya telah bermutasi. Dia tidak lagi berpikir sempit begitu. Tanpa ragu, Kyna langsung menyetujuinya, bahkan berinisiatif mengajak Sonia untuk makan malam bersama terlebih dahulu sebelum mereka masuk ke gedung teater.

Besok benar-benar adalah hari yang patut dinantikan. Rasa antusias yang sudah lama mati di dalam dadanya mendadak berdenyut kembali. Jadi, Kyna tahu dia harus tidur nyenyak malam ini. Namun, bagaimana seseorang bisa tidur nyenyak jika jiwanya sedang dipenuhi letupan semangat? Sepanjang malam, Kyna terbangun beberapa kali hanya untuk menatap jam dinding, menanti fajar menyingsing.

Kegembiraan yang tak tertahankan itu terus berlanjut hingga sore hari berikutnya.

Kyna tahu betul bahwa hasil resmi tes kemampuan bahasa asing yang ia ikuti beberapa waktu lalu baru akan diumumkan di situs web setelah pukul dua siang. Akan tetapi, sejak pukul satu, jemarinya tidak bisa berhenti membuka e-mail dan memperbarui laman web resmi agensi penguji.

Penantian yang bercampur sedikit kecemasan ini menguras energinya hingga sore hari. Tepat pukul 14.15, sebuah notifikasi e-mail akhirnya bergetar di layar ponselnya. Dengan jantung yang berdebar kencang hingga terasa ke tenggorokan, dia segera masuk ke situs web dan memasukkan nomor ujiannya.

Ketika angka total skor 7 muncul dengan huruf tebal di depan matanya, Kyna hampir tidak memercayai penglihatannya!

Kyna tahu ujiannya kali ini berjalan cukup lancar, tetapi dia tidak berani berharap terlalu tinggi mengingat dia belajar secara otodidak di sela-sela kesepian rumah ini. Dia terus berkata kepada dirinya sendiri bahwa dia sudah akan sangat puas apabila bisa mendapatkan skor 6,5—nilai yang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk standar mahasiswa yang mengambil jurusan seni di Eropa. Saat mengikuti ujian yang sama setengah tahun yang lalu, di bawah tekanan batin yang berat dari pernikahannya yang hambar, dia hanya mampu meraup nilai 6.

Kyna memegang ponselnya erat-正式 erat ke dadanya, lalu menjatuhkan diri ke atas tempat tidur yang luas. Air mata seketika mengalir deras membasahi wajahnya, menyerap ke dalam sprei. Namun kali ini, air mata itu murni dan bersih. Bukan karena Aldrian, bukan karena Anara, dan bukan pula karena meratapi pernikahannya yang hancur. Dia menangis karena dia tahu, dia sudah berada setahap lebih dekat lagi dengan impiannya. Kebebasannya sudah di depan mata.

Selama lima tahun terakhir, di saat Aldrian sibuk meniti karier dan mengabaikannya, Kyna mengisi waktu dengan membaca novel asing, mendengarkan podcast sastra, menonton film tanpa sulih suara, serta melatih jemarinya mengerjakan ribuan soal ujian. Usahanya yang sunyi itu kini membuahkan hasil yang teramat manis. Dia membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak tidak berguna.

Setelah hasil ujiannya keluar, badai di dalam hati Kyna mereda menjadi kedamaian yang mutlak. Berhubung kurang tidur semalam, dia pun tertidur siang dengan sangat lelap. Dia baru terbangun saat semburat senja kemerahan mulai menerobos celah gorden, merasa tubuhnya jauh lebih segar dari biasanya. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi menemui gurunya.

Ketika pintu kamar terbuka dan Kyna muncul di ruang tamu, langkah kaki Sani yang sedang mengelap meja langsung terhenti. Mata asisten rumah tangga itu dipenuhi keterkejutan yang luar biasa. Sebab, hari ini Kyna tidak mengenakan pakaian rumahan yang longgar dan kusam. Dia mengenakan sebuah gaun panjang berbahan sifon sutra berwarna biru dongker, lengkap dengan riasan wajah tipis yang segar dan anting mutiara kecil yang berkilau.

