Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Happy reading,
💕💕💕💕💕
"Hai," sapa Ben begitu panggilan video callnya dijawab. Pemuda itu tersenyum lebar pada gadis yang muncul di layar ponsel miliknya.
"Hai Bee, aku sangat merindukanmu," sahut gadis dari layar ponsel milik Ben. Gadis itu terlihat sedang sibuk memasang anting di kedua telinganya dengan dibantu seorang penata rias yang berdiri di sebelah gadis itu.
"Sepertinya kau sangat sibuk?"
"Ah iya, sebentar lagi ada pemotretan. Ada apa? Apa kau juga sangat merindukanku sampai vidcall aku di jam begini?" Gadis itu tersenyum menggoda.
"Memangnya kalau aku tidak menelpon di jam sekarang, kapan lagi? Nunggu besok pagi, kau pasti masih tidur di sana," keluh Ben. Kemudian, dia duduk bersandar di ranjang.
"Maaf, aku lupa dengan perbedaan waktu kita. Di sini baru jam delapan pagi, di sana pasti sekarang sudah malam ya, 'kan?"
"Hm, hampir jam sebelas." Ben menopang dagunya.
"Kau belum tidur? Wajahmu tampak kuyu, apa kau sangat lelah? Apa banyak maba yang menyusahkanmu hari ini?" Gadis itu terlihat khawatir.
Mendengar prihal maba, mengembalikan ingatan Ben pada Melodi. "Astaga!" pekiknya tanpa sadar. "Aku lupa menghubunginya," gumam Ben yang terdengar oleh gadis yang sedang dia telepon.
"Apa, Bee? Siapa yang lupa kau hubungi?"
"Ah tidak Sayang, bukan ... bukan siapa-siapa," kilah Ben, "aku hanya berjanji untuk menelpon seseorang tadi."
"Siapa sih? Apa dia seorang gadis? seberapa pentingkah dia sampai kau yang harus menelponnya? Jangan bilang hatimu sudah berpindah ya, Bee." Gadis yang sedang ditata rambutnya itu kini sedang memicingkan matanya, memandang Ben dengan penuh selidik.
Ben menarik bibir bawahnya ke dalam. Entah kenapa ucapan gadis yang menjadi kekasihnya itu seakan memukulnya telak.
"Aku sangat percaya padamu ya, Bee. Jadi, jangan rusak kepercayaanku, karena di sini aku pun begitu."
Ben menghela napas panjang. Terbesit rasa bersalah dalam hati untuk kekasihnya. Benarkah yang gadis itu ucapkan? Benarkah hatinya sudah berpindah pada Melodi? Secepat itukah hatinya berpaling? Entahlah, Ben masih belum bisa meyakinkan dirinya sendiri. Memang ada perasaan berbeda yang dia rasakan saat bersama Melodi, perasaan yang tidak dia rasakan sebelumnya saat bersama kekasihnya? Yakni, kenyamanan.
"Angel," panggil Ben setelah mereka saling terdiam cukup lama.
"Hm."
"Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Oh ya, apa itu?"
"Aku ingin tahu seberapa besar rasa cintamu untukku."
"Apa?! Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Tanpa aku katakan, harusnya kau sudah tau sendiri jawabannya, 'kan?"
"Sebenarnya apa artinya aku buatmu? Seberapa penting aku bagimu?" Mata Ben menyorot tajam gadis di layar ponselnya.
"Tentu saja sangat penting. You're my everything, Honey."
Ben menghela napas lagi. "Kalau begitu, batalkan kontrak itu dan pulanglah! Pulanglah demi aku," pinta Ben dengan raut wajah memohon.
"Hah?" Angel mendesah tak percaya dengan apa yang dia barusan dengar dari bibir Ben.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, jika aku sangat penting dan memang segalanya bagimu, aku minta pulanglah."
"Bee, tidak seperti itu. Tidak semudah itu, Sayang. Aku ...."
"Aku tidak bisa untuk berada jauh darimu lebih lama lagi dari ini. Cukup dua tahun kita menjalani long distand, Gel."
"Tapi Bee, kamu tau sendiri ini mimpi aku dari dulu, dari aku kecil. Sekarang aku mendapat kesempatan itu. Kamu tau, 'kan kesempatan tidak datang dua kali. Bukankah kamu juga sudah menyetujuinya?"
"Aku setuju untuk dua tahun, tidak lebih dari itu. Aku menghargai mimpimu, aku mengerti dirimu, tapi aku juga minta kali kamu hargai aku. Kamu mengerti aku."
"Ada apa sih ini sebenarnya? Kenapa kamu jadi menuntut? Kenapa kamu sepertinya berubah?"
"Tidak Gel, aku belum berubah. Hatiku belum berubah, tapi aku tidak bisa menjamin kalau aku nantinya bisa berubah. Perasaanku padamu, aku tidak bisa menjamin berapa lama lagi aku bisa menjaga rasa itu untukmu."
❤️❤️❤️❤️❤️
Nah, mbak Angel hati2. Pacarmu itu idola kampus. Mengerti dia. Hargai dia. Sebelum Ben menemukan gadis lain yang mengerti dirinya dan menganggapnya berharga 😉😉😉
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