Selama lima tahun terakhir, Kyna hampir tidak pernah mengenakan gaun dan sangat jarang berdandan. Kaki yang penuh bekas luka pembedahan dan tidak dapat berjalan normal itu bukan hanya membatasi ruang geraknya secara fisik, melainkan juga membunuh keinginannya untuk tampil cantik sebagai seorang wanita. Dia selalu merasa tidak layak, takut orang-orang akan menatap kakinya dengan pandangan kasihan.

"Nyonya... kamu cantik banget hari ini!" Tatapan kagum Sani sama sekali tidak dapat dipalsukan. Matanya berbinar tulus. "Kamu... mau ke mana?"

"Aku mau nonton pertunjukan bareng guruku, Bi," jawab Kyna sembari mengulas senyum manis—senyuman tulus pertama yang Sani lihat setelah sekian lama.

Meskipun sudah percaya diri, Kyna sebenarnya masih merasa agak gelisah di dalam hati. Dia dengan sengaja memilih potongan gaun yang menjuntai hampir mencapai mata kaki, bahkan juga mengenakan stoking hitam tipis agar bekas luka jahitan di kakinya tidak terekspos.

Kyna dengan sopan menolak tawaran Sani untuk memapahnya sampai ke depan kompleks, lalu melangkah keluar dari rumah sendirian dengan bantuan tongkat estetiknya. Saat kakinya memijak aspal di luar pagar, dia merasa gembira sekaligus gelisah, persis seperti rusa liar dari hutan lebat yang tiba-tiba melompat masuk ke tengah riuhnya dunia manusia setelah sekian lama terisolasi.

Pertemuan dengan Sonia berlangsung sangat hangat. Mereka menikmati makan malam di sebuah restoran masakan lokal yang menyajikan hidangan ringan, segar, dan cenderung manis—sangat sesuai dengan selera asli Kyna yang selama ini selalu mengalah pada selera Aldrian yang menyukai makanan asin dan pedas. Setelah mengobrol banyak hal, mereka baru beranjak pergi menuju gedung teater kota bersama-sama.

Pertunjukan malam ini dibawakan oleh Sanggar Tari Klasik Kota Hatam. Mereka membawakan mahakarya legendaris yang dulu pernah ditarikan Kyna belasan kali semasa dia masih menjadi primadona di kampus kuliahnya. Saat lampu aula meredup dan alunan musik simfoni pertama mulai mengalun megah membelah keheningan teater, Kyna merasakan sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam dadanya. Jiwa tari yang selama lima tahun ini dia kubur hidup-hidup di dalam lumpur keputusasaan, mendadak bergetar hebat dan terbangun.

Meskipun kini Kyna hanya bisa duduk di antara deretan penonton di kegelapan dan tidak mungkin lagi melompat tinggi atau berputar di atas panggung, memori otot di tubuhnya tidak bisa berbohong. Ujung jari kakinya yang berada di dalam sepatu, secara tidak sadar bergerak pelan, menekuk dan mengikuti ketukan alunan musik dengan presisi yang sempurna.

Ini adalah memori tubuh yang telah terukir begitu dalam melalui ribuan jam latihan dan tetesan keringat, sesuatu yang tidak bisa dihancurkan bahkan oleh kecelakaan maut sekalipun.

Saat tirai penutup diturunkan diiringi sorot lampu yang benderang, tepuk tangan meriah yang bergemuruh memenuhi seluruh ruangan teater. Satu per satu penonton berjalan maju ke depan panggung untuk mempersembahkan buket bunga kepada para penari yang membungkuk hormat.

Di tengah riuhnya apresiasi itu, Kyna yang masih duduk terpaku di kursinya tak kuasa menahan air mata yang kembali merebak keluar. Dia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

Namun, Kyna menangis bukan karena dia merasa sedih, menderita, apalagi putus asa melihat kejayaan orang lain. Dia menangis karena tarian itu sendiri. Dia menangis karena getaran yang seirama dengan jiwanya kembali merasuk ke dalam raganya. Menari merupakan satu-satunya hal yang pernah memberinya semangat hidup yang utuh dan sangat dicintainya. Namun, demi menjadi seorang "Nyonya Wibowo" yang patuh dan menyedihkan, dia telah melupakan esensi dirinya sendiri selama lima tahun penuh. Malam ini, Kyna tahu, dia telah pulang ke rumahnya yang sesungguhnya.

Sonia yang duduk di sampingnya menyadari bahu Kyna yang berguncang pelan. Tanpa banyak bicara atau menghakimi, sang guru langsung menarik tubuh Kyna ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan seorang ibu yang mengalir langsung ke lubuk batinnya yang sempat membeku. Sonia tahu betul tangisan ini adalah bentuk pembersihan jiwa.

"Menangislah sepuasmu, Kyna," bisik Sonia lembut namun sarat akan ketegasan di dekat telinganya. "Lepaskan semua beban yang mengikat kakimu selama ini. Malam ini kamu sudah melihatnya sendiri, 'kan? Seni di dalam dirimu tidak pernah mati. Kamu tidak pernah kehilangan bakatmu. Tubuhmu mungkin memiliki keterbatasan sekarang, tetapi jiwamu tetaplah seorang penari sejati. Bersiaplah, Eropa sudah menunggumu untuk mengajar dan melahirkan penari-penari baru di sana."

Kyna mengangguk kuat di sela isakannya, perlahan menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan saputangan satin. Saat teater mulai kosong dan lampu-lampu utama dimatikan, Sonia dengan penuh kesabaran memapah Kyna keluar menuju pelataran lobi gedung teater yang megah.

Udara malam Kota Hatam yang sejuk seketika menerpa wajah Kyna, memberikan rasa lega yang teramat sangat. Namun, ketenangan yang baru saja ia reguk itu mendadak terusik ketika sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia kenali memotong jalur dan berhenti mendadak tepat di hadapan undakan tangga lobi.

Pintu kemudi terbuka dengan sentakan kasar, dan Aldrian melangkah keluar dari sana. Pria itu masih mengenakan kemeja kantor yang sama dengan kemarin malam, namun penampilannya tampak sangat kusut. Rambutnya berantakan, dasinya sudah menghilang, dan wajahnya menyiratkan kelelahan yang luar biasa seolah dia baru saja melewati malam panjang tanpa tidur.

Mata Aldrian mendadak melebar sempurna saat menangkap sosok Kyna yang berdiri anggun mengenakan gaun malam bergaya elegan, lengkap dengan riasan wajah yang membuatnya tampak memukau—sebuah pemandangan menakjubkan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Aldrian lihat berada pada diri istrinya sendiri.

Aldrian melangkah tergesa-gesa menghampiri Kyna, mengabaikan keberadaan Sonia yang berdiri protektif di samping muridnya.

"Kyna! Dari mana saja kamu?! Ponselmu mati seharian!" suara Aldrian terdengar panik bercampur gusar yang tertahan, napasnya agak memburu saat menatap Kyna dari atas ke bawah. "Aku pulang ke rumah sore tadi dan Bi Sani bilang kamu pergi keluar mengenakan gaun. Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau mau menonton pertunjukan tari? Kenapa kamu pergi sendirian tanpa sopir?"

Suara Aldrian penuh dengan tuntutan, seolah dia masih memiliki hak penuh atas setiap jengkal napas Kyna. Namun, Kyna hanya menatap pria itu dengan sepasang mata yang teramat jernih, datar, dan kosong—seolah Aldrian hanyalah seonggok batu kerikil asing yang kebetulan menghalangi jalannya.

Sebelum Kyna sempat melontarkan sepatah kata pun untuk mengusir suaminya, pintu penumpang depan mobil Aldrian mendadak terbuka lebar. Anara melangkah keluar dengan tubuh bergetar hebat, wajahnya pucat pasi tanpa riasan, dan kedua matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Di tangannya, Anara mencengkeram sebuah map dokumen kedokteran berlogo rumah sakit pusat lima tahun lalu. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang tersisa di lobi, Anara langsung berlari ke hadapan Kyna, lalu menjatuhkan lututnya—bersujud di atas lantai semen yang dingin sembari memohon ampun, mengaku bahwa laporan rekam medis yang menyatakan kaki Kyna tidak akan pernah bisa sembuh total lima tahun lalu adalah sebuah kebohongan besar yang dimanipulasi oleh ibunya sendiri agar Kyna menyerah pada dunia tari dan tetap terkunci di dalam rumah.

1
falea sezi
sejauh ini. muter doank ini novel🤣 pret rugi baca nya gue😒
falea sezi
jahat bgt si bangsat😒
falea sezi
bukannya Julian kok jd andrian
Emi Sudiarni
bgusvsib ceritanya. tpi bingung bacanya kerna bolak balik dsk beraturan
Emi Sudiarni
sdih bngat ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!